9 Cara Penularan Epididimitis Wajib Diketahui

1679

Epididimitis merupakan sebuah istilah medis untuk kondisi peradangan di saluran sperma. Saluran sperma ini dikenal dengan sebutan epididimis dan letaknya ada di belakang testis. Pria dengan usia antara 19 hingga 35 tahun adalah yang paling kerap terserang penyakit ini walau memang diketahui bahwa epididimitis bisa menyerang pria dengan berbagai usia.

Peradangan ini masih termasuk dalam jenis penyakit kelamin atau penyakit menular seksual dan pria yang kerap berganti-ganti pasangan dalam melakukan hubungan intim akan memiliki risiko lebih besar terkena penyakit ini. Gejala yang dapat terjadi atau dikeluhkan ketika epididimitis terjadi pada seorang pria antara lain adalah:

  • Pembengkakan pada skrotum berikut disertai ada rasa hangat di sana. Tak hanya itu, pembengkakan otomatis akan terasa begitu sakit sewaktu disentuh dan juga bisa berwarna kemerahan.
  • Cairan sperma yang keluar disertai darah.
  • Testis terasa nyeri dan pada umumnya dirasakan di salah satu sisi.
  • Testis dapat terasa sakit sewaktu disentuh.
  • Sewaktu buang air kecil terasa sakit.
  • Sering terasa ingin buang air kecil namun ketika sudah di toilet tidak akan tuntas; ini biasanya kita kenal dengan istilah anyang-anyangan.
  • Ada cairan tak normal yang keluar dari ujung penis dan ada kaitannya dengan PMS.
  • Pada area sekitar testis ada benjolan yang penyebab utamanya adalah penumpukan cairan.
  • Demam (kasus gejala ini termasuk jarang).
  • Kelenjar getah bening membesar di pangkal paha.
  • Perut bagian bawah terasa tak nyaman atau area sekitar panggul.
  • Saat berhubungan seksual atau sewaktu ejakulasi akan terasa begitu nyeri.

Kondisi ketika peradangan telah menyebar sampai ke testis adalah epididymo-orchitis. Lalu, apa saja cara penularan epididimitis yang sebaiknya diketahui dan dihindari agar tak terserang?

Baca juga:

  1. Bergonta-ganti Pasangan Seksual

Seperti telah dijelaskan sedikit sebelumnya, karena prialah yang paling berisiko tinggi mengalami penyakit ini, maka pria dengan kondisi sering berganti pasangan seksual adalah yang paling rentan. Pasangan seksual yang berbeda-beda bukan hanya akan menyebabkan seseorang terkena penyakit semacam HIV AIDS, melainkan juga masalah PMS lainnya termasuk epididimitis bagi pria.

Risiko peradangan makin besar ketika seorang pria melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang tak pasti. Bahkan diketahui bahwa pemakaian kondom atau tidak pun tak terlalu berpengaruh dan bahkan kondom belum tentu selalu bisa mencegah epididimitis maupun jenis penyakit menular seksual lainnya. Dari pria yang terkena peradangan, pasangan seksualnya atau si wanita pun dapat tertular.

  1. Melakukan Hubungan Seksual di Luar Nikah

Masih ada hubungannya dengan poin pertama, melakukan hubungan seksual di luar nikah bisa menjadi penyebab naiknya potensi seseorang, baik pria maupun wanita tertular penyakit menular seksual, tak terkecuali kondisi seperti epididimitis. Walau wanita adalah yang lebih berisiko, nyatanya epididimitis bisa terjadi pada pria.

  1. Penggunaan Kateter Urine

Penularan penyakit seperti epididimitis ini juga dapat terjadi pada seorang pria yang menggunakan kateter urine. Menggunakan kateter urine, lebih-lebih yang tak terjaga kesterilannya mampu menaikkan potensi seseorang yang menggunakan terkena infeksi bakteri penyebab peradangan di bagian epididimis.

Bila memang memerlukan penggunaan kateter urine, maka sebaiknya memang harus memerhatikan lebih dulu rumah sakit atau klinik yang dituju. Kebersihan yang dijaga dengan baik akan tampak sehingga peralatan yang digunakan pun jelas terbukti steril. Hati-hati dengan penggunaan alat seperti kateter urine maupun alat yang kemungkinan bisa digunakan sebelumnya oleh pasien lain.

Baca juga:

  1. Melakukan Hubungan Seks tanpa Kondom

Benar bahwa kondom tak selalu dapat memberikan proteksi sepenuhnya dan ada kemungkinan di mana meski memakai kondom ketika berhubungan intim, tetap bisa tertular jenis PMS. Hanya saja, melakukan hubungan seksual dengan tidak menggunakan kondom akan makin memperbesar potensi akan penyebaran atau penularan penyakit seksual.

Untuk itu, menggunakan kondom ketika berhubungan seksual bukanlah menutup kemungkinan tertular sama sekali, melainkan memperkecil dan membantu menurunkan risiko proses penularan penyakit seperti epididimitis dari satu orang ke orang yang lain. Pemakaian kondom juga dianggap cara yang lebih aman tak hanya mencegah kehamilan, tapi juga penyebaran bakteri.

  1. Tidak Disunat

Risiko penularan jauh lebih besar ketika seorang pria belum disunat atau tidak disunat. Yang menjadi penyebab dari epididimitis adalah bakteri di mana bila menyebar dan dibiarkan akan mengakibatkan peradangan. Bila demikian, seseorang bisa terkena penularan bakteri lebih-lebih pada pria yang belum disunat, jadi akan lebih baik bila seorang pria untuk melalui proses sunat.

  1. Prosedur Medis Tertentu

Penularan akan bakteri penyebab epididimitis dapat terjadi ketika seseorang pernah menempuh suatu prosedur medis yang kiranya kurang sempurna. Prosedur medis yang dimaksud di sini adalah yang mampu memengaruhi saluran urine. Alangkah baiknya kalau mendiskusikan atau mengonsultasikan dengan dokter apa saja efek dari suatu prosedur medis yang hendak dijalani.

Contoh dari prosedur medis yang kiranya bisa membuat seorang pria menderita epididimitis adalah operasi saluran kemih. Ketika baru saja menjalani operasi tersebut, biasanya bisa menaikkan risiko tinggi untuk tertular atau terkena epididimitis.

Baca juga:

  1. Riwayat Infeksi Tertentu

Seseorang, khususnya pria, akan lebih mudah tertular infeksi bakteri pemicu epididimitis ketika ia memiliki riwayat infeksi tertentu. Riwayat infeksi saluran kemih maupun infeksi prostat bisa cukup memberikan dampak pada kesehatan reproduksi pria. Salah satu risikonya adalah mudah tertular epididimitis sehingga harus berkonsultasi dengan dokter untuk masalah tersebut.

  1. Riwayat Pembesaran Prostat

Seorang pria dapat berisiko mengalami atau menderita pembesaran prostat dan sebagai akibat dari kurangnya penanganan yang tepat adalah mudahnya tertular epididimitis. Bakteri penyebab dari epididimitis akan lebih besar potensinya menyerang seseorang yang memiliki riwayat pembesaran prostat, jadi rajinlah untuk memeriksakan diri ke dokter.

  1. Ketidaknormalan Letak Anatomis Saluran Kemih

Berawal dari letak anatomis saluran kemih yang tak seperti normalnya, penularan akan epididimitis atau penyebaran bakteri penyebab penyakit tersebut bisa makin besar. Pria dengan masalah seperti ini, kiranya segera mengecek kondisi kesehatan dan berkonsultasi dengan dokter supaya mampu menurunkan potensi tertular infeksi bakteri. Faktor ini perlu diatasi terlebih dulu supaya kiranya memperkecil kemungkinan penularan epididimitis untuk ke depannya.

Baca juga:

Cara Mengatasi dan Mencegah Epididimitis

Untuk langkah mengatasi epididimitis apabila sudah tertular, maka simak ulasan singkat berikut ini:

  • Antibiotik – Ada jenis antibiotik tertentu yang bisa digunakan untuk mengobati epididimitis yang disebabkan infeksi bakteri. Ibuprofen adalah kemungkinan obat lainnya yang dokter berikan bagi penderita supaya inflamasi bisa berkurang.
  • Obat pereda rasa nyeri – Karena pembengkakan yang terjadi dan beberapa gejala nyeri yang dialami oleh penderita, maka dokter pada umumnya juga tak lupa memberikan resep obat pereda rasa nyeri. Obat ini bukan penyembuh total akan epididimitis, melainkan hanya meredakan rasa ketidaknyamanan yang dirasakan selama nyeri muncul.
  • Istirahat – Penderita selalu dianjurkan untuk banyak istirahat dan bahkan sangat perlu berbaring di atas tempat tidur demi kepulihan total. Pada waktu berbaring pun, skrotum harus dalam posisi terangkat supaya nyeri tak begitu terasa. Bila diperlukan, menggunakan penopang skrotum akan sangat menolong penderita dan selama beristirahat, jangan lupa pula untuk mengompres skrotum menggunakan kompres dingin.
  • Operasi – Ada kalanya beberapa kasus epididimitis mengalami komplikasi menjadi abses. Jika sampai berlanjut seperti demikian, penderita bisa mengambil keputusan untuk dioperasi supaya cairan nanah yang menumpuk bisa tersedot. Seluruh bagian epididimis terkadang harus diangkat melewati proses operasi, namun hal ini bisa dikonsultasikan dengan dokter.
  • Menghindari berganti-ganti pasangan seksual – Demi epididimitis tak menyerang, cegahlah dengan tak secara sembarangan berhubungan seksual; lakukanlah dengan satu pasangan saja dan tak berganti-ganti.
  • Menggunakan kondom – Walau tak terbilang ampuh 100 persen, namun perlu dipraktikkan supaya memperkecil potensi penularan epididimitis atau penyebaran bakterinya.

Baca juga:

Demikian sedikit info mengenai cara penularan epididimitis yang bisa diketahui berikut sekilas tentang gejala dan juga cara mengatasi serta mencegahnya yang sekiranya mampu membantu Anda lebih waspada supaya tak tertular.