27 Penyebab Gangguan Jiwa pada Manusia

8535

Gangguan jiwa merupakan salah satu gangguan mental yang disebabkan oleh beragam faktor yang berasal dari dalam maupun luar. Gangguan mental ini dapat dikenali dengan perubahan pola pikir, tingkah laku dan emosi yang berubah secara mendadak tanpa disertai alasan yang jelas. Stres yang menjadi pemicu awal terjadinya gangguan jiwa akan membuat seseorang tidak mampu beraktivitas secara normal. Jika stres ini tidak ditangani secara cepat maka akan berlanjut pada gejala gangguan kejiwaan. Pada umumnya terdapat tiga fakor yang mempengaruhi kejiwaan seseorang yakni :

  • Faktor Somatogenik yang berkaitan dengan fisik biologis
  • Faktor Psikogenik yang berkaitan dengan psikologis
  • Faktor Sosiogenik yang berkaitan dengan sosial budaya serta lingkungan

Banyaknya beban pikiran atau persoalan hidup yang mendesak dapat menjadikan seseorang kehilangan kendali pada kejiwaannya sendiri. Puncaknya ketika kontrol diri tidak lagi bisa dipertahankan maka otak tidak mampu berkerja dengan baik. Ketika seseorang mulai mengalami gejala gangguan jiwa seperti perubahan mood secara drastis, takut yang berlebihan, emosi yang meluap-luap serta menarik diri dari kehidupan sosial maka segera tangani sesuai ketentuan medis. Hal ini supaya tidak berlanjut pada tahapan gangguan kejiwaan yang semakin parah. Penyebab dari gangguan kejiwaan sangat bervariatif seperti berikut ini :

1. Faktor Genetik atau Keturunan

Jika dalam silsilah keluarga terdapat riwayat gangguan kejiwaan maka keturunannya juga berpotensi mengalami gangguan medis serupa. Hal ini karena adanya keterkaitan gen pada anak yang didapatkan dari orang tuanya. Untuk itu, bagi seseorang yang memang mempunyai riwayat gangguan medis ini sebaiknya tetap menjaga gaya hidup sehat serta menghindari hal-hal yang dapat memicu datangnya gejala gangguan jiwa.

Hubungan darah yang mempunyai silsilah gangguan kejiwaan ini juga dapat dipicu dengan munculnya persoalan atau beban pikiran yang berat. Selain itu, gangguan kejiwaan yang disebabkan dari faktor genetik ini juga dapat dipicu karena adanya gangguan fisik serta tidak normalnya gen serta kromoson yang terbentuk didalam tubuh.

2. Nerokimia

Faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan kejiwaan bisa juga diakibatkan oleh nerokimia dimana kromosom no 21 mengalami gangguan. Penderita pada umumnya akan mengalami gangguan perkembangan atau down syndrome yang menyebabkan keterbelakangan mental. Secara genetis, penyebab down syndrome merupakan faktor gangguan yang disebabkan karena munculnya kromoson tambahan. Penderita down syndrome atau keterbelakangan mental biasanya mempunyai ciri-ciri :

  • bentuk wajah yang bundar
  • melipatnya kulit disekitar kelopak mata
  • tengkorak rata
  • lidah cenderung menonjol keluar
  • panjang tungkai dan lengan tidak normal (pendek)
  • kemampuan motorik yang tergolong rendah.

3. Faktor Sosial Budaya dan Lingkungan

Karakteristik atau pola perilaku seseorang dapat terbentuk berdasarkan lingkungan sekitar bahkan kebudayaan di wilayah tertentu. Tipe gangguan jiwa juga dapat terbentuk dari perubahan perilaku yang disebabkan oleh akulturasi budaya. Ketidakmampuan seseorang untuk beradaptasi d iwilayah tertentu juga sangat berpotensi untuk memicu datangnya gejala gangguan jiwa pada seseorang.

