Monday, July 22, 2019

Spina Bifida

Spina bifida merupakan sebuah istilah untuk kondisi medis di mana ini adalah keadaan cacat lahir yang tanda utamanya adalah celah yang terbentuk di tulang belakang bayi maupun sumsum tulang belakang. Istilah lain untuk celah ini juga bisa disebut dengan defek di mana kelainan ini pemicu utamanya adalah ketidaksempurnaan pada pembentukan sumsum tulang belakang saat bayi masih berada di dalam kandungan.

Ketika pembentukan tabung saraf oleh embrio yang nantinya berkembang menjadi sistem saraf dan tulang belakang tak lancar, otomatis sebagai efeknya ruas tulang belakang beberapa tak mampu menutup secara sempurna. Karena hal inilah celah pun terbentuk dan celah tersebut bisa sampai sebagian jaringan kulit.

Celah dapat sampai di jaringan kulit punggung bawah dan dapat terdorong oleh cairan otak yang mengelilingi sumsum tulang belakang. Sebagai akibatnya, kantung akan terbentuk di mana kita akan bisa melihatnya di bagian punggung bawah. Untuk dapat menanganinya, tentu penting menyimak apa penyebab, jenis dan gejalanya lebih dulu.

Jenis dan Gejala

Untuk mengenali gejala, kita perlu melihat juga jenis spina bifida itu sendiri dan gejala akan berdasarkan pada jenis spina bifida tersebut, seperti ulasan di bawah ini.

  1. Spina Bifida Okulta

Jenis spina bifida ini adalah yang paling ringan yang berakibat pada celah kecil di tulang belakang. Pada kasus di mana anak menderita jenis spina bifida satu ini, tanda atau gejala tertentu tak begitu nampak dan justru sama sekali tak menunjukkan adanya masalah neurologis sebab saraf tulang belakang pada kasus ini tidaklah terlibat. Meski demikian, pada kasus kecil ada pula gejala yang nampak, terutama di kulit bagian atas tulang belakang pada bayi yang baru saja lahir.

  • Adanya kumpulan lemak.
  • Adanya tanda lahir kecil atau lesung pipit.
  • Tidak normalnya kuncung rambut.
  • Orang-orang yang memiliki spina bifida okulta pada dasanya tak mengetahui atau menyadari gejala, kecuali kondisinya ia temukan pada waktu tes sinar-X atau pencitraan lain yang dilakukan saat memeriksakan diri untuk tujuan dan alasan lain.
  1. Meningokel

Untuk jenis spina bifida satu ini, pembentukan pembukaan ukurannya cukup besar sehingga selaput pelindung sumsum tulang belakang biasanya justru terdorong keluar yang berasal dari sejumlah celah pada tulang punggung. Dari situlah kemudian kantung terbentuk, namun justru jenis inilah yang termasuk paling jarang dialami.

Sumsum tulang belakang yang berkembang secara normal, pengangkatan selaput lewat tindakan pembedahan dengan risiko adanya sedikit kerusakan pada jalur saraf atau bisa saja tanpa kerusakan sama sekali. Walau tergolong jarang, namun tetap ada kemungkinan penyakit ini menyerang, maka diperlukan pemeriksaan dini untuk mengetahuinya.

  1. Mielomeningokel

Spina bifida terbuka ini adalah jenis spina bifida yang paling parah dan istilah spina bifida biasanya digunakan secara umum untuk menggambarkan kondisi jenis spina bifida ini. Pada mielomeningokel, kanal tulang belakang bayi bakal tetap terbuka di sepanjang jaringan kulit punggung bawah maupun tengah. Pembukaan ini menimbulkan tonjolan pada selaput dan sumsum tulang belakang yang membentuk kantung pada punggung bayi.

Di sejumlah kasus, kantung akan tertutupi oleh kulit dan ada pula yang memang tak memiliki kulit sama sekali; bagaimanapun juga, tetap saja jaringan serta saraf akan mudah terpapar. Karena hal inilah, bayi yang menderita jenis spina bifida ini akan lebih rentan terhadap serangan infeksi dan bahkan berisiko tinggi mengancam jiwa. Berikut adalah keluhan atau gejala neurologis yang bisa terjadi sebagai bagian dari kerusakan neurologis.

