Home Penyakit dan KelainanBatuk Batuk Rejan – Gejala, Penyebab, Diagnosa, Pengobatan dan Pencegahan

Batuk Rejan – Gejala, Penyebab, Diagnosa, Pengobatan dan Pencegahan

by sujatmiko

Batuk rejan merupakan istilah bahasa Indonesia untuk menggambarkan batuk yang menimbulkan suara rejan. Penyakit ini dalam bahasa medis dikenal dengan istilah pertusis karena disesuaikan dengan penyebabnya, berupa bakteri bordetella pertusis.

Pertusis juga dikenal dengan bahasa awam sebagai istilah batuk 100 hari. Karena orang yang menderita jenis batuk ini mememiliki gejala yang panjang dan membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh.

Tak hanya itu, batuk rejan merupakan batuk yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang mudah menyebar melalui batuk. Penyakit ini juga gampang menular kepada siapa saja tanpa memandang jenis kelamin maupun usia.

Bakteri penyebab batuk rejan ini tersebar melalui tetesan di udara ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk. Tak hanya itu, seseorang juga bisa tertular batuk ini melalui kontak langsung dengan cairan hidung atau tenggorokan orang yang terinfeksi.

Bakteri pertusis tersebut menginfeksi paru-paru dan saluran pernafasan yang mudah sekali menular. Meski siapa saja bisa terkena batuk rejan, namun sebagian penelitian masih menganggap penyakit batuk rejan ini penyakit anak-anak, ketika antibiotik untuk pertusis belum ditemukan.

Batuk rejan ini sebenarnya dapat menyerang orang dewasa tapi tingkat membahayakannya tidak terlalu tinggi. Namun jika batuk rejan ini menyerang anak-anak dan lansia  maka dapat mengancam nyawa, apalagi bayi yang belum mendapatkan vaksin pertusis.

Jenis batuk memang memiliki jenis yang berbeda. Namun untuk membedakan batuk rejan bukanlah pekerjaan yang sulit. Umumnya ciri khusus batuk rejan adalah rentetan batuk keras yang terjadi terus menerus. Biasanya penderita yang ingin batuk akan mengawalinya dengan tarikan nafas panjang melalui mulut.

Menyiksanya lagi, karena batuk ini dikenal dengan nama batuk 100 hari, sangat menyiksa bukan mengalami batuk selama 3 bulan, apalagi batuk rejan bisa membuat penderitanya mengalami kekurangan oksigen dalam darahnya.

Komplikasi batuk rejan bisa saja terjadi, penyakit pneumonia merupakan salah satu penyakit yang sering mengiringi batuk ini. Tak jarang terjadi kasus batuk rejan yang panjang dan keras ini bisa melukai tulang rusuk.

(Baca juga: gejala batuk keringciri-ciri flu)

Gejala Batuk Rejan

Batuk rejan memiliki gejala yang dapat diamati dengan jelas, salah satunya adalah dengan ditandai dengan suara yang keras dengan nada melengking.

Ketika orang yang menderita pertusis, maka dapat terlihat wajahnya akan memerah. Tak hanya itu kekuatan batuk tersebut membuat penderita kesulitan untuk menarik nafas antara periode batuk.

Suara melengking yang dihasilkan dari batuk tersebut membuat penyakit ini dikenal dalam bahasa Inggris dengan sebutan whooping cough. Hal lain yang paling menyiksa biasanya pada akhir batuk juga akan dibarengi oleh muntah.

Ciri khas tersebut dapat ditemui pada penderita anak-anak, meski demikian untuk bayi yang berusia dibawah 6 bulan suara melengking tersebut tidak ditemukan. Tak hanya itu, ciri spesifik lainnya adanya penurunan berat badan. Penderita pada usia inilah yang membuat khawatir karena bisa memicu komplikasi yang serius sehingga membutuhkan perawatan yang intesif dirumah sakit.

Sementara itu, untuk orang dewasa batuk rejan ini umumnya hanya berupa batuk kering dengan nafas yang melengking. Jangka waktu yang panjang untuk mengobati batuk ini juga menjadi ciri khas walaupun telah mengkonsumsi antibiotik. Meski demikian, pada beberapa kasus batuk rejan ini bisa mencapai 3 bulan atau lebih.

Untuk gejala pertusis biasanya ditemukan dalam 3 tahap, dimana dua tahap pertama merupakan periode menular, berikut penjelasan tahapan batuk rejan.

