Lithium Obat Apa – Fungsi – Dosis – Interaksi – Efek Samping

Mood setiap orang memang berbeda-beda setiap waktunya. Sekarang terlihat ceria dan baik-baik saja, namun siapa tahu beberapa jam atau detik kemudian mood-nya berubah seratus delapan puluh derajat karena satu dan lain hal. Suasana hati atau mood yang buruk menjadi salah satu hambatan internal dalam melakukan aktivitas sehari-hari, salah satunya bekerja. Tak sedikit orang yang mendadak malas bekerja karena suasana hatinya yang memburuk. Bahkan beberapa menjadi emosional dan marah tak menentu.

Perubahan suasana hati yang tak menentu itu bisa menjadi permasalahan serius bila terus dibiarkan. Jika diri sendiri sudah tak mampu mengendalikan emosi diri, maka akibatnya bisa timbul stress dan depresi bahkan gangguan kejiwaan. Obatnya, selain terapi juga digunakan lithium sebagai solusi alternatif.

Apakah Lithium itu?

Bagi sebagian orang mungkin masih asing dengan produk medis yang satu ini. Ketika mereka merasa tidak mood atau down secara tiba-tiba, maka biasanya memilih pasrah dengan keadaan atau menuruti kemauan hati. Dan sedikit yang bisa mengendalikan diri.

Lithium adalah sejenis obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan suasana hati atau perubahan mood. Seperti gangguan bipolar yakni gangguan mental yang terjadi pada psikis seseorang dengan gejalanya yaitu perubahan mood yang sangat ekstrem berupa mania dan depresi. Oleh karena itu, gangguan bipolar juga disebut dengan manic depressive.

Periode manik ditandai ketika penderita bersikap terlalu senang, banyak bicara, sangat aktif hingga tidak tidur. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya neurotransmitter serotonin sampai dopamin di dalam otak.

Sedangkan periode depresi dicirikan oleh beberapa sikap yaitu mengurung diri dalam kamar seharian, merasa down, tidak bersemangat, terlalu pesimis hingga timbul niat untuk bunuh diri. Pada periode ini neurotransmitter serotonin hingga dopamin di otak dalam kondisi menurun.

Melihat dari tanda-tanda tersebut, maka bisa diperkirakan betapa bahayanya penyakit bipolar bila tidak ditangani dengan tepat dan tuntas.

Kegunaan Lithium

Penggunaan lithium telah ada sejak lebih dari 50 tahun silam hingga saat ini. Efektifitasnya dalam mengobati gangguan mental membuat lithium tetap eksis dalam dunia kedokteran. Pada dasarnya lithium merupakan unsur alami yang terdapat melimpah di perairan.

Konsumsi lithium yang sesuai dengan dosis atau resep dokter berguna dalam mencegah dan menurunkan gejala manik dan depresi pada penderita bipolar. Sehingga ia bisa tetap tenang dan berperilaku normal seperti orang pada umumnya atau sewajarnya.

Cara Kerja Lithium

Lithium dapat bekerja sebagaimana mestinya bila dikonsumsi sesuai dengan resep dokter. Bila terlalu sedikit, maka efeknya tidak maksimal. Sedangkan jika terlalu banyak, dapat menimbulkan keracunan seperti halnya pengaruh bahan kimia beracun. Jadi, sebelum mengonsumsi lithium, periksa terlebih dulu pada dokter yang ahli di bidang psikologi dan kejiwaan. Pilihlah rumah sakit atau dokter yang sudah berpengalaman dan profesional dalam menangani masalah kejiwaan pasiennya.

Cara kerja lithium yaitu meningkatkan aktivitas kimiawi yang berlangsung pada sistem saraf dan otak sehingga frekuensi perubahan suasana hati seseorang menjadi menurun dan lebih terkontrol. Oleh sebab itu, ia menjadi lebih bisa mengendalikan diri saat mengalami permasalahan yang berat. Atau tidak terlalu atraktif atau senang berlebihan dalam kondisi tertentu. Biasanya jika dalam keadaan manik, penderita bipolar bisa mengambil keputusan secara cepat tanpa memperhitungkan segala sesuatunya yang berujung pada kesalahan pengambilan keputusan.

