Home Featured Stres Tidak Bisa Kerjakan PR, Bocah 13 Tahun Bunuh Diri

Stres Tidak Bisa Kerjakan PR, Bocah 13 Tahun Bunuh Diri

by Erlita

Stres hingga depresi bukan hanya masalah kesehatan mental yang dihadapi oleh para orang dewasa lho, karena nyatanya seorang anak berusia 13 tahun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri disebabkan ketidakmampuannya dalam menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan dari sekolah. Menurut laporan dari media lokal NST, sebelum kejadian bunuh diri ini, sang ibu dari anak terserbut mendapat telepon dari sang guru.

Guru tersebut memberi tahu ibu bocah tersebut bahwa anaknya tak pernah dapat menyelesaikan PR dari sekolah. Usai menerima telepon, sang ibu mengajari anaknya lebih dulu sebelum kemudian memintanya menyelesaikan PR. Meski begitu, bocah tersebut saat ditanya oleh ibunya tetap tak dapat menyelesaikan PR.

Tak lama, bocah itu lalu minta izin kepada ibunya untuk mandi dulu sebelum melanjutkan mengerjakan PR-nya. Namun orangtuanya menjadi khawatir dan curiga saat sang anak tak kunjung keluar kamar mandi padahal sudah satu setengah jam. Sang ayah mendengar air masih mengucur dari dalam kamar mandi, hanya saja tak ada jawaban ketika pintu diketuk sehingga memutuskan mendobraknya.

Sayangnya, saat pintu telah berhasil terbuka, sang ayah mendapati anaknya sudah telanjur mengakhiri hidupnya. Saat berupaya memberi CPR atau pertolongan pertama, tetangganya pun turut membantu menelepon polisi dan ambulans. Hanya saja sudah terlambat, sang anak tak dapat diselamatkan. Dan mengembuskan nafas terakhirnya kurang lebih jam 22.55 waktu setempat.

Menurut laporan dari pihak berwajib, anak tersebut selalu memperoleh nilai akademik rendah di sekolahnya dan memiliki minat rendah pula terhadap aktivitas belajar. Orangtuanya pun mengaku kerap mendapat keluhan dari sang anak bahwa pekerjaan rumah dari sekolah membuatnya stres karena saking banyaknya.

Satu lagi yang membuat perasaan sedih timbul bahwa ditemukan catatan dari anak tersebut oleh polisi. Catatan itu sengaja anak itu buat untuk orangtuanya, berisikan ungkapan terima kasih sebab selama 13 tahun ini sudah merawat dirinya dengan baik. Gejala stres dan depresi bukanlah suatu hal yang bisa disepelekan mengingat mulai dari anak-anak hingga orang dewasa mampu mengakhiri hidupnya kapan saja.

Orangtua perlu mengenali apa saja yang menjadi tanda seorang anak mengalami depresi. Beberapa tanda yang nampak secara umum antara lain seperti:

  • Nafsu makan meningkat atau justru menurun drastis.
  • Gampang merasa tersinggung.
  • Sering nampak lemas dan sering tak bersemangat.
  • Merasa pesimis dan putus asa yang ditunjukkan melalui kometar sinis dan kritis terhadap dirinya sendiri.
  • Sering gelisah dan melakukan suatu hal secara berulang.
  • Sulit melakukan interaksi dengan orang lain di sekitarnya dan cenderung memilih menjauh dari lingkungan sosial.
  • Mengeluh sakit kepala dan sakit perut cukup sering.
  • Hilang minat terhadap hal-hal atau kegiatan yang ia biasanya sukai.
  • Susah tidur tiap malam atau bahkan justru jadi kebanyakan tidur.
  • Sering merasa putus asa dan sedih.
  • Sulit konsentrasi yang ditunjukkan melalui prestasi yang menurun di sekolahnya.

Para orangtua perlu lebih peka terhadap apa yang anaknya alami, dan lanjut mengajaknya berbicara dari hati ke hati bila perlu. Namun saat gejala depresi sudah 2 minggu atau bahkan lebih, cobalah bawa anak ke dokter ahli masalah mental. Pengobatan dan psikoterapi seperti konseling adalah cara penanganan paling umum yang akan diberikan kepada anak dengan masalah stres serta depresi.

You may also like