Paranoid – Penyebab, Ciri, Gejala, Diagnosa dan Pengobatan

2271

Ada banyak jenis gangguan kepribadian yang kerap terjadi pada manusia, beberapa di antaranya bahkan bisa dialami dan terjadi tanpa disadari. Sementara pada kenyataannya, gangguan kepribadian ini bisa saja memburuk atau bahkan menimbulkan berbagai masalah yang fatal bagi penderitanya.

Meski bukan termasuk jenis penyakit menular , gangguan kepribadian ini tentu tetap membutuhkan penanganan medis yang serius, agar bisa diatasi dan bahkan dihilangkan sama sekali. Dalam beberapa kasus, gangguan kepribadian ini bahkan tidak terdeteksi / disadari, sehingga penderitanya tidak mendapatkan penanganan yang tepat sejak awal.

Paranoid merupakan salah satu gangguan kepribadian yang banyak diderita oleh orang-orang. Paranoid berasal dari bahasa Yunani Kuno, yakni paranoia yang berarti gangguan mental yang dialami oleh seseorang akibat adanya perasaan / keyakinan yang timbul di dalam dirinya bahwa ada orang lain yang akan membahayakan atau menyakiti dirinya. Kondisi seperti ini bisa saja membuat penderita mengalami banyak masalah dan gangguan dalam beraktifitas, terutama jika paranoid tersebut telah berada dalam tahap yang buruk.

Bagi seorang penderita peranoid, tingkat kepercayaannya kepada orang lain yang ada di sekitarnya akan begitu sangat rendah, di mana penderita akan memiliki rasa khawatir yang berlebihan, rasa curiga yang begitu besar, bahkan rasa takut akan dirugikan atau dikhianati oleh mereka. Hal seperti ini bisa saja terjadi dalam tingkat yang beragam, tergantung pada kondisi keparahan yang diderita oleh penderita paranoid itu sendiri.

Tingkat kepercayaan yang rendah kepada orang lain ini, akan membuat pera penderita paranoid menjadi jauh / tersisih dari lingkungan sosialnya. Rasa takut, cemas dan juga rasa curiga yang berlebihan akan mengakibatkan prilaku yang aneh pada penderita paranoid. Dalam tahap awal, hal ini mungkin saja terlihat wajar dan tiak begitu meresahkan. Namun jika terus berlanjut, maka penderita bisa saja mengalami stres berkepanjangan dan berbagai masalah lainnya dalam tahap yang lebih kompleks.

Baca juga:

Penyebab Paranoid

Hingga saat ini, penyebab utama paranoid belum diketahui degan pasti, meskipun sejumlah penelitian panjang telah dilakukan pada penyakit yang satu ini untuk mencari penyebab utamanya. Namun dari perilaku dan juga latar belakang para penderita paranoid, maka banyak ahli yang menduga bahwa penyebab paranoid bisa saja dari faktor genetik seseorang, terutama jika seseorang memiliki anggota keluarga atau kerabat dekat yag menderita skyzofrenia.

Selain faktor genetik yang dibawa oleh seseorang, beberapa poin di bawah ini juga diduga sebagai penyebab paranoid:

  • Pola didik orangtua

Pola didik yang diterapkan oleh orangtua juga dianggap menjadi salah satu faktor penyebab paranoid yang dialami oleh seseorang. Dalam masa petumbuhannya, seorang anak yang dibesarkan di dalam tekanan didikan yang keras, akan cenderung menderita paranoid. Para penderita paranoid umumnya akan selalu merasa terancam, takut dan bahkan tidak mampu bersosialisasi dengan baik.

Kondisi seperti ini sangat mungkin dialami oleh seseorang yang mendapatkan ancaman dan berbagai tindakan keras lainnya dari orangtua mereka. Hal ini akan menjadi sebuah trauma yang berat, terutama jika telah dialami oleh seseorang sejak masih kanak-kanak.

  • Perlakuan tidak patut

Bukan hanya oleh orangtua saja, paranoid juga bisa berpotensi berkembang pada diri seseorang yang di dalam kehidupannya selalu mendapatkan perlakuan tidak patut dari orang-orang yang berada di lingkungannya. Dalam kondisi ini, biasanya seseorang merasa direndahkan, mendapatkan perlakukan kasar, bahkan dilecehkan, sehingga mengalami gangguan kerakter yang kemudian dapat memicu paranoid di dalam dirinya. Dalam kondisi seperti ini, rasa percaya kepada orang lain yang dimiliki oleh “korban” tentu akan sangat rendah dan bahkan bisa saja tidak ada, sehingga lama-kelamaan paranoid pun berkembang di dalam dirinya.

  • Pengaruh lainnya

Selain beberapa poin di atas, ada beberapa hal lainnya yang mungkin menyebabkan seseorang menderita paranoid, antara lain: konsumsi alkohol dan obat-obatan yang berlebihan, usia orangtua saat mengandung, infeksi virus, stres dan juga kekerasan yang menyebabkan trauma pada seseorang.

Selain faktor-faktor di atas, ada banyak lagi hal yang dapat menyebabkan timbulnya paranoid di dalam diri seseorang. Hal ini tentu bisa saja berbeda-beda bagi setiap penderita, termasuk tingkat keparahan paranoid itu sendiri.

Baca juga:

Ciri-ciri Paranoid

Banyak penderita paranoid yang tidak menyadari kondisi gangguan yang dialaminya, bahkan meski beberapa gejala telah terlihat jelas pada perilakunya. Dalam tahap buruk, penderita paranoid bisa saja menarik diri dari kehidupan sosial dan menjadi seseorang yang anti sosial, meskipun memiliki keluarga serta lingkungan yang mendukungnya untuk bersosialisasi. Pada umumnya penderita akan mengalami depresi, yang membuat mereka tidak mampu bersosialisasi dengan baik.

Hal seperti ini tentu sangat patut disayangkan, mengingat sebagai manusia kita akan selalu membutuhkan kehidupan sosial yang sehat dan layak. Jika seseorang tidak memiliki kehidupan sosial, maka berbagai perilaku yang “tidak normal” / aneh sangat mungkin dilakukan olehnya. Hal seperti inilah yang sangat mungkin akan terjadi pada penderita paranoid.

Penting untuk memahami dengan baik ciri-ciri penderita paranoid, agar penanganan yang tepat bisa dilakukan untuk menolongnya. Semakin cepat ditangani, maka paranoid akan berpotensi lebih besar untuk bisa disembuhkan, sebab gangguan ini mungkin saja belum berada dalam tahap yang buruk dan membutuhkan penanganan yang panjang.

Baca juga:

Untuk bisa mengenali paranoid dengan benar, simak beberapa ciri-ciri paranoid berikut ini:

  • Penderita paranoid pada umumnya akan memiliki rasa curiga yang berlebihan pada semua orang, termasuk pada keluarga atau bahkan pasangannya. Bukan hanya itu saja, perasaan curiga ini akan muncul secara berulang dan terus-menerus, di mana penderita merasa bahwa orang lain akan merugikan, berbuat jahat, memanfaatkan, dan bahkan mengeksploitasinya. Perasaan seperti ini biasanya tidak dirasakan penderita pada beberapa orang saja, namun pada semua orang yang ada di lingkungannya juga.
  • Penderita paranoid juga akan sangat sulit untuk mempercayai orang lain, termasuk orang-orang terdekatnya. Kondisi ini biasanya akan menimbulkan banyak sekali dampak buruk di dalam kehidupannya, salah satunya kegagalan untuk bisa bekerja sama dengan baik di dalam sebuah tim. Biasanya penderita paranoid tidak mampu bersikap loyal pada pekerjaan dan juga tim yang ada di lingkungan kerjanya, sehingga cenderung mengalami kegagalan saat bergabung bersama sebuah tim.
  • Sulit memaafkan dan cenderung selalu menyimpan dendam di hatinya. Bagi seorang penderita paranoid, masalah-masalah kecil saja bisa menjadi begitu rumit di dalam pandangannya, meskipun hal tersebut telah terselesaikan dengan baik sebelumnya. Penderita paranoid tidak mudah melupakan, bahkan cenderung menyimpan dendam atas berbagai masalah yang pernah dialaminya. Bukan hanya pada masalah yang besar, kesalahan kecil yang dianggapnya telah dilakukan oleh seseorang padanya juga akan menjadi catatan buruk yang sulit dimaafkan.
  • Penderita paranoid juga tidak mau untuk berbagi informasi tertentu yang dimilikinya kepada orang lain. Hal ini bahkan dianggapnya sebagai sebuah ancaman, di mana penderita berpikir dan memiliki rasa takut jika orang tersebut kelak akan menyakitinya. Berbagai ketakutan dan juga kekhawatiran ini biasanya muncul tanpa alasan yang kuat dari penderita paranoid.
  • Reaksi yang berlebihan juga kerap ditunjukkan oleh para penderita paranoid, bahkan pada hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Sikap mudah tersinggung dan marah, bisa saja ditunjukkan dengan sangat gamblang, terutama jika penderita paranoid merasa karakter atau reputasinya di ganggu oleh orang lain. Bukan hanya membalas dengan sikap dan kata-kata yang keras, namun penderita paranoid bahkan bisa saja melakukan serangan fisik dan tindakan keras lainnya pada orang-orang yang menagganggunya.
  • Penderita paranoid juga memiliki tingkat kecurigaan yang sangat tinggi pada pasangannya. Hal ini bahkan akan berulang dan terjadi terus-menerus. Sikap ini biasanya terjadi tanpa alasan yang jelas, di mana penderita paranoid merasa takut dikhianati, takut disakiti, dan bahkan merasa camburu tanpa alasan yang jelas. Penderita paranoid selalu khawatir / meragukan kesetiaan pasangannya, bahkan meski pernikahan telah berjalan cukup lama.
  • Selalu salah mengartikan kata-kata atau bahkan sekedar sapaan dari orang lain. Di dalam kesehariannya, penderita paranoid cenderung merasa direndahkan atau diejek oleh orang lain, meskipun pada dasarnya orang lain tidak berniat / bermaksud seperti itu. Sikap sensitif ini akan segera terlihat, bahkan di saat orang lain hanya menyapa atau bahkan sekedar menanyakan sesuatu saja.

Beberapa ciri-ciri di atas hanyalan merupakan gambaran yang paling umum saja, sebab sangat mungkin penderita paranoid akan menunjukkan ciri-ciri lainnya, tergantung pada penyebab dan lingkungan penderita tersebut. Namun berdasarkan ciri-ciri di atas, jelas paranoid termasuk ke dalam kondisi gangguan jiwa yang cukup serius dan membutuhkan penanganan medis yang tepat.

Baca juga:

Gejala Paranoid

Secara garis besar, gejala merupakan kondisi yang dialami / dirasakan oleh penderita penyakit tertentu. Hal ini tentu akan sangat berbeda-beda, antara satu penyakit dengan penyakit lainnya. Bagi penderita paranoid, gejala ini kerap tidak disadari atau bahkan dianggap normal, sehingga semakin parah dari wari waktu ke waktu. Ha ini tentu bisa saja menyulitkan penderita, sebab semakin parah gejala yang dirasakan oleh penderita, maka akan semakin rumit juga penanganannya.

Berikut ini adalah beberapa gejala yang kerap dirasakan oleh penderita paranoid:

  • Merasa cemas, takut, khawatir, dan tidak merasa nyaman pada lingkungannya sekalipun.
  • Merasakan halusinasi dalam bentuk suara, sehingga sulit berkonsentrasi pada berbagai hal di sekitarnya.
  • Mengalami perasaan cemburu yang tidak realistis, hal ini juga berlangsung secara terus-menerus dan berulang.
  • Mengalami gangguan persepsi terhadap berbagai hal.
  • Merasakan delusi kebesaran, di mana penderita merasa dirinya memiliki kemampuan lebih daripada kenyataan yang sebenarnya. Hal ini biasanya seperti perasaan lebih hebat dan lebih mampu dalam segala hal.
  • Mengalami delusi paranoid secara rutin dan stabil, bahkan dalam kurun waktu yang sangat panjang sekalipun.

Gejala di atas adalah beberapa gejala utama yang terbilang cukup serius. Berbagai gejala di atas, bisa saja berbeda pada setiap orang, bahkan tingkat keparahan yang dialami juga. Namun dalam kondisi yang sangat parah, gejala paranoid ini bisa saja membuat penderitanya menjadi bersikap aneh dan tidak mudah untuk dipahami.

Selain gejala utama tersebut, penderita paranoid juga akan menunjukkan gejala ringan lainnya, seperti:

  • Memiliki obsesi yang besar terhadap beberapa hal yang ekstrim, seperti: kematian, kondisi sekarat, atau bahkan berbagai tindak kekerasan yang tidak normal.
  • Merasa terkurung dalam ruang tertentu dan mengalami putus asa yang berkepanjangan.
  • Mengalami perubahan pola makan dan juga pola tidur yang cukup drastis
  • Memiliki suasana hati yang sangat mudah berubah-ubah dan bahkan cenderung tidak stabil.
  • Membuat daftar dan bermaksud untuk membagi-bagikan barang pribadi miliknya.
  • Pamit atau mengucapkan salam perpisahan kepada orang-orang, di mana hal ini dilakukan tidak dalam situasi yang wajar (berlebihan).
  • Mengalami peningkatan konsumsi alkohol dan obat-obatan dalam jumlah yang sangat besar.

Diagnosa terhadap Paranoid

Sebelum melakukan pengobatan terhadap gangguan kejiwaan ini, tentu akan dibutuhkan diagnosa yang lengkap terlebih dahulu. Hal ini akan membantu dokter untuk bisa menemukan pola pengobatan yang paling tepat dan sesuai bagi penderita.

Diagnosa akan dilakukan dengan evaluasi psikologis, di mana dokter akan menanyai pasien atau bahkan melakukan tes dengan kuisioner untuk mengetahui kondisi psikis pasien. Selain diagnosa psikologis, dokter juga biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Hal ini akan membantu dokter mengetahui kemungkinan adanya penyebab yang ditimbulkan oleh gangguan fisik pada pasien tersebut. Selain kedua hal di atas, pemeriksaan laboratorium juga sangat mungkin untuk dilakukan oleh dokter.

Baca juga:

Pengobatan terhadap Paranoid

Meski penyebab pasti paranoid belum diketahui dengan jelas, namun berbagai penelitian tetap dilakukan, dengan harapan bisa menemukan pengobatan yang paling tepat bagi gangguan kepribadian tersebut. Pengobatan yang paling lazim digunakan untuk mengobati pasien paranoid adalah psikoterapi. Meski pada awalnya pengobatan ini akan sulit diterima pasien penderita paranoid karena mereka beranggapan tidak sakit dan tidak membutuhkan pertolongan medis, namun hingga saat ini psikoterapi menjadi pilihan utama dan paling banyak memberikan hasil positif.

Dalam tindakan pengobatan ini, terapis akan menggunakan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk mengobati pasien. Terapi ini akan membantu pasien menganali berbagai sikap dan perilaku yang tidak sehat di dalam dirinya, termasuk berbagai pikiran negatif dan juga hal lainnya yang menyebabkan paranoid itu sendiri.

Ketika menjalani terapi ini, bisa saja anggota keluarga pasien dilibatkan, selama kondisi paranoid yang diderita masih memungkinkan pasien untuk berinteraksi dan mempercayai orang lain / keluagaya tersebut. Namun dalam kondisi yang telah parah, biasanya keluarga pasien tidak akan terlibat dalam pengobatan yang dilakukan oleh terapis.

Di dalam terapi CBT, pasien akan dilatih dengan sedemikian rupa agar mampu berpikir positif dan mengurangi atau bahkan menghilangkan pikiran negatifnya terhadap orang lain, sehingga pasien bisa beradaptasi dan mempercayai orang lain. Bukan hanya itu saja, terapi ini juga akan membantu pasien untuk menekan emosi dan mengontrol kemarahannya, sehingga pasien bosa memiliki hubungan yang baik dengan orang lain di sekitarnya.

Baca juga:

Paranoid menjadi salah satu masalah yang serius dan membutuhkan penanganan khusus, sehingga pasien bisa sembuh dan memiliki kehidupan sosial yang normal.