Tidak jarang dalam budaya tertentu, akan membuat seseorang merasa tertekan dan berlanjut pada perasaan depresi. Meskipun faktor sosial budaya dan lingkungan memang bukan faktor utama yang menjadi penyebab langsung dari gangguan kejiwaan namun setidaknya dapat mempengaruhi kepribadian melalui aturan atau norma dan kebiasaan yang berlaku sesuai wilayah masing-masing.

4. Faktor Cacat Kongenital

Gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh faktor kecacatan kongenital ini terjadi sejak lahir atau bawaan lahir. Dimana ketika seseorang  terlahir dengan kondisi yang tidak normal dari segi mental maka perkembangan jiwanya juga akan terpengaruh. Semakin parah keterbatasan atau cacat yang dimiliki akan menentukan seberapa dalam pengaruhnya pada kejiwaan anak orang tersebut.

Anak-anak yang terlahir kurang beruntung pada umumnya akan dilindungi atau diproteksi secara berlebihan oleh orang tuanya. Padahal hal ini justru akan mempersulit si anak dalam beradaptasi dengan kekurangan yang dimiliki. Tumbuh dalam keadaan cacat mungkin akan membuat anak juga mendapat penolakan dari orang sekitar yang tidak bisa membuka pikiran untuk bersosialisasi dengannya. Timbulnya tuntutan untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan karena kecacatan yang dimiliki, juga berperan besar bagi kejiwaan anak. Terlepas dari semua permasalahan dari fisik yang kurang sempurna, sebenarnya perkembangan kejiwaan anak tetap dapat berjalan normal ketika ia bisa menerima keadaan serta mampu beradaptasi dengan kondisi diri.

5. Faktor Jasmaniah

Penelitian membuktikan bahwa faktor jasmaniah seseorang dapat berpotensi memicu terjadinya gangguan kejiwaan. Bentuk tubuh ini secara langsung juga akan memicu kecenderungan gangguan tertentu. Bentuk tubuh endoform atau gemuk dan ectoform atau kurus, keduanya sama-sama berpotensi memicu gangguan jiwa. Selain itu, bagi seseorang yang mempunyai tinggi badan yang tidak normal juga sangat berpotensi mengalami kecenderungan serupa.

6. Faktor Deprivasi

Seperti pada pendefinisian deprivasi itu sendiri yang berarti kehilangan fisik, kejiwaan seseorang dapat terguncang ketika mengalami hal ini. Mayoritas orang yang terlahir dengan fisik sempurna namun karena beragam sebab, harus kehilangan beberapa anggota badannya pasti akan mengalami penyebab depresi berat yang biasanya berlanjut pada gangguan kejiwaan. Misalkan seseorang yang harus diamputasi kakinya karena kecelakaan dan terluka parah. Meskipun jalur amputasi atau pemotongan bagian tubuh tersebut bertujuan untuk menyelamatkan hidupnya namun, tetap saja penderita akan merasa shock berat dan sulit menerima kenyataan.

7. Faktor Tempramen atau Peluapan Emosi yang Berlebihan

Tingkat kepekaan seseorang antara satu dengan lainnya biasanya mempunyai kadar yang berbeda-beda. Dimana ketika tingkat kepekaan tersebut cenderung pada arah sensitif maka, biasanya orang tersebut akan bermasalah pada kejiwaan. Hal ini karena adanya ketegangan dan merasa apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan orang tersebut. Semua perasaaan tersebut akan terakumulasi menjadi luapan emosi yang berlangsung terus menerus bahkan cenderung berlebihan.

8. Penggunaan Obat-Obatan Terlarang

Penggunaan obat terlarang yang bersifat adiksi untuk menanggulangi stres akan tekanan hidup nyatanya justru dapat memicu terjadinya gejala gangguan kejiwaan pada pemakainya. Zat adiksi yang mempunyai efek ketergantungan bagi pemakainya ini akan merubah persepsi seseorang kedalam hal-hal yang dapat merusak saraf motorik didalam tubuh. Selain itu, proses berpikir yang melibatkan kinerja otak tidak akan berjalan sebagaimana mestinya akibat pengaruh dari zat adiksi yang terkandung didalam obat-obatan terlarang tersebut.

