Mengenal Virtual Reality Sebagai Salah Satu Pengobatan Gangguan Depresi

66

Nidia Silva (78) dilansir dari AFP mengatakan bahwa virtual reality/VR membawa kita ke dunia lain yang sangat menyenangkan. Alexandra Ivanovitch selaku perwakulan dari suatu lembaga non-pemerintah dari Miami, AS  memberikan kesempatan pada Silva untuk mencoba menggunakan kacamata VR sebagai bentuk demonstrasi mengobati depresi untuk pensiunan dan lansia di Kuba.

VR merupakan metode baru percobaan untuk mengurangi gejala depresi pada orang-orang yang telah berusia senja dengan membawa mereka ‘berjalan-jalan’ di puncak gunung, dasar laut, hingga luar angkasa. Karena rentannya rasa kesepian yang dialami oleh para lansia, salah satu cara menangkalnya adalah dengan proyek VR Genie tersebut.

Ivanovitch pun mengatakan bahwa proyek ini menggunakan VR karena dengan cara inilah segala keinginan para lansia dapat terpenuhi. Mereka jadi bisa pergi ke mana saja, ke tempat-tempat yang selama ini mereka inginkan. Silva adalah salah satu lansia yang dalam mimpinya, ia dapat berenang bersama lumba-lumba mengarungi lautan di wilayah Kuba.

Silva bercerita bagaimana metode pengobatan eksperimental gangguan depresinya begitu membuatnya gembira karena dengan teknologi VR itulah kita dapat berada di dunia yang mungkin asing, namun sangat indah. Proyek ini dirancang bukan tanpa alasan karena sebuah hasil studi menunjukkan bahwa VR mampu menjadi penolong bagi penderita beberapa masalah mental, mulai dari gangguan kecemasan, depresi, PTSD (gangguan stres pasca-trauma) dan lainnya.

Hasil citra dari VR ini rupanya menurut Aldrich Chan, seorang peneliti yang juga adalah ahli saraf di Miami University, AS mampu menolong kognisi seseorang yang terganggu. Faktanya lagi, para peneliti dari University of California, AS menunjukkan bahwa VR mampu mengatasi anhedonia (kondisi ketika seseorang kehilangan motivasi serta minat, bahkan tak merasa senang ketika mencapai sesuatu atau melakukan sesuatu yang normalnya membuat gembira).

Melalui beragam pengalaman menyenangkan dan positif pasien yang didapat dari VR, para peneliti telah mampu mengintervensinya dengan hasil bahwa gejala depresi bisa berkurang. Mereka yang memperoleh intervensi VR telah terbukti mengalami penurunan rasa cemas, gejala stres dan depresi menurut laporan studi dalam jurnal Consulting and Clinical Psychology.