Chlorpropamide – Obat Apa – Fungsi – Dosis – Efek Sampingnya

315

Chlorpropamide adalah jenis obat yang termasuk dalam kelas sulfonylurea yang digunakan untuk menangani penyakit diabetes mellitus tipe 2. Obat ini termasuk obat yang telah lama digunakan dalam generasi pertama sulfonylurea. Obat chlorpropamide ini memiliki efek samping lebih banyak dibandingkan obat sulfonylurea lainnya sehingga penggunaan obat ini pun kini tidak lagi direkomendasikan. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai chlorpropamide, yaitu tentang obat apakah chlorpropamide ini, fungsi, dosis dan efek sampingnya, baca terus artikel ini, ya!

Apakah obat chlorpropamide?

Chlorpropamide adalah agen anti-hiperglikemik yang diminum untuk menangani penyakit diabetes mellitus non-insulin-dependen (NIDDM). Seperti yang telah dibahas sebelumnya, chlorpropamide termasuk dalam kelas sulfonylurea yang cara kerjanya dengan menstimulasi sel β di pankreas agar bisa mengeluarkan insulin. Sulfonylurea meningkatkan pengeluaran sekresi insulin basal dan insulin yang terstimulasi dari makanan. Pengobatan menggunakan kelas obat ini sangat beragam, tergantung pada dosis, tingkat penyerapan, durasi pengobatan, hingga situs pengikatan untuk target reseptor sel β di pankreas.

Obat dalam kelas sulfonylurea juga bisa meningkatkan penggunaan glukosa perifer, menurunkan gluconeogenesis hepatic dan mungkin juga bisa meningkatkan jumlah dan sensitivitas reseptor insulin. Obat-obatan yang termasuk dalam kelas sulfonylureas ini biasanya bisa menimbulkan kenaikan berat badan sehingga menyebabkan penderita diabetes bisa gemuk dan demikian halnya pula pada chlorpropamide. Selain itu, dengan cara kerja obat ini, ada kemungkinan pasien mengalami hipoglikemi, terutama pada pasien berusia lanjut atau pasien yang tidak mencukupi kebutuhan nutrisi tubuhnya.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, chlorpropamide ini tidak dianjurkan untuk pengobatan NIDDM karena dapat menimbulkan peningkatan tekanan darah dan meningkatkan resiko retinopathy (UKDS-33). Lebih dari 80% dosis obat minum chlorpropamide akan dicerna di hati. Disfungsi ginjal dan hati mungkin bisa meningkatkan resiko hipoglikemi.

Fungsi dan Penggunaan

Di awal artikel ini telah disebutkan bahwa obat chlorpropamide berfungsi untuk mengobati diabetes melitus tipe 2 dengan cara menstimulasi pankreas dalam memproduksi insulis dan membantu tubuh agar menggunakan insulin seefisien mungkin. Obat ini dapat dikonsumsi secara bersamaan dengan obat diabetes yang lain dan harus disertai juga dengan diet yang sesuai dan olahraga teratur.

Bagi penderita diabetes, mengontrol kadar gula darah di tubuh sangatlah penting. Gula darah yang terkontrol dapat mencegah terjadinya komplikasi dari penyakit diabetes, seperti kerusakan ginjal, kebutaan, masalah saraf, amputasi atau hilangnya anggota tubuh, hingga disfungsi seksual. Bahkan, ada juga akibat penyakit diabetes kering yang tidak segera ditangani. Tidak hanya itu, dengan mengontrol diabetes pasien juga dapat mencegah atau menurunkan resiko serangan jantung dan stroke.

Untuk bisa mendapatkan manfaat chlorpropamide secara maksimal, sebaiknya Anda mengikuti petunjuk penggunaan obat yang diberikan oleh dokter atau apoteker. Jangan ragu untuk bertanya pada dokter atau apoteker jika ada yang belum Anda pahami dalam cara penggunaan obat ini.

Biasanya chlorpropamide akan diberikan sekali sehari dan dikonsumsi setelah sarapan. Dosis yang diberikan akan disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien dan respon pasien terhadap pengobatan tersebut. Konsumsi obat secara teratur untuk dapat merasakan manfaatnya secara maksimal. Untuk mempermudah Anda menjaga keteraturan konsumsi obat ini, sebaiknya Anda mengkonsumsi obat di waktu yang sama setiap hari.

Dosis Penggunaan

Untuk mengkonsumsi chlorpropamide, gunakan sesuai petunjuk dokter. Biasanya obat ini diminum langsung saat sarapan sekali dalam sehari. Di awal masa pengobatan Anda mungkin akan merasakan ketidaknyamanan di perut Anda. Untuk meminimalisirnya, dokter bisa saja membagi dosis obat menjadi beberapa dosis yang lebih kecil yang harus dikonsumsi beberapa kali dalam sehari. Oleh karena itu, perhatikan dengan baik instruksi dokter dan ikuti petunjuknya dengan seksama.

Efek samping penggunaan chlorpropamide juga bisa ditekan dengan cara memulai pengobatan menggunakan dosis terkecil yang kemudian akan ditingkatkan seiring waktu pengobatan berjalan. Hal ini pun harus berdasarkan petunjuk dokter. Maka, Anda perlu mengkonsultasikan respon atau kondisi tubuh Anda sebelum memulai pengobatan dengan chlorpropamide ini.