(Baca juga : bahaya narkoba)

9. Patologi Otak

Gangguan kejiwaan dapat dipicu dari kinerja patologi otak yang mengatur semua kendali pada tubuh manusia. gangguan kesehatan yang dapat diklasifikasikan kedalam linkup patologi otak yakni trauma berkepanjangan, infeksi penyakit tertentu, toksin, terganggunya proses metabolisme, pendarahan, serta atrofi otak. Untuk mengantisipasi terjadinya gangguan kejiwaan maka kita wajib meminimalisir semua hal yang berpotensi merugikan kinerja otak dan perkembangan kejiwaan kita sendiri.

10. Terjangkit Penyakit

Ketika seseorang harus merasakan rasa sakit akibat terjangkit penyakit tertentu pasti mental dan kondisi kejiwaannya akan melemah. Terlebihi apabila seseorang yang divonis mengidap penyakit paling mematikan seperti kanker, stroke dan penyakit jantung koroner. Terganggunya kesehatan tubuh pastinya akan menghambat produksi hormon serotonim yang memicu rasa bahagia. Timbulnya rasa putus asa dan rendah diri dapat berujung pada gangguan jiwa apabila tidak ditangani sedini mungkin.

11. Trauma akan Penolakan

Masa kecil merupakan periode emas bagi manusia untuk mengembangkan diri dan beradaptasi dengan keadaan sosial masyarakat sekitar. Namun hal ini tidak berlaku bagi anak-anak yang terlahir dalam kondisi yang tidak diiinginkan dari segi fisik maupun psikis. Dalam memori anak tentunya akan merekam penolakan masyarakat bahkan orang-orang terdekat pada masa kanak-kanak. Tentu ini akan memunculkan rasa trauma ketika ia beranjak dewasa nantinya, sehingga dalam proses pengembangan diri, ia akan memilih penyesuaian yang salah.

12. Deprivasi Parental

Anak-anak yang terlahir dari keluarga dengan karir gemilang tidak mendapat jaminan tumbuh kembang kejiwaannya akan berpredikat bagus. Justru pada beberapa kasus, telah terjadi deprivasi parental dimana seorang anak kehilangan pola asuh dari kedua orang tuanya. Terlepas anak tersebut diberikan asuhan secara formal dilembaga tertentu atau tidak namun kenyataannya deprivasi parental dapat membuat mental anak menjadi tidak stabil.

13. Keluarga Patogenik

Fase atau masa perkembangan anak ditengah-tengah keluarga ternyata sangat rentan memicu terjadinya gangguan jiwa apabila interaksi antara orang tua dengan anak tidak berjalan baik. Interaksi yang bersifat patogenik ini dapat dilihat dari penyesuaian diri yang bersumber pada orang tua namun akan menimbulkan gangguan pada jiwa anak.

Hal ini karena adanya rasa ingin memudahkan segala hal bagi anak sehingga perlindungan yang berlebih ini justru dapat memicu kegagalan interaksi dan perkembangan anak secara mental. Atau kasus lain yakni minimnya peran orang tua dalam membimbing dan mengontrol masa perkembangan anak. Jadi mentalitas dan kejiwaan anak sangat terpengaruh pada perlakuan orang tua. Untuk itu, kita sebagai orang tua harus tetap merangsang proses tumbuh kembang anak tanpa terlalu memanjakannya.

14. Struktur Patogenik dalam Sebuah Keluarga

Struktur keluarga merupakan bagain inti yang sangat berpengaruh pada perkembangan otak dan kejiwaan anak. Adanya permasalahan rumah tangga yang disaksikan anak tentu juga berdampak buruk bagi alam bawah sadarnya. Seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang dan panutan akan cenderung mengalami kecemasan lebih tinggi dibandingkan anak yang tumbuh dalam keluarga harmonis.

Bahkan perkembangan ini akan menentukan seperti apa tingkah laku anak dikemudian hari. Selain itu, permasalahan rumah tangga yang menyebabkan rasa bingung, cemas dan perasaan tidak aman pada anak secara tidak langsung akan berdampak pada terganggunya kejiwaan anak.

15. Pengalaman Menyakitkan dan Kekecewaan Mendalam

Seseorang yang mengalami kejadian menyakitkan dimasa lalu akan mempunyai kenangan buruk sepanjang hidupnya. Terlebih apabila seseorang tersebut  tidak dapat menerima kenyataan yang telah terjadi maka kejiwaaannya juga akan terpengaruh. Perkembangan kepribadian secara tidak langsung akan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar serta kenangan dari masa lalu yang menyakitkan.

Rasa kecewa yang mendalam pada lingkungan sekitar, kematian, mengidap penyakit parah, keretakan hubungan rumah tangga, perpisahan merupakan kejadian yang berpotensi mengubah rasionalitas otak manusia. Meskipun demikian, manusia mempunyai kontrol diri atas segala kejadian pahit serta kemampuan pemecahan masalah secara alamiah.

16. Stress Berkepanjangan

Tekanan hidup yang bersumber dari beragam permasalahan akan memicu timbulnya stress berkepanjangan. Adanya kejadian atau tragedi yang tidak menyenangkan serta membebani pikiran tentunya akan menghambat produksi hormon serotonim didalam tubuh. Permasalahan yang berkepanjangan seperti kecelakaan lalu kehilangan seseorang yang penting dalam hidupnya akan membuat kekacauan pada jiwanya. Daya tahan tubuh yang berfungsi untuk menghadapi stress juga akan menurun drastis.

17. Pendidikan Secara Otoriter

Setiap orang tua tentunya mempunyai pola asuh yang berbeda antara satu dengan lainnya dalam mendidik anak. Mayoritas orang tua menerapkan pendidikan secara otoriter untuk melatih kedisiplinan anak. Kelemahan dari pendidikan yang dilakukan secara otoriter akan membuat hubungan orang tua dengan anak menjadi kaku. Meskipun kedisiplinan anak dapat terbentuk dengan baik, namun sifat agresif akan nampak setelahnya. Sifat lain yang dapat menyebabkan gangguan kejiawaan yakni emosional, pendiam, menarik diri dari pergaulan sosial. Apabila gejala ini berlanjut secara terus menerus maka akan mempengaruhi kejiwaan anak dimasa mendatang.

18. Kesenjangan Antara Harapan dan Kenyataan

Anak-anak akan mengalami fase belajar dan mempunyai keinginan dari apa yang mereka lihat. Seringkali antara harapan yang anak inginkan dengan realita atau kenyataan akan mempunyai perbedaan yang jauh. Pincangnya harapan dan keinginan dengan realita yang ada akan membuat anak terlalu banyak menghayal didunianya sendiri. Hal ini tentu sangat tidak sehat jika dilihat dari segi kejiwaan.

Terlebih apabila hal yang diinginkan atau diharapkan tidak dapat terlaksana didunia nyata maka, hal ini akan menyebabkan timbulnya kekecewaan bagi anak tersebut. Rasa kecewa yang tidak dapat dikontrol dengan baik juga akan berdampak pada perlakuan atas aktivitas yang dapat merugikan diri sendiri bahkan masyarakat umum.

