Vaksin PCV – Fungsi, Cara Pemberian dan Efek Samping

5324

Vaksin PCV juga dikenal dengan sebutan vaksin konjugasi pneumokokus di mana vaksin ini diberikan untuk memberikan perlindungan bagi orang dewasa, anak-anak dan bayi. Vaksin ini dibutuhkan untuk melawan segala jenis penyakit yang dipicu oleh bakteri yang bernama pneumokokus atau Streptococcus pneumoniae. Vaksin melalui program imunisasi memang masih masuk dalam bagian pemantauan kesehatan.

Pemantauan ini dilakukan dengan tujuan agar kebutuhan kesehatan dasar anak dapat dipenuhi sehingga pertumbuhan dan perkembangannya menjadi lebih maksimal. Telah diungkapkan oleh WHO bahwa ada sekitar 2-3 juta kematian yang bisa dicegah dengan pemberian imunisasi setiap tahun. Selain memberikan proteksi dari penyakit tertentu, angka prevalensi penyakit juga dapat menjadi berkurang. (Baca juga: vaksinasi influenza)

Fungsi

Vaksin atau imunisasi juga diberikan agar epidemi penyakit dapat berubah serta penyakit dapat disembuhkan. Demi memelihara kesehatan anak maupun orang dewasa, jadwal imunisasi yang sudah tersedia hendaknya diketahui dan dijalankan.

  1. Menambah Kekebalan terhadap Virus Pneumokokus

Walau tergolong baru, vaksin PCV sangat penting karena menawarkan perlindungan daya tahan terhadap penyakit Invasive Pneumococcal Diseases atau IPD. Penyakit tersebut bakal terjadi atau muncul ketika infeksi kuman Pneumokokus menyerang tubuh. Pembentukan imunitas di sini sangatlah penting supaya tubuh dapat dengan cepat pulih dari penyakit IPD. Penyakit IPD tersebut meliputi meningitis, pneumonia serta bakteremia yang semuanya cukup kronis bila tak segera ditangani.

(Baca juga: penyebab meningitis)

  1. Mencegah / Mengatasi Pneumonia

Perlu diketahui bahwa pneumonia atau radang paru cukup mengancam jiwa karena dapat mengakibatkan kematian. Penyakit ini cukup serius, apalagi kalau pengobatan dengan antibiotik kurang tepat. Tingkat keparahan pneumonia berada antara tahap ringan hingga sangat parah yang cenderung terjadi dan dialami oleh anak-anak serta orang dewasa di atas usia 65 tahun.

Orang-orang yang sebelumnya sudah mengalami masalah kesehatan lain serta memiliki sistem kekebalan rendah juga rentan akan penyakit ini. Ada sejumlah jenis faktor risiko penyebab dari pneumonia dan di bawah ini bisa kita lihat apa sajakah faktor tersebut:

  • Jamur – Ada juga radang paru yang disebabkan oleh jamur dan ini pada umumnya memicu penurunan sistem daya tahan tubuh. Biasanya jamur penyebab pneumonia ini dapat kita jumpai pada kotoran hewan, terutama kotoran burung. Tapi ada juga jamur jenis ini yang terkandung di dalam tanah.
  • Virus – Ada beberapa jenis virus penyebab flu dan pilek yang bisa memicu pneumonia, jadi sebaiknya tak dianggap enteng bila mengalami flu. Pada umumnya virus-virus jenis ini akan menjangkiti anak-anak yang berada di bawah usia 5 tahun. Untuk kasus viral pneumonia, ini dianggap ringan, tapi jangan lengah karena pada sejumlah kasus pun virus ini dapat berubah serius.
  • Bakteri seperti Organisme – Jika pernah tahu tentang mycoplasma pneumoniae, ini adalah salah satu faktor risiko pneumonia. Gejala ringan akan terjadi dipicu oleh hal ini. Pneumonia berjalan adalah istilah yang kerap dipakai untuk tipe pneumonia dengan penyebab satu ini. Pneumonia ini biasanya tak begitu serius karena gejalanya pun ringan, hanya dengan mengambil waktu untuk istirahat pun dijamin membaik.
  • Bakteri – Tampaknya sudah begitu jelas bahwa bakteri merupakan pemicu terumum dan bakteri penyebab pneumonia kita kenal dengan Streptococcus pneumoniae. Jenis pneumonia akibat bakteri ini bisa tiba-tiba dialami atau terjadi dengan sendirinya. Namun ada juga yang mengalaminya setelah menderita flu atau pilek. Ketika penyakit ini datang, salah satu bagian organ paru kita akan dipengaruhi, dan istilahnya menjadi lobar pneumonia.

