Wednesday, July 17, 2019

Difteri

Difteri merupakan salah satu jenis penyakit menular di mana bakteri adalah penyebab utama dari penyakit ini. Penyakit ini adalah infeksi bakteri serius yang mampu berpengaruh pada selaput lendir tenggorokan serta hidung. Bakteri penyebab kondisi ini adalah bakteri penghasil eksotoksin yang mampu membuat jaringan tubuh manusia rusak.

Karena gejala awal dari difteri yang mirip dengan gejala flu, maka kebanyakan orang tak menyadari bahwa kondisi yang sedang dialami adalah difteri dan bukannya flu. Kondisi gejala awal memang mirip dengan gejala flu, namun lebih buruk, seperti misalnya terjadinya demam, masalah sulit menelan, kelenjar getah bening membengkak, suara yang serak, sesak nafas dan batuk-batuk. Namun pada penderita difteri, ia juga akan berkemungkinan mengalami yang namanya gangguan pada kulit seperti bisul yang tidak ada pada gejala flu.

Selalu ada cara untuk menangani dan mencegah kasus difteri, namun akan lebih baik kalau kita juga lebih dulu mengenal setiap penyebab dan gejalanya. Berikut adalah ulasan singkat mengenai beberapa hal tentang difteri, mulai dari faktor penyebab hingga gejala dan cara mengobati difteri.

Penyebab

Difteri pada umumnya disebabkan oleh bakteri yang berjenis Corynebacterium difteri dan keadaan ini pada umumnya dapat disebarkan melalui kontak dari satu orang ke orang lainnya. Namun penularan atau penyebaran juga bisa terjadi melalui kontak dengan benda-benda yang sudah disentuh orang-orang dengan difteri yang akhirnya membuat bakteri menempel pada benda tersebut.

Bila benda tersebut dipegang atau dipakai oleh orang lain, maka orang tersebut berisiko besar menderita difteri karenanya, seperti misalnya tisu memegang tisu bekas atau menggunakan cangkir yang sama dengan penderita difteri. Tak hanya itu, penularan juga dapat terjadi ketika Anda berada di dekat atau sekitar orang yang terkena difteri, terutama saat penderita tersebut bersin atau batuk.

Perlu juga diketahui bahwa orang yang terkena infeksi oleh bakteri penyebab difteri dan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda difteri pun masih bisa menyebarkan infeksi bakteri. Hal ini dapat terjadi sampai 6 minggu dari sejak infeksi awal.

Saat terinfeksi, bakteri rupanya mampu melepaskan zat berbahaya yang kita sebut dengan toksin dan bakteri tersebut paling umum menyerang bagian tenggorokan dan juga hidung. Penyebaran racun atau toksin tersebut adalah lewat aliran darah dan hal tersebut akan menjadi pemicu timbulnya lapisan warna abu-abu yang cukup tebal di lidah, saluran pernapasan, tenggorokan serta hidung.

Beberapa faktor risiko pun kiranya bisa diketahui oleh Anda agar mampu menurunkan risiko difteri. Apa saja faktor yang mampu memperbesar potensi diri kita untuk terserang bakteri penyebab difteri?

  • Tinggal di negara yang masih berkembang.
  • Tinggal di wilayah yang tingkat imunisasinya rendah.
  • Faktor usia, di mana artinya difteri lebih berisiko tinggi terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun serta orang tua yang sudah di atas 60 tahun.
  • Tidak memperoleh vaksinasi atau imunisasi sewaktu masih bayi.
  • Tinggal di tempat atau wilayah yang tingkat kebersihannya rendah dan berpenduduk padat.
  • Mengunjungi negara yang tak menyediakan imunisasi untuk difteri.
  • Mempunyai gangguan sistem daya tahan tubuh, seperti halnya menderita AIDS.

Gejala

Difteri juga memiliki gejala seperti halnya penyakit menular lainnya dan tanda-tanda difteri pada umumnya muncul dalam 2-5 hari sesudah terjadinya infeksi. Namun memang pada beberapa kasus, gejala tidaklah muncul sementara pada kasus-kasus lainnya gejala ringanlah yang dialami penderita seperti ketika menderita flu.

