Sunday, January 20, 2019

Atresia Bilier

Atresia bilier mungkin adalah istilah yang tak terlalu banyak terdengar, namun ini merupakan sebuah kondisi di mana bayi baru saja lahir di mana saluran empedunya tak berkembang atau tak terbentuk seperti pada seharusnya. Padahal fungsi saluran empedu paling utama adalah sebagai penyalur empedu yang organ hati hasilkan dan simpan di kantong empedu lalu pengeluaran empedu ke saluran pencernaan secara sedikit-sedikit saat dibutuhkan.

Fungsi empedu sendiri adalah sebagai pencerna makanan berlemak yang masuk ke dalam tubuh dan empedu ini memiliki karakteristik warna kuning agak kehijauan dan berbentuk cairan. Fungsi lainnya adalah sebagai pembuang zat sisa metabolisme serta racun yang bersarang di dalam tubuh sehingga bisa dikatakan bahwa empedu adalah bagian penting tubuh juga.

Bagaimana bila pembentukan saluran empedu yang tak sempurna atau tak seperti normalnya? Otomatis fungsinya tak akan berjalan secara normal. Bahkan empedu juga dengan demikian bakal terus berada di dalam organ hati. Jangan biarkan terlalu lama dan kenali apa bahayanya, penyebab, gejala hingga cara penanganannya.

Jenis dan Penyebab Atresia Bilier

Atresia bilier merupakan jenis gangguan kesehatan yang tak bisa dibiarkan karena mampu menjadi ancaman bagi kesehatan organ hati penderitanya. Organ hati mampu kehilangan fungsi normalnya ketika sudah terlalu serius tanpa adanya penanganan yang cepat dari awal. Maka dari itu, wajib bagi kita mengintip jenis dan penyebabnya.

Untuk jenis atresia bilier diketahui ada 2 macam kelainan, yakni fetal dan perinatal dan berikut ini adalah penjelasan singkat untuk keduanya supaya bisa dibedakan.

  • Fetal adalah jenis atresia bilier yang dialami oleh bayi terutama yang masih di dalam kandungan, namun sebenarnya kasus jenis ini sangat jarang terjadi dan ditemkan.
  • Perinatal adalah jenis atresia bilier yang dialami oleh bayi setelah lahir. Namun pada kasus jenis ini, baru bisa didiagnosa ketika bayi usianya mencapai 2-4 minggu. Kasus atresia bilier pada bayi jenis inilah yang diketahui justru yang paling sering dijumpai bila dibandingkan dengan jenis fetal atresia bilier.

Atresia bilier bukan termasuk penyakit yang umum terjadi pada bayi karena menurut penelitian yang ada, kejadian ini bisa hanya mengenai 1 bayi dari 18 ribu kelahiran. Penyakit ini pun perlu diketahui tak termasuk dalam jenis penyakit menular dan ada beberapa faktor risiko yang sangat perlu diwaspadai oleh setiap wanita yang sedang hamil.

Penyebab atau faktor risiko dari penyakit seperti atresia bilier ini cukup beragam. Demi bisa mengatasinya, tentu perlu bagi kita untuk mengetahui apa saja penyebab atau faktor risiko yang kemungkinan terjadi. Pada dasarnya, penyebab atresia bilier pada bayi belumlah diketahui secara pasti dan ada multifaktorial yang diduga mampu menjadi pemicu kondisi ini.

Meski begitu, ada juga kaitannya dengan proses inflamasi kompleks sehingga saluran empedu menjadi tersumbat. Penyakit ini bisa dipastikan bukanlah suatu penyakit turunan walau memang rata-rata bisa terjadi pada anak atau bayi yang masih berada di dalam kandungan. Untuk kasus atresia bilier yang terjadi pada anak dalam kandungan, maka kemungkinan penyebabnya antara lain:

  • Paparan zat kimia. Zat kimia yang meracuni tubuh bisa kita jumpai di manapun dan bila seorang ibu hamil terlalu sering terkena paparan zat kimia beracun selama hamil maka akan ada kemungkinan bahwa atresia bilier ini mengganggu tumbuh kembang janin dalam kandungan.
  • Pertumbuhan abnormal akan organ hati/saluran empedu. Selalu ada kemungkinan juga bagi bayi di dalam kandungan untuk memiliki pertumbuhan hati atau saluran empedu yang berbeda dari normalnya sehingga meningkatkan risiko dari atresia bilier.
  • Mutasi gen.