(Baca juga: cara meningkatkan nafsu makan)

Vaksin diperlukan untuk mencegah maupun mengatasi segala gejala radang paru. Untuk mengetahui bahwa sebuah kondisi adalah pneumonia, berikut gejala pneumonia yang bisa dilihat:

  • Nyeri dada. Rasa nyeri ini bakal muncul ketika kita menarik napas. Dada pun akan terasa sakit ketika kita batuk.
  • Detak jantung lebih cepat. Bila perdetakan jantung lebih cepat dari normalnya tapi bukan karena setelah berlari atau kaget, kemungkinan ini adalah sebuah ciri timbulnya pneumonia.
  • Sesak nafas. Rasa sesak akan terjadi setiap kali kita melakukan pernapasan dan otomatis napas pun menjadi lebih pendek-pendek dari normalnya.
  • Suhu tubuh rendah. Khusus gejala ini bakal dialami oleh para orang dewasa yang usianya telah mencapai 65 tahun ke atas. Mereka yang kekebalan tubuhnya sedang rendah juga akan memiliki tanda seperti ini, di mana suhu tubuh lebih rendah dari normalnya.
  • Cepat lelah. Kondisi ini ada kaitannya dengan sesak napas juga di mana kita akan mudah terengah-engah meski tak melakukan pekerjaan berat.
  • Demam. Seperti layaknya demam saat mengalami flu, penderita bakal berkeringat sekaligus menggigil.
  • Batuk. Selain napas yang pendek-pendek, penderita juga akan batuk-batuk yang biasanya cenderung batuk berdahak.
  • Sering bingung. Pada orang dewasa yang umurnya sudah 65 tahun atau lebih tua dari itu, perubahan kesadaran mental pun akan terjadi, yaitu sering bingung.

Khusus untuk anak bayi atau balita, memang tak ada tanda infeksi yang tampak. Namun pada beberapa kasus, bayi atau balita dapat menunjukkannya dengan mengalami demam, batuk-batuk disertai mual dan muntah. Mereka juga akan terlihat tak bertenaga dan sanagt lemas. Tak jarang juga tandanya adalah kesulitan bernapas dan tak nafsu makan.

(Baca juga: ciri-ciri radang paru-paru)

  1. Mencegah / Mengatasi Meningitis

Meningitis adalah jenis penyakit lainnya yang dapat dicegah maupun diatasi oleh vaksin PCV. Bila kita pernah mendengar adanya radang selaput otak, maka kondisi inilah yang disebut dengan meningitis. Selaput pelindung atau meninges yang berperan menjadi selimut bagi saraf tulang belakang serta otak mengalami infeksi.

Terjadi pembengkakan juga saat peradangan terjadi diakibatkan oleh infeksi. Di sejumlah kasus, ada juga yang sampai mengalami kerusakan otak dan sistem saraf. Itulah mengapa telah dijadikan kewajiban bagi setiap calon jemaah haji untuk memperoleh vaksinasi meningitis sebelum berangkat. Aturan yang dibuat sejak tahun 2002 ini diberikan oleh pemerintah Arab Saudi demi mencegah penyakit meningitis.