  • Kelemahan otot kaki yang seringkali berakibat pada kelumpuhan.
  • Gangguan kandung kemih.
  • Gangguan usus.
  • Gangguan ortopedi yang meliputi masalah kaki cacat, skoliosis, atau pinggul yang tak rata.
  • Kejang

Penyebab

Dokter sendiri belum terlalu yakin apa penyebab pasti dari spina bifida ini. Diketahui seperti masalah atau penyakit lainnya, spina bifida ini merupakan hasil dari kombinasi faktor lingkungan serta genetik, seperti halnya masalah kekurangan asam folat dan cacat tabung saraf yang terjadi dikarenakan riwayat kesehatan keluarga.

Walau belumlah diketahui pasti dan jelas akan yang menyebabkan spina bifida dapat terjadi, ada beberapa faktor risiko yang teridentifikasi dan berikut di bawah ini adalah sejumlah faktor yang dimaksud.

  • Jenis kelamin. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak perempuan.
  • Ras. Spina bifida lebih sering dijumpai kasusnya pada orang kulit putih serta orang Hispanik.
  • Riwayat kesehatan keluarga dengan cacat tabung saraf. Pasangan dengan satu anak yang memiliki cacat tabung saraf bakal mempunyai kesempatan lebih tinggi sedikit untuk memiliki anak berikutnya dengan kondisi cacat yang sama. Potensi ini bakal mengalami peningkatan apabila 2 anak sebelumnya sudah terkena cacat dan bila melahirkan anak ketiga, maka sang anak juga akan mengalami gangguan kesehatan ini.
  • Diabetes. Para wanita yang memiliki diabetes dan sulit dalam mengendalikan kadar gula darahnya biasanya akan memiliki risiko lebih tinggi untuk memiliki bayi dengan spina bifida.
  • Hipertermia. Peningkatan atau kenaikan suhu tubuh yang disebut dengan hipertermia yang dialami di beberapa minggu awal kehamilan mampu memperbesar potensi spina bifida pada bayi yang sedang dikandung. Bahkan menaikkan suhu tubuh seperti melalui sauna atau berendam air panas bisa juga menjadi faktor peningkat risiko spina bifida ini.
  • Obesitas. Obesitas pada pra-kehamilan sering dikaitkan dengan peningkatan risiko cacat tabung saraf dan hal ini pun juga mampu membuat potensi bayi yang dikandung terkena spina bifida juga jauh lebih besar.
  • Defisiensi asam folat. Vitamin B9 atau asam folat sama pentingnya dengan protein dan karbohidrat dalam tubuh setiap orang. Bahkan asam folat ini diperlukan oleh para ibu hamil untuk perkembangan sempurna bayi yang sedang dikandung. Folat diketahui sebagai bentuk natural dari vitamin B9, sementara untuk bentuk sintetisnya bisa didapat dari makanan yang mengandung vitamin B9 dan juga suplemen. Bila wanita hamil kekurangan folat, ini otomatis menjadi peningkat risiko spina bifida.
  • Obat-obatan tertentu. Risiko cacat tabung saraf dan spina bifida dapat meningkat terutama saat mengonsumsi obat anti-kejang selama masa kehamilan. Potensi spina bifida dapat meningkat yang kemungkinan dikarenakan bisa mengganggu kemampuan tubuh dalam menggunakan folat dan asam folat.

Jika dari awal Anda sudah curiga bahwa Anda memiliki risiko spina bifida, konsultasikan segera dengan dokter supaya bisa mengetahui dan mengonsumsi dosis yang tepat akan asam folat. Akan lebih baik lagi kalau konsumsi asam folat bisa dimulai sebelum kehamilan. Beri tahu dokter apabila Anda sedang minum obat karena beberapa jenis obat pada dasarnya bisa disesuaikan sebagai penurun risiko spina bifida.