Ada juga berbagai faktor yang kemungkinan memicu atresia bilier pada bayi yang setelah lahir, seperti halnya:

  • Infeksi virus atau bakteri. Faktor infeksi virus maupun bakteri bisa terjadi pada bayi sesudah lahir seperti rotavirus, reovirus, serta cytomegalovirus. Pada umumnya, virus-virus tersebut bisa menyerang tak lama sesudah kelahiran anak.
  • Gangguan sistem daya tahan tubuh. Beberapa kasus dari atresia bilier juga disebabkan oleh gangguan sistem daya tahan/kekebalan tubuh yang mampu menyerang saluran empedu atau organ hati dari si penderitanya sendiri. Penyerangan imun terhadap organ-organ tersebut biasanya tidak ada sebab yang jelas.

Karena bukanlah penyakit turunan, maka orang tua yang mempunyai riwayat penyakit ini tak perlu khawatir karena sang calon anak belum tentu bakal menderita penyakit atau kondisi yang sama seperti ini.

Faktor risiko lainnya yang juga wajib diketahui oleh setiap ibu atau calon ibu adalah bahwa bayi dengan jenis kelamin perempuan lebih berisiko tinggi akan terkena atresia bilier meski bayi laki-laki juga ada yang bisa mengalaminya. Selain itu, risiko lebih tinggi juga dialami oleh bayi-bayi yang lahir secara prematur.

Gejala Atresia Bilier

Kondisi bayi yang baru lahir dengan atresia bilier pada umumnya sebetulnya tak begitu kelihatan bahwa ia sedang sakit atau terkena penyakit. Kondisinya terlihat biasa dan kelihatan normal seperti kalau kita melihat bayi pada umumnya. Seperti sudah disebutkan, bayi dengan atresia bilier baru bisa terdiagnosa ketika usianya sudah memasuki 2 minggu atau bahkan bisa sampai 2 bulan.

Bila kasusnya adalah atresia bilier fetal, maka pendeteksian bisa dilakukan sewaktu bayi masih ada di dalam kandungan. Pada banyak kasus jenis fetal biasanya disertai dengan cacat lahir pada bayi, yakni terutama pada jantung, limpa, atau pencernaan. Gejala-gejala inilah yang dapat terjadi dan perlu untuk diwaspadai.

  • Jaundice – Pada kondisi gejala ini, artinya seorang bayi tampak kuning di mana pada beberapa kasus ini terjadi sebagai akibat kelebihan bilirubin, memang benar bahwa seorang bayi baru lahir warna kulitnya bakal menguning tapi normalnya hanya sampai 2 minggu saja. Hanya saja, pada atresia bilier kulit bayi akan terus menguning hingga menjadi lebih parah. Tanda ini adalah yang terlihat jelas di kulit maupun area bola mata yang warna seharusnya adalah putih.
  • Urine berwarna gelap – Pada kasus atresia bilier, bayi kemungkinan besar juga mengalami gejala di mana air seni berwarna gelap. Bila urine berwarna gelap, ini menjadi tanda bahwa bilirubin sudah tercampur dengan urine dan darah. Warna gelap ini sebenarnya lebih ke warna coklat dan mirip seperti teh.
  • Feses berwarna pucat – Kotoran bayi yang menderita atresia bilier pun memiliki warna yang tak normal. Warna feses bisa sangat pucat dan agak putih atau abu-abu. Keluhan seperti ini menjadi pertanda bahwa bilirubin tak sampai usus. Ada pula yang menggambarkan bahwa feses yang berwarna abu-abu pucat mirip seperti dempul.
  • Sulit dalam meningkatkan berat badan.
  • Penurunan berat badan yang cukup drastis.
  • Perut mengalami pembengkakan.
  • Organ hati dan limpa membesar.
  • Rewel terus-menerus.

Karena bayi yang menjadi penderita atresia bilier mengalami berat badan yang turun dan sulit menaikkannya kembali, hal ini pada akhirnya akan berimbas pada tumbuh kembangnya yang tak bisa senormal anak-anak lain.

Metode Diagnosa dan Pengobatan Atresia Bilier

Bila gejala-gejala di atas dialami oleh seorang bayi, maka penting bagi orang tuanya untuk kemudian memeriksakan sang buah hati agar mampu menjawab kecurigaan akan adanya penyakit atresia bilier pada anak tersebut. Sejumlah tes diperlukan untuk memastikan kondisi, yakni seperti:

  • Tes darah
  • Rontgen
  • USG
  • Biopsi hati
  • Pemindaian hati

Namun ada pula beberapa kasus di mana demi memastikan hasil diagnosis harus dilakukan pembedahan terhadap pasien. Ketika dokter sudah mampu mengonfirmasi akan gejala yang timbul dan hasil pemeriksaan yang sudah dilaksanakan, barulah dokter bisa menentukan pengobatan yang paling sesuai dengan kondisi pasien.

Setiap anak yang dicurigai mengalami gejala atresia bilier perlu untuk segera diperiksakan ke dokter anak dan kalau memang sudah positif, anak biasanya dirujukkan ke dokter anak hepatologis atau malah justru langsung ke dokter bedah anak sesuai dengan tingkat dan jenis kondisi. Dokter anak hepatologis itulah yang akan menentukan pengobatan paling sesuai dengan kondisi pasien.

  1. Metode Kasai

Untuk masalah atresia bilier yang merupakan suatu kelainan pada pasien yang masih anak-anak, maka prosedur atau metode Kasai adalah pilihan utama yang paling umum yang akan dianjurkan oleh dokter dalam memperbaikinya. Prosedur ini adalah sebuah bentuk operasi bypass yang biasa digunakan untuk membuang saluran empedu yang mengalami kerusakan.

Setelah saluran empedu yang rusak dibuang maka setelah itu dialirkan pada saluran pencernaan di mana sebagai hasilnya adalah cairan empedu yang masuk langsung menuju bagian dalam usus halus. Proses pengobatan dengan tindakan medis ini biasanya dipilih atau dilakukan jika kerusakan hati permanen belum terjadi; jadi bisa dibilang ini adalah sebuah tindakan medis awal.

Tindakan seperti metode Kasai ini diharapkan untuk dilakukan sebelum usia anak lewat dari usia 3 bulan supaya mampu memastikan bahwa organ hatinya belum rusak permanen. Meski demikian, tetap perlu diketahui bahwa tindakan medis yang meski diketahui banyak membantu dan sering berhasil ini mampu menimbulkan beberapa komplikasi seperti:

  • Defisiensi nutrisi
  • Hipertensi portal
  • Ascites
  • Pruritus
  • Kolangitis bakterial
  1. Transplantasi Hati

Apabila telah cukup terlambat dalam menangani atresia bilier dan sudah tak lagi mampu diatasi menggunakan metode Kasai atau bila tindakan Kasai ternyata gagal dalam pencegahan kerusakan hati permanen, pilihan metode pengobatan yang pastinya disarankan oleh doker adalah transplantasi hati.

Pada sejumlah kasus, walau metode Kasai terbukti banyak yang sukses, penderita pun tak lepas dari kondisi kerusakan hati jangka panjang atau sirosis hati. Karena hal tersebutlah, pada akhirnya transplantasi hati sangat perlu dilakukan dan ditempuh oleh pasien. Bahkan tak perlu khawatir lagi karena penderita atresia bilier yang masih anak-anak dapat menerima donor hati dari orang dewasa dalam ukuran kecil.

Beruntung bahwa di negara kita pun teknologi medis sudah cukup maju dan terbilang canggih. Sebelum ini, memang penderita harus menunggu lebih dulu untuk memperoleh donor hati karena hati yang didonorkan adalah berasal dari anak-anak yang meninggal lainnya. Sebab pertumbuhan jaringan hati bisa sangat cepat, maka anak penderita atresia bilier akan mampu mempunyai hati lengkap ke depannya.

Tak perlu juga cemas akan seperti apa hasil dari transplantasi hati pada anak-anak di Indonesia karena tingkat kesuksesannya termasuk tinggi dan sampai sekarang tetap meningkat bahkan secara signifikan. Karena transplantasi hati ini jugalah ada banyak penderita atresia bilier yang mampu melawan penyakit ini tanpa ada masalah yang berkelanjutan saat beranjak dewasa.

  1. Obat-obatan

Selain dari metode transplantasi hati dan Kasai, pemberian obat-obatan juga akan diberikan kepada pasien. Pada umumnya, obat-obatan masih tetap dibutuhkan oleh penderita demi menghindari risiko kecil akan sistem daya tahan tubuh yang melakukan penolakan akan hati yang baru setelah transplantasi hati dilakukan.

Obat yang dikonsumsi pasien pun tak sembarangan karena harus berdasarkan pada resep dokter. Tak hanya itu, pola makan khusus juga diaplikasikan oleh pasien sesuai anjuran dokter untuk menyertai konsumsi obat-obatan tersebut. Jenis antibiotik tertentu kemungkinan besar akan diberikan sesuai kebutuhan kondisi pasien, berikut juga obat tekanan darah, hingga suplemen larut dalam lemak yang bisa dikonsumsi sesuai dosis yang tepat.

Demikianlah informasi mengenai atresia bilier mulai dari jenis, penyebab, faktor risiko, gejala hingga cara diagnosa yang perlu ditempuh dan pengobatan yang paling tepat bagi setiap penderitanya. Jika memang gejala mencurigakan sudah mulai muncul, segera tanggap dan selamatkan buah hati Anda secepatnya.

Recommended