Chlorpropamide tersedia dalam bentuk tablet. Ada dua jenis dosis chlorpropamide, yaitu tablet 100mg dan tablet 250 mg. Berikut ini beberapa dosis pengobatan menggunakan chlorpropamide yang biasa direkomendasikan oleh dokter:

  • Dewasa dengan diabetes – untuk peenggunaan awal, pasien akan perlu untuk mengkonsumsi 250 mg per hari sebagai dosis tunggal yang dikonsumsi di pagi hari. Setelah 5 hingga 7 hari melakukan pengobatan ini, dosis selanjutnya dapat dikurangi atau ditingkatkan 50 mg hingga 125 mg per hari dengan interval waktu 3 sampai 5 hari hingga control terapi telah dinilai optimal oleh dokter.
  • Orang lanjut usia – seseorang lanjut usia tidak dianjurkan mengkonsumsi obat ini.
  • Dosis pemeliharaan (maintenance) – untuk dosis pemeliharaan disarankan mengkonsumsi 100 mg hingga 125 mg per hari. Dosis yang lebih tinggi hingga 500 mg per hari mungkin diperlukan untuk pasien dengan diabetes yang sudah parah. Namun, perlu dipastikan dosis yang dikonsumsi tidak lebih dari 750 mg per hari

Selama masa pengobatan, pasien disarankan untuk memeriksa kadar gula darah secara rutin agar bisa mengetahui apakah penyesuaian dosis diperlukan dalam pengobatannya. Selain melakukan pengobatan dengan mengkonsumsi obat chlorpropamide ini, pasien diabetes juga sangat disarankan untuk menjalani pola hidup sehat, misalnya dengan mengkonsumsi menu makanan untuk penderita diabetes. Perlu diketahui berapa anjuran konsumsi bahan makanan mengandung indeks glikemik per hari yang disarankan untuk penderita diabetes melitus. Hal ini tentu akan berguna untuk mengontrol kadar gula darah di tubuh pasien diabetes.

Efek Samping

Chlorpropamide yang termasuk dalam kelas sulfonylurea memiliki efek samping yang lebih banyak jika dibandingkan dengan obat-obatan lain dalam kelas ini. Hal ini dikarenakan durasi kerja chlorpropamide yang lama dan adanya resiko hipoglikemia. Berikut ini adalah beberapa efek samping chlorpropamide yang umum terjadi:

  • Gangguan pencernaan, bisa berupa rasa mual, muntah, diare, sembelit dan rasa nyeri di ulu hati.
  • Pasien bisa merasakan sakit kepala, demam dan kenaikan berat badan setelah mengkonsumsi obat ini. Bahkan, pada pasien yang sensitif terhadap obat ini juga akan bisa memunculkan gejala alergi kulit, seperti munculnya ruam kemerahan, kemerahan, atau pada sedikit kasus muncul Stevens-Johnson syndrome.
  • Resiko hipoglikemia, yaitu kondisi dimakan kadar gula darah di tubuh berada pada tingkat yang sangat rendah. Resiko ini semakin tinggi seiring semakin lamanya durasi penggunaan obat chlorpropamide dan semakin tingginya dosis obat yang dikonsumsi. Hipoglikemi ini bisa menjadi penyebab kepala pusing berputarpenyebab kepala berkeringat saat tidur atau keringat yang berlebihan, gemetar, bingung dan rasa mengantuk.
  • Peningkatan sekresi hormin antidiuretic dan pada sedikit kasus menyebabkan hyponatremia.

Selain efek samping di atas, terdapat efek samping lain pada pasien yang mengkonsumsi alcohol yaitu gejala berupa wajah menjadi kemerahan. Reaksi ini tidak muncul pada pemberian obat kelas sulfonylurea lainnya.

Obat ini pun tidak dianjurkan untuk diberikan kepada pasien yang mengalami obesitas. Hal ini dikarenakan adanya efek samping berupa kenaikan berat badan, yang bisa memperburuk kondisi pasien yang sudah mengalami obesitas, dimana bahaya obesitas sangatlah serius hingga bisa mengakibatkan kanker. Pada pasien yang mengalami obesitas, biasanya akan disarankan untuk mengkonsumsi metformin (Glucophage) sebagai obat pengganti yang lebih baik untuk mereka. Obat golongan ini sebaiknya juga dihindari untuk dikonsumsi oleh pasien dengan kerusakan ginjal dan hati, pasien dengan porforia, pasien yang sedang menyusui, pasien dengan ketoacidosis, dan pasien usia lanjut.

Melihat beberapa efek samping di atas yang sedikit mengkhawatirkan, berikut ini adalah beberapa interaksi obat dan kondisi pasien lainnya yang perlu waspada dalam mengkonsumsi obat ini:

  • Pasien yang kurang gizi atau memiliki fisik lemah karena dapat memperparah efek samping yang muncul
  • Pasien diabetes tipe 1 sebaiknya tidak menggunakan obat ini
  • Pasien dengan defisiensi glukosa 6-fosfat dehydrogenase (masalah enzim) karena dapat menimbulkan kelainan darah.
  • Pasien dengan penyakit jantung dan pembuluh darah karena dapat memperburuk kondisi kesehatannya
  • Pasien dengan kelenjar adrenal dan hipofisis yang kurang aktif

Bagi Anda yang merasa perlu untuk mengkonsumsi chlorpropamide, sebaiknya mengkonsultasikannya terlebih dahulu dengan dokter yang berpengalaman. Sampaikan dengan lengkap keluhan Anda, termasuk kondisi tubuh hingga riwayat penyakit yang pernah diderita. Hal ini berguna untuk menentukan pengobatan dan menghindari interaksi obat yang tidak diinginkan. Jika pengobatan dengan obat kimia Anda rasa terlalu banyak efek samping, selalu ada pengobatan herbal yang bisa dicoba, seperti konsumsi pare untuk diabetes ataupun dengan lidah buaya yang bisa dioleh dengan cara mengolah lidah buaya untuk obat diabetes. Selamat mencoba dan semoga artikel ini bermanfaat, ya!