Tuesday, July 16, 2019

Mata Juling

Mata adalah jendela dunia, Mata merupakan indera penglihatan yang sangat penting bagi manusia. Dengan mata, kita dapat melihat berbagai macam hal sehingga kita perlu menjaga kesehatan mata agar mata dapat berfungsi dengan baik. Namun, terkadang ada orang yang mengalami kelainan pada matanya. Entah bisa disebabkan oleh virus, bakteri atau memang mungkin sudah dari lahir, mereka sudah mengalami kelainan.

Salah satu kelainan mata adalah Strabismus atau biasa disebut dengan mata juling. Strabismus itu sendiri adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penyimpangan letak mata yang satu dengan mata yang lain dimana penglihatan menjadi tidak parallel dan pada waktu yang sama kedua mata tidak tertuju pada benda yang sama. Jika pada penglihatan normal, kedua mata terfokus pada titik yang sama, sedangkan pada penderita Strabismus, satu mata melihat lurus, mata yang lain melihat ke arah luar, ke arah dalam, ke atas atau ke bawah.

Strabismus atau mata juling menurut Helveston, mengirimkan citra yang berbeda kepada otak yang bertugas untuk mengelola citra kiriman di mana orang dengan mata yang juling akan melihat dua objek yang berbeda di tempat yang sama sehingga membuat penglihatan menjadi membingungkan. Orang dengan mata juling konstan tidak memiliki penglihatan binocular (penglihatan tiga dimensi) sehingga ketajaman penglihatan mata juling akan berkurang.

Untuk melakukan pengetestan mata juling itu biasanya menggunakan metode Hirschberg test di mana mata akan disorot cahaya pada jarak 30 cm dengan refleks sinar pada mata fiksasi yang diletakkan di tengah pupil dan dengan bantuan prisma standard Hirschberg akan dapat melihat besarnya sudut kejulingan.

Jenis – Jenis Mata Juling

mata julingStrabismus atau mata juling memiliki jenis. Jenis – jenis mata juling adalah :

  1. Esotropia. Mata melenceng ke arah dalam
  2. Eksotropia. Mata melenceng ke arah luar
  3. Hipertropia. Mata melenceng ke arah atas
  4. Hipotropia. Mata melenceng ke arah bawah

Penyebab Mata Juling

Orang dengan mata juling tidak dapat melihat sebuah benda dengan kedua matanya secara bersamaan, tetapi akan melihat secara bergantian antara mata kanan dan mata kiri. Strabismus atau mata juling biasanya disebabkan oleh tarikan yang tidak sama pada satu atau beberapa otot yang menggerakkan mata (strabismus non – paralitik).

Nah strabismus non – paralitik itu sendiri disebabkan oleh suatu kelainan di otak. Selain itu, strabismus juga dapat disebabkan oleh kelumpuhan otot mata dikarenakan adanya kerusakan syaraf. Atau bisa juga strabismus ditimbulkan oleh cacat motorik, sensorik atau sentral. Di mana cacat sensorik itu disebabkan oleh penglihatan yang buruk, tempat ptosis, palpebra, Parut Kornea Katarak Kongenital Cacat Sentral akibat kerusakan otak. Ada beberapa keadaan yang dapat kita temukan bersamaan dengan strabismus yaitu :

  1. Cedera Otak Traumatik
  2. Sindroma Apert
  3. Sindroma Noonan
  4. Ambliopia
  5. Retinopati pada prematuritas
  6. Trisomi 18
  7. Rubella Kongenitalis
  8. Sindroma Prader – Willi
  9. Cerebral Plasy
  10. Retinoblastoma

D. Gejala – gejala dari Strabismus

Katarak atau trauma mata yang dapat mempengaruhi tajamnya penglihatan dapat menimbulkan strabismus. Penderita strabismus pada umumnya memiliki riwayat strabismus dalam keluarga. Penderita penyakit ini akan merasakan gejala yang timbul sebelum penderita mengalami mata juling. Hal ini dapat diartikan bahwa gejala mata juling itu mata seorang penderita tidak mengarah ke arah yang sama, gerakan mata tidak terkordinasi dan penglihatan ganda pada mata penderita penyakit ini. Atau dapat disimpulkan lebih rinci bahwa gejala – gejala dari strabismus atau mata juling adalah sebagai berikut :

  1. Mata juling (bersilangan) di mana gejala utama strabismus adalah mata yang tidak lurus
  2. Mata tidak mengarah ke arah yang sama di mana bila satu mata terfokus pada satu objek, mata yang lainnya melihat ke objek yang lain
  3. Gerakan mata tidak mengalami kordinasi yang baik
  4. Penglihatan ganda pada mata disebabkan kedua mata yang tidak fokus pada objek yang sama

Terkadang anak – anak yang mengalami strabismus akan memicingkan satu matanya atau sering berkedip ketika matahari sedang bersinar terik atau juga sering memiringkan leher untuk melihat suatu benda.

E. Diagnosa Strabismus

Seperti halnya penyakit lainnya, kita dapat mendiagnosa penyakit ini dengan cara melakukan pemeriksaan fisik yang dikhususkan melalui beberapa pemeriksaan, di mana pemeriksaan yang dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan mata standar, melihat bagaimana ketajaman penglihatan mata, pemeriksaan retina mata dan pemeriksaan neurologis (saraf) sehingga dapat diketahui apakah seseorang mengalami kelainan pada matanya dan dapat ditangani dengan segera.

Selain dengan pemeriksaan fisik, dalam ilmu medis, diagnosa penyakit khususnya penyakit kelainan mata seperti strabismus dapat dilakukan dengan cara :

  1. Anamnesis

Dengan pertanyaan yang lengkap dan tepat tentang riwayat sakit akan sangat membantu dalam menentukan diagnosis, prognosis dan pengobatan strabismus. Pertanyaan yang dapat diajukan misalnya :

  • Riwayat sakit pada keluarga karena biasanya strabismus diturunkan secara autosomal dominan
  • Umur pada saat munculnya strabismus karena makin awal munculnya strabismus akan makin jelek prognosisnya
  • Munculnya strabismus apakah secara mendadak, bertahap atau bisa karena berhubungan dengan penyakit sistemik
  • Jenis deviasinya di mana pasien dapat menyadari strabismusnya ? bagaimana penglihatan matanya secara dekat ? Kapan mata terasa lelah ? Apakah matanya dalam melihat akan selalu dalam keadaan lurus setiap saat ? Apakah jika terkena sinar matahari, pasien akan menutup mata ? dan apakah derajat deviasinya tetap setiap saat ?
  • Fiksasi itu apakah selalu berdeviasi satu mata atau bergantian ?
  1. Inspeksi

Pemeriksaan dengan inspeksi sudah dapat ditentukan apakah strabismus konstan atau hilang timbul atau berganti – ganti atau menetap ?. Dalam pemeriksaan ini juga harus diperhatikan ptosis terkait dan posisi kepala yang abnormal.

  1. Pemeriksaan Kelainan Refraksi

Pemeriksaan ini dilakukan dengan retinoskop yang menggunakan sikloplegik adalah hal yang sangat penting. Obat yang digunakan agar sikloplegia sempurna adalah atropine yang dapat diberikan dalam bentuk tetes mata atau salep mata 0,5 % atau 1 % beberapa kali sehari selama beberapa hari.

  1. Pemeriksaan dengan Duksi (Rotasi Monokular)

Di mana pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan satu mata ditutup dan mata lain mengikuti cahaya yang digerakkan ke segala arah pandangan, sehingga dapat diketahui adanya kelemahan rotasi. Kelemahan seperti ini bisa dikarenakan paralisis otot atau kelainan mekanik anatomik.

