Patofisiologi Asma Brokial pada Anak

91

Penyakit asma dapat membuat penderitanya mengalami sesak napas bahkan nyeri di dada. Meski tidak berbahaya, penyakit ini cukup menyiksa dan membuat tidak nyaman penderitanya, bahkan dapat menghambat aktivitas sehari-hari. Selain karena faktor genetik, faktor lingkungan sangat mempengaruhi seseorang mengalami asma. Alergi terhadap asap, polusi, alergen, dan zat kimia tertentu dapat membuat asma kambuh dan bertambah parah, mengembangkan asma akut menjadi kronis. Mereka yang menderita asma akan mengalami gejala seperti sesak napas, nyeri dada dan dada terasa berat, bunyi mengi saat bernapas, hingga batuk yang terkadang disertai dahak tetapi sulit untuk dikeluarkan.

Patofisiologi Asma

Asma terjadi karena adanya kontraksi pada otot polos saluran napas bronkiolus akibat peradangan kronis. Kebanyakan penderita mengalami asma karena hipersensitivitas terhadap benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Penyempitan saluran napas menyebabkan udara sulit untuk lewat sehingga muncul bunyi mengi saat penderita menarik napas. Adakalanya, asma dapat mereda dengan sendirinya, namun seringkali membutuhkan tindakan agar berangsur pulih.

Saluran napas dapat berubah jika asma terus terjadi, seperti bertambahnya ukuran otot polos saluran napas hingga bertambahnya jumlah lendir. Lendir terbentuk dari eosinofil maupun bagian sel darah putih lainnya, seperti makrofag, limfosit T dan neutrofil, menumpuk pada saluran napas dan menyebabkan jalan napas semakin semakin sempit. Keterkaitan antara sistem imun dengan asma juga cukup erat, seperti dihasilkannya sitokinin tipe 2.

Saat seseorang terpapar alergen, maka sistem imun tubuhnya akan bereaksi dengan menginisiasi sekresi sitokinin tipe 2. Kadar sitokinin yang berlebihan akan merangsang pembentukan antibodi IgE secara abnormal, sehingga reaksi alergi muncul. Selain sitokinin, komponen sistem imun lainnya yang juga dapat terlibat yaitu histamin, kemokin dan leukotrien. Hingga saat ini, mekanisme inisiasi respon imun hingga dihasilkan sitokinin tipe 2 masih belum sepenuhnya dipahami.

Ketika ciri-ciri asma terjadi, diameter bronkiolus berkurang saat proses ekspirasi. Sedangkan saat inspirasi terjadi, tekanan dalam paru dan saluran napas meningkat, sehingga menciptakan tekanan yang kuat pada bronkiolus. Karakteristik patofisiologis penyakit asma dapat dilihat seperti berikut:

  • peluruhan sel epitel
  • massa otot polos meningkat
  • terjadi hiperplasia kelenjar mukosa
  • fibrosis sub epitalial
  • infiltrasi sel-sel yang mengalami peradangan pada dinding bronkiolus.

Penegakan diagnosis penyakit asma dapat dilakukan dengan bantuan alat spirometri, namun alat ini sulit untuk digunakan pada anak di bawah 6 tahun. Setelah diagnosis ditegakkan, penderita perlu mendapatkan penanganan seperti terapi hingga gejala asma tidak dirasakan lagi. Setelah gejala reda, tes spirometri tetap harus dilakukan setiap 1-2 tahun sekali, untuk memantau perkembangan kondisi penyakit asma setelah diberikan terapi. Penanganan asma pada anak dan orang dewasa perlu dilakukan dengan tepat agar penyakit tersebut dapat dikendalikan dengan baik.