11 Pengobatan Spina Bifida secara Medis Paling Ampuh

1035

Spina bifida merupakan sebuah gangguan kesehatan yang terjadi pada tulang belakang dan merupakan salah satu kondisi yang muncul sejak lahir. Bila Anda mungkin pernah mendengar tentang cacat tabung saraf, maka spina bifida ini masih termasuk di dalam jenisnya. Apabila tabung saraf tak tertutup secara sempurna, kemunculan spina bifida bisa timbul pada bagian manapun.

Jangan sepelekan spina bifida ini karena pada dasarnya kondisi ini mampu menjadi penyebab timbulnya gangguan fisik serta intelektual pada seseorang. Tahap dari gangguan tersebut mulai dari ringan sampai dengan parah dan keparahannya dapat ditentukan oleh 2 faktor, yaitu lokasi dan ukuran celah tulang belakang, maupun bagian saraf tulang belakang serta saraf-saraf yang terkena dampaknya.

Baca juga:

Apakah Spina Bifida Umum?

Perkiraannya, ada sekitar 5-10 persen populasi yang menderita penyakit ini dan bahkan rata-rata penderita spina bifida tak menyadari bahwa mereka sedang mengalami gangguan pada tulang belakangnya. Untuk jenis spina bifida yang paling menjadi momok karena dianggap paling parah dan langka adalah mielomeningokel di mana hanya 1:2000 kehamilan yang terpengaruh.

Karena hampir selalu tak memunculkan gejala, maka agak sulit untuk mendeteksi penyakit ini, namun adanya kelainan tulang punggung, gangguan kandung kemih serta usus, patah tulang, kurangnya hormon pertumbuhan, obesitas, alergi terhadap lateks, gangguan belajar, serta masalah psikologis hingga seksual mampu menjadi gejalanya. Lalu apa pengobatan spina bifida yang paling sesuai?

(Baca juga: patah pergelangan tangan obat patah tulang paha terapi punggung bungkuk)

  1. Operasi

Penanganan untuk spina bifida pada dasarnya dapat berbeda-beda yang tentunya harus disesuaikan dengan jenis spina bifida yang diderita. Bahkan kondisi pasien sendiri dilihat dari gejala dan tingkat keparahan keluhan juga turut menjadi pertimbangan untuk menentukan pengobatan yang paling baik.

Hanya saja, operasi menjadi pilihan utama pada banyak kasus spina bifida karena dianggap menjadi solusi yang paling efektif. Tindakan medis seperti operasi ini secara umum bisa dilakukan sesegera sesudah lahirnya sang bayi, yakni 1-2 hari pasca kelahiran. Tujuan tindakan cepat ini adalah agar celah yang ada bisa ditutup sekaligus bisa mengatasi masalah hidrosefalus.

  1. Terapi Okupasi

Diperlukan juga bagi penderita atau pasien spina bifida untuk menempuh terapi okupasi dalam masa perawatannya. Terapi okupasi sendiri merupakan sebuah bentuk bantuan terapi untuk pasien gangguan fisik dan/atau mental. Inti dari terapi ini adalah pemberian perhatian pada limitasi maupun aset yang pasien miliki melalui pemberian aktivitas yang berguna.

Ada berbagai pengarahan serta latihan yang dijalani oleh pasien yang menempuh terapi ini. Berikut ini adalah jenis-jenis kegiatan yang biasanya harus pasien lakukan agar pasien terbantu dalam peningkatan kesehatannya. Untuk terapi okupasi, pasien remaja dan dewasa mampu melakukannya.

  • Pekerjaan rumah. Agar kehidupan normal dapat dijalani oleh pasien terlepas dari gangguan dan ketidaknyamanan pada tulang belakangnya, pelatihan aktivitas sehari-hari di dalam rumah diperlukan, seperti memasak dan membersihkan rumah.
  • Mobilitas. Apabila pasien mempunyai rencana untuk berkendara, baik itu mengemudi sendiri atau menggunkan transportasi umum, pelatihan atau terapi mobilitas dibutuhkan oleh pasien tersebut agar dalam praktiknya dapat dilakukan dengan aman. Pengembangan kemampuan berpikir, mengambil keputusan serta menilai adalah latihan yang tercakup di dalamnya.
  • Perawatan pribadi. Para pasien yang perlu menjalani terapi okupasi juga penting untuk mendapatkan pelatihan dalam merawat diri sendiri meski mempunyai keterbatasan. Contoh langkah terapi okupasi semacam ini antara lain adalah kegiatan mendasar seperti mandi, makan, hingga berpakaian.