Batuk rejan tahap 1(1 sampai 2 minggu)

Pada tahap ini gejala yang muncul sangat mirip dengan penyakit flu pada umumnya

  • Ingusan : keluarnya cairan pada bagian hidung atau dikenal pilek.
  • Bersin : pada tahap ini biasanya penderita sering bersin
  • Demam ringan : penderita akan mengalami kondisi demam ringan namun masih bisa beraktifitas
  • Mata merah : jika diperhatikan mata penderita batuk rejan pada tahap ini akan terlihat merah dan berair.

Kemudian secara bertahap penderita akan memasuki tahap yang semakin memburuk menjadi batuk yang menjengkelkan dan menyiksa.

Batuk rejan tahap 2 (1 sampai 6 minggu lebih)

Gejala batuk rejan akan semakin berat, dengan ciri seperti:

  • Batuk tanpa henti : rangkaian batuk ini berhenti tanpa napas diantaranya. Tak jarang penderita mungkin akan berhenti bernapas sementara.
  • Suara melengking : batuk rejan yang semakin parah membuat batuk semakin keras dan menimbulkan suara melengking, tak jarang batuk yang mengeluarkan suara yang keras tersebut di tutup dengan terjadi muntah.
  • Kelelahan : karena intesitas batuk yang sering dan keras hal ini membuat orang merasa cepat lelah.
  • Mirip bronkitis : gejala batuk rejan ini sangat mirip dengan bronchitis.
  • Tidak bersuara keras : pada anak-anak yang menderita batuk rejan ini jarang diiringi dengan suara keras dan melengking, bahkan tidak ditemui.

Batuk rejan tahap 3 (1-2 bulan)

Pada tahap ini penderita sudah tidak akan menularkan bakteri. Pada tahap ini durasi batuk akan terjadi lebih jarang dan tidak separah pada fase kedua. Meski demikian, walau penderita telah meminum obat antibiotik untuk membunuh bakteri pertusis seseorang akan terus mengalami batuk, sebagai perbaikan tubuh terhadap kerusakan pada saluran pernafasan.

Namun pada malam hari batuk rejan akan mengalami kondisi yang buruk dibandingkan pada siang hari. Bahkan, pasien batuk rejan juga dapat menyebabkan komplikasi pada infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia.

Sementara itu, beberapa gejala ini juga bisa terjadi pada bayi atau anak-anak yang terinfeksi bakteri pertusis:

  • Pada bayi dibawah 6 bulan akan terlihat sangat tidak sehat, dimana kondisi baik akan rewel dan nafsu makan akan berkurang.
  • Kesulitan bernafas, kondisi ini biasanya terjadi pada anak-anak dimana durasi batuk yang sering dan sangat keras membuat mereka menjadi sulit bernafas.
  • Komplikasi, pada tahap tertentu batuk rejan ini bisa menyebabkan komplikasi. Dimana umumnya komplikasi yang umum mengikuti batuk jenis ini adalah pneumonia.
  • Nafas berbunyi, batuk rejan ini memang sangat menyiksa, seringnya batuk yang dikeluarkan dengan keras membuat beberapa otot pernafasan melemah sehingga menimbulkan suara ketika menarik udara ke dalam saluran nafas.
  • Muntah akan terjadi pada batuk rejan yang parah, biasanya pada batuk terakhir dalam satu periode akan mengeluarkan muntah.
  • Tubuh memerah dan membiru, durasi batuk yang sering dan keras, membuat darah kekurangan oksigen, hal ini dapat dilihat dari tubuh yang memerah atau membiru.

(Baca juga: penyebab dahak berdarah – makanan yang dilarang saat batuk)

Penyebab Batuk Rejan

Penyebab batuk rejan disebabkan oleh infeksi bakteri Bordetella Pertusis yang menyebar melalui udara. Bakteri yang pertusis yang berada di udara menyebar dari batuk atau bersin dari penderita batuk rejan. Bakteri ini kemudian masuk dan menyerang dinding dari trakea dan bronkus ( percabangan trankea antara paru-paru kanan dan kiri).

Peradangan atau pembengkakan pada saluran udara menjadi salah satu cara tubuh bereaksi terhadap infeksi bakteri. Peradangan ini tentunya membuat seorang penderita harus menarik nafas yang panjang melalui mulut karena telah mengalami kesulitan nafas secara normal.

Tarikan nafas yang kuat itulah yang menyebabkan munculnya suara melengking yang panjang. Sedangkan cara lain tubuh untuk melawan bakteri yang masuk biasanya ketika Pertusis menyerang dinding saluran pernafasan maka tubuh akan memproduksi lendir kental. Saat itulah tubuh merangsang penderita batuk rejan untuk mengeluarkan cairan lendir tersebut.