Dosis Lithium

Lithium dijual dalam bentuk tablet dan sirup dengan dosis yang berbeda tergantung resep dokter. Penggunaannya tidak bisa sembarangan karena harus disesuaikan dengan kondisi medis pasien. Dokter yang menanganinya akan melakukan pengawasan pada respon lithium terhadap kondisi pasien.

Pengobatan Gangguan Bipolar, Mania, dan Depresi

  • Dosis Dewasa: konsumsi camcolit tablet 1-1,5 gram/hari, untuk pencegahan 300-400 mg/hari. Priadel tablet 400-1200 mg/hari dibagi 1-2 kali konsumsi. Priadel sirup 1,04-3,12 gram/hari dibagi 2 kali konsumsi. Pengobatan dengan liskonum tablet 450-675 mg sebanyak 2 kali sehari, untuk pencegahan 450 mg sebanyak 2 kali sehari.
  • Dosis Anak-anak ≥12 tahun: Pengobatan pada fase akut dengan kapsul/tablet 1,8 gram/hari dibagi 3-4 kali konsumsi.
  • Dosis Lansia : konsumsi < 900 mg lithium karbonat per hari.

Dianjurkan untuk melakukan pendampingan selama pengobatan pada penderita bipolar.

Efek Samping Penggunaan Lithium

Meskipun lithium termasuk ke dalam unsur alami dan direspon baik oleh tubuh, namun penggunaannya dapat menimbulkan efek samping, antara lain:

  • Eksaserbasi psoriasis
  • Jerawat dan ruam kulit
  • Sering buang air kecil
  • Sering haus
  • Mual
  • Diare
  • Lemah otot
  • Kebingungan dan sulit konsentrasi
  • Tremor
  • Hipertiroidisme
  • Peningkatan berat badan
  • Edema
  • Aritmia jantung
  • Gangguan elektrolit.

Oleh karena itu, pasien yang mengonsumsi lithium harus mendapat pengawasan intensif yang meliputi:

  • Pemeriksaan kadar lithium minimal 2 kali seminggu pada fase akut atau dalam 2 bulan sekali pada fase perawatan.
  • Waspadai penggunaan pada penderita gangguan fungsi tiroid, ginjal dan jantung ringan sampai sedang.
  • Penggunaan lithium pada lansia sebaiknya perlu disertai pengecekan kondisi ginjal secara berkala.
  • Setelah mengonsumsi lithium, hindari berkendara atau mengangkat beban berat yang memerlukan konsentrasi tinggi.
  • Konsultasi pada dokter untuk penggunaan pada ibu hamil dan ibu menyusui. Sebab dikhawatirkan berpengaruh pada kondisi janin atau bayinya.

Interaksi Obat

Selama penggunaan lithium, sebaiknya tidak disertai penggunaan obat lain karena dikhawatirkan dapat menimbulkan reaksi tertentu yang membahayakan tubuh, seperti berikut ini:

  • ACE inhibitor, diuretik loop, fenitoin, metronidazole, meningkatkan risiko toksisitas lithium yang berdampak fatal.
  • Chlorpromazine, teofilin, obat yang mengandung natrium, dapat menurunkan kadar lithium dalam darah.
  • Carbamezepine, metildopa, haloperidol, fenotiazin, kalsium kanal bloker, meningkatkan risiko neurotoksisitas.
  • Garam yodium, meningkatkan efek hipotiroid.
  • Siburtamin, meningkatkan risiko sindrom serotonin.
  • OAINS, diuretik thiazide, tetrasiklin, meningkatkan kadar serum lithium.
  • MAOI, dapat menimbulkan hiperpireksia maligna yang berdampak fatal.

Jadi, intinya sebelum mengonsumsi lithium atau obat bahan kimia lainnya, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu pada dokter yang ahli di bidangnya.

Itulah penjelasan mengenai lithium yang meliputi kegunaan, cara kerja, jenisnya dan hal lain yang berkaitan dengan lithium. Semoga mampu memberikan manfaat untuk Anda semua!