19. Faktor Ekonomi yang Rendah

Setiap orang pasti akan menganggap ekonomi merupakan pilar kehidupan yang tidak dapat dipisahkan dari segala macam aktivitas manusia. Terlebih bagi masyarakat perkotaan yang menjalani kehidupan modern dengan kebutuhan yang semakin bernilai tinggi. Tuntutan dari faktor ekonomi ini akan membuat seseorang yang tergolong pada masyarakat dengan nilai ekonomi rendah mengalami kesulitan hidup yang berpengaruh pada beban pikiran berlebih.

Seseorang yang mengalami permasalahan seperti gaji yang tidak mencukupi kebutuhan, tempat tinggal yang buruk, terbatasnya waktu bersama keluarga akan memicu stress yang berujung pada tumbuhnya kepribadian yang tidak normal.

20. Merasa Dikucilkan oleh Lingkungan

Pada umumnya, seseorang yang berasal dari golongan minoritas akan mendapat perlakuan yang kurang baik dari lingkungan sekitar dimana ia tinggal. Munculnya rasa dikucilkan serta penolakan-penolakan dari lingkungan sekitar akan berdampak pada krisis kepercayaan diri yang berujung pada sikap memberontak. Selain itu, seseorang yang berasal dari golongan minoritas akan cenderung bersifat acuh apabila melakukan tindakan yang membuat lingkungan sekitarnya dirugikan.

21. Terganggunya Fungsi Otak

Otak merupakan salah satu bagian tubuh yang sangat penting dan peranannya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini karena segala reaksi dan kendali anggota tubuh diproses oleh otak. Apabila otak tidak berfungsi dengan baik maka sudah bisa dipastikan seseorang tersebut akan mengalami gangguan kesehatan yang berakibat pada kendali emosi serta perkembangan kejiwaan orang tersebut.

Anak yang mempunyai permasalahan pada fungsi otak akan membutuhkan pola asuh yang lebih khusus dari anak kebanyakan. Terjadinya gangguan pada otak anak dapat disebabkan oleh peradangan kelahiran yang berdampak pada perilaku anak. Pada umumnya, anak-anak yang mengalami gejala ini akan menunjukan sikap susah diatur dan hyperkinetik. Apabila anak dengan kebutuhan khusus ini tidak didukung dengan penanganan serta pola asuh yang sesuai maka kejiwaan anak juga beresiko mengalami gangguan.

22. Berkepribadian Introvert atau Tertutup

Seseorang yang mempunyai sifat pendiam serta tertutup pada umumnya akan dijuluki sebagai sosok yang introvert. Mayoritas orang yang mengalami gangguan jiwa biasanya berasal dari mereka yang mempunyai kepribadian introvert. Orang yang bersifat pendiam ini membuatnya beresiko mengalami gangguan kejiwaan. Ketika semua beban masalah yang mengganggu pikiran hanya dipendam dalam waktu yang lama, tanpa adanya pemecahan maka kejiwaan dari orang tersebut secara tidak langsung akan terpengaruh.

Kejiwaan yang terganggu akibat memendam beban pikiran dalam jangka waktu yang lama ini merupakan salah satu bentuk pengontrolan emosi. Namun apabila kecenderungan ini dilakukan secara terus-menerus akan membuat kejiwaan dari orang tersebut terguncang. Melatih diri untuk terbuka pada setiap masalah yang sedang dialami tentunya akan membawa kelegaan tersendiri bukan?

23. Reaktifitas Susunan Saraf  Vegetatif

Susunan saraf vegetatif dapat mempengaruhi tingkat emosional seseorang. tingginya  reaktifitas emosional ini akan menyebabkan tubuh merespon stress secara berlebihan. Selain itu, reaktifitas emosional yang tinggi juga dapat meningkatkan produksi rasa takut dan kecemasan yang berlebihan pada seseorang. Namun apabila reaktifitas emosional teralu rendah akan berdampak tidak baik pada manusia. Rendahnnya reaktifitas emosional akan menyebabkan seseorang mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Hal ini karena terjadinya asumsi ketidaksesuaian yang disebabkan oleh respon dan reaksi yang sangat sedikit.

