Sunday, March 24, 2019

Amenorea

Setiap wanita memiliki masa siklus haid yang artinya adalah suatu yang wajar dan merupakan siklus yang menandakan bahwa seorang wanita memiliki tubuh yang sehat. Hanya saja, ada kalanya wanita tidak mengalami menstruasi dalam waktu 3 bulan secara berturut-turut dan hal ini merupakan suatu kondisi yang disebut dengan amenorrhea atau amenore.

Jenis

Amenorrhea memiliki beberapa jenis kondisi yang perlu untuk diketahui oleh setiap wanita. Ada 2 jenis amenorrhea yang wajib untuk menjadi pengetahuan kita bersama, yakni amenorrhea primer dan sekunder. Lalu, apa yang membedakan kedua jenis kondisi amenorrhea tersebut?

  • Amenorrhea primer

Untuk kondisi amenorrhea primer, perlu diketahui bahwa siklus haid tidaklah diawali pada waktu seorang perempuan masuk masa pubertas. Apabila seorang wanita muda sedang mengalami masa pertumbuhannya secara normal namun siklus haidnya tidak dialami bahkan ketika sudah masuk usia 15 tahun, wanita tersebut perlu segera memeriksakan diri ke dokter.

Untuk kasus amenorrhea primer, di Amerika Serikat sendiri pervalensinya tidaklah lebih dari 0,1 persen. Bahkan ketika ada seorang wanita muda yang sudah berusia 13 tahun namun belum mengalami tanda-tanda pubertas dengan mengalami siklus haid, maka sebaiknya wanita tersebut perlu untuk datang ke dokter dan mengonsultasikannya.

  • Amenorrhea Sekunder

Amenorrhea sekunder adalah contoh jenis amenorrhea di mana siklus haid wanita sudah mulai dialami namun setelah itua siklus berhenti terjadi. Hal ini merupakan suatu kondisi yang justru dianggap normal, apalagi bila terjadi selama seorang wanita hamil atau menyusui. Amenorrhea jenis ini di Amerika Serikat dilaporkan telah berdampak pada kurang lebih 4 persen wanita selama kehidupan mereka.

Untuk kasus jenis amenorrhea satu ini, kerap kali justru dianggap sebagai sebuah ketiadaan haid kurang lebih 6 bulan minimalnya pada wanita yang sebelumnya mengalami siklus menstruasi yang normal. Meski tampak sebagai suatu hal yang wajar, hal ini bisa menjadi sebuah tanda adanya penyakit tertentu. Jadi, pastikan untuk memeriksakan diri ke dokter agar dapat ditangani sedari dini dan secara tepat.

Penyebab

Setelah mengintip apa saja jenis amenorrhea berikut keterangannya, tentu kita perlu mengetahui apa saja faktor penyebab maupun faktor peningkat risiko dari amenorrhea. Berikut adalah segala kemungkinan penyebab maupun faktor risiko amenorrhea yang perlu untuk setiap wanita ketahui.

  • Menopause – Menopause adalah suatu kondisi alami dan wajar pada wanita yang sudah memasuki usia 50 tahun untuk berhenti menstruasi. Amenorrhea dapat menjadi salah satu tanda menopause pada seorang wanita di mana kemudian wanita tersebut kehilangan kemampuan berovulasi serta bereproduksi kembali.
  • Hamil – Kurangnya menstruasi adalah salah satu ciri paling umum dari seorang wanita yang sedang berada dalam masa kehamilan. Tubuh seorang wanita yang sedang hamil otomatis akan secara wajar dan normal mengalami perubahan, termasuk dengan turunnya produksi estrogen namun terjadi peningkatan hormon progesteron. Dengan begitu, wanita akan tercegah dari proses pelepasan lapisan dinding rahim yang diluruhkan melalui siklus menstruasi.
  • Stres – Faktor stres, khususnya yang sudah kronis bisa menjadi penyebab tubuh mengalami perubahan yang serius, khususnya masalah hormonal. Hormon sendiri dalam setiap tubuh manusia berperan penting dalam hal menstruasi pada wanita, bahkan juga reproduksi.
  • Menyusui – Pada wanita yang sedang menyusui, kondisi laktasi amenore adalah yang paling umum terjadi karena dalam kondisi ini wanita menyusui tak akan mengalami menstruasi selama 6 bulan pertama pasca persalinan.
  • Metabolisme tubuh – Kondisi-kondisi seperti sindrom ovarium polikistik atau PCOS sangat berkaitan erat dengan amenorrhea yang terjadi karena adanya perubahan hormon.
  • Bawaan – Beberapa wanita lahir secara kurang beruntung, yakni tanpa memiliki rahim, dengan begitu amenorrhea pun terjadi, karena ketidakmampuan wanita tersebut mengalami menstruasi dan juga hamil.
  • Latihan fisik – Para wanita yang berkecimpung dalam dunia olahraga, terutama yang gemar melakukan latihan berat dapat berdampak pada munculnya amenorrhea karena hormon terganggu, timbulnya stres hingga tingkat rendahnya lemak tubuh.
  • Obat-obatan – Obat-obatan tertentu yang dikonsumsi oleh seorang wanita dapat berisiko memberikan efek samping buruk bagi tubuh, salah satunya adalah amenorrhea. Obat-obatan tertentu yang dimaksud di sini adalah sejenis pil KB atau alat kontrasepsi maupun obat untuk kanker.
  • Gangguan makan – Ketika bulimia atau bahkan anoreksia terjadi pada seorang wanita, maka besar kemungkinan risiko amenorrhea pun makin berkembang.
  • Masalah medis tertentu – Gangguan pada tiroid, menopause dini, hingga tumor pituitari adalah contoh beberapa kondisi kesehatan yang mampu meningkatkan potensi seorang wanita tidak menstruasi atau amenorrhea.
  • Berat badan rendah – Ketika berat badan 10 persen lebih rendah dari normalnya berat badan Anda, maka hal ini dapat menjadi hal yang bisa membuat seorang wanita berisiko mengalami amenorrhea.