Faktor Resiko Batuk Rejan

Sebenarnya banyak faktor resiko yang bisa menderita batuk rejan. Meski demkian secara garis besar faktor resiko yang mempengaruhinya  seperti:

Vaksin pertusis yang dilakukan pada waktu kecil mengalami penurunan efeknya. Sehingga ketika seorang anak berhubungan atau kontak langsung penderita batuk rejan, maka vaksin tersebut tidak mampu melawan bakteri Pertusis tersebut. Hingga akhirnya tubuh ikut terinfeksi bakteri pertusis tersebut.

Ketika anak sedang masa vaksin,mereka belum memiliki system kekebalan tubuh secara baik. Sehingga sedikitnya menerima 3 suntikan sebagai penangkal batuk rejan. Artinya dalam waktu 6 bulan mereka berada dalam resiko yang paling tinggi terhadap potensi terinfeksi oleh bakteri pertusis.

Orang yang memiliki resiko tertular batuk rejan:

  • Ibu hamil pada masa trisemester terkahir kehamilan
  • Bayi baru lahir
  • Bayi berusia dibawah 1 tahun dan belum mendapatkan vaksin komplit DPT
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, penderita HIV AIDS
  • Orang yang menderita penyakit kronis seperti asma dan gagal jantung
  • Anak-anak di bawah 10 tahun yang belum mendapatkan vaksin lengkap, atau belum mendapatkan vaksin tambahan.
  • Para pekerja di rumah sakit yang tentu setiap saat berhubungan dengan penderita batuk rejan harus melakukan tindakan pencegahan.

(Baca juga: ciri batuk paru-parupenyebab batuk kering dan berdahak)

Diagnosis dan Pengobatan Batuk Rejan

Sebagian kasus tanda-tanda atau gejala batuk rejan tidak muncul pada tahap awal. Hal tersebut dikarena gejala penyakit batuk rejan ini sangat mirip dengan penyakit pilek, flu, maupun bronchitis. Pada masa ini memang sedikit sulit untuk menentukan seseorang menderita batuk rejan.

Meski demikian, pada beberapa kasus batuk rejan ini dapat diketahui melalui beberapa pertanyaan mengenai gejala dan tenaga medis yang mengamati dengan mendengarkan batuk penderita pertusis.

Bahkan untuk memastikannya, tenaga medis akan mengonfirmasi diagnosis dengan memberikan beberapa test medis diantara kultur hidung dan tenggorokan , tes darah, dan x-ray pada bagian dada.

  • Memeriksa kultur hidung
    Kultur hidung dan tenggorokan merupakan salah satu metode dengan menyeka dan mengambil contoh cairan pada bagian hidung dan tenggorokan bertemu guna memastikan adanya bakteri pertusis.
  • Tes darah
    Ada juga dengan metode tes darah. Dengan mengambil sampel darah kemudian dimasukan kedalam laboratorium guna mendapatkan jumlah sel darah putih. Hal ini disebabkan sel darah putih berguna untuk melawan batuk rejan.
  • Metode X-ray
    Sementara itu, metode dengan menggunakan test X-ray di dada berfungsi untuk memeriksa adanya peradangan atau pembengkakan yang terdapat di paru-paru. Parahnya jika pneumonia menjadi akibat komplikasi dari batuk rejan dan memperparah infeksi pernafasan lainnya.Setelah tenaga medis telah mengetahui diagnosis secara tepat, maka tenaga medis pun dapat mengambil tindakan pengobatan, agar batuk rejan tersebut tidak menimbulkan komplikasi pada infeksi saluran pernafasan.

Cara Mengobati

Agar batuk rejan tidak menimbulkan komplikasi pada infeksi saluran pernafasan. Maka penanganan secara cepat menjadi jawaban yang bijaksana. Biasanya penderita akan diberikan obat antibiotik yang dapat membantu membunuh bakteri pertusis yang menjadi penyebab batuk rejan.

Antibiotik yang diberikan juga berfungsi untuk mengurangi gejala batuk rejan sekaligus mempercepat tingkat penyembuhan. Tetapi dalam beberapa kasus, jika batuk rejan terdiagnosis terlalu lama, maka pemberian antibiotik juga dapat diberikan kepada keluarga atau orang dekat yang tinggal dengan penderita sebagai tindakan pencegahan.

Bagi penderita batuk rejan tentunya dianjurkan untuk banyak minum, namun apabila kondisi batuk sampai menghalangi penderita mendapatkan cairan yang cukup, dan berakibat pada dehidrasi, maka segera menghubungi tenaga medis.

