5 Ciri Ciri Osteoporosis Pada Pria dan Wanita

5105

Osteoporosis merupakan suatu kondisi ketika kepadatan tulang mulai berkurang. Kondisi tersebut membuat tulang rawan mengalami pengeroposan dan juga retak. Osteoporosis sangat rentan dialami oleh orang-orang yang telah memasuki usia lanjut karena pada usia lanjut tulang akan mengalami penurunan tingkat kepadatannya. Bahkan banyak orang yang mengatakan bahwa osteoporosis merupakan salah satu gangguan kesehatan yang identik dengan orang-orang lanjut usia. Namun kenyataannya jumlah orang dengan usia muda yang menderita osteoporosis juga tidak sedikit.

Kebanyakan kasus menunjukkan bahwa osteoporosis lebih banyak diderita oleh wanita dibandingkan pria. Kondisi tersebut terjadi karena salah satu penyebab pengeroposan tulang adalah menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita. Akibatnya, wanita lebih rentan terkena osteoporosis dibandingkan pria. Namun, bukan berarti pria tidak akan terkena osteoporosis karena masih banyak faktor lain yang menyebabkan munculnya gangguan kesehatan ini.
Di Indonesia, jumlah wanita yang menderita osteoporosis pada usia 50 sampai 80 tahun mencapai 23 persen, sedangkan pada usia 70 sampai 80 tahun sebanyak 53 persen. Risiko wanita untuk mengalami osteoporosis 4 kali lebih besar dibandingkan pria. Selain karena pengaruh hormon estrogen, kekurangan jumlah kalsium di dalam tubuh juga menjadi faktor terbesar yang menyebabkan munculnya gejala osteoposis pada pria, wanita yang masih berusia muda, bahkan anak-anak.

Penyebab Osteoporosis

Secara umum, osteoporosis disebabkan oleh kepadatan tulang yang mengalami penurunan. kondisi tersebut biasanya akan terjadi seiring dengan pertambahan usia. Ketika seseorang masih berusia muda, tulang akan mengalami regenerasi dengan sangat cepat serta berada dalam kondisi kepadatan tulang yang maksimal. Namun, seiring dengan pertambahan usia, proses regenerasi sel-sel tulang akan terjadi dengan lambat bahkan tidak akan mengalami regenerasi lagi sehingga tulang akan rapuh. Oleh karena itu, semakin tua usia seseorang maka kepadatan tulangnya akan semakin berkurang. Untuk lebih jelasnya, berikut ini beberapa faktor penyebab osteoporosis:

1. Jenis Kelamin

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, wanita lebih rentan terkena osteoporosis dibandingkan pria. Hal tersebut terjadi karena wanita sangat rentan mengalami perubahan hormon. Pada wanita, kadar hormon estrogen yang cukup akan membantu menjaga kepadatan tulang. Akan tetapi, seorang wanita yang telah memasuki masa menopause akan kekurangan hormon estrogen di dalam tubuhnya. Akibatnya, kepadatan tulang akan mengalami penurunan seiring dengan menurunnya jumlah hormon estrogen di dalam tubuh. Sedangkan pria memiliki risiko untuk terkena osteoporosis lebih rendah dibandingkan wanita karena pria akan tetap memproduksi hormon testosteron hingga usia tua. Namun, ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa jumlah hormon testosteron yang terlalu rendah dapat menyebabkan kepadatan tulang pada pria menurun.

WANITA

Adapun beberapa kondisi pada wanita yang menyebabkan penurunan hormon estrogen sekaligus menyebabkan osteoporosis adalah :

  • Tidak mengalami siklus menstruasi dalam jangka waktu yang terlalu lama (lebih dari 6 bulan). Biasanya hal tersebut terjadi karena wanita melakukan diet atau melakukan olahraga secara berlebihan.
  • Wanita yang mengalami menopause dini (pada usia di bawah 45 tahun). [baca juga: penyebab menopouse]
  • Melakukan operasi pengangkatan rahim (histerektomi) ketika berusia di bawah 45 tahun. Kondisi tersebut semakin parah ketika pengangkatan kedua ovarium dilakukan.

PRIA

Pria juga lebih rentan terkena osteoporosis karena hal-hal berikut:

  • Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Kebiasaan mengonsumsi beberapa jenis obat-obatan seperti glukokortikoid.
  • Kadar hormon testosteron yang terlalu rendah di dalam tubuh. [baca juga: cara meningkatkan hormon testosteron

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kepadatan tulang seseorang sangat dipengaruhi oleh tingkat hormon di dalam tubuhnya.

baca juga: fungsi estrogenakibat kelebihan estrogenmakanan yang mengandung estrogen

2. Penyakit Kelenjar

Telah disinggung di atas, bahwa osteoporosis dapat disebabkan oleh jumlah hormon yang tidak seimbang di dalam tubuh. Seperti yang telah diketahui, hormon-hormon di dalam tubuh dihasilkan oleh kelenjar. Apabila kelenjar di dalam tubuh mengalami gangguan tentu saja jumlah hormon yang dihasilkan juga akan terganggu sehingga berisiko untuk terkena osteoporosis. Adapun beberapa penyakit kelenjar yang dapat memicu penyakit osteoporosis antara lain:

  • Gangguan pada kelenjar adrenal
  • Gangguan pada kelenjar pituitari
  • Kelenjar tiroid yang terlalu aktif
  • Kelenjar paratiroid yang terlalu aktif
  • Kadar hormon seks yang mengalami penurunan (estrogen dan testosteron)

3. Faktor Lain yang Meningkatkan Risiko Osteoporosis

Selain kedua faktor yang telah dijelaskan di atas, ada beberapa faktor lain yang meningkatkan risiko munculnya penyakit osteoporosis, yaitu:

  • Memiliki indeks massa tubuh kurang atau sama dengan 19.
  • Memiliki gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia. Kondisi semacam itu biasanya akan menyebabkan seseorang kekurangan nutrisi termasuk nutrisi kalsium yang berguna untuk menjaga kepadatan tulang.
  • Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
  • Kebiasaan merokok.
  • Faktor keturunan atau genetik. [baca juga: kelainan genetika]
  • Kekurangan kalsium. Kalsium merupakan komponen utama yang menjaga kepadatan tulang. Jika tubuh kekurangan kalsium maka tulang akan lebih mudah rapuh.
  • Memiliki gangguan malabsorpsi seperti penyakit coealiac dan penyakit crohn sehingga membuat usus tidak mampu menyerap nutrisi dari makanan yang dikonsumsi.
  • Mengkonsumsi obat-obatan yang dapat berpengaruh pada jumlah hormon di dalam tubuh, seperti obat untuk kanker prostat serta konsumsi obat kortikosteroid. [baca juga: efek samping obat jangka panjang]
  • Kurang olahraga atau malas melakukan aktivitas fisik.

Itulah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena osteoporosis. Selain beberapa faktor di atas, akibat kekurangan vitamin D juga dapat menyebabkan osteoporosis. Vitamin D memiliki peranan penting untuk menyerap kalsium yang masuk ke dalam tubuh. Jika tubuh kekurangan vitamin D, penyerapan kalsium juga tidak optimal sehingga tulang menjadi mudah rapuh.

Ciri-Ciri

Osteoporosis seringkali diidentikkan dengan orang-orang yang telah memasuki usia lanjut. Namun, orang-orang yang masih berusia muda bukan berarti bebas dari ancaman osteoposis. Osteoporosis merupakan gangguan kesehatan yang cukup serius. Bahkan karena jumlah penderitanya yang begitu besar di Indonesia membuat banyak dokter menyarankan para lansia untuk mengonsumsi susu penambah kalsium. Osteoporosis tidak hanya mengurangi kepadatan tulang saja. Penyakit osteoporosis juga akan mengurangi jumlah jaringan tulang dan dapat mengubah struktur tulang. Adapun beberapa ciri-ciri atau gejala osteoporosis adalah:

1. Penurunan Tinggi Badan

Salah satu ciri dari munculnya penyakit osteoporosis adalah tinggi badan yang mengalami penurunan. Kondisi tersebut terjadi karena bantal antar ruas tulang belakang mengalami penekanan akibat aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Kondisi semacam ini biasanya sangat umum dialami oleh orang-orang dengan usia lanjut karena aktivitas mereka yang sangat beraneka ragam.

baca juga: cara meninggikan badanmakanan peninggi badan alami dan aman

2. Struktur Bentuk Tubuh yang Mengalami Perubahan

Ciri penyakit osteoporosis selanjutnya adalah perubahan struktur bentuk tubuh. Perubahan yang dimaksud adalah bentuk tubuh yang biasanya akan semakin membungkuk atau biasa disebut dengan kifosis. Perubahan struktur bentuk tubuh tersebut terjadi karena adanya kerusakan beberapa ruas tulang belakang di bagian dada dan pinggang. Secara umum kondisi ini sering dialami oleh orang-orang dengan usia lanjut.

baca juga: penyebab tubuh bungkukkelainan tulang belakangpenyebabterjadinya lordosis kifosis dan skoliosis

3. Fragile Fracture

Fragile fracture merupakan proses terjadinya kerapuhan pada tulang dan dapat mengalami patah tulang. Seseorang yang menderita penyakit osteoporosis dapat mengalami patah tulang meskipun aktivitas yang dilakukan relatif ringan. Kondisi tersebut sangat rawan terjadi karena tulang telah mengalami kerapuhan. Ketika fragile facture terjadi biasanya penderita osteoporosis akan mengalami nyeri tulang yang luar biasa.

baca juga: kesehatan tulang

4. Nyeri Tiba-tiba di Bagian Punggung

Ciri lain dari penyakit osteoporosis adalah rasa nyeri yang datang secara tiba-tiba pada bagian punggung. Rasa nyeri tersebut biasanya akan muncul ketika bangun dari duduk yang terlalu lama, ketika berdiri, atau ketika sedang berjalan. Biasanya kondisi tersebut terjadi karena adanya tulang yang mengalami kolaps.

baca juga: penyebab encokbahaya duduk terlalu lamaakibat duduk terlalu lama

5. Patah Tulang Tungkai

Setiap orang memiliki tulang dengan dua lapisan yakni lapisan luar dan lapisan dalam. Lapisan luar merupakan bagian yang memiliki tekstur keras sedangkan lapisan bagian dalam merupakan bagian yang memiliki tekstur lunak seperti spons. Seseorang yang memiliki penyakit osteoporosis akan memiliki tulang lapisan luar yang relatif tipis sehingga membuat lapisan bagian dalam (spons) melebar mengakibatka tulang menjadi mudah mengalami retak.
Itulah beberapa ciri penyakit osteoporosis. Meskipun penyakit osteoporosis sangat identik dengan orang-orang berusia lanjut, namun bukan berarti orang-orang yang masih berusia muda tidak akan terkena penyakit ini.

Apalagi jika sejak dini kebutuhan kalsium tubuh tidak terpenuhi dengan baik, tentu tulang akan mudah mengalami pengeroposan meskipun masih berusia muda. Jika mengalami beberapa gejala di atas, maka sebaiknya segera memeriksakan diri sebelum penyakit tersebut terlalu parah. Pada tingkatan yang terlalu parah, penderita osteoporosis yang hanya sekedar batuk atau bersin dapat mengalami retak tulang rusuk.

baca juga: pertolongan pertama pada patah tulang

Diagnosis Osteoporosis

Penyakit osteoporosis biasanya mampu terdeteksi ketika seseorang mengalami keretakan tulang. Biasanya, seseorang yang mengalami keretakan tulang akan melakukan pemeriksaan rontgen. Pemeriksaan tersebut mampu mengidentifikasi keretakan tulang namun tidak mampu mengidentifikasi kepadatan tulang. Biasanya, seseorang yang dimungkinkan mengalami osteoporosis diharuskan untuk melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kepadatan tulangnya. Adapun pemeriksaan yang dimaksud adalah:

1. Pemindaian DEXA

Pemindaian DEXA dilakukan untuk mengetahui kepadatan tulang seseorang. Pemindaian DEXA akan mengukur kepadatan mineral tulang. Hasil dari pemindaian DEXA pada tulang biasanya akan dibandingkan dengan hasil pemindaian DEXA pada orang yang memiliki kepadatan tulang normal yang disesuaikan dengan usia dan juga jenis kelamin. Prosedur pemindaian DEXA ini biasanya akan menghabiskan waktu selama 15 menit dan tidak menimbulkan rasa sakit. Adapun hasil pemindaian DEXA biasanya akan didefinisikan sebagai berikut:

  • Di atas (-1) berarti kepadatan tulang normal. Jika kepadatan tulang ternyata di atas (-1) maka bisa diartikan bahwa kepadatan tulang sangat baik.
  • Berada pada angka antara (-1) dan (-2,5) maka kepadatan tulang dapat dikategorikan pada kondisi osteopenia yaitu kondisi ketika kepadatan tulang berada di bawah rata-rata namun belum serendah pada kondisi osteoporosis.
  • Di bawah (-2,5) berarti tulang berada dalam kondisi osteoporosis. Jika angka hasil pemindaian DEXA menunjukkan angka di bawah (-2,5) maka dimungkinkan menderita osteoporosis. Namun, dokter biasanya juga akan mempertimbangkan jenis cedera yang dialami, usia, dan juga jenis kelamin.

Sangat disayangkan karena di Indonesia, alat pemindai DEXA ini masih jarang ditemukan. Bahkan separuh dari jumlah alat pemindai ini hanya ada di Jakarta. Untuk satu kali pemeriksaan menggunakan alat pemindai DEXA dibutuhkan biaya sebesar 500 sampai 600 ribu rupiah. Harga tersebut tidak mampu dijangkau oleh masyarakat kelas bawah. Karena itulah jumlah penderita osteoporosis di Indonesia belum dapat diketahui secara pasti.

2. FRAX

Cara untuk mendeteksi penyakit osteoporosis selanjutnya adalah menggunakan FRAX. FRAX digunakan untuk mendeteksi risiko tulang mengalami keretakan. Bahkan program FRAX ini mampu menghitung risiko kemungkinan tulang untuk mengalami keretakan hingga 10 tahun ke depan. WHO mengembangkan alat tersebut dengan mempertimbangkan kriteria di setiap negara, termasuk di Indonesia.

Pencegahan Osteoporosis

Salah satu faktor yang menyebabkan osteoporosis adalah faktor genetik atau keturunan. Namun, faktor gaya hidup juga dapat menjadi faktor terbesar yang menyebabkan osteoporosis. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara mencegah osteoporosis dengan menerapkan cara hidup sehat. Adapun penjelasan selengkapnya mengenai halosehat. Cara mencegah tulang keropos adalah :

1. Rutin Olahraga

Menjaga kepadatan tulang dapat dilakukan dengan cara rutin olahraga. Rutin melakukan olahraga setidaknya 2 sampai 3 jam setiap pekan akan mencegah tulang mengalami kerapuhan. Lakukan olahraga seperti bersepeda, jalan kaki, atau joging untuk menjaga kepadatan tulang. Olahraga mengangkat beban dengan berat yang tidak berlebihan juga dapat membantu menjaga kepadatan tulang. Bagi seorang penderita osteoporosis maka sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mengenai olahraga apa yang cocok untuk dilakukan.

baca juga: manfaat olahraga bagi kesehatan tubuhcara melakukan olahraga yang baik dan benarbahaya olahraga tanpa pemanasan

2. Olahraga yang Melatih Lutut dan Kaki

Melakukan olahraga yang mampu melatih kekuatan lutut dan kaki sangat baik untuk mencegah osteoporosis, bahkan bagi seseorang yang berusia di atas 60 tahun. Beberapa jenis olahraga seperti lari, melompat, aerobok, dan menari merupakan beberapa jenis olahraga yang berguna untuk menguatkan otot, ligamen, dan juga persendian. Untuk seseorang yang berusia di atas 60 tahun, dapat melakukan olahraga ringan untuk melatih kekuatan lutut dan kaki, seperti badminton. Ketika berolahraga, usahakan untuk memakai jenis sepatu yang nyaman dan dapat meminimalkan risiko cedera pada pergelangan kaki.

3. Pola Makan Sehat

Untuk menjaga kepadatan tulang, konsumsi berbagai jenis makanan yang kaya akan kandungan vitamin D dan juga kalsium. Vitamin D memiliki peranan penting untuk memaksimalkan proses penyerapan kalsium ke dalam tulang. Adapun beberapa jenis makanan yang kaya akan kandungan vitamin D adalah kuning telur, sari kedelai, dan hati sapi. Sedangkan beberapa jenis makanan yang kaya akan kandungan kalsium adalah tahu, tempe, kacang merah, dan juga ikan sarden. Untuk orang dewasa, jumlah vitamin D yang dibutuhkan setiap harinya adalah 15 mikrogram. Sedangkan kebutuhan kalsium per harinya sebanyak 1000 miligram. Untuk mencukupi kebutuhan vitamin D setiap harinya, dapat diperoleh dari sinar matahari pagi. Berjemurlah di bawah sinar matahari sebelum jam 9 pagi.

baca juga: daftar contoh menu makanan sehat sehari-hari

4. Hentikan Kebiasaan Buruk

Untuk mencegah risiko terkena osteoporosis, seseorang juga harus menghentikan kebiasaan buruk seperti merokok dan kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol.

baca juga: penyakit akibat merokokbahaya merokok bagi kesehatan tubuh yang mematikanefek bahaya alkohol bagi kesehatan dan kehidupan sosial

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa osteoporosis dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, meskipun dalam kebanyakan kasus osteoporosis memang lebih banyak menyerang wanita dan orang-orang lanjut usia. Namun melakukan upaya pencegahan sejak dini tentu akan meminimalkan risiko terkena osteoporosis.