  1. Pemeriksaan dengan Versi (Gerakan Konjugasi Okular)

Pemeriksaan dengan versi dilakukan dengan mata mengikuti gerakan cahaya dengan jarak 33 cm dalam 9 posisi diagnosis primer – lurus ke depan, sekunder – ke kanan, ke kiri ke atas dan ke bawah. Tersier – ke atas dan ke kanan, ke bawah dan ke kanan, ke atas dan ke kiri, serta ke bawah dan ke kiri. Rotasi dengan satu mata yang nyata dan relatif terhadap mata yang lainnya dinyatakan sebagai kerja – lebih (overreaction) dan kerja – kurang (underreaction).

Sebenarnya masih ada lagi beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengetahui kelainan pada mata seperti strabismus. Jika merasa ada yang aneh dengan mata kita, tidak ada salahnya melakukan pemeriksaan sejak awal karena mata adalah bagian penting dari indera penglihatan.

F. Pengobatan Strabismus

Setiap penyakit pasti ada obatnya, mau sedalam apa penyakitnya, selalu ada pengobatan untuk pencegahan atau penyembuhan suatu penyakit, namun jika Tuhan berkehendak lain, penyakit yang ada obatnya pun dapat berujung pada kematian. Begitu juga dengan strabismus atau mata juling, ada beberapa cara pengobatan yang dapat dilakukan di mana tujuan pengobatan ini adalah untuk mengembalikan efek sensorik yang hilang dan mempertahankan mata yang telah membaik serta telah diluruskan baik secara bedah atau non – bedah.

Apabila sampai usia 9 tahun strabismus tidak dapat diobatin, maka akan terjadi gangguan penglihatan yang permanen pada mata yang terkena (ambliopia).  Untuk anak – anak yang lebih kecil, ambliopia lebih cepat terjadi daripada anak – anak yang lebih besar, tetapi anak – anak yang lebih besar penyembuhan penyakit ini akan memakan waktu yang lama. Oleh karena itu, semakin cepat pengobatan dilakukan, maka gangguan penglihatan yang akan terjadi tidak terlalu berat dan respon yang diberikan akan lebih baik.

Melakukan penutupan mata yang normal bisa memperbaiki penglihatan pada mata yang melenceng sehingga akan membuat otak dapat memaksa untuk menerima suatu gambaran dari mata tanpa menghasilkan penglihatan ganda. Memperbaiki fungsi penglihatan akan memberikan peluang yang lebih baik terhadap perkembangan penglihatan tiga dimensi yang normal.

Setelah penglihatan pada kedua mata sama, bisa dilakukan pembedahan untuk menyesuaikan kekuatan otot mata sehingga mereka menarik mata dengan kekuatan yang sama di mana pembedahan ini dilakukan dengan memilih otot yang perlu dikoreksi. Maksudnya dengan cara memperkuat dan memperlemah. Memperkuat otot dilakukan dengan cara yang disebut reseksi di mana otot dilepaskan dari mata, ditarik sepanjang ukuran tertentu dan kelebihan panjang otot dipotong lalu ujungnya dijahit kembali pada bola mata, itu biasanya pada insersi asal. Sedangkan memperlemah otot disebut dengan resesi di mana otot dilepaskan dari bola mata, dibebaskan dari perlekatan – perlekatan fasial dan dibiarkan menjadi retraksi lalu setelah itu dijahit kembali pada bola mata di belakang insersi asal pada jarak yang telah ditentukan.

Menjaga kesehatan mata memang bukan hal mudah, namun bukan berarti tidak dapat dilakukan. Pemeriksaan sejak awal harus dilakukan jika merasa ada keanehan yang terjadi pada mata kita karena seperti yang pepatah yang sering didengar “Mencegah lebih baik daripada mengobati”. Jagalah kesehatan, perhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi karena panyakit dapat muncul dari mana saja.

Recommended