Berikut ini merupakan sejumlah gejala radang selaput otak yang perlu untuk dicegah pada anak yang masih kecil, seperti bayi dan balita:

  • Merasa gelisah di mana mereka juga akan enggan disentuh.
  • Anak akan merasa mudah bingung, responnya menjadi kurang dan tubuh tampak lemas.
  • Menangis secara terus-menerus.
  • Demam tinggi di mana kalau kita menyentuh tangan dan kakinya bakal sangat dingin.
  • Tak jarang juga ada yang mengalami kejang-kejang.
  • Tidak mau menyusu atau tidak mau makan.
  • Muntah
  • Timbul ruam kemerahan yang sulit hilang.
  • Sejumlah anak ada yang sangat cepat merasa mengantuk, bahkan ketika sudah tidur bakal susah dibangunkan.

Lalu adakah gejala yang perlu diketahui dan diwaspadai bagi orang dewasa? Khusus untuk anak yang sudah lebih besar, lalu kemudian orang dewasa serta remaja, inilah gejala yang akan nampak:

  • Tubuh mengalami kejang.
  • Mengalami fotofobia atau takut bahkan sensitif terhadap cahaya.
  • Napas menjadi lebih cepat dari normalnya.
  • Demam tinggi di mana temperaturnya dapat di atas 38 derajat Celsius.
  • Saat demam, tangan dan kaki menjadi dingin dan tubuh bakal menggigil.
  • Kekakuan terjadi di bagian leher.
  • Sering sakit kepala dan sudah pada tahap parah.
  • Sering muntah.

(Baca juga: penyebab paru-paru basah)

  1. Mencegah / Mengatasi Septikemia atau Bakteremia

Septikemia pun masuk ke dalam daftar penyakit yang bisa ditangani dengan vaksin PCV karena bakteri pneumokokus jugalah yang menjadi pemicunya. Ketika bakteri jenis ini menginvasi aliran darah kita, septikemia dapat muncul. Akibat dari penyakit ini cukup fatal apabila tak segera diobati dengan baik. Hanya saja, septikemia ini lebih cenderung dialami oleh mereka yang telah terserang penyakit tertentu sebelumnya.

Septikemia ini memiliki istilah lain yang mungkin kita lebih familiar, yakni keracunan darah atau bakteremia. Bakteri tertentu akan terjadi secara multiplikasi pada aliran darah kita. Ketika sistem daya tahan tubuh seseorang sedang vturun, maka organisme tersebut tak akan dapat dilawan. Pada akhirnya bakteri pun akan masuk ke dalam darah kita.

Selain bakteri pneumokokus, ada bakteri lainnya yang ternyata bertanggung jawab terhadap penyakit ini. Bakteri Streptococcus, Staphylococcus, Pseudomonas, E. Coli, dan juga Klebsiella juga adalah bakteri berbahaya penyebab bakteremia atau septikemia ini. Berikut adalah beberapa kondisi atau faktor peningkat potensi seseorang mengalami bakteremia/septikemia:

  • Abses
  • Penyakit ginjal.
  • Diabetes mellitus.
  • Penyakit liver. (Baca juga: bahaya penyakit liver)
  • Penyakit jantung.
  • Penyalahgunaan alkohol atau zat lainnya.
  • Penyakit maupung cara pengobatan yang dapat membuat ulserasi di perut terprovokasi.
  • Adanya luka terbuka.
  • Luka bakar.
  • Immune suppression therapy yang biasanya digunakan untuk pengelolaan infeksi HIV AIDS.
  • Jenis pneumonia bakterial parah.
  • Kurang gizi atau malnutrisi di mana sistem kekebalan tubuh melemah.
  • Pemakaian narkoba jenis suntikan.

(Baca juga: abses otakabses payudara)

Gejala Septikemia / Bakteremia

Sesudah mengintip kondisi yang mampu memicu atau bahkan memperparah keadaan septikemia, maka berikut ini gejala-gejala septikemia. Vaksin CPV diperlukan supaya gejala penyakit bakteremia ini tak menghampiri.