Lapisan abu-abu yang tebal di bagian amandel dan tenggorokan adalah yang paling umum menjadi keluhan gejala dari kondisi difteri yang paling kelihatan. Sementara itu, untuk gejala lainnya yang dapat terjadi antara lain adalah:

  • Kulit berwarna kebiruan.
  • Sakit tenggorokan.
  • Batuk
  • Demam
  • Tubuh panas dingin atau menggigil
  • Kulit berwarna kebiruan.
  • Kelenjar getah bening yang membengkak.
  • Perasaan tak nyaman.
  • Ngiler

Bila gejala-gejala tersebut terjadi sebagai gejala awal, maka di bawah ini merupakan gejala tambahan yang biasanya dialami penderita sewaktu infeksi tengah berlangsung, yakni:

  • Perubahan atau gangguan penglihatan.
  • Sulit menelan.
  • Sulit bernapas.
  • Bicara yang tak jelas.
  • Tanda syok, seperti berkeringat, kulit dingin, kulit memucat, detak jantung berdebar lebih kencang.

Apabila penderita memang tinggal di area dengan kondisi kebersihan yang rendah, maka difteri kulit dapat berisiko tinggi untuk berkembang. Orang-orang yang tinggal di wilayah tropis pun demikian, dan difteri kulit pada umumnya adalah penyebab dari timbulnya bisul serta kemerahan di area kulit yang terkena.

Kapan Harus ke Dokter?

Untuk kapan Anda perlu ke dokter, maka secepatnya setelah misalnya berdekatan dengan seseorang yang diketahui menderita difteri atau berada di lingkungan yang orang-orangnya menderita difteri. Bila memang belum pernah mendapatkan imunisasi atau vaksin difteri, segera atur untuk memperolehnya agar mampu mencegah gejala dan komplikasinya.

Pengobatan

Setelah gejala dirasakan dan saat diperiksa dokter mencurigai bahwa pasien memang benar menderita difteri dengan adanya membran abu-abu pada amandel dan tenggorokan disertai rasa sakit di bagian tersebut, biasanya dokter akan mengambil contoh atau sampel jaringan dari bagian yang terinfeksi. Sampel tersebut kemudian akan diperiksa di laboratorium untuk mengecek tipe difteri.

Ketika dokter mencurigai adanya difteri, maka pengobatan yang sesuai pun akan langsung dokter berikan, bahkan pemberiannya bakal dilakukan sebelum hasil tes bakteri diperoleh. Berikut ini adalah contoh perawatan atau pengobatan difteri yang biasanya diberikan kepada pasien yang positif terkena difteri.

  • Antibiotik

Difteri juga merupakan sebuah penyakit yang diatasi menggunakan jenis antibiotik tertentu di mana biasanya obat yang diberikan adalah eritromisin atau penisilin. Mengapa dokter memberikan antibiotik? Tujuan utamanya adalah sebagai pembunuh bakteri di dalam tubuh pasien serta agar infeksi dapat benar-benar bersih. Antibiotik diketahui mampu membantu mengurangi gejala dengan cukup baik sesuai dengan resep yang diberikan dokter.

  • Antitoksin

Dokter pun berkemungkinan besar memberikan antitoksin kepada penderita difteri dan pengobatan dengan antitoksin ini dapat diberikan kepada anak-anak maupun orang dewasa. Cara pemberian antitoksin biasanya adalah dengan disuntikkan langsung ke pembuluh darah atau otot di mana racun difteri akan dinetralkan dengan obat satu ini terutama bila racun sudah beredar di dalam tubuh penderita.

Dokter akan melakukan lebih dulu tes alergi pada kulit pasien sebelum memberikan antitoksin supaya dapat dipastikan bahwa pasien tersebut tak ada alergi terhadap jenis obat satu ini. Pada umumnya, bila dokter bisa saja memberikan dosis kecil antitoksin lebih dulu sebelum akhirnya menambah dosis secara bertahap.

Anak-anak maupun orang dewasa dengan kondisi difteri biasanya perlu untuk berada di rumah sakit demi memperoleh perawatan yang maksimal. Rawat inap dan perawatan intensif dibutuhkan pasien difteri sebab difteri sendiri dapat menyebar secara cepat dan mudah pada siapapun yang belum mendapatkan imunisasi difteri. Maka perawatan di rumah sakit dianggap yang paling aman.

Pengobatan secara Alami

Selain pemberian obat-obatan, ada beberapa cara atau langkah pengobatan alami yang bisa dicoba oleh para penderita difteri. Penderita difteri juga dapat dibantu dalam pemulihan mereka menggunakan bahan-bahan yang sederhana namun memberikan manfaat besar bagi kesehatan. Berikut adalah sejumlah bahan alami yang dimaksud.

  • Garam Meja – Garam meja biasanya diketahui paling ampuh dalam menangani masalah kesehatan seperti batuk atau sakit tenggorokan secara alami. Begitu juga tenggrokan yang sakit sebagai salah satu tanda difteri. Cukup minumlah segelas air garam secara rutin karena efek sakit di tenggorokan dapat berkurang karenanya. Bahkan bila terjadi gangguan pada pernapasan pun ini bisa jadi adalah efek dari kekurangan garam di dalam tubuh sehingga minum air garam akan membantu.
  • Jus Bawang Putih – Meski bahaya bawang putih mentah mungkin kerap menjadi kekhawatiran saat hendak mengonsumsinya, belum lagi adanya efek samping bawang putih, tetap saja bumbu dapur ini akan memberikan manfaat kesehatan bila digunakan secara tepat. Untuk penderita difteri, hancurkan lebih dulu 2-3 siung bawang putih yang hasilnya adalah 1 sendok penuh. Langsung masukkan ke dalma mulut dan telanlah begitu saja untuk perawatan rutin penyembuhan difteri. Hingga gejala benar-benar hilang, pastikan untuk terus mengulangi cara pengobatan alami ini dalam beberapa hari dan buktikan efektivitasnya.
  • Jus Nanas Segar – Buah nanas segar yang dibuat jus pun ternyata sangat direkomendasikan untuk mengobati difteri secara alami dan efektif. Tak perlu terlalu banyak mengonsumsinya karena hanya dengan menggunakan sedikit jus nanas segar secara teratur, bahan ini dipercaya mampu membantu agar toksin atau racun bisa hilang, terutama yang menyebabkan tenggorokan terasa sakit.
  • Es Batu – Dalam membantu menyembuhkan difteri secara alami, es batu adalah bahan alami dan mudah didapat untuk kemudian dibungkus menggunakan kain atau handuk tipis bersih dan dikompreskan ke bagian leher yang mengalami pembesaran. Es batu tidak dianjurkan untuk digunakan secara langsung, jadi pastikan untuk menggunakannya dengan dibungkus kain/handuk lebih dulu. Cara ini pun akan membantu penderita yang mengalami demam agar suhu tubuhnya menurun.
  • Madu dan LemonBuah yang mengandung vitamin C tinggi kemudian dikombinasikan dengan madu akan menjadi ramuan yang baik bagi kondisi penderita difteri. Keduanya bisa dicampurkan ke dalam segelas air panas dan konsumsilah selagi hangat setiap hari di mana per harinya penderita bisa mengonsumsi 3-4 hari.

Tak hanya pengobatan medis dan juga alami itu saja yang perlu untuk diperhatikan para penderita difteri, tapi juga setiap penderita sangat penting untuk beristirahat total. Mengurangi kegiatan fisik dan memperbanyak istirahat di tempat tidur benar-benar dianjurkan dan biasanya perlu sampai beberapa minggu untuk berada di tempat tidur sampai dinyatakan benar-benar pulih.

Pencegahan dan Komplikasi

Sebelum pada akhirnya sekarang obat jenis antibiotik dapat membantu agar difteria dapat diatasi, pada zaman dulu difteria sendiri sangatlah umum diderita khususnya oleh anak-anak yang masih muda atau kecil. Dengan keberadaan vaksinasi atau imunisasi, difteri menjadi suatu kondisi penyakit menular yang lebih gampang dicegah serta diobati.

Vaksin atau imunisasi DPT adalah suatu cara untuk mencegah supaya risiko difteri dapat menurun. Tak hanya difteri, tujuan dari mendapatkan imunisasi tersebut adalah untuk mencegah tetanus serta pertusis alias batuk rejan. Imunisasi ini lebih dianjurkan untuk diterima anak-anak mulai dari usia bayi, yakni saat usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, lalu kemudian juga diperuntukkan bagi usia 15-18 bulan dan juga anak 4-6 tahun.

