Perbedaan Depresi dan Gangguan Bipolar : Gejala dan Penanganan

√ Verified Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Banyak orang agak kesulitan membedakan antara depresi dan gangguan bipolar. Pada dasarnya, depresi dan gangguan bipolar adalah 2 kondisi berbeda namun masih memiliki hubungan satu sama lain. Untuk dapat mengetahui dan memahami lebih jauh, maka berikut di bawah ini adalah ulasan mengenai perbedaan depresi dan gangguan bipolar yang bisa disimak.

Baca juga:

Depresi

Depresi tidaklah sama dengan gangguan bipolar, hanya saja keduanya memiliki kaitan satu dengan yang lain. Tak hanya itu, perlu diketahui juga bahwa depresi masih termasuk dalam bagian penyakit gangguan bipolar. Namun, belum tentu bagi penderita depresi untuk mengalami gangguan bipolar.

Gejala-gejala umum depresi antara lain adalah:

  • Perasaan tertekan.
  • Mudah marah.
  • Selera makan menurun atau justru meningkat.
  • Menurun atau hilangnya semangat hidup.
  • Tubuh mudah lemas dan cepat lelah.
  • Kesedihan yang berlebihan dan berlarut-larut di mana ini adalah efek dari penumpukan stres akibat akumulasi peristiwa masa lalu.
  • Penderita depresi cenderung pendiam.
  • Jarang atau enggan melakukan aktivitas sosial.
  • Sulit tidur.
  • Cemas berlebihan.
  • Suka merenung.
  • Gampang tersinggung.
  • Gampang berprasangka buruk.
  • Suka menyendiri.
  • Sering sakit kepala.
  • Mengalami putus asa
  • Jika sudah agak parah akan merasakan nyeri dada
  • Ingin melukai diri sendiri

Secara umum bila dilihat kondisi orang yang depresi, suasana hatinya termasuk stabil, namun lebih kepada mood yang negatif. Pada beberapa kasus, seseorang yang mengalami gejala depresi akan lari ke aktivitas negatif, seperti misalnya kecanduan minum minuman keras, penyalahgunaan obat terlarang, atau gaming yang berlebihan dan meninggalkan kegiatan pendidikan. Tak jarang juga penderita yang sudah mengalami depresi pada akhirnya pun menjadi penderita gejala gangguan bipolar.

Baca juga:

Gangguan Bipolar

Setiap manusia pada dasarnya bersifat bipolar secara biopsikologi dan untuk dapat membedakan manusia yang menderita gangguan bipolar dengan manusia yang normal adalah kadar serta kemampuan dalam mengontrol sifat bipolar dalam diri sendiri. Berikut ini adalah beberapa gejala umum atau tanda di mana seseorang mengalami gangguan bipolar.

  • Mood sangat cepat berubah dan sifat perubahan mood tergolong ekstrem. Ini karena dalam satu masa seseorang terlihat begitu senang namun dalam waktu sebentar saja (beberapa jam kemudian) ia bisa berubah murung, sedih, atau bahkan menangis. Setelah beberapa waktu kemudian, ia akan kembali senang dan bergairah.
  • Frekuensi perubahan mood yang ekstrem termasuk tinggi dan berlangsung secara berulang-ulang dalam keseharian orang tersebut.
  • Penderita dapat mengamuk dan orang-orang di sekitarnyalah yang menjadi sasaran.
  • Gairah seksual pun dapat menjadi meningkat.
  • Pikiran kerap berubah.
  • Susah tidur di malam hari alias insomnia.
  • Egois
  • Suka mengebut ketika berkendara
  • Sering berhalusinasi
  • Memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi dan bahkan cenderung berlebihan.
  • Pada fase mania, penderita akan merasa pesimis.
  • Sulit berkonsentrasi
  • Turunnya produktivitas
  • Ada keinginan untuk bunuh diri terus-menerus.
  • Malas untuk bersosialisasi dengan orang lain.

Ada beragam penyebab mengapa gangguan bipolar bisa terjadi dan bahkan dapat terbilang lebih kompleks ketimbang depresi. Ini karena penyebabnya bisa merupakan kombinasi dari sejumlah faktor, seperti faktor genetis (ada masalah di bagian otak penderita), peristiwa traumatis, hingga efek gaya hidup yang tak sehat.

Baca juga:

Penanganan

Penting untuk diketahui bahwa faktanya, ada kurang lebih 6 juta orang dewasa penderita gangguan bipolar di Amerika Serikat di mana pasti kita berpikir jumlah tersebut sangatlah banyak. Hanya saja bila menilik juga jumlah penderita depresi, malah justru masih berada di bawah.

Justru di Amerika Serikat, penderita depresi jauh lebih banyak ketimbang gangguan bipolar di mana orang dewasa penderitanya saja bisa sampai 15 juta orang. Pada dasarnya, orang dengan masalah depresi bisa akan merasa lebih baik hanya dalam waktu beberapa hari, namun bila tak ada perawatan lanjutan, suasana hati atau mood dapat lebih buruk dari sebelumnya.

  • Penanganan Depresi

Untuk kasus depresi, perubahan gaya hidup seperti mulai berolahraga ringan, jadwal tidur yang rutin, hingga mengikuti tips diet sehat dengan pola makan yang benar bisa membantu. Meditasi, berbicara dengan orang yang penderita percayai, mencoba hal-hal baru, serta menetapkan tujuan merupakan cara-cara mencegah depresi dan mengusirnya yang paling ampuh.

Pada penderita depresi, obat antidepresan pun dapat membantu apabila memang dibutuhkan dan juga dilihat dari tingkat keparahannya begitu pun dengan terapi psikologi untuk depresi. Namun lebih dari itu, perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat dan juga ada suatu wadah di mana penderita dapat berbagi cerita serta memberikan dukungan satu sama lain adalah hal yang penting untuk kepulihannya.

  • Penanganan Gangguan Bipolar

Karena bipolar dapat begitu ekstrem, terutama pada perubahan suasana hati penderita, terapi psikologi diperlukan oleh sang penderita. Perubahan pikiran dan perilaku perlu didukung dengan baik agar mindset dari pasien bisa berubah dari yang tadinya negatif menjadi lebih positif.

Akan ada terapis yang bertugas mengajarkan cara-cara pengubahan pikiran negatif ke positif. Terapis tersebut juga akan membantu pasien dalam hal penerapan pola tidur, pola makan serta olahraga yang baik dan benar. Obat pun kiranya dibutuhkan oleh pasien gangguan bipolar dan bahkan pasien tak akan bisa lepas dari obat-obatan ini, seperti antidepresan, lithium, antikonvulsan, hingga antipsikotik.

Baca juga:

Demikianlah perbedaan depresi dan gangguan bipolad dilihat dari segi gejala maupun penanganannya. Jika masih terlampau dini, maka ada baiknya untuk mencari solusi segera sebelum akhirnya berlanjut dan makin serius hingga berakibat pada bunuh diri.

fbWhatsappTwitterLinkedIn