24. Perkembangan Psikologik

seseorang akan mengalami perubahan dari pola reaksi dan interaksi dengan lingkungan sekitar ketika menginjak dewasa. Dalam masa kanak-kanak, seseorang akan mengamati keadaan lingkungan berserta pola pikir didalamnya. Perkembangan psikologik yang salah dapat menyebabkan seorang anak mempunyai pola pikir dan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai – nilai yang berlaku. Apabila reaksi ini berlanjut hingga dewasa maka lingkungan sekitar akan membuat jarak dengan orang tersebut karena merasa tidak nyaman. secara tidak langsung, mentalitas anak akan menjadi down. berikut ini beragam bentuk perkembangan psikologik yang salah :

  1. Fixasi yakni merupakan suatu kondisi dimana anak tidak mencapai kematangan dalam berpikir. Dengan kata lain anak ini mengalami kegagalan untuk berkembang ke fase selanjutnya.
  2. Pengalaman Traumatik, ketika seorang anak mengalami trauma pada masa kanak – kanak maka dapat tercermin dari kepekaan yang amat tinggi dalam merespon stress.
  3. Distorsi, yakni merupakan suatu kondisi dimana seorang anak mengalami kegagalan dalam mencapai integrasi kepribadian secara normal. hal ini akan ditunjukan melalui pengembangan sikap dan reaksi yang tidak sesuai dengan orang normal kebanyakan. Hal ini merupakan salah satu ciri – ciri dari anak yang mengalami perkembangan psikologik yang salah.

25. Pribadi yang Persionis dan Ambisius

seseorang yang mempunyai pola pikir perfeksionis biasanya akan mempersiapkan segala sesuatunya secara sempurna menurut sudut pandangnya. Sehingga ketika terjadi hal yang tidak sesuai dengan kehendak yang diharapkan akan memunculkan perasaan kecewa dalam jangka panjang. Terlebih jika seseorang tersebut juga termasuk pribadi yang ambisius, maka akan sangat berpotensi mengalami reaksi depresi ketika apa yang diinginkan tidak dapat tercapai. Perasaan sedih, kecewa, merasa bersalah, serta merasa tidak berguna akan memicu munculnya depresi berat apabila berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

26. Perkembangan Otak Janin Terganggu

Janin yang masih berada didalam kandungan rentan mengalami serangan virus yang menyebabkan kerusakan otak. Hal ini nantinya akan menyebabkan kelainan kejiwaan dimasa mendatang setelah janin tersebut lahir. Virus ini dapat menyerang ketika terjadinya infeksi selama masa kehamilan. Selain itu, malnutrisi, penurunan autoimun serta adanya komplikasi kandungan juga berpotensi membuat perkembangan otak janin terganggu. Fase paling rentan ini terjadi pada trimester kehamilan.

27. Difusi Identitas pada Masa Remaja

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanan yang sangat berpengaruh besar secara psikis bagi seseorang. Banyaknyaa perubahan yang terjadi dalam menyingkapi masalah dan tanggung jawab yang lebih besar tentunya akan membuat remaja mengalami gangguan emosional dalam kadar tertentu. Dalam fase ini, para remaja biasanya juga akan mengalami apa itu difusi identitas. Dimana akan muncul perasaan bingung untuk menentukan identitas diri serta muncul pertanyaan mengapa dan untuk apa ia hidup.

Hal ini akan menyebabkan remaja mengalami sindrom anomi yakni sutu kondisi dimana seseorang akan merasa kebingungan, hilang arah dalam menentukan tujuan serta terasa terombang ambing. Peran orang terdekat seperti keluarga dan lingkungan akan sangat berarti guna mengarahkan remaja kepada pematangan pemikiran dan kesiapan dalam menghadapi masalah.

Berikut ini sejumlah info terkait gangguan jiwa lainnya :