(Baca juga: cedera engkel sakit pundak sebelah kiricara mengatasi sakit tulang ekor)

  • Edukasi bagi keluarga dan kerabat pasien. Pada terapi okupasi, penting juga adanya edukasi bagi keluarga pasien, termasuk juga kerabat dan pengasuh bila ada. Ketika menjalani rawat jalan, otomatis keluarga, kerabat atau pengasuh harus tahu benar bagaimana merawat pasien spina bifida dengan benar supaya pasien merasa terbantu.
  • Keamanan fisik. Dalam terapi okupasi, keamanan fisik pasien harus terjamin terutama dalam lingkungannya. Apabila diperlukan, melalui terapi ini akan ada peningkatan keamanan meski pada hal sederhana. Hal-hal sederhana tersebut contohnya adalah seperti menaruh keset di kamar mandi (keset yang tidak licin), posisi toilet yang ditinggikan, hingga memastikan adanya pegangan pada tangga.
  • Pengelolaan diri. Terapi ini juga perlu dilakukan dengan latihan pengelolaan diri di mana tujuannya adalah agar pasien mampu berkehidupan produktif sama seperti yang lainnya yang tidak menderita spina bifida. Pengelolaan diri ini pada umumnya meliputi penyusunan jadwal harian.
  • Penggunaan alat bantu. Karena berhubungan dengan gangguan dan kelainan tulang belakang, maka akan sulit serta tak nyaman bagi pasien untuk melakukan aktivitas harian secara normal. Oleh karena itu pasien kiranya bakal memerlukan alat bantu dan terapis biasanya akan membantu menemukan alat bantu yang paling sesuai. Pasien dengan gangguan pergerakan di tubuhnya akan memerlukan beberapa peralatan dan terapis akan bertanggung jawab dalam mencarikan metode alternatif supaya rutinitas pasien berjalan normal.
  • Rehabilitasi tempat kerja. Terapi ini juga termasuk di dalam terapi okupasi karena terapi ini pada dasarnya dibutuhkan oleh para pasien spina bifida yang hendak kembali bekerja atau tengah mencari pekerjaan yang sesuai dengan keadaan fisik mereka. Terapis di sini akan membantu memberikan usul pilihan karir, memberi penilaian terhadap tanggung jawab pasien, penilaian tempat kerja yang aman, penilaian terhadap kemampuan pekerjaan pasien, hingga memberikan latihan khusus sebagai tambahan kalau dibutuhkan.

(Baca juga: penyebab kaki bengkok makanan penguat tulanggejala tbc tulang)

  • Latihan fisik. Program latihan dalam terapi okupasi juga meliputi terapi fisik di mana hal ini juga yang paling diperlukan oleh pasien spina bifida. Pasien dengan tingkat keparahan spina bifida tinggi dan dalam masa pemulihan justru sangat dianjurkan untuk tetap aktif. Latihan fisik ini pada umumnya bertujuan untuk mempertahankan fleksibilitas, kekuatan otot, gerakan sendi, hingga postur tubuh pasien. Cara latihan pun tak perlu dikhawatirkan karena cara-caranya sangat aman dan tak akan menghabiskan energi si pasien.
  1. Obat-obatan

Selain dari terapi dan operasi yang telah disebutkan sebelumnya, kiranya penanganan spina bifida juga meliputi pemberian obat-obatan yang dapat membantu menangani gangguan pencernaan dan juga gangguan saluran kemih. Bila ada gejala yang berhubungan dengan pencernaan, maka obat-obatan khusus untuk masalah tersebut biasanya turut diberikan demi meringankan gejala.

Jenis antibiotik tertentu biasanya adalah solusi bagi seseorang yang terdiagnosa mielomeningokel, jenis penyakit spina bifida langka nan mengerikan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pemberian antibiotik adalah bertujuan supaya infeksi sumsum tulang belakang tak terkena infeksi; karena saat terserang infeksi, akibatnya bisa fatal.

Baca juga:

Itulah sedikit penjelasan mengenai pengobatan spina bifida secara medis yang paling umum, terutama bagi yang kondisinya sudah cukup parah. Sementara itu, ada pula beberapa kasus spina bifida yang tanpa gejala dan tak memerlukan pengobatan.