Monday, May 27, 2019

Usus Buntu

Usus buntu merupakan salah satu organ tubuh yang berfungsi sebagai organ imunologik yang secara aktif berperan dalam sistem kekebalan tubuh yang berisi kelenjar limfoid. Usus buntu berupa kantung yang panjangnya sekitar 4’ dan terletak di bagian perut sebelah kanan, tepatnya terhubung pada usus besar.

Penyakit Usus Buntu

usus-buntuPeradangan usus buntu apendisitis dalam kedokteran, merupakan suatu kasus peradangan yang terjadi karena penyumbatan usus buntu oleh kotoran atau sisa makanan, benda asing, maupun oleh kanker. Usus buntu yang mengalami pembengkakan, hal ini menimbulkan infeksi. Radang usus buntu menyebabkan nyeri di perut bagian kanan bawah.

Pada kebanyakan orang, rasa sakit dimulai di sekitar pusar dan kemudian bergerak ke seluruh perut. Setelah peradangan memburuk, nyeri usus buntu biasanya meningkat dan akhirnya menjadi parah. Gangguan pencernaan ini bisa terjadi pada usia berapapun, namun yang paling umum apendisitis terjadi pada usia antara 10 hingga 30 tahun.

Penyebab

Para ahli kesehatan menyatakan bahwa peradangan usus buntu disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :

  • Penumpukan kotoran, sisa-sisa makanan, maupun benda asing lainnya
  • Membesarnya folikel limfoid
  • Trauma
  • Tumor

Ketika usus buntu terhambat, bakteri dapat berkembang biak di dalam organ tersebut. Hal ini dapat mengakibatkan terbentuknya nanah dan dapat menyebabkan kesakitan. Hal ini juga dapat menghambat pembuluh darah yang pada akhirnya akan menyebabkan gangren. Jika usus buntu pecah, tinja dapat mengisi perut. Jika ini terjadi, berarti harus segera mendapatkan pertolongan medis.

Gejala

Gejala klasik radang usus buntu dapat meliputi :

  • Rasa nyeri pada perut bagian atas yang biasanya akan berlanjut pada perut bagian bawah secara perlahan
  • Hilangnya nafsu makan
  • Mual, muntah ketika nyeri mulai terasa
  • Rasa sakit saat batuk dan bersin
  • Perut kembung
  • Pembengkakan pada perut
  • Demam
  • Tidak dapat buang angin ayau kentut

Lama kelamaan gejala tersebut akan semakin bertambah, dan merujuk pada ciri-ciri usus buntu seperti :

  • Nyeri di bagian perut, punggung, dan rektum
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Muntah terjadi sebelum rasa nyeri datang
  • Kram akut
  • Sembelit maupun diare dengan gas

Saat hal tersebut terjadi, segeralah mencari pertolongan medis. Sebaiknya hindari makan, minum, menggunakan obat nyeri, antasida, obat pencahar, karena hal tersebut dapat menyebabkan usus buntu pecah.

Diagnosa

Seseorang yang terkena apendistis atau peradangan usus buntu tergolong rumit. Hal ini dikarenakan gejala yang dialami pasien hampir sama dengan beberapa jenis penyakit lainnya seperti infeksi kandung kemih, radang usus, penyakit Crohn, gastritis, gastroenteritis, dan masalah ovarium.

Petugas medis akan melakukan beberapa hal terlebih dahulu, untuk mendiagnosis seseorang terkena peradangan usus buntu, diantaranya adalah :

  • Pemeriksaan fisik, meliputi mencari sumber nyeri pada perut bagaian kanan bawah. Pada wanita yang sedang hamil rasa sakit mungkin akan lebih tinggi. Jika terjadi perforasi, perut akan menjadi keras dan bengkak. Dokter mungkin juga akan memeriksa rektum (dubur)
  • Tes urine, Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui infeksi saluran kemih dan batu ginjal. Para peneliti di Proteomika Center di Rumah Sakit Anak Boston, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa protein yang terdeteksi dalam urin bisa berfungsi sebagai biomarker untuk usus buntu.
  • Tes darah, hal ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan sel darah putih dalam tubuh pasien
  • Pemeriksaan panggul, untuk memastikan bahwa tidak ada gangguan reproduksi yang terjadi pada wanita dengan gangguan peradangan usus buntu.
  • Tes kehamilan, untuk memastikan dugaan kehamilan ektopik
  • CT Scan dengan menggunakan X-ray, hal ini dilakukan untuk mengetahui secara rinci kondisi peradangan seperti munculnya abses.
  • USG (ultrasound), untuk mendeteksi tanda-tanda radang usus buntu, seperti usus buntu membengkak.
  • MRI – PTE, Magnetic Resonance Imaging (MRI), Positron Emission Tomography (PET) dilakukan jika diduga timbul tumor pada usus buntu.

Pengobatan

Pengobatan padang usus buntu bervariasi. Tergantung pada tingkat keparahan gejala dan komplikasi yang ditimbulkan.

Tanpa Pembedahan

Beberapa kasus yang jarang terjadi, peradangan pada usus buntu bisa diobati tanpa melakukan operasi, yaitu hanya dengan menggunakan obat jenis antibiotik dan makanan cair.

Pada sebuah studi yang terbit di BMJ April 2012, para peneliti dari Penyakit Pencernaan Nottingham Centre NIHR Biomedical Research Unit, Inggris, menjelaskan bahwa operasi bukanlah jalan utama untuk mengobati usus buntu akut tanpa komplikasi. Antibiotik mungkin bisa menjadi alternatif yang aman dan layak bagi pasien. Namun, para ilmuwan dari Bantuan Publique-Hôpitaux de Paris dan Université Paris XI, Paris, Perancis, tidak setuju dengan hal tersebut. Mereka menyatakan bahwa operasi usus buntu jauh lebih efektif daripada antibiotik.

Melalui Pembedahan

Dalam kebanyakan kasus peradangan usus buntu, diperlukan operasi yang bertujuan untuk mengangkat usus buntu. Pada pasien yang memiliki abses yang belum pecah akan dilakukan pengobatan abses tersebut dengan penggunaan antibiotik. Selanjutnya abses tersebut akan dikeringkan dengan tabung yang ditempatkan pada kulit pasien.

Setelah abses kering, maka operasi pun segera dilakukan. Pada pasien yang memiliki abses yang telah pecah, operasi pengangkatan usus buntu pun harus segera dilakukan.Terdapat dua jenis operasi untuk mengobati appendistis, yaitu :

  • Laparoskopi (operasi lubang kunci)

Operasi laparoskopi atau biasa disebut operasi invasif minimal (MIS), operasi bandaid, atau operasi lubang kunci merupakan langkah pengobatan dengan metode sebagai berikut. Dokter bedah memasukkan tabung yang sangat tipis (laparoskop), yang memiliki kamera video kecil dan pencahayaan sendiri ke dalam perut melalui kanula (instrumen berongga) sehingga ahli bedah dapat melihat bagian dalam perut dengan perbesaran pada monitor. Instrumen kecil menanggapi gerakan tangan dokter bedah dan usus buntu dikeluarkan melalui sayatan kecil pada perut.

Prosedur yang tepat dapat mengurangi resiko pasien kehilangan banyak darah, sehingga pasien dapat pulih lebih cepat dengan jumlah jaringan parut yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan operasi terbuka pada umumnya.

Namun, sebuah laporan dalam Journal of American College of Surgeons menunjukkan bahwa operasi biasa (terbuka) pada kasus usus buntu lebih baik daripada laparoskopi. Hal ini dikarenakan operasi laparoskopi meningkatkan biaya dan dapat meningkatkan risiko komplikasi pada sebagian besar pasien usus buntu.

  • Operasi terbuka

Langkah pengobatan ini dianggap lebih efektif daripada laparoskopi. Bila usus buntu telah pecah dan infeksi telah menyebar, atau jika ada abses, operasi besar besar akan dilakukan dengan tujuan untuk membersihkan seluruh area di dalam rongga perut. Operasi ini juga dilakukan jika pasien memiliki tumor pada sistem pencernaan, jika seorang wanita di trimester ketiga kehamilan, atau jika pasien memiliki riwayat operasi sebelumnya. Setelah menjalani operasi, pasien akan diberikan antibiotik intravena.

Perawatan pasca operasi

  1. Hindari aktivitas berat. Jika pengobatan usus buntu dilakukan laparoskopi, sebaiknya pasien membatasi aktivitas selama tiga sampai lima hari. Akan tetapi pada pasien yang menjalani operasi terbuka, sebaiknya membatasi aktivitas selama 10 sampai 14 hari.
  2. Saat sedang batuk, sebaiknya tempatkan bantal di atas perut . Hal ini bertujuan untuk membantu mengurangi rasa sakit.
  3. Segera hubungi dokter jika antibiotik yang diberikan tidak dapat mengurangi rasa sakit.
  4. Setelah dirasa cukup kuat, mulailah untuk menggerakkan badan perlahan-lahan
  5. Saat tubuh anda mulai terasa lelah dan mengantuk, segeralah untuk tidur dan beristirahat.

Bahaya

Beberapa bahaya yang bisa ditimbulkan oleh radang usus buntu, diantaranya :

  • Peritonitis (Radang selaput perut)

Komplikasi yang terjadi pada saat usus buntu pecah dan menimbulkan infeksi dalam perut yang mengakibatkan peradangan pada peritoneum. Peritoneum adalah membran yang melapisi rongga abdomen yang meliputi sebagian besar organ perut. Peritonitis dapat menyebabkan perut untuk menutup, tidak bisa buang air, pasien akan mengalami demam dan bisa mengakibatkan shock. Peritonitis merupakan kondisi darurat yang harus secepatnya mendapat perawatan medis.

  • Abses

Merupakan komplikasi yang disebabkan oleh infeksi yang bercampur dengan isi usus yang merembes keluar. Abses yang tidak diobati dapat menyebabkan peritonitis. Pengobatan abses dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik pada pasien. Atau juga bisa dikeringkan dengan bantuan tabung yang ditempatkan ke dalam perut.

Pencegahan

Belum diketahui cara pasti untuk mencegah peradangan usus buntu, namun para ahli kesehatan menyatakan bahwa kasus ini jarang terjadi pada orang-orang yang mengkonsumsi makanan kaya serat alami, seperti sayuran segar dan buah-buahan. Sebuah teori mengungkapkan bahwa dengan diet tinggi serat, kotoran yang dihasilkan lebih lembut sehingga tidak terjebak dalam usus buntu.

Demikian penjelasan tentang usus buntu dan peradangan yang terjadi, semoga dapat memberikan manfaat.

Recommended