Sleep Apnea – Gejala, Penyebab, Diagnosa dan Pengobatan

1217

Istilah sleep apnea pada umumnya sering dialami oleh setiap orang, sleep apnea merupakan gangguan tidur yang disebabkan terganggunya saluran pernafasan di mana dinding tenggorokan rileks hingga terjadi penyempitan, dalam beberapa kasus kondisi ini juga bisa menyebabkan kematian, walau dalam angka yang kecil.

Umumnya ketika seseorang tidur, maka beberapa bagian otot-otot di tenggorakan akan menjadi lemas atau rileks. Tapi sayangnya hal tersebut bisa berakibat bahaya jika dialami oleh seseorang yang menderita sleep apnea. Bagi orang yang menderita gangguan ini tingkat kelemasan otot tenggorokan tersebut sampai pada tahap penyempitan dan menutup saluran pernafasan.

Gangguan yang biasa diamati oleh orang awam seperti mendengkur ini, sebenarnya ada dua, yang pertama sleep apnea dan yang kedua hipponea. Kondisi hipponea ini terjadi ketika hambatan pada saluran pernafasan mencapai 50 persen lebih.

Sementara itu, seseorang yang mengalami sleep apnea yang tidak mendapatkan penanganan bisa berakibat berhenti bernafas secara berulang selama tidur, bahkan tak jarang kondisi ini bisa mencapai ratusan kali bisa menyebabkan otak dan tubuh yang sedang istirahat tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup.

(Baca juga: penyebab ngorok saat tidurpenyebab mengigau saat tidur)

Sleep apnea pun dapat dikelompokkan menjadi dua berdasarkan letak gangguannya:

  • Obstructive Slepep Apnea (OSA)

Gangguan tidur obstruksi adalah tipe sleep apnea yang paling banyak dijumpai kasusnya. Pada OSA gangguan ini terjadi karena sumbatan jalan nafas yang disebabkan oleh lidah yang jatuh kebelakang tenggorokan pada saat tidur.

  • Central Sleep Apnea (CSA)

Gangguan tidur pada CSA ini tidak seperti gangguan yang ada pada OSA. Malah kebalikannya saluran pernafasan sama sekali tidak mengalami penyumbatan. Gangguan tidur pada kasus CSA terjadi karena kemampuan otak gagal mengirimkan sinyal ke otot pernafasan, sebagai akibat ketidak-stabilan pusat pengatur pernafasan.

Gejala Sleep Apnea

Setiap penyakit atau gangguan tentu memperlihatkan gejala yang bisa diamati oleh tenaga medis. Begitu juga dengan sleep apnea. Seorang yang mengalami sleep apnea biasanya tidak menyadari kalau dirinya mengalami gangguan pernafasan pada saat tidur. Gejala apnea tidur ini dapat diketahui dari luar dirinya, seperti teman, keluarga, istri, suami, atau seseorang yang tidur dekat dengan penderita sleep apnea.

Ketika mengalami sleep apnea biasanya otak yang mengalami kekurangan pasokan oksigen akan memberitakan perintah kepada tubuh untuk tersadar. Sehingga penderita akan terbangun untuk membuka saluran pernafasan yang tersumbat untuk kembali bernafas. Biasanya ketika terbangun bisa dalam kondisi tersadar penuh atau setengah sadar.

Saat penderita mengalami sleep apnea pada umumnya orang tersebut akan mengingatnya dengan sadar. Karena akibat yang dialami ketika siang harinya mereka akan merasa lelah dan seperti orang kurang tidur.

(Baca juga: bahaya tidur pagi – bahaya makan malam sebelum tidur)

Lantas seperti apakah gejala yang dapat dipastikan kita menderita sleep apnea? Berikut beberapa gejala yang dapat dicermati:

1. Mendengkur dengan keras

Mendengkur atau mengorok merupakan indikasi yang paling gampang ditemukan. Karena tanpa memerlukan observasi secara detail. Suara mendengkur yang keluar dengan keras. Banyak alasan seseorang akan mendengkur dengan keras. Beberapa diantaranya:

  • Struktur mulut

Kelancaran saluran pernafasan bisa disebabkan karena struktur mulut. Orang dengan pangkal lidah tebal tentunya memiliki resiko tidur mendengkur karena saluran pernaasan menyempit. Kelebihan berat badan juga dapat mempengaruhi karena memiliki jaringan tambahan pada belakang tenggorokan yang dapat menghambat udara masuk. Sementara itu, keras atau tidaknya suara mendengkur diukur dari seberapa parah sumbatan yang terjadi pada saluran pernafasan.

  • Minum alkohol

Seseorang yang biasa mengkonsumsi minuman beralkohol atau terlalu banyak minum alcohol sebelum tidur juga memiliki peluang akan mendengkur ketika tidur. Hal ini disebabkan alcohol mampu mengurangi ketegangan yang ada pada otot bukal. Sehingga berpengaruh kepada otot lain untuk menghindari saluran pernafasan.

  • Sumbatan hidung

Suara berisik yang keluar pada saat tidur pada intinya adalah terjadi penyumbatan pada saluran pernafasan. Mendengkur juga bisa terjadi karena adanya penyumbatan pada hidung. Hidung yang mampet atau kelainan bentuk hidung memiliki potensi karena orang tersebut akan bernafas melalui mulut.

  • Amandel

Hal ini umumnya dialami oleh anak-anak. Peradangan pada amandel membuat amandel mengalami pembesaran. Selain mengeluarkan dengkuran juga mengalami demam, malas makan, dan air liur sering keluar untuk menelan air ludah mengalami rasa sakit.

2. Sering henti nafas dan tersedak

Tersedak atau mengalami henti nafas sering dialami orang yang menderita sleep apnea. Kondisi ini terjadi karena tersumbatnya aliran udara yang masuk kedalam pernafasan. Akibat pasokan oksigen ke dalam otak terganggu. Sehingga tak jarang tiba-tiba mengalami susah bernafas, otak yang merespon kemudian membangunkan tubuh agar saluran pernafasan kembali lancar.

3. Nafas menjadi berat

Seorang yang mengalami sleep apnea dapat juga diamati dari pernafasan seseorang ketika tidur. Tentunya hal ini tidak dapat dilakukan oleh penderita. Tapi orang yang hidup disekitar pasien bisa mengamati suara nafas yang berat bahkan tak jarang menimbulkan suara ketika menarik udara.

4. Mengalami Insomnia

Kondisi sleep apnea juga bisa diamati ketika seseorang bernafas berat dan berisik ditambah kesulitan tidur pada malam hari atau dikenal dengan Insomnia.

5. Keringat berlebihan

Salah satu respon tubuh ketika otak mengalami kekurangan oksigen, dan berusaha menyadarkan otot pernafasan agar segera memasok oksigen membuat keadaan seperti terengah-engah, dan memunculkan butiran keringat yang cukup banyak. Bisa juga hal ini disebut dengan hiperhidrosis.

6. Sering buang air kecil pada malam hari

Memang gejala ini juga mirip dengan gejala pada penyakit diabetes. Penderita sleep apnea juga sering kali terbangun pada malam hari, karena tersendak atau bisa juga rasa ingin buang air kecil.

7. Lelah dan ngantuk di siang hari

Akibat dari sleep apnea ini membuat tubuh tidak memiliki kualitas tidur yang baik. Gangguan tidur di malam hari tersebut membuat penderitanya selalu tersadar, efeknya pada siang hari penderita sering mengalami rasa lelah dan mengantuk berat. Bahkan ketika tidak melakukan aktivitas berat, tubuh akan tetap cepat lelah.

8. Mulut kering dan tenggorokan sakit

Tentunya kita pernah mengalami ketika bangun pagi mulut terasa sangat kering dan rasanya ingin segera meminum air atau tenggorakan terasa sakit ketika menelan air liur. Nah, kedua tanda tersebut juga memperlihatkan adanya gangguan tidur.

9. Kepala pusing pada saat bangun tidur

Kondisi otak yang kekurangan oksigen pada saat tertidur tentunya memiliki dampak pada saat kita terbangun. Biasanya kepala pusing atau merasa berputar pada saat bangun pagi menjadi sinyal tubuh seseorang menderita gangguan sleep apnea.

10. Daya ingat dan konsentrasi menurun

Tak hanya berasa pusing, sleep apnea dalam jangka panjang juga mampu mempengaruhi daya ingat dan tingkat konsentrasi yang menurun. Hal tersebut masih disebabkan oleh kurangnya pasokan oksigen ke dalam otak.

Beberapa gejala yang dapat diamati karena menderita sleep apnea sangat banyak, selain 10 gejala diatas sleep apnea juga dapat diamati dengan menurunnya gairah seksual dan mengalami disfungsi ereksi, gampang marah, dan suasana hati kerap berubah-ubah.

Jika orang-orang terdekat sudah merasa terganggu dengan kerasnya dengkuran kita, ditambah beberapa gejala yang dialami, maka alangkah bijaknya untuk segera memeriksa dan memastikan apakah menderita sleep apnea agar mendapatkan tindakan dan pengobatan yang tepat.

(Baca juga: bahaya tidur sore hari – bahaya tidur setelah makan)

Penyebab Sleep Apnea

Setelah mengetahui gejala dari sleep apnea maka kita juga harus tahu apa saja penyebab dari gangguan saluran pernafasan ketik tidur. Untuk menjawab hal tersebut ternyata ada dua kemungkinan seseorang menderita sleep apnea:

  • Gangguan Henti Nafas Terpusat
    Dalam masalah ini disebabkan otak gagal mengirim sinyal kepada otot untuk segara bernafas. Kegagalan henti nafas ini tentu didasarkan adanya ketidastabilan dalam system prnafasan.
  • Gangguan Henti Nafas Peghambat
    Jika tadi karena disebabkan karena kemampun otak yang mengalami kegagalan mengalami sinyal. Maka dalam kasus ini adanya gangguan pada jaringan lunak yang terdapat pada belakang tenggorokan yang melemas sehingga menghambat masuknya oksigen ke saluran pernafasan ketika tidur.

Pada gangguan jenis ini banyak terjadi dan sering dialami oleh orang dawasa dan anak-anak. Meski resiko tingkat resiko paling tinggi terjadi pada orang dewasa.

Faktor resiko sleep Apnea 

Sama seperti penyakit lainnya, sleep apnea juga memiliki beberapa faktor yang dapat menjadi pemicu atau peningkat resiko mengalami gangguan tidur:

  • Jenis kelamin
  • biasanya sleep apnea lebih sering dialami oleh kaum pria
  • Leher yang besar
    sebagai perbandingan ukuran leher yang lebih besar dari 43 cm memiliki resiko tinggi
  • Obesitas
    Lemak yang berlebihan yang terdapat pada jaringan lunak leher dan perut bisa menjadi potensi gangguan pernafasan.
  • Obat penenang
    Biasanya obat penenang berfungsi untuk mengendurkan ketegangan dari otot, termasuk pada otot saluran pernafasan. Obat tersebut seperti obat tidur atau obat bius.
  • Usia dewasa
    Penderita sleep apnea lebih banyak dialami oleh pria dengan umur dewasa atau berkisar 40 tahun keatas, walaupun bisa juga dialami oleh orang yang usianya lebih muda.
  • Kelainan struktur leher bagian dalam
    Catatan adanya pihak keluarga yang mengalami sleep apnea juga menjadi faktor resiko.
  • Alkohol
    Mengonsumsi minuman beralkohol juga menjadi resiko seseorang menderita sleep apnea.
  • Merokok
    Kebiasaan merokok yang kita lakukan juga memperkuat tingkat resiko, karena adanya inflamasi dan penumpukan cairan di saluran pernafasan atas.

(Baca juga: bahaya tidur di pagi hari – bahaya akibat tidur larut malam)

Diagnosis Sleep Apnea

Sebelum memeriksa gangguan sleep apnea kepada tenaga medis, maka sebaiknya penderita harus terlebih dahulu bertanya kepada orang-orang yang hidup disekitarnya. Biarkan mereka yang mengamati apakah gejala-gejala yang telah dibahas diatas terdapat pada kita. Disana mereka juga mengamati ganguan henti nafas.

Selain itu, ketika hendak memeriksa kepada tenaga medis tentunya juga akan diberikan pertanyaan seperti apa gejala-gejala yang dialami ketika tidur. Selain melakukan pemeriksaan fisik, dokter juga bisa melakukan tes darah guna memastikan apakah ada faktor lain yang mempengaruhi sleep apnea.

Meski demikian, jika seorang tenaga medis juga belum merasa yakin dengan penyebab sleep apnea maka tenaga medis pasti melakukan observasi pada tidur. Beberapa hal yang diamati adalah pola pernafasan, kadar oksigen, dan juga detak jantung. Test ini umumnya biasa dikenal dengan istilah polisomnografi.

Berikut beberapa test yang menyertai prosedur polisomnografi:

  1. EMG atau Elektromiografi

Merupakan tehnik untuk merekam dan memeriksa aktivitas kerja otot. EMG ini dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen elektromiografi sehingga menghasilkan rekaman yang berbama elektromiogram, yang mendeteksi potensi listri yang dihasilkan oleh otot ketika otot tengah aktif maupun sedang beristirahat.

  1. EEG atau Elektroensefalografi

Salah satu test yang dilakukan untuk mengamati dan mengukur aktivitas kelistrikan dari otak untuk memeriksa adanya kelainan otak. Sensor khusus akan difungsikan pada tindakan ini, elektrodda yang ditempatkan dikepala akan dihubungkan melalui kabel menuju komputer yang dipresentasikan dalam bentuk gelombang.

  1. ECG atau Elektrokardiogarfi

Merupakan alat kedokteran utnuk mencatat grafik yang dibuat elektrokardiograf guna merekam aktivitas listrik jantung. Alat ini gunanya sebagai penganalisa sejumlah gelombang dan vector normal depolarisasi berikut juga repolarisasi sehingga informasi diagnosis jantung dapat dihasilkan.

  1. Catatan aliran udara yang masuk melalui mulut dan hidung

Rekaman dan catatan pengamatan tentu akan mempelajari berapa banyak dan berapa waktu ketika seseorang mengalami sleep apnea.

  1. Catatan gerakan pada dada dan perut

Catatan gerakan perut dan dada juga menjadi pengamatan tenaga medis untuk memastikan berapa gerakan yang terjadi pada perut dan dada pada saat seseorang tertidur atau tengah mengalami sleep apnea.

  1. Rekaman audio visual

Rekaman ini tentunya akan menjawab semua aktivitas pada saat tidur malam. Baik gambar visual dari pernafasan maupun bunyi-bunyi yang bisa didengar dari pernafasan seseorang.

(Baca juga: penyebab susah tidur – terapi susah tidur)

Pengobatan Sleep Apnea

Sleep Apnea merupakan gangguan atau penyakit yang terjadi dalam jangka waktu yang sangat panjang, bahkan tak jarang untuk pengobatan kondisi ini memerlukan waktu seumur hidup. Gaya hidup seorang sleep apnea juga mempengaruhi tingkat kesembuhan penderita apnea tidur ini. Selain itu, tenaga medis juga akan melakukan beberapa tindakan dengan memberikan alat bantu yang berfungsi untuk melancarkan sumbatan oksigen yang masuk ke dalam saluran pernafasan atas.

Berikut bisa disimak beberapa cara yang dapa dilakukan guna mengobati sleep apnea:

  • Melakukan perubahan gaya hidup

Merubah gaya hidup sebelumnya menjadi gaya hidup sehat tentu sangat berpengaruh untuk mendapatkan tingkat kesembuhan yang tinggi. Beberapa resiko dari gangguan sleep apnea banyak dipengaruhi oleh gaya hidup seperti, merokok, mengkonsumsi alkohol, hingga asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh.

  • Menghindari obat penenang

Agar sleep apnea yang diderita tidak semakin parah dan membuat henti nafas, maka sebaiknya penderita sleep apnea menghindari obat-obatan yang bersifat menenangkan syarat. Menggunakan obat bius, atau mengkonsumsi obat yang mengandung obat tidur tentunya harus dihindari karena akan membuat otot pernafasan semakin rileks atau lemas dan menutup saluran pernafasan.

  • Menurunkan berat badan

Jika memiliki berat badan berlebih maka sudah sepatutnya untuk memikirkan diet. Dengan turunnya berat badan tentu akan mengurangi jaringan lunak yang terdapat dibelakang tenggorokan, sehingga tidak akan menghambat masuknya aliran udara ke saluran pernafasan atas.

  • Sebaiknya tidur miring ke kanan

Penderita sleep apnea memang tidak dianjurkan untuk tidur terlentang karena dipastikan akan menyubat saluran pernafasan yang ada di tenggorokon. Karena itulah penderita sleep apnea disarankan untuk tidur miring ke kanan. Selain melancarkan pernafasan posisi ini juga tidak menghambat kerja jantung.

  • Tempat bantal

Posisi bantal untuk mengganjal posisi kepala tentu akan membuat nyaman, selain itu juga membantu struktur leher sehingga pangkal lidah tidak menghalangi udara yang masuk ke dalam tengggorokan.

  • Hindari makanan dan berolahraga sebelum tidur

Sebaiknya menghindari makanan yang berat sebelum tidur dan jangan berolahraga sebelum tidur. Karena rasa lelah yang didapatkan setelah berolahraga akan berdampak otot akan semakin lemah karena berusaha mengurangi ketegangan selama melakukan olahraga. Otot yang sangat lemah inilah yang dapat menyumbat saluran pernafasan.

(Baca juga: bahaya tidak tidur di malam hari – cara mengatasi susah tidur)

Pengobatan Medis

1. CPAP atau Continuous Positive Airway Pressure

Merupakan alat untuk meniupkan oksigen bertekanan ke dalam hidung  atau ke dalam hidung dan mulut. Oksigen bertekanan positif ini tentukan akan mencegah tenggorokan menutup selain itu juga dapat mengurangi gejala-gejala akibat sleep apnea.

Sayangnya ketika mengunakan metode pengobatan CPAP maka ada beberapa efek samping yang akan diderita, seperti :

  • Hidung tersumbat
  • Hidung berair
  • Sakit perut dan kembung
  • Sakit telinga
  • Sakit kepala

Jika menggunakan metode diatas mengakibatkan rasa tidak nyaman dengan efek samping yang mengganggu maka lebih baik memberitahukan kepada tenaga medis, agar bisa mendapatkan metode seperti MAD.

2. MAD atau Mandibular Advancement Device

Ini merupakan alat yang digunakan untuk menahan rahang atau lidah guna mencegah penyempitan pada saluran pernafasan yang menjadi pemicu seseorang mendengkur. Alat ini digunakan di atas gigi atau sedang tidur.

3. Obat-obatan

Berbagai obat-obatan juga bisa di minum untuk terapi sleep apnea. meski demikian, penggunaan obat biasanya ditujukan untuk apnea tidur yang tergolong central apnea. Acetazolamide  akan membanti meningkatkan kemampuan guna mengatur pernafasan. Meski belum ada bukti obat-obatan ini dapat menyembuhkan sleep apnea.

4. Operasi

Prosedur operasi merupakan langkah terakhir untuk menyembuhkan sleep apnea yang cukup parah. Berikut beberapa tindakan operasi yang dapat dilakukan:

  • Bariastrik. Ini adalah tindakan operasi pengecilan ukuran lambung untuk mereka yang mengalami obesitas. Meski demikian operasi ini juga bisa menimbulkan komplikasi yang lain bagi penderita obesitas.
  • Trakeastomi. Ini merupakan tindakan dengan memasukan pipa ke tenggorokan sehingga dapat membantu melancarkan pernafasan.
  • Tonsilektomi. Ini merupakan tindakan operasi pengangkatan amandel yang terlalu besar sehingga menghalangi saluran pernafasan ketika tidur.
  • Adenoidektomi. Ini adalah salah satu tindakan untuk mengangkat adenoid yang membesar dan menghalangi saluran pernafasan.
  • Uvulopalatopharyngoplasty. Tindakan ini dilakukan oleh tenaga medis dengan mengangkat jaringan lunak berlebih dari hidung atau tenggorokan.
  • Maxilloamndibular Advancement. Metode satu ini merupakan suatu tindakan untuk memperbaiki tulang rahang ke depan.

Komplikasi dan Pencegahan Sleep Apnea

Semua gangguan pada fungsi tubuh tentunya akan mengalami komplikasi jika tidak ditangani secara cepat dan tepat. Begitu juga dengan sleep apnea ini, kondisi gangguan tersebut ternyata mampu menimbulkan komplikasi, diantaranya:

  • Hipertensi

Dikenal dengan tekanan darah tinggi meski tidak memperlihatkan gejala khusus. Namun kondisi tersebut bisa menjadi pemicu adanya serangan jantung dan stroke. Menjalani gaya hidup sehat dan rutin berolahraga menjadi jawaban yang tepat agar komplikasi ini tidak terjadi.

  • Kecelakaan

Penderita sleep apnea yang sangat parah mampu menyumbankan angka kecelakaan. Hal tersebut dikarenakan penderita sleep apnea akan merasa lelah dan mengatuk ketika beraktivitas akibat kualitas tidur pada malam hari yang terganggu. Apalagi jika penderita memiliki pekerjaan yang harus mengoperasikan alat berat sangat tidak dianjurkan.

(Baca juga: susah tidurtidur berjalan – terapi menghilangkan ngorok)

Cara Mencegah

Jika tidak ingin menderita sleep apnea maka sebagai langkah pencegahan dapat dilakukan dengan menjauhi faktor resikonya. Namun secara umum sleep apnea ini dapat dicegah melalui gaya hidup sehat.

Selama menerapkan gaya hidup sehat, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, mengunakan narkoba, dan rajin berolahraga maka persentase terhindar dari resiko sleep apnea lebih tinggi dibandingkan dengan gaya hidup tak sehat.

Faktor makanan juga memiliki pengaruh untuk mencegah resiko terdampak sleep apnea. Gaya hidup dengan kebiasaan memakanan junk food, makanan berlemak, gorengan membuat tubuh mengalami obesitas. Sehingga melakukan tips diet sehat bakal turut menyumbang pencegahan dari sleep apnea ini.