  • Denyut jantung mengalami percepatan atau lebih cepat dari normalnya.
  • Sesak napas.
  • Penderita diliputi rasa cemas maupun kebingungan.
  • Perut terasa sakit.
  • Gejala gangguan pencernaan, termasuk diare serta muntah yang sebelumnya diawali dengan mual.
  • Tak enak badan berkepanjangan.
  • Demam tinggi secara tiba-tiba dan tubuh ikut menggigil.

(Baca juga: gejala meningitis pada anak)

Kondisi Komplikasi Septikemia

Apabila sebelumnya tak memperoleh vaksin, septikemia juga tak ditangani dengan obat yang benar, ada risiko komplikasi. Komplikasi dapat begitu serius dan mengancam jiwa, seperti misalnya:

  • Syok septik di mana kondisi ini menggambarkan adanya tekanan darah yang menurun drastis dan mengakibatkan kegagalan organ. Sepsis adalah istilah lainnya untuk keadaan ini.
  • Osteomielitis di mana tulang terkena infeksi.
  • Meningitis di mana meninges mengalami peradangan, yang artinya selaput otak terkena radang.
  • Endokarditis di mana endokardium atau lapisan dalam jantung terkena radang.
  • Perikarditis di mana membran (perikardium) pelindung jantung terserang radang.
  • Arthritis di mana sendi-sendi tubuh kita terkena infeksi.

(Baca juga: kelainan darah)

  1. Mencegah / Mengatasi Sinusitis

Radang atau infeksi yang terjadi di bagian dinding sinus adalah yang kita namakan sebagai sinusitis. Infeksi bakterilah yang menyebabkan infeksi dan inflamasi tersebut. Segala usia dapat terjangkit penyakit ini pada umumnya, jadi vaksin PCV dapat diperoleh baik oleh anak-anak maupun orang dewasa yang ketika masa kecilnya belum memperoleh vaksin.

Sinus sendiri merupakan bagian yang posisinya ada pada bagian belakang tulang dahi dan pipi, berupa rongga kecil dengan udara di dalamnya. Untuk mengetahui seperti apa sinusitis, gejala-gejalanya adalah sebagai berikut:

  • Wajah terasa nyeri dan bahkan bila ditekan bakal terasa sakit.
  • Hidung kerap berair atau malah tersumbat seperti ketika terserang flu.
  • Demam yang diikuti dengan temperatur tubuh mencapai 38 derajat Celsius ke atas.
  • Sakit kepala.
  • Batuk
  • Fungsi indera penciuman menurun.

(Baca juga: ciri-ciri sinusitis)

Komplikasi Sinusitis

Sebenarnya komplikasi sinusitis ini cukup jarang terjadi, tapi tetap ada kemungkinan terjadinya komplikasi. Kalaupun ada terjadi komplikasi, anak-anaklah yang rentan terkena komplikasi ini. Berikut ini sejumlah komplikasi sinusitis yang kiranya bisa menjadi pengetahuan kita bersama agar lebih waspada juga.

  • Selulitis. Kondisi ini lebih sering terjadi pada anak dan keadaan ini adalah sebuah infeksi yang memicu timbulnya pembengkakan pada tulang pipi maupun kelopak mata. Bakteri pada kulit menyebar sehingga menyebabkan hal ini.
  • Asma. Komplikasi satu ini adalah komplikasi sinusitis akut. Bila seseorang telah menderita asma dan sudah pulih, sinusitis bakal membuat asma kambuh.
  • Infeksi telinga. Perlu juga pemeriksaan secara rutin ke dokter spesialis THT karena anak pun memiliki potensi terjangkit infeksi telinga.
  • Penurunan fungsi penglihatan. Komplikasi lainnya bisa menyerang bagian mata dan indera penglihatan dapat mengalami penurunan fungsi. Lebih seriusnya lagi, kebutaan dapat mengancam bila tak segera ditangani atau diberi pengobatan yang tepat.
  • Meningitis. Peradangan yang muncul di bagian selaput otak ini dapat menjadi salah satu kondisi komplikasi dari sinusitis. Maka sebelum beralih ke meningitis, anak pun perlu dipastikan sudah mendapat vaksin lengkap dan melakukan pencegahan meningitis.
  • Sinusitis tahap kronis. Sinusitis dapat menjadi lebih parah, yaitu menjadi kronis dan berjangka panjang ketika tidak memperoleh penanganan yang benar. Tidak segera memperoleh vaksin (bila belum melakukannya) juga akan memperbesar risiko sinusitis kronis.

(Baca juga: gejala sinusitis)

Cara Pemberian

Untuk pemberian vaksin PCV, kemasan yang akan kita temui adalah dalam wujud prefilled syringe di mana dosisnya adalah 5 ml. Untuk memberikannya, biasanya dengan suntikan. Proses penyuntikan pun dilakukan secara intramuskular. Di bawah ini adalah ketentuan pemberian yang perlu diketahui.

  • Untuk dosis pertama, vaksin tak boleh dilaksanakan bila usia bayi belum mencapai 6 minggu.
  • Pada kasus bayi yang lahir dengan berat badan rendah, yaitu tidak lebih dari 1500 gram, pemberian vaksin boleh dilakukan sesudah usianya 6-8 minggu secara kronologik.
  • Pemberian vaksin bisa dilaksanakan dengan tidak perlu memerhatikan usia. Namun ini sah-sah saja dengan catatan bahwa bobot tubuh bayi telah sampai pada 2000 gram atau lebih.
  • Vaksin lain seperti MMR, varisela, HiB, HepB, TT dan DPT dapat diberikan bersamaan dengan vaksin PCV. Hanya saja, spuit yang digunakan harus terpisah untuk setiap vaksin. Bahkan proses penyuntikan juga perlu dilaksanakan di sisi badan anak yang berbeda.

Selain dari ketentuan pemberian vaksin PCV tersebut, jadwal pemberian pun juga penting untuk diperhatikan. Rupanya, pemberian vaksin ini perlu untuk dilakukan 4 kali.

  • Dosis pertama dianjurkan untuk diberikan kepada bayi yang usianya sudah mencapai 2 bulan.
  • Dosis kedua dianjurkan untuk diberikan kepada bayi yang usianya telah sampai 4 bulan.
  • Dosis ketiga dianjurkan untuk diberikan kepada bayi yang usianya sudah sampai 6 bulan.
  • Dosis keempat atau terakhir boleh diberikan ketika anak usianya sudah 1 tahun atau 12-15 bulan. Anak yang umurnya sudah 2 tahun juga boleh diberikan vaksin terakhir.

Ada sedikit catatan di sini, yaitu jika anak yang umurnya telah mencapai 6 bulan tapi belum memperoleh vaksin, untuk dosis pertama dan kedua bisa diberikan diantara umur 7-11 bulan. Hanya saja, interval antara dosis perlu diperhatikan dan dilakukan minimal sebulan. Dan jika seorang anak sampai di umurnya yang pertama belum juga memperoleh vaksin PCV, pemberian dosis pertama dan kedua bisa dilakukan ketika usianya mencapai 12-23 bulan. Pada kasus ini, 2 bulan adalah untuk interval antara dosisnya.

Untuk mendapatkan hasilnya, yaitu perlindungan sempurna dari berbagai macam bakteri, maka vaksin bisa diperoleh secara berangkai. Hanya diperlukan sekali suntik pada anak yang usianya sudah lebih dari 2 tahun dan belum mendapatkan vaksin ini. Sekali suntik sama dengan satu dosis yang akan memberikan perlindungan padanya dari bakteri.

Pemberian vaksin PCV7 adalah yang seharusnya dilakukan kepada anak-anak yang usianya antara 2-5 tahun dengan risiko tinggi. Pengecualian ini dikhususkan bagi anak-anak yang mengidap penyakit cukup serius atau tengah menjalani pengobatan tertentu, seperti:

  • Penyakit asma.
  • Penyakit infeksi HIV.
  • Menjalani terapi kortikosteroid secara oral berdosis tinggi.
  • Penyakit gagal jantung.
  • Penyakit jantung bawaan.
  • Defisiensi imun yang merupakan penyakit bawaan.
  • Penyakit ginjal kronis.
  • Anemia sickle cell.
  • Sindrom nefrotik.
  • Penyakit paru kronis.
  • Menjalani terapi radiasi.
  • Penyakit diabetes mellitus.
  • Disfungsi limpa.
  • Aslenia kongenital.