Sementara itu, hal yang paling membahayakan batuk rejan jika diderita oleh seorang bayi dibawah 6 bulan. Maka pilihan yang tepat bayi tersebut harus mendapatkan perawatan yang intensif di rumah sakit. Jika anak memiliki kendala dalam mencerna makanan atau cairan, asupan makanan dapat mengunakan cairan infus. Biasanya dokter akan melakukan sterilasasi dan mengisolasi anak untuk mencegah penyebaran.

Langkah hati-hati juga sangat diperlukan dalam, mengkonsumsi obat-obatan. Sebaiknya berhati-hati dalam mengkonsumi obat yang dijual bebas. Karena dipasaran banyak sekali jenis obat batuk yang ternyata tidak memberikan kesembuhan. Bahkan obat tersebut juga tidak mampu untuk mengurangi gejala pertusis.

  • Pengobatan batuk rejan pada anak dan bayi

Tindakan pengobatan kepada anak dan bayi tentunya sangat berbeda dengan usia dewasa. Jika pada orang dewasa untuk perawatannya bisa dilakukan dirumah. Tetapi untuk bayi dan anak-anak membutuhkan ruang khusus untuk mengisolasi bakteri agar tidak menyebar. Biasanya pengobatan yang dilakukan sama dengan usia dewasa dengan memberikan antibiotik yang disesuaikan usia. Kortikosteroid akan diberikan guna meredakan dan mengghentikan peradangan pada saluran nafas.

Kedua obat ini kemudian dimasukan ke dalam tubuh bayi atau anak-anak melalui infus. Sementara itu alat bantu pernafasan seperti oksigen juga membantu bayi dan anak lebih nyaman dalam bernafas.

Sementara itu, untuk bayi dan anak-anak yang menderita batuk rejan beresiko mengalami kerusakan pada paru-paru mereka.  Tindakan khusus di rumah sakit tentu akan memberikan perawatan lebih intesif dan meringankan penderita dengan member alat bantu pernafasan atau ventilasi , atau diberi obat-obatan yang memberikan fungsi untuk mengendalikan tekanan darah.

Untuk keadaan yang cukup mengkhawatirkan maka perlu dilakukan Membran Ektrakoporeal atau ECMO: Extracorporeal Membrane Oxygenation dimana oksigen akan langsung dimasukan ke dalam tubuh tanpa melalui paru-paru.

Tindakan ini tentunya dilakukan pada pasien berusia remaja atau dewasa. Sedangkan metode ini juga diambil jika prosedur yang lain tidak berhasil sedangkan paru-paru mengalami kerusakan yang sangat parah. Walau kasus seperti ini jarang terjadi.

  • Pengobatan pada usia Remaja dan Dewasa

Pengobatan batuk rejan memang memiliki metode yang berbeda sesuai dengan usia penderita dan tingkat infeksi dari bakteri pertusis tersebut. Meski demikian secara garis besar penanganan batuk rejan untuk orang dewasa akan lebih mudah dibandingkan bayi dan anak-anak. Biasanya pengobatan bisa dilakukan di rumah dengan memberikan antibiotik sesuai dengan resep dokter.

Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan pengobatan mandiri terhadap batuk rejan:

  • Minum ibuprofen atau paracetamol untuk menyembuhkan gejala demam yang diderita. Selain itu juga berfungsi untuk mengobai radang tenggorokan.
  • Minum air putih sebanyak-banyaknya, hal ini dilakukan agar tubuh tetap terjaga dari masalah dehidrasi.
  • Berusaha semampunya untuk mengeluarkan dahak atau lendir saat batuk atau muntah hal ini tentunya agar mencegah terjadinya tersendak karena cairan tersebut tersedot atau tertarik kembali.

(Baca juga: penyebab batuk berdarahpenyebab batuk berdahak)

Komplikasi Akibat Batuk Rejan

Batuk rejan yang berlangsung cukup parah tentunya memiliki resiko akan mengalami komplikasi pada bagian tubuh lainnya. Komplikasi ini biasanya dialami oleh penderita usia anak-anak dan bayi, meski jarang terjadi pada usia dewasa, berikut beberapa komplikasi yang bisa terjadi:

  1. Nafas terputus-putus, kondisi ini terjadi akibat intensitas batuk yang sangat sering
  2. Dehidrasi,batuk rejan yang berakhir dengan muntah berlebihan tentunya berdampak dengan cairan tubuh berkurang sehingga menyebabkan dehidrasi dan penurunan berat badan.
  3. Pneumonia, atau dikenal dengan istilah paru-paru basah merupakan infeksi yang berakibat inflamasi pada kantong-kantong udara pada salah satu paru-paru. Kumpulan kantong udara ini kecil yang berada diujung saluran pernafasan dalam paru-paru membengkak karena dipenuhi cairan.
  4. Penyakit ini dikenal dengan bronkopneumonia, pneumonia lobular, dan pneumonia bilateral, dimana gejala pada penyakit ini mengalami batuk, demam, dan kesulitan bernafas.
  5. Tekanan darah rendah, tetap menjaga tekanan darah agar normal. Karena pada umumnya penderita batuk rejan memiliki tekanan darah yang rendah.
  6. Mengalami kejang-kejang, hal ini bisa saja terjadi jika batuk rejan memiliki tingkat keparahan yang membahayakan.
  7. Kerusakan otak, meski jarang terjadi tetapi komplikasi ini bisa terjadi karena kurangnya pasokan oksigen ke otak.
  8. Gagal ginjal, komplikasi ini bisa saja terjadi pada penderita usia bayi dibawah 6 bulan dan bisa membahayakan nyawa bayi, karena itu penanganannya sebaiknya di rumah sakit. Sedangkan pada orang dewasanya komplikasi lebih ringan, seperti tulang rusuk yang cedera atau retak, hernia perut, mimisan, infeksi telingan, pecahnya pembuluh darah di kulit, muncul sariawan pada lidah dan mulut, dan wajah mengalami pembengkakan.

(Baca juga: obat batuk berdahakcara mengatasi batuk kering)

Cara Mencegah Batuk Rejan

Batuk rejan pada dasarnya merupakan sebuah kondisi kesehatan yang dapat dicegah. Untuk pencegahan itu sendiri, ada beberapa cara berdasarkan dari usia dan terbagi menjadi pencegahan untuk bayi/anak-anak, remaja dan orang dewasa. Berikut adalah penjabaran tentang pencegahan batuk rejan yang bisa disimak.

  • Bayi dan anak-anak

Untuk mencegah bayi atau anak-anak menderita batuk rejan maka dapat dilakukan dengan memberikan vaksin pertusis. Umumnya dokter akan memberikan vaksin ini bersamaan dengan vaksin difteri, tetanus, polio, dan Hib.

Meski vaksin ini aman, tetapi vaksin pertusis bisa menimbulkan beberapa efek samping diantaranya rasa nyeri, kulit memerah dan pembengkakan pada bagian  yang disuntik. Bahkan beberapa bayi akan mengalami demam, sering  menangis, dan gampang marah.

Vaksin ini juga bisa diberikan kepada ibu hamil. Pemberian vaksin pertusis pada ibu hamil tentunya dapat membantu melindungi bayi yang baru lahir terserang bakteri pertsis pada minggu awal kelahiran. Biasanya vaksi pertusis ini akan ditawarkan kepada ibu hamil ketika usia kehamilan berkisar 28-38 minggu.

Selain kepada bayi dan ibu hamil, vaksin pertusis tambahan juga bisa diberikan karena fungsi perlindungannya yang cenderung melemah. Vaksinasi ini bisa diberikan kepada:

  • Remaja

Seiring bertambahnya usia vaksin yang diberikan pada saat bayi tentu akan terus melemah. Ketika anak mulai menginjak usia 11 tahun merupakan masa yang tepat untuk memberikan vaksin pertusis tambahan.

  • Dewasa

Beberapa jenis vaksin memang ada yang diberikan secara berkala. Vaksin tetanus fan difetri yang diberikan secara berkala setiap 10 tahun juga bisa memiliki fungsi untuk melindungi diri dari batuk rejan. Vaksin tersebut mampu mengurangi resiko tubuh terpapar batuk rejan.

Sementara itu, agar batuk rejan tidak menular, maka penderita sebaiknya beristirahat didalam rumah sambil mengkonsumsi antibiotik yang telah diresepkan oleh dokter. Sedangkan orang-orang yang tinggal di dekatnya sebaiknya melakukan tindakan pencegahan agar tidak tertular dengan mendapatkan vaksin tambahan.

(Baca juga: cara mengobati batuk berdarah makanan penyebab batuk)

Demikianlah sedikit ulasan tentang batuk rejan, mulai dari penyebab, gejala, hingga pengobatan dan pencegahannya. Karena jenis batuk ini cukup sulit dam lama untuk sembuh, maka memang sebaiknya ketika gejala mulai dialami, segera periksakan supaya menghindari adanya komplikasi.

You may also like