7 Terapi Psikologi untuk Depresi Ringan dan Berat

Depresi bukanlah masalah atau gangguan mental biasa, karena kalau dibiarkan dalam jangka waktu lama, maka kondisi ini bisa menjadi hal yang berakibat fatal. Seseorang dengan masalah depresi akan selalu kelihatan murung karena merasa sedih maupun hampa. Bahkan penderita depresi rata-rata kehilangan minat untuk sebagian besar kegiatan apalagi kehidupan sosial.

Tak hanya itu, seseorang dengan depresi akan mengalami susah tidur seperti insomnia atau justru hipersomnia setiap harinya. Mudah bingung, kehilangan berat badan, memiliki perasaan bersalah atau tidak berharga, kemudian juga selalu merasa lelah. Supaya bisa menghindari akibat depresi berkepanjangan, beberapa terapi psikologi untuk depresi di bawah ini bisa untuk dipertimbangkan menjadi solusi.

(Baca juga: makanan yang ampuh usir depresi – jenis-jenis penyakit sakit jiwa – ciri-ciri sehat mental)

1. Terapi Perilaku Kognitif

Seseorang dengan kondisi depresi akan mudah mengalami perasaan dan pola pikir yang negatif setiap saat. Oleh karena itu, terapi perilaku kognitif ini diperlukan oleh penderita depresi untuk mengubah pola pikir yang negatif menjadi lebih positif. Dengan demikian, maka ia akan mengubah perilakunya menjadi lebih baik juga nantinya.

Terapi jenis ini termasuk praktis dan sederhana di mana tak akan makan waktu lama, hanya saja memang memerlukan kerjasama antara terapis dan pasien secara baik. Pengamatan dan evaluasi akan perilaku pasien bakal dilakukan sesuai pemberian tugas. 7 bulan adalah lama waktu terapi di mana seminggu diadakan pertemuan 1-3 kali. Terapi ini cocok untuk yang mengalami fobia, gangguan suasana hati dan gangguan makan (anoreksia).

2. Terapi Interpersonal

Penderita depresi yang memiliki masalah interaksi dengan pasangan, keluarga maupun teman atau orang lain biasanya memerlukan jenis terapi ini. Pada umumnya, selalu ada penyebab utama dibalik kelainan yang terjadi pada si pasien ketika berinteraksi dengan orang lain.

Metode terapi ini mampu menyembuhkan masalah depresi tersebut sehingga pasien nantinya akan dapat melakukan interaksi secara normal dengan orang lain. Lamanya waktu terapi adalah 20 minggu dengan fokus kepada si pasien langsung supaya kemampuan interpersonalnya jauh lebih baik. Nanti pasien akan diberi tugas tertentu untuk diselesaikan.

(Baca juga: penyebab orang jadi gila – jenis gangguan kepribadian)

3. Terapi Psikodinamik

Masih ada lagi jenis terapi yang juga dibutuhkan oleh para penderita depresi di mana sesuai dengan istilahnya, tujuan dari terapi ini adalah untuk meningkatkan kenyamanan pada pasien. Dengan terapi ini, pasien nantinya akan bisa mulai terbuka untuk menceritakan tentang masalahnya. Tanpa adanya interupsi, pasien akan mengeluarkan isi pikiran dan perasaaannya.

Ketika pasien telah memiliki rasa nyaman untuk mengeluarkan apa yang ia rasakan dan pikirkan, maka dari situlah bakal tampak pola perilaku pasien yang ditangkap oleh terapis selama berjalannya terapi secara tak sadar. Terapis kemudian baru bisa membuat kesimpulan tentang sumber masalah penyebab si pasien merasa depresi.

Sesudah sumber masalah terdeteksi dan teridentifikasi, maka ada tindakan yang dibuat oleh terapis untuk pengubahan perilaku dari si pasien yang tak wajar. Untuk pasien dengan kepanikan berlebih, cemas, dan suka bereksplorasi dengan pikirannya sendiri, maka terapi ini sangat sesuai. Durasi terapi bisa 2 tahun lamanya dengan seminggu 1-2 kali pertemuan antara pasien dan terapis.

4. Terapi Perilaku Dialektik

Terapi ini lebih dianjurkan kepada para penderita depresi yang suasana sering tidak stabil, memiliki fobia, gampang panik, pernah/sering melakukan percobaan bunuh diri, atau yang gemar melamun karena pikirannya kosong. Pasien depresi demikian pada umumnya memiliki tingkah abnormal di mana ini merupakan efek dari gangguan obsesif kompulsif, gangguan kekerasan mental atau fisik, dan gangguan makan.


Tujuan dari adanya terapi ini adalah untuk membantu pasien dalam memahami pikiran sekaligus perilakunya yang cukup terbilang ekstrem. Pasien kemudian akan diminta untuk menirukan serta melakukan pengembangan terhadap kemampuan interpersonalnya supaya perilaku kembali normal. Pasien yang mengalami depresi ini juga perlu melatih diri untuk mengembangkan kemampuan interpersonalnya setiap minggu.

Tak hanya itu, pasien juga perlu belajar supaya mampu menyelesaikan sebuah masalah yang ia hadapi tanpa bersikap ekstrem. Terapis nantinya akan memberikan masalah kepada si penderita depresi dan ia perlu menyelesaikannya di rumah di bawah pengawasan terapis. Ada pula terapi kelompok selain terapi individual yang bisa dilakukan.

(Baca juga: penyebab gangguan jiwajenis gangguan mental pada anak)

5. Terapi Stimulasi Otak

Apabila gejala depresi tak bisa diselesaikan atau disembuhkan dengan pemberian obat-obatan, dokter biasanya akan menawarkan ECT atau terapi elektrokonvulsif. Terapi ini biasanya akan dilakukan oleh psikolog, psikiater, atau ahli terapis yang profesional sehingga pasien pun tak perlu khawatir.

ECT menurut hasil penelitian terakhir diketahui sangat efektif bila ditempuh oleh penderita depresi tahap berat. Hasilnya, penderita bakal merasa jauh lebih baik dan bahkan dalam proses ECT tidak akan merasa nyeri sama sekali. Ini karena impuls elektriklah yang disalurkan ke otak; hanya saja, tetap ada efek samping seperti hilang ingatan, disorientasi ingatan, dan kebingungan yang biasanya hanya sebentar.

6. Terapi Gelombang Otak Depression Self Help

Terapi semacam ini juga sudah banyak digunakan dan ditempuh oleh banyak penderita depresi. Metode terapi ini berfokus pada penggunaan audio gelombang otak di mana di dalamnya ada musik anti-depresan sehingga aktivitas gelombang otak dan audio dapat lebih seimbang.


Cara ini diketahui ampuh karena kemudian depresi dapat hilang dari pikiran Anda sendiri. Pada seseorang dengan masalah depresi biasanya memiliki gangguan gelombang alpha yang dominan. Gelombang otak pun menjadi meningkat dengan bantuan gelombang otak alpha ini supaya tak terjebak pada theta atau gelombang lamunan. Terapi ini sudah banyak digunakan dan hasilnya pun sangat efektif untuk mengembalikan pasien seperti semula, yakni berkondisi normal dan bebas depresi.

7. Terapi Cahaya

Terapi lainnya yang mampu menjadi cara mengurangi atau mengatasi ciri-ciri depresi adalah dengan terapi cahaya. Untuk prosedur terapi ini, pasien hanya cukup duduk berada di dekat sebuah kotak yang bercahaya terang sekali. Cahaya tersebut adalah cahaya yang digunakan untuk menerapi.

Umumnya, prosedur terapi semacam ini perlu dilakukan selama 15 menit kurang lebih, tapi lama-kelamaan akan ditingkatkan menjadi 2 jam per hari. Tingkat keparahan gejala depresi menjadi penentu durasi dari terapi ini. Untuk seberapa tinggi intensitas cahaya, hal ini juga menjadi keputusan dokter. Namun khusus pada terapi ini, hanya akan membuat gejala berkurang dan tak dapat menyembuhkan depresi secara total.

(Baca juga: gejala bipolar – penyebab depresi – cara menjaga kesehatan mental)

Itulah metode-metode terapi psikologi untuk depresi ringan hingga berat yang patut dicoba oleh para pasien penderita depresi. Terapi yang tepat bakal memberikan hasil kesembuhan yang juga sempurna tanpa penggunaan obat-obatan.

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , ,
Post Date: Thursday 09th, March 2017 / 12:20 Oleh :
Kategori : Depresi