7 Bahaya Antibiotik Tanpa Resep Dokter bagi Kesehatan Tubuh

4799

Beberapa orang pasti pernah nekat menggunakan antibiotik yang bahkan tidak disertai resep dokter karena dengan tujuan pengobatan sendiri. Antibiotik sendiri padahal dikenal sebagai jenis obat yang perlu resep dokter dan tidak seharusnya orang-orang membeli dan mendapatkannya secara bebas. Sebelum Anda membeli, penting untuk memperoleh anjuran dan petunjuk dari dokter karena kebutuhan setiap orang akan obat antibiotik jelas berbeda-beda tergantung dari kondisi penyakit yang diderita, berikut juga tentang efek sampingnya.

Perlu diketahui bahwa setiap antibiotik akan menimbulkan efek samping yang berbeda, dari yang betul-betul ringan sampai efek samping yang parah, seperti efek samping di bawah ini:

  • Mual-mual
  • Muntah
  • Diare
  • Infeksi jamur yang terdapat di area mulut, vagina dan bahkan ada di saluran pencernaan.

(Baca juga: penyebab diare dan cara mengobatinya – obat keputihan karena jamur)

Selain dari efek samping yang umum tersebut, ada juga beberapa efek samping yang termasuk jarang dialami pengonsumsi antibiotik tapi ada kemungkinan untuk terjadi, yaitu:

  • Gangguan darah.
  • Terbentuknya batu ginjal.
  • Terganggunya pembekuan darah.
  • Menurunnya pendengaran.
  • Kepekaan kulit mengalami perubahan terhadap sinar matahari.

(Baca juga: bahaya antibiotik untuk anak dan usia lanjutefek samping antibiotik)

Dengan resep dokter saja, para pengonsumsi antibiotik dapat berkemungkinan mengalami efek samping dari obat-obat antibiotik. Lalu, seperti apa bahaya antibiotik tanpa resep dokter? Berikut ini adalah beberapa bahaya apabila Anda menggunakan antibiotik dan bahkan mengonsumsinya secara sembarangan.

1. Memengaruhi Kinerja Otak

Memang antibiotik dikenal sebagai obat yang berpengaruh keras namun efektif dalam mengusir dan bahkan mematikan bakteri jahat dan baik yang ada di dalam usus manusia. Hanya saja, kondisi otak pun akan dipengaruhi oleh antibiotik. Berdasarkan hasil studi pada Journal of Clinical Psychology, risiko kecemasan dan depresi lebih tinggi dapat meningkat diakibatkan hanya oleh satu obat antibiotik.

(Baca juga: