Sponsors Link

Asma Bronkial – Penyebab, Gejala, Pengobatan dan Pencegahan

ads

Asma bronkial atau asma bronkiale adalah penyakit kronis yang menyerang saluran nafas manusia. Gejala asma yang timbul dapat berupa penyumbatan jalan napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel atau dapat kembali dengan atau tanpa pengobatan dengan bronkodilator. Serangan asma bervariasi  mulai dari serangan yang ringan dan tidak mengganggu aktivitas manusia hingga dapat juga menjadi penyakit yang berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari serta kualitas hidup penderita.

Terjadinya kelainan asma dan serangan akutnya didasari oleh proses keradangan kronik saluran napas. Proses ini melibatkan banyak sel- sel imun dan zat- zat kimia yang dikeluarkan oleh sel imun tersebut. Peradangan kronis menyebabkan respon jalan napas terhadap alergen atau zat berbahaya menjadi meningkat menimbulkan gejala yang timbul berulang berupa mengi, sesak nafas, dada terasa berat dan batuk-batuk yang timbul terutama malam dan atau dini hari.

(Baca juga: madu untuk penderita asma – makanan penyebab asma kambuh)

Airway Remodeling

Penyakit asma merupakan penyakit yang tidak dapat sembuh namun dapat dikontrol dengan menghindari pencetus sesak pada asma dan menggunakan obat untuk menghilangkan gejala sesak saat timbul serangan. Penyakit asma yang tidak dapat sembuh ini dapat menrjadi parah dengan adanya airway remodeling. Airway remodeling disebabkan oleh proses keradangan pada saluran nafas pada pasien asma.

Keradangan tersebut akan menimbulkan kerusakan jaringa ndan sel saluran nafas. Kemudian, secara normal sel atau jaringan yang mati tersebut akan tergantikan oleh sel yang baru. Seperti jarngan kulit yang lukadan digantikan oleh jarinan parut, begitu juga jaringan yang rusak pada saluran napas, jaringa ntersebut akan digantikan oleh jaringan parut. Pada akhirnya, proses tersebut menyebabkan perubahan pada saluran nafas.

Perubahan tersebut meliputi peningkatak massa otot polos pada saluran nafas dan kelenjar penghasil lendir,  perubahan struktur di mana terdapat banyak jaringan skar atau jaringan ikat, peningkatan pembuluh darah pad asaluran nafas, penebalan membran reticular basal. Perubahan- perubahan pada saluran nafas akan menyebabkan penurunan fungsi paru dan menyebabkan seseorang lebih sering terserang sesak.

(Baca juga: ciri-ciri asma)

Penyebab Asma Bronkial

Terdapat banyak faktor yang menimbulkan berbagai gejala sesak pada asma. Faktor itu sendiri di sebut faktor risiko.Namun, belum tentu orang yang memiliki faktor tersebut dapat timbul gejala sesak. Faktor tersebut adalah faktor yang menyebabkan peningkatan risiko orang penderita sesak karena itu istilahnya adalah faktor risiko. Faktor risiko di bagi dua yaitu faktor risiko pejamu atau host dan faktor risiko lingkungan.

Faktor pejamu adalah faktor yang dimiliki individu tersebut yang meningkatkan risiko berkembangnya gejala asma, yaitu genetik asma, alergi bawaan atau disebut juga atopi , hipereaktivitas saluran nafas besar, jenis kelamin dan ras. Sedangkan, faktor lingkungan yang mempengaruhi individu dengan kecenderungan/ predisposisi asma menyebabkan terjadinya eksaserbasi atau gejala serangan dan atau menyebabkan gejala-gejala asma menetap. Dalam hal ini, faktor lingkungan yaitu alergen, polusi udara, sensitisasi lingkungan kerja, diet, asap rokok, infeksi pernapasan (virus), serta status sosioekonomi dan besarnya keluarga terbilang cukup berpengaruh.

1. Faktor Risiko Host atau Pejamu

Asma merupakan penyakit keturunan yang telah terbukti dari berbagai penelitian. Faktor genetik yang menyebabkan asma untuk berkembang memberikan bakat/ kecenderungan pada seseorang untuk terjadinya asma. Bakat tersebut dinamakan fenotip. Fenotip yang berkaitan dengan gejala asma dan obyektivitas berupa hipereaktivitas bronkus, dan kadar serum IgE.

Karena kompleksnya gambaran klinis asma, maka dasar genetik asma dipelajari dan diteliti melalui fenotip-fenotip perantara. Fenotip asma akan uncul jika seseorang meiiki genotip asma yaitu gen pembawa asma. Diketahui bahwa ada banyak gen terlibat dalam patogenesis asma, dan perlu juga bagi Anda mengenalinya seperti yang telah teridentifikasi meningkatkan potensi asma, seperti:

  • CD28
  • IGPB5
  • CCR4
  • CD22
  • IL9R
  • NOS1
  • Reseptor agonis beta2
  • GSTP1; dan
  • Gen-gen yang terlibat dalam menimbulkan asma dan atopi yaitu IRF2, IL-3,Il-4, IL-5, IL-13, IL-9, CSF2 GRL1, ADRB2, CD14, HLAD, TNFA, TCRG, IL-6, TCRB, TMOD dan sebagainya.

2. Faktor Lingkungan

Lingkungan dapat menjadi tempat berkumpulnya berbagai zat pemicu reaksi alergi. Zat- zat tersebut disebut alergen. Alergen pada lingkungan kerja dapat dipikirkan sebagai penyebab utama timbulnya gejala asma. Faktor lingkungan tersebut pada awalnya mensensitisasi jalan napas dan la a- kelamaan menyebabkan kondisi asma menetap dan memicu muncul serangan asma. Karena itulah asma adalah keradangan kronik karena keradangan yang timbul akibat terpapar alergen secara terus menerus.

Faktor lingkungan terbagi menjadi faktor lingkungan yang mempengaruhi berkembangnya asma bronkial pada individu yang memiliki genetik penyakit asma yang diturunkan. Faktor lingkungan jenis ke dua adalah faktor lingkungan yang menyebabkan serangan atau eksaserbasi penyakit dan menyebabkan penyakit asma menetap.

(Baca juga: pantangan asma)

Jenis Faktor Lingkungan Penyebab Asma Bronkial

1. Faktor lingkungan mempengaruhi berkembangnya asma pada individu dengan predisposisi asma.

  • Alergen di dalam ruangan
    • Kutu dalam ruangan
    • Alergen binatang
    • Alergen kecoa
    • Jamur contohnya seperti fungi, molds, yeasts)
  • Alergen di luar ruangan
    • Serbuk sari bunga
    • Jamur (fungi, molds, yeasts)
  • Bahan di lingkungan kerja
  • Asap rokok
    • Perokok aktif
    • Perokok pasif
  • Polusi udara
    • Polusi udara di luar ruangan
    • Polusi udara di dalam ruangan
  • Infeksi pernapasan
  • Infeksi parasit
  • Status sosioekonomi
  • Jumlah anggota keluarga
  • Makanan
  • Obat
  • Obesitas

2. Faktor lingkungan yang mencetuskan eksaserbasi dan menyebabkan gejala-gejala asma menetap.

  • Alergen di dalam dan di luar ruangan.
  • Polusi udara di dalam dan di luar ruangan.
  • Infeksi pernapasan.
  • Olahraga dan hiperventilasi.
  • Perubahan cuaca.
  • Sulfur dioksida.
  • Makanan yang mengandung aditif (seperti pengawet, penyedap, pewarna makanan).
  • Obat-obatan
  • Ekspresi emosi yang berlebihan.
  • Asap rokok.
  • Iritan (contohnya zat dengan bau-bauan merangsang seperti spray obat nyamuk, parfum, hair spray).

(Baca juga: pertolongan pertama pada asma)

Gejala dan Klasifikasi Penderita Asma Bronkial

Setiap orang yang mengalami gejala asma memiliki gejala yang hampir sama yaitu:

  • Gejala- gejala pada penyakit asma bersifat episodik. Artinya gejala dapat kambuh dan membaik tanpa pemberian obat ataupun dengan pemberian obat bronkodilator.
  • Gejala yang dialami berupa batuk baik berdahak ataupun tidak berdahak, sesak nafas, serta rasa berat di dada.
  • Gejala ini kambuh- kambuhan dan memberat terutama pada malam atau dini hari.
  • Diawali oleh faktor pencetus yang bersifat individu sehingga tiap orang memiliki faktor pencetus yang berbeda-beda.
  • Gejala asma memberikan respons terhadap pemberian obat bronkodilator yang diberikan melalui alat nebulisasi atau uap.
sponsored links

Klasifikasi

Agar terapi dan tatalaksana penderita asma dapat lebih baik maka ahli- ahli mengelompokan pasien asma menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut ada dua jenis yaitu kategori yang mengelompokan pasien asma berdasarkan perjalanan penyakt asma secara keseluruhan apakah terkontrol atau tidak terkontrol . Dan yang kedua adalah kategori pasien berdasarkan serangan atau eksaserbasi akut pasien asma

Asma diklasifikasikan berdasarkan etiologi, berat penyakit dan pola sumbatana atau keterbatasan aliran udara. Klasifikasi ini digunakan untuk merencanakan pengobatan dan terapi bagi pasien asma. Sehingga klasifikasi ini banyak dipakai bagi pasien asma yang belum mendapat pengobatan.

1. Intermiten

  • Gejala: gejala kurang dari satu kali per minggu, gejala dalam waktu singkat, tanpa gejala di luar serangan
  • Gejala malam : gejala asma pada waktu malah kurang dari sama dengan dua kali dalam sebulan

2. Persisten Ringan

  • Gejala: gejala lebih dari satu kali per minggu tetapi kurang dari satu kali dalam sehari
  • Gejala malam: gejala pada malam hari terjadi lebih dari dua kali dalam sebulan

3. Persisten Sedang

  • Gejala: gejala asma terjadi setiap hari dapat mengganggu aktivitas dan tidur, membutuhkan obat pereda serangan setiap hari
  • Gejala malam: serangan asma pada waktu malah hari lebih dari satu kali dalam seminggu

4. Persisten Berat

  • Gejala: gejala terjadi secara terus- menerus, sering terjadi kambuh- kambuhan dan terbatas dalam melakukan aktivitas fisik
  • Gejala malam  : gejala asma pada malam hari sering terjadi

Pada orang yang telah mendapat pengobatan, klasifikasi asma ditujukan untuk melakukan monitoring pengobatan, apakah terapi yang diberikan sudah cukup atau berlebihan. Klasifikasi dibawah ini menunjukan bagaimana melakukan penilaian derajat asma pada penderita yang sudah diberikan pengobatan. Jika pengobatan yang sedang dijalani sesuai dengan gambaran klinis yang ada, maka derajat asma naik satu tingkat.

Misalnya seorang penderita asma persisten sedang memiliki gambaran klinis sesuai dengan klasifikasi asma persisten sedang, maka sebenarnya berat asma penderita tersebut adalah asma persisten berat. Hal ini juga berlaku pada pasien asma derajat persisten ringan. Namun, hal ini tidak berlaku pada asma persisten berat dan asma intermiten. Pemberian pengobatan pada dua klasifikasi ini tetap menepatkan pasien pada klasifikasi tersebut.

Pada saat serangan sesak atau eksaserbasi terdapat beberapa kalsifikasi yang harus dinilai oleh tenaga medis, karena terkait dengan pemberian terapi. Penilalian itu berdasarkan derajar sesak, posisi nyaman tubuh saat sesak, cara berbicara, kesadaram, frekuensi napas, penggunaan otot bantu pernapasan, retaksi sprasternal, mengi, pengukuran arus puncak ekspirasi, tekanan oksigen, tekanan karbon dioksida, dan saturasi oksigen. Dari beberapa hal yang dinilai tersebut, pasien digolongkan menjadi

  1. Serangan akut ringan
  2. Serangan akut sedang
  3. Serangan akut berat
  4. Keadaan mengancam jiwa

(Baca juga: cara mengobati asma kambuh)

Tatalaksana Penderita Asma Bronkial

Tatalaksana pada pasien asma memiliki tujuan utama yaitu meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup penderita asma sehingga mereka dapat menjalankan fungsi sosial dan ekonomi dengan bekerja dan bersosialisasi serta aktivitas sehari-hari. Karena itu, asma tidak hanya ditangani dengan pemberian obat namun juga dengan terapi tanpa obat dengan tujuan. Berikut adalah beberapa prinsip tatalaksana asma:

  1. Mengatasi dan mengendalikan gejala pada penyakit asma.
  2. Mencegah eksaserbasi atau serangan akut asma.
  3. Meningkatkan dan mempertahankan fungsi paru sehingga dapat berfungsi seoptimal mungkin.
  4. Mengupayakan agar pasien dapat melakukan aktivitas sehari- hari bahkan berolahraga sesuai dengan kemampuan fungsi paru nya dan dirinya.
  5. Mencegah pasien agar tidak mendapat efek samping obat dari pengobatan asma yang diberikan secara terus -menerus.
  6. Mencegah terjadi keterbatasan aliran udara (airflow limitation) yang tidak mengalami perbaikan dan menyebabkan serangan asma tidak membaik dengan obat asma.
  7. Mencegah kematian karena gagal nafas pasien asma.

Penyakit asma tidak dapat sembuh sehingga talaksana asma berguna untuk mengontrol gejala penyakit Asma. Penyakit asma dikatakan terkontrol bila :

  1. Tidak ada gejala asma sama sekali seperti sesak dan bunyi nafas ngik- ngik, termasuk gejala asma yang terjadi pada malam hari.
  2. Tidak ada keterbatasan dalam melakukan aktivitas termasuk dalam melakukan olahraga yang sesuai dengan fungsi paru.
  3. Kebutuhan penggunaan obat yang mengandung bronkodilator (agonisbB2 kerja singkat) seperti seretide dan obat semprot merek lainnya tidak diperlukan atau minimal.
  4. Pemeriksaan dengan spirometri atau flowmeter menunjukan nilai variasi harian APE (Arus Puncak Ekspirasi) kurang dari 20%
  5. Nilai APE  yang diukur normal atau mendekati normal
  6. Efek samping obat tidak ada atau minimal
  7. Tidak ada kunjungan ke unit darurat gawat karena serangan akut asma seperti sesak

Tujuan penatalaksanaan dapat tercapai jika pederita dapat memahami bahwa asma adalah gangguan kronik progresif, artinya gangguan asma akan terjadi dalam waktu yang lama lebih dari 6 bulan dan dapat bertambah parah jika terpajan alergen secara terus menerus. Mekanisme keradangan kronik jalan nafas bawah menimbulkan hiperesponsif dan obstruksi atau penyumbatan jalan napas yang bersifat episodik.

Oleh karena itu, ada berbagai pendekatan yang perlu dilakukan dalam hal penatalaksanaan asma bronkial dilakukan di mana mempunyai manfaat tinggi, dipercaya aman dan terjangkau dari segi biaya. Integrasi dari pendekatan tersebut dikenal dengan program penatalaksanaan asma, yang meliputi 7 komponen :

  1. Edukasi
  2. Menilai dan monitor berat asma secara berkala.
  3. Identifikasi dan mengendalikan faktor pencetus.
  4. Merencanakan dan memberikan pengobatan asma jangka panjang.
  5. Menetapkan pengobatan pada serangan akut asma.
  6. Kontrol kesehatan secara teratur.
  7. Mengikuti tips diet sehat sebagai bagian dari pola hidup sehat.

Poin-poin di atas telah disampaikan pula kepada penderita asma bronkial dengan bahasa yang mudah dan dikenal (dalam edukasi) dengan 7 langkah mengatasi asma, yaitu :

  1. Mengenal hal- hal penting mengenai asma.
  2. Menentukan klasifikasi derajat keparahan asma.
  3. Mengenali dan menghindari pencetus.
  4. Merencanakan pengobatan jangka panjang.
  5. Mengatasi serangan asma dengan tepat dan cepat.
  6. Memeriksakan diri dengan teratur ke pusat pelayanan kesehatan terdekat.
  7. Menjaga kebugaran tubuh dan rutin berolahraga serta melalukan senam asma Indonesia.

(Baca juga: tanda-tanda asma)

Sponsors Link

Pemantauan Pengobatan Asma Bronkial

Setelah dilakukan pengobatan asma perlu dilakukan pemantauan hasil terapi sebagai bagian dari tatalaksana asma. Pemantauan dapat dilakukan pasien sendiri dengan melakukan penilaian terhadap gejala klinis secara berkala antara 1 – 6 bulan. Karena pemantauan yang dilakukan sendiri oleh pasien sendiri akan lebih cepat direspon jika didapatkan perburukan pada gejala asma. Hal- hal yang mendasari dilakukannya pemantauan mandiri oleh pasien antara lain:

  1. Gejala dan derajat berat asma yang dapat berubah sewaktu-waktu setelah pengobatan, baik membaik atau memburuk sehingga membutuhkan perubahan pada terapi.
  2. Pajanan pencetus menyebabkan penderita mengalami perubahan pada penyakit asmanya, mengingat bahwa dasar berkembangnya penyakit disebabkan keradangan oleh pencetus alergi.
  3. Daya ingat atau memori dan motivasi penderita yang perlu ditinjau ulang guna membantu penanganan dan pemantauan penyakit asma terutama asma mandiri.

Berdasarkan pedoman yang dibuat para ahli, frekuensi kunjungan pasien asma ke pusat layanan kesehatan bergantung kepada berat penyakit dan kesanggupan penderita dalam memonitor asmanya. Pada umumnya, tindak lanjut atau kunjungan awal pertama kali dilakukan < 1 bulan sekitar 1-2 minggu setelah kunjungan awal. Pada setiap kunjungan sebaiknya ditanyakan pertanyaan ini kepada penderita; apakah keadaan asmanya membaik atau memburuk dibandingkan kunjungan terakhir.

Kemudian, pasien akan dilakukan penilaian pada keadaan terakhir atau 2 minggu terakhir:

1. Apakah anda merasakan batuk, sesak napas, mengi dan dada terasa berat dirasakan anda setiap hari?

2. Berapa sering anda terbangun ketika tidur saat malam hari karena sesak napas atau batuk atau mengi dan membutuhkan obat asma untuk meredakan gejaka tersebut. Serta apabila dini hari/subuh apakah keluhan tersebut masih ada atau timbul kembali?

3. Apakah gejala asma yang ada seperti mengi, batuk, sesak napas dapat mengganggu kegiatan/ aktivitas anda sehari-hari, membatasi kegiatan olah raga/exercise yang anda lakukan, dan seberapa sering hal tersebut mengganggu?

4. Berapa sering menggunakan obat asma untuk meredakan gejala sesak pada asma?

5. Berapa banyak dosis obat pelega asma yang digunakan untuk meredakan gejala sesak pada penyakit asma anda?

6. Apa kiranya hal yang menyebabkan gejala asma yang anda alami mengalami perburukan ?

7. Apakah sering tidak masuk sekolah/kuliah/kerja karena sesak asma? dan berapa sering anda tidak dapat mengikuti kegiatan sekolah/kuliah/kerja?

(Baca juga: penanganan asma pada anak)

Cara Mencegah Serangan Asma Bronkial

Dalam hal atau cara mencegah asma adalah dengan melakukan pola hidup sehat dengan menjaga kesehatan tubuh dan menghindari rokok serta mengonsumsi makanan yang sehat. Berikut adalah beberapa penjelasan mengenai menjaga kesehatan tubuh demi mencegah timbulnya serangan asma.

  • Meningkatkan Kebugaran Fisik

Olahraga dapat menjaga dan meningkatkan kebugaran fisis secara umum, menambah rasa percaya diri dan meningkatkan ketahanan tubuh dari infeksi saluran nafas atau infeksi tubuh yang lain.

Walaupun terdapat salah satu bentuk asma yang timbul atau terpicu serangan sesudah exercise atau olahraga yang disebut exercise-induced asthma atau EIA, akan tetapi bukan berarti penderita EIA tidak boleh melakukan olahraga sama sekali. Bila dikhawatirkan terjadi serangan asma setelah berolahraga, maka dapat dianjurkan menggunakan obat pelega nafas yang mengandung beta2agonis sebelum melakukan olahraga.

Salah satu olahraga yang dianjurkan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia adalah Senam Asma Indonesia (SAI). SAI adalah salah satu bentuk olahraga yang dianjurkan karena bertujuan melatih dan memperkuat otot-otot pernapasan, selain itu pasien juga mendapat manfaat lain seperti olahraga pada umumnya. Senam asma

Indonesia dikenalkan oleh Yayasan Asma Indonesia dan dilakukan di setiap klub asma di wilayah yayasan asma di seluruh Indonesia. Anda dapat melakukan senam asma bersama teman sesama penderita asma atau melakukan senam dengan mengunduh sendiri di website yayasan asma Indonesia.

Berdasarkan penelitian yang meneliti manfaat senam asma, melalui manfaat subjektif melalui kuesioner maupun objektif melalui pengukuran fungsi paru; didapatkan manfaat yang bermakna dan signifikan setelah melakukan senam asma secara teratur dalam waktu 3 – 6 bulan, terutama manfaat subjektif dan peningkatan fungsi paru

  • Berhenti atau Tidak Merokok

Asap rokok mengandung banyak oksidan yang menimbulkan peradangan dan menyebabkan ketidakseimbangan enzim paru. Penderita asma yang merokok dapat mempercepat penurunan fungsi paru dan memiliki risiko menderita keradangan saluran nafas yang kronik seperti bronkitis kronik atau emfisema seperti perokok lainnya.

Karena merokok, penderita asma dapat mengalami perburukan gejala klinis, memiliki risiko mendapatkan kecacatan pada paru, semakin mengalami banyak kesulitan dan hambatan dan menurunkan kualitas hidup. Itulah yang menjadi alasan mengapa penderita asma tidak dianjurkan untuk merokok dan memahami betul apa arti bahaya merokok bagi kesehatan. Penderita asma yang sudah merokok harus diperingatkan agar menghentikan kebiasaan merokok karena dapat memperberat penyakitnya.

  • Lingkungan Kerja

Bahan-bahan di tempat kerja dapat menjadi faktor pencetus serangan sesak pada penderita asma, terutama pada penderita asma yang dicetuskan oleh alergen di tempat kerja. Penderita asma dianjurkan untuk bekerja pada lingkungan yang tidak mengandung bahan-bahan yang dapat mencetuskan serangan asma. Apabila serangan sesak pada penderita asma sering terjadi di tempat kerja, anda perlu mempertimbangkan untuk pindah tempat kerja pekerjaan. Usahakanlah lingkungan kerja anda bebas dari polusi udara dan asap rokok serta bahan-bahan iritan lainnya.

(Baca juga: ciri batuk asma – makanan yang dilarang pengidap asma)

Asma adalah penyakit yang tidak dapat sembuh , sewaktu- waktu akan timbul serangan jika anda tidak menjaga tubuh anda dari alergen atau penyakitinfeksi. Untuk itu anda perlu rajin berolahraga, makan- makanan yang sehat dan seimbang serta yang terpenting adalah menghindari rokok untuk menjaga keoptimalan fungsi paru anda.

Sponsored Link

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , ,
Post Date: Wednesday 19th, April 2017 / 18:27 Oleh :
Kategori : Penyakit Asma