Diagnosa dan Pengobatan

Saat Anda hamil, ada kemungkinan bahwa Anda akan ditawari tes skrining prenatal di mana tujuannya adalah memeriksa spina bifida serta kemungkinan cacat lahir lainnya. Tesnya biasanya tidaklah sempurna karena kebanyakan calon ibu dengan hasil positif pun bisa tetap memiliki bayi normal.

Walau hasil negatif, kemungkinan untuk sang bayi terserang spina bifida termasuk masih ada dan kecil, maka dari itu perlu untuk berbicara dengan dokter untuk kemungkinan melakukan pengujian prenatal, risiko dari tes tersebut sekaligus bagaimana harus menangani hasilnya nanti kalau sudah keluar. Serangkaian tes yang diperlukan antara lain adalah:

  • Tes darah
  • Amniosentesis
  • Ultrasound

Setelah menempuh langkah diagnosa, dokter pun baru bisa memberikan pengobatan yang paling sesuai dan biasanya berikut inilah solusi perawatan oleh dokter.

  • Operasi Prenatal

Sebelum masa kehamilan mencapai 26 minggu, maka prosedur operasi ini perlu dilakukan dan ahli bedah perlu membuka rahim ibu hamil dan kemudian memperbaiki sumsum tulang belakang bayi. Maka istilah lain untuk langkah tindakan medis ini adalah operasi janin di mana diyakini bahwa memperbaiki cacat spina bifida ketika masih hamil dan bayi masih berada di dalam rahim lebih baik. Ini karena fungsi saraf bayi yang menderita spina bifida bisa memburuk secara cepat pasca kelahiran.

Seperti halnya tindakan medis lainnya, selalu ada risiko dalam penanganannya dan risiko untuk jenis operasi ini adalah berbahaya bagi sang ibu. Bahkan operasi ini juga menjadi peningkat risiko proses kelahiran prematur pada bayi. Jadi, diskusikan segala sesuatunya lebih dulu bersama dokter Anda sebelum memutuskan untuk menempuhnya.

  • Operasi

Untuk memnjadikan meninges kembali di tempatnya, maka pembedahan pun diperlukan untuk kasus spina bifida jenis meningokel. Dengan cara ini jugalah lubang di bagian jaringan kulit bisa ditutup. Kasus penyakit mielomeningokel juga memerlukan langkah pembedahan yang bisa diterapkan 24-48 jam pasca persalinan.

Operasi yang dilakukan di awal biasanya sangat bisa membantu dalam meminimalisir risiko infeksi ada kaitannya dengan saraf yang terpapar. Operasi ini juga akan menjadi solusi dalam memberikan perlindungan sumsum tulang belakang agar tidak terkena atau terpapar trauma-trauma lainnya. Ahli bedah akan menempatkan sumsum tulang belakang serta jaringan yang terpapar di dalam tubuh bayi yang kemudian dilanjutkan dengan membuat kulit dan otot sebagai penutupnya.

  • Perawatan

Operasi awal saja belumlah cukup karena bayi yang mengalami mielomeningokel, kerusakan saraf yang tak bisa diperbaiki telah terjadi, jadi perawatan dari tim dokter, ahli bedah dan terapis khusus amat diperlukan diperlukan secara berkelanjutan. Bahkan bayi yang menderita jenis spina bifida ini kemungkinan besar masih membutuhkan langkah operasi lagi untuk beragam risiko komplikasi.

  • Persalinan Metode Sesar

Salah satu pengobatan spina bifida adalah dengan kelahiran sesar. Ini karena kebanyakan bayi mielomeningokel ada pada posisi sungsang, jadi bila kejadiannya seperti ini atau dokter mendeteksi adanya kista yang sudah cukup besar, sesar adalah metode persalinan yang dianggap paling aman.

Pencegahan dan Komplikasi

Spina bifida dapat dicegah dan berikut ini merupakan sejumlah langkah penting yang bisa dilakukan agar bayi Anda berisiko kecil menderita spina bifida.

  • Memperoleh Asupan Asam Folat

Asam folat bukan dibutuhkan saat sudah hamil, melainkan sangat dianjurkan untuk memenuhi asupannya secara cukup justru saat sebelum hamil dan minggu-minggu awal kehamilan. Direkomendasikan oleh para ahli kepada para wanita usia subur untuk mengonsumsi suplemen asam folat setiap harinya sebanyak 400 mcg. Makanan dengan asam folat tinggi antara lain adalah pasta, roti, nasi, dan juga sereal yang biasa dikonsumsi sebagai menu sarapan.