Gejala dan Diagnosa

Tergantung dari penyebab amenorrhea, gejala amenorrhea bisa berbeda-beda walau memang tanda utama yang bisa dilihat adalah ketiadaan periode haid pada seorang wanita. Namun, sejumlah kondisi lain dapat juga menjadi gejalanya, seperti:

  • Timbul jerawat.
  • Nyeri pada panggul.
  • Rambut wajah yang berlebihan.
  • Perubahan pada penglihatan.
  • Sakit kepala.
  • Gangguan pada puting susu.
  • Kerontokan rambut.

Ketika salah satu atau beberapa gejala seperti yang disebutkan tersebut terjadi pada Anda, maka sebaiknya segera ke dokter. Konsultasilah ke dokter jika terutama berturut-turut 3 periode menstruasi tidak terjadi maupun bila Anda sudah masuk usia 15 tahun atau lebih namun tak mengalami juga periode haid.

Berbagai langkah diagnosa perlu ditempuh oleh wanita dengan keluhan-keluhan di atas. Beberapa langkah pemeriksaan yang kiranya diperlukan antara lain adalah:

  • Tes fungsi tiroid.
  • Tes kehamilan.
  • Tes prolaktin.
  • Tes fungsi ovarium.
  • Tes hormon pria.
  • Tes pencitraan (meliputi CT scan, USG, serta pemeriksaan MRI)
  • Histeroskopi (metode ini perlu dilakukan ketika tes lainnya tak mendeteksi adanya penyebab amenorrhea secara spesifik).

Pengobatan

Pengobatan untuk wanita dengan masalah amenorrhea kembali lagi tergantung dari faktor apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Pada umumnya, perawatan yang diberikan untuk mengatasi amenorrhea adalah pemberian terapi hormon. Namun, beberapa perawatan lainnya juga kemungkinan diberikan sesuai dengan penyebab yang melatarbelakangi amenorrhea pada wanita.

  • Perubahan rencana latihan fisik – Untuk kasus amenorrhea yang disebabkan oleh berlebihannya latihan fisik, maka bahaya olahraga yang berlebihan ini harus diubah perlahan demi membuat siklus menstruasi stabil kembali. Membuat perencanaan latihan fisik yang sesuai dengan kemampuan fisik tanpa membuatnya berlebihan adalah yang paling baik.
  • Meningkatkan berat badan – Bila faktor berat badan yang terlalu rendah adalah alasan dibalik terjadinya amenorrhea, otomatis meningkatkan berat badan adalah kuncinya. Carilah cara meningkatkan nafsu makan yang alami dan aman. Namun ketika ada kaitannya dengan bulimia atau anoreksia, segera periksakan lebih dulu kondisi ini ke dokter agar dapat diatasi sesuai kondisi tersebut.
  • Menurunkan berat badan – Ada kalanya masalah menstruasi yang berhenti disebabkan oleh sindrom ovarium polikistik di mana wanita tersebut pun memiliki berat badan berlebih. Sebagai solusinya, wanita tersebut perlu menurunkan berat badannya.
  • Tiroksin – Ketika masalah utama dari terjadinya amenorrhea adalah tiroid yang kurang aktif, maka perawatan dengan pemberian tiroksin atau hormon tiroid bisa dilakukan.
  • Operasi – Langkah operasi lebih diperuntukkan bagi seorang wanita yang organ reproduksinya kurang lengkap atau memiliki cacat bawaan. Operasi bukanlah solusi yang menjamin wanita tersebut bakal mengalami masa siklus haid normal, namun hal ini patut dicoba.
  • Terapi psikologis – Ketika faktor stres adalah penyebab amenorrhea, tentu beberapa cara mengatasi stres bisa dicoba, salah satunya adalah melalui terapi psikologis.

Waspadailah akan kondisi amenorrhea ini karena seorang wanita dengan masalah menstruasi yang berhenti dan dibiarkan tanpa penanganan yang tepat mampu menyebabkan beberapa komplikasi. Komplikasi seperti osteoporosis dapat terjadi karena kadar estrogen yang terlalu rendah karena tulang makin lemah dan rapuh. Selain itu, ketidaksuburan pun menjadi salah satu efek buruk yang terjadi karena seorang wanita berhenti menstruasi atau tidak berovulasi.

Recommended