(Baca juga: penyebab hidung tersumbat sebelah)

Pentingnya Vaksin PCV untuk Orang Dewasa

Mungkin sebagian orang dewasa maupun lansia yang usianya sudah sampai 65 tahun ke atas sewaktu kecil belum memperoleh vaksin PCV. Hal ini memang dapat terjadi dan ketika risiko penyakit terjadi, ini bisa jadi dikarenakan vaksin belum didapat. Ketika vaksin belum diterima oleh tubuh, kekebalan akan melemah dan menjadikan tubuh sangat rentan penyakit.

Penting untuk yang usianya sudah mencapai 65 tahun ke atas atau bagi para orang dewasa dengan kondisi penyakit yang menjadi dasar untuk tak bisa memperoleh vaksin PCV, harus segera dikonsultasikan dengan dokter. Mintalah bantuan dokter untuk menjadwalkan satu suntikan vaksin PCV tersebut. Walau sudah terbilang tua, tak masalah untuk mendapatkan vaksin ini, demi mencegah timbulnya penyakit kronis.

Ingat bahwa meningitis dan bakteremia yang dipicu oleh pneumokokus bakal berisiko kematian di antara para orang dewasa, khususnya yang berusia lebih dari 65 tahun. Mungkin para penderita kondisi medis pun bingung harus bagaimana memperoleh vaksin tersebut. Maka untuk dosis dan pemberian tipe vaksin harus dibicarakan dengan dokter supaya ada solusinya.

(Baca juga: cara mengobati sinusitis)

Efek Samping

Vaksin PCV memang meningkatkan kekebalan tubuh supaya tak terjangkit infeksi bakteri secara mudah. Namun dibalik manfaatnya yang baik, ada efek samping yang juga kita harus waspadai. Berikut merupakan efek-efek samping yang kemungkinan bakal terjadi dan dialami setelah memperoleh vaksin.

  • Demam ringan. Demam ini tidak akan sampai berhari-hari karena hanya sebagai efek vaksin bekerja di dalam tubuh. Suhu tubuh saat demam bahkan rata-rata tidak sampai 38 derajat Celsius. Tak perlu khawatir karena demam ini termasuk ringan, tapi tak masalah juga bila ingin diperiksakan ke dokter untuk memastikan. (Baca juga: penyebab demam)
  • Kulit kemerahan. Timbulnya warna kemerahan di bagian yang sudah disuntik merupakan hal biasa dan tak perlu dicemaskan.
  • Pembengkakan. Bengkak pada bagian yang disuntik juga kemungkinan akan terjadi. Tapi pembengkakan ini tak akan berbahaya atau berefek buruk ke depannya.
  • Mengantuk. Bila anak mudah mengantuk setelah disuntik vaksin, ini adalah hal yang biasa. Biarkan ia tidur, efek ini pun tak akan begitu lama.
  • Penurunan nafsu makan. Nafsu makan anak menjadi berkurang sesudah memperoleh vaksin juga sangat mungkin terjadi. Ini pun tak akan bertahan lama, namun jika sampai berkepanjangan, segera bawa ke dokter.
  • Rewel
  • Mencret
  • Muntah

(Baca juga: penyebab dada sakitdada terasa sakit di bagian tengah)

Itulah serangkaian informasi mengenai vaksin PCV yang kiranya dapat membantu pemahaman kita tentang vaksin satu ini. Agaknya banyak juga dari kita yang belum tahu akan apa itu vaksin PCV dan penyakit apa yang terkait dengan vaksin ini. Bila Anda adalah salah satu yang saat kecil belum memperolehnya, mintalah jadwal segera sebelum penyakit-penyakit tersebut menyerang.