  • Ekstra Dosis Asam Folat

Ketika Anda sudah tahu betul bahwa Anda memiliki risiko besar melahirkan bayi dengan spina bifida, asam folat ekstra dapat diperoleh untuk mencegahnya, yang artinya bisa dikonsumsi sebelum hamil. Apabila Anda sedang mengonsumsi obat anti-kejang atau tengah menderita diabetes, dosis vitamin B9 yang tinggi ini bisa memberikan Anda manfaat juga. Kemungiknan 4 mg adalah dosis asam folat yang dianjurkan di mana bisa mulai dikonsumsi sebulan sebelum pembuahan dan beberapa bulan awal kehamilan.

  • Perencanaan Kehamilan

Dalam mencegah spina bifida, segala sesuatunya dapat direncanakan dengan matang, bahkan dalam hal suplementasi, yakni 400 mcg asam folat dalam sehari. Inilah solusi pendekatan yang baik untuk para wanita dengan keinginan atau rencana hamil. Tubuh kita sebetulnya tak mudah dalam menyerap folat di mana asam folat sintesis diketahui jauh lebih mudah penyerapannya. Diet saja tidaklah cukup, maka suplemen pun dibutuhkan.

Bukan hanya itu, makanan-makanan sehat terutama yang kaya folat patut untuk dikonsumsi setiap hari secara rutin oleh para wanita hamil. Makanan-makanan yang lebih dianjurkan untuk dikonsumsi para ibu hamil antara lain adalah:

  • Kuning telur
  • Sayuran berwarna hijau tua, contohnya bayam dan brokoli.
  • Buah-buahan sitrus dan jus-jus buah.
  • Kacang-kacangan

Ketika tidak dicegah dan diobati dengan tepat, maka ada berbagai risiko komplikasi yang kiranya bakal terjadi pada penderitanya. Contoh kondisi-kondisi komplikasi yang dimaksud di sini antara lain adalah:

  • Meningitis. Kondisi ini adalah adanya infeksi para jaringan sekitar otak dan yang berisiko besar mengalami komplikasi ini adalah bayi-bayi dengan jenis spina bifida mielomeningokel. Hal ini cukup serius karena mampu menyebabkan cedera otak dan bahkan mengancam jiwa sang bayi.
  • Hidrosefalus. Akumulasi cairan di dalam otak lebih besar risikonya terjadi pada bayi yang lahir dengan mielomeningokel.
  • Masalah fisik dan neurologis. Kondisi ini akan meliputi masalah sulit dan berkurangnya kontrol pada kandung kemih dan usus. Bahkan kelumpuhan pada kaki sebagian atau keseluruhan juga adalah efek atau akibat dari spina bifida. Kursi roda atau kruk diperlukan oleh anak-anak maupun orang dewasa penderita spina bifida ini supaya dapat berkeliling.
  • Komplikasi lainnya. Masalah komplikasi kesehatan lainnya dapat terjadi pada anak-anak penderita spina bifida sewaktu mereka bertumbuh besar. Anak-anak dengan mielomeningokel berisiko besar mengembangkan ketidakmampuan dalam hal belajar. Anak-anak ini biasanya akan sulit dalam memperhatikan, sulit memahami bahasa sekaligus bacaan, serta kesulitan dalam mempelajari matematika. Tak hanya itu, masalah kulit, gangguan pencernaan, alergi latesk, depresi, dan infeksi saluran kencing pun menjadi komplikasi lainnya yang perlu segera dicegah atau diwaspadai.

Spina bifida merupakan contoh kondisi yang penting untuk dideteksi dan dicegah dari dini. Oleh karena itu para wanita yang merencanakan kehamilan kiranya bisa memerhatikan informasi gejala, penyebab, diagnosa, pengobatan, hingga cara mencegah berikut risiko komplikasinya supaya memperkecil risiko bayi lahir dengan spina bifida ini.

Recommended