Imunisasi memang dipercaya sebagai langkah ampuh dan efektif dalam mencegah difteria, namun ada beberapa efek samping imunisasi difteri tetanus yang perlu diketahui lebih dulu agar dapat mewaspadainya. Atau, tanyakan lebih dulu kepada dokter Anda bagaimana cara meminimalisir risiko efek samping.

Meski efek samping tergolong ringan, imunisasi ini tetap harus dikonsultasikan dengan dokter lebih dulu berikut perencanaan cara mengurangi atau menangani efeknya. Tak hanya itu, beberapa anak dapat mengalami kejang atau bahkan kondisi sistem saraf lainnya karena suntikan imunisasi. Apabila anak Anda memiliki riwayat dengan gangguan sistem saraf, biasanya imunisasi DPT tidaklah dianjurkan.

Risiko Komplikasi

Ada kalanya penderita difteri tak langsung mendapatkan penanganan yang seharusnya untuk mengobati gejala yang sudah dialami. Ketika dibiarkan tak tertangani atau terlambat sehingga gejala menjadi lebih serius, ada beberapa kondisi komplikasi yang berbahaya bagi kesehatan penderita, yakni:

  • Kerusakan Saraf

Jangan kira difteri adalah penyakit menular yang meski bisa disembuhkan tak bisa memicu adanya komplikasi. Saat tak ditangani atau ditangani secara tak tepat, racun bisa menyebar yang kemudian bisa merusak saraf penderita. Bagian tubuh penderita yang kemungkinan mengalami bahaya komplikasi ini adalah saraf tenggorokan sehingga tandanya adalah sulit untuk menelan.

Peradangan juga dapat menyerang bagian saraf lengan dan tungkai sehingga menimbulkan kelemahan otot di bagian tersebut. Apabila racun sudah sampai pada saraf pengendali otot terutama otot pernapasan, otomatis otot sebagai akibatnya akan lumpuh. Pernapasan pun menjadi lebih sulit dan terganggu sehingga penderita membutuhkan alat bantu pernapasan demi dapat bernapas.

  • Gangguan Pernapasan

Masalah pernapasan bisa juga menjadi salah satu bahaya yang terjadi bila penderita gejala difteri tak segera ditangani. Bakteri yang menyebabkan difteri akan menghasilkan toksin atau racun di mana racun itulah yang berperan sebagai perusak jaringan pada area yang terkena infeksi di mana hidung adalah salah satunya selain tenggorokan.

Pada area tersebut, infeksi kemudian akan menghasilkan membran di mana warnanya diketahui abu-abu pekat dan membran inilah yang diketahui menjadi penghambat pernapasan. Supaya tidak menjadi berkelanjutan dan makin parah, tentu penderita disarankan untuk secepatnya menemui dokter untuk menangani masalah ini.

  • Kerusakan Jantung

Racun yang dihasilkan bakteri penyebab difteri bisa terjadi penyebaran lewat aliran darah dan pada akhirnya menjadi perusak jaringan lain pada tubuh penderita, termasuk otot jantung. Miokarditis atau kondisi membengkaknya otot jantung adalah salah satu contoh komplikasi kerusakan jantung akibat difteri yang tak segera ditangani secara tepat.

Meski demikian, komplikasi dalam bentuk ini tergolong jarang, namun juga jangan disepelekan. Kerusakan jantung akibat membengkaknya otot jantung memang kasus yang tak sering dijumpai, namun ada pula yang sampai serius dan akhirnya memicu pada kondisi gagal jantung kongestif dan juga mengakibatkan penderitanya mati mendadak.

Itulah berbagai informasi difteri mulai dari penyebab, gejala, diagnosa dan pengobatan, hingga cara pencegahan serta risiko komplikasi yang hendaknya diperhatikan dan diwaspadai. Kiranya kita bisa lebih berhati-hati dan lebih cepat bertindak saat gejala awal sudah muncul walau mirip dengan tanda-tanda flu.

Recommended