Home Tips KesehatanKesehatan Hati Asites – Penyebab, Gejala, Jenis, Pengobatan dan Pencegahan

Asites – Penyebab, Gejala, Jenis, Pengobatan dan Pencegahan

by Erlita

Asites merupakan sebuah keadaan di mana rongga abdomen terisi oleh cairan dan biasanya hal ini terjadi saat organ hati tak lagi bekerja secara sempurna. Rongga yang ada di antara kavitas abdomen (peritoneal) dan abdomen itu sendiri akan terdapat cairan. Lokasi dari kavitas abdomen sendiri ada di bawah kavitas dada dan diafragmalah yang menjadi pemisah.

Dari manakah asal cairan tersebut? Diketahui bahwa cairan bersumber dari beberapa kondisi, seperti misalnya gagal jantung kongestif, kanker, penyakit hepatitis, hingga penyakit ginjal (gagal ginjal). Untuk dapat mengetahui lebih lanjut, tentunya penting untuk mengetahui apa saja penyebab, gejala, solusi dan info lainnya.

(Baca juga: gangguan fungsi hati – penyebab pankreatitis)

Penyebab

Asites diketahui bisa saja disebabkan oleh penyakit semacam sirosis hati dan pernyataan tersebut  ada karena memang ada sekitar 80 persen kasus asites di mana sirosis hatilah penyebab utamanya. Meski definisi dari asites sudah dijelaskan, sebetulnya mekanisme tentang asal-muasal bagaimana asites terjadi belumlah diketahui pasti. Hanya saja,  peningkatan tekanan aliran darah di hati disebut-sebut menjadi penyebab dari asites juga.

Teori yang dikatakan paling memungkinkan menjadi faktor pemicu dari asites adalah tekanan pada aliran darah yang meningkat di organ hati dan ini artinya, prinsip dasarnya seperti proses pembentukan edema di area tubuh lain. Pembentukan edema tersebut bisa terjadi sebagai efek atau akibat dari ketidakseimbangan tekanan. Berikut ini adalah sejumlah dugaan faktor risiko asites:

  • Retensi air dan garam. Ginjal bisa saja menganggap rendah akan volume sirkulasi darah sedangkan ginjal sendiri adalah yang memiliki tanggung jawab pada proses terbentuknya asites. Hal ini otomatis kemudian menjadikan ginjal melakukan penyerapan lebih banyak garam serta air kembali karena dijadikan sebagai ganti volume yang hilang.
  • Gagal ginjal lanjut yang timbul sebagai akibat dari retensi umum cairan yang ada pada tubuh.
  • Gagal jantung kongestif.
  • Peningkatan gradien tekanan.

Memang termasuk langka, namun obstruksi internal bisa saja menjadi penyebab terjadinya tekanan sistem portal yang meningkat, berikut juga eksternal kapal portal. Hal ini kemudian berpengaruh dalam terjadinya hipertensi portal namun tanpa sirosis. Pada kasus ini, adanya tumor yang menjadi tekanan dari dalam rongga perut pada pembuluh portal bisa menjadi pemicu. Atau, bekuan darah yang terbentuk pada pembuluh portal sehingga aliran darah yang seharusnya normal menjadi terhalang dan akhirnya malah tekanan dalam wadah meningkat (contoh kasus ini adalah sindrom Budd-Chiari).

Ada pula asites yang dipicu oleh kanker dan inilah yang diketahui sebagai asites ganas. Justru tipe asites seperti inilah yang pada umumnya manifestasi dari organ yang ada pada rongga perut, seperti kanker payudara, kanker perut, kanker pankreas, kanker ovarium, kanker usus besar, kanker paru-paru, dan juga limfoma.

Khusus untuk asites pankreas, ini biasanya lebih besar risikonya terjadi pada orang-orang yang menderita gangguan pankreatitis kronis di mana penyebabnya adalah berdiri terlalu lama atau pankreas yang mengalami peradangan. Ketika pankreatitis kronis terjadi, pemicu yang paling umum diketahui adalah konsumsi alkohol yang terlalu berlebihan dan dalam jangka waktu panjang.

(Baca juga: penyebab usus bocor)

Gejala

Ketika kasus dari asites ini tergolong masih dalam tahap ringan, maka tak ada gejala yang terkait. Asites yang masih dianggap ringan adalah cairan pada rongga abdomen yang berada di bawah kisaran 100-400 ml dan ini berlaku pada orang dewasa. Ciri utama dari asites tentunya adalah peningkatan lingkar perut karena ukuran perut dipastikan bakal membesar.

Sewaktu lingkar perut tampak lebih besar, itu tandanya akumulasi cairan juga lebih banyak. Untuk gejala lainnya yang perlu diwaspadai dan diperhatikan betul-betul adalah:

  • Perut terasa penuh dan kembung.
  • Perut terasa tidak nyaman.
  • Perut terasa nyeri.
  • Sesak nafas (ini dikarenakan pembesaran asites, migrasi cairan yang melewati diafragma sehingga menjadi penyebab efusi pelura, dan juga peningkatan tekanan yang ada di diagfragma itu sendiri).
  • Pusar menjadi datar atau seperti terdorong keluar.
  • Perut menjadi tegang.
  • Pergelangan kaki yang mengalami pembesaran alias edema juga terjadi pada beberapa penderita.

Jenis

Asites pun memiliki 2 jenis secara tradisionalnya, yakni eksudatif dan transudative. Jumlah protein yang dijumpai pada cairan akan menjadi penentu dari penglasifikasian. Namun rupanya, telah ditemukan sistem yang jauh lebih baik di mana pengembangan sistem tersebut dilakukan supaya proses klasifikasi bisa dilakukan berdasar pada jumlah albumin yang ada pada cairan. Hal ini berbeda dari cara tradisional dan pada klasifikasi ini pengukuran albumin dalam darah perlu dilakukan.

Penting untuk diketahui bahwa jenis asites eksudatif adalah jenis asites yang pemicunya adalah alasan lain, di mana ini mempunyai Saag  atau Serum Albumin Ascites Gradient yang berada di bawah 1,1. Sementara itu, asites transudative memiliki kaitan erat dengan hipertensi portal (Budd-Chiari, gagal jantung kongestif, dan juga sirosis seperti yang telah disebutkan).

Diagnosis

Sebelum akhirnya memperoleh pengobatan, segala tanda-tanda asites yang dialami tentu perlu untuk dipastikan. Untuk memastikan bahwa gejala tersebut benar-benar adalah kondisi asites, proses diagnosa pun sangat diperlukan. Pemeriksaan perkusi perut adalah salah satu prosedur diagnosa yang kiranya diperlukan oleh penderita karena dari pemeriksaan inilah akan terdengar suara redaman atau suara tumpul.

Selain dari perkusi perut, penting juga untuk penderita menempuh yang namanya USG. USG bukan hanya ampuh untuk melihat jenis kelamin bayi ketika seseorang hamil karena penggunaan USG juga bisa dilakukan dengan tujuan agar asites dan penyebabnya dapat terdeteksi. Masih ada lagi, parasintesis diagnostik yang bisa dilakukan supaya contoh cairan diperoleh dan bisa diperiksa di laboratorium.

(Baca juga: akibat kelebihan bilirubin)

Pengobatan

Metode pengobatan untuk menangani asites tentunya berdasarkan pada penyebab dasar. Hanya saja karena memang sirosis hati merupakan pemicu utama pada banyak kasus asites, maka pengobatan yang lebih disarankan kali ini adalah berhubungan dengan sirosis hati juga.

  • Obat-obatan

Obat yang lebih dianjurkan untuk mengatasi asites adalah obat-obatan diuretik di mana jenis obat ini sangat berguna untuk membuat ekskresi air serta garam dari ginjal meningkat. Dalam pengaturan asites hati, rekomendasi diuretik di sini adalah kombinasi antara furosemide (Lasix) dan spironolactone (aldactone). Untuk dosis awal, yang direkomendasikan adalah dosis tunggal 40 mlg furosemide dan 100 mg spironolactone.

Namun setelah beberapa waktu, dosis dapat ditingkatkan secara bertahap dan hal ini dilakukan agar respon yang didapatkan pun tepat dengan dosis maksimal 160 mg furosemide dan 400 mg spironolactone. Dosis maksimum masih dianggap baik-baik saja asalkan selama pasien sendiri memiliki toleransi yang baik dan tak mengalami efek samping.

Untuk aturan konsumsi, biasanya pasien akan dianjurkan untuk meminum obat tersebut secara bersama-sama setiap pagi. Hal tersebut lebih disarankan dengan tujuan agar sering buang air kecil bisa dicegah ketika malam hari. Jadi intinya, meminum pagi-pagi akan jauh lebih aman karena jika malam hari terlalu sering buang air kecil justru malah mengganggu tidur.

  • Diet

Untuk asites hati, pembatasan natrium adalah yang paling penting untuk dilakukan. Tak hanya pasien dengan tekanan darah tinggi saja yang perlu mengurangi makanan yang mengandung garam tinggi. Bahkan tak hanya natrium, resep diuretik atau pil air pun juga perlu dibatasi. Asupan yang disarankan untuk dibatasi adalah menjadi tidak lebih dari 2 gram setiap harinya.

Ini adalah sebuah metode pengobatan yang terbilang sukses karena kepraktisannya. Mungkin untuk membuat pengobatan ini menjadi lebih efektif, sebagian besar kasus kemudian memilih untuk mengombinasikan pembatasan natrium dengan penggunaan diuretik. Untuk itulah, pasien perlu mengonsultasikan hal ini bersama dengan ahli gizi adalah keputusan yang lebih baik.

(Baca juga: obat sirosis hati)

  • Terapi Parasintesis

Ketika pengobatan-pengobatan yang direkomendasikan sebelumnya tidaklah dapat ditolerir oleh pasien, maka terapi parasintesis adalah solusinya. Terapi ini dilakukan dengan penempatan jarum di area perut, tepat di bawah keadaan steril. Jarum tersebut berguna sebagai penyedot cairan di cavum peritoneal dan biasanya cairan bisa tersedot dan dihilangkan secara lebih optimal.

Pada terapi ini, keuntungan yang bisa diperoleh adalah pengambilan cairan yang bisa dilakukan cukup banyak, dan aman. Prosedur ini juga disarankan bagi penderita asites malignant di mana efektivitasnya lebih daripada menggunakan obat-obatan diuretik. Jadi, tak ada salahnya mencoba bila cara ini dipercaya bagus.

  • Transplantasi Hati

Pada kasus asites hati, transplantasi hati bisa juga menjadi metode pengobatan yang efektif, terutama bila terjadi gagal hati pada pasien. Proses transplantasi memang termasuk rumit, dan prosedur ini bakal berhasil apabila juga dipantau secara ketat.

  • Operasi

Langkah ini hanya perlu diambil ketika memang kasus asites sudah berulang kali terjadi dan tak kunjung sembuh dengan metode-metode pengobatan yang direkomendasikan sebelumnya. Pembedahan kemungkinan menjadi solusi terbaik karena kemudian asites dapat dikendalikan. Pada sebagian besar kasus, memang prosedur operasi diketahui baik untuk mengurangi pemakaian diuretik dan asites itu sendiri, tapi selalu ada komplikasi signifikan yang perlu diwaspadai, yakni ensefalopati dan juga kematian.

Pencegahan

Ada sejumlah langkah pencegahan yang dianjurkan bagi para penderita sirosis hati dengan gejala asites agar gejala tak makin memburuk. Berikut ini adalah sejumlah cara pencegahan yang kiranya bisa Anda coba lakukan:

  • Mengurangi konsumsi alkohol.
  • Membatasi penggnaan nonsteroidal obat anti-inflamasi.
  • Mengurangi makanan yang asin-asin alias bergaram tinggi.

(Baca juga: gejala sirosis hati – akibat kelebihan dan kekurangan natrium)

Itulah hal-hal penting yang perlu diketahui mengenai asites, jadi selain perawatan secara medis, ada pula cara untuk membatasi makanan supaya tidak memperburuk kondisi. Mengikuti tips diet sehat sedari masih muda adalah cara yang baik untuk menghindari kondisi buruk sirosis hati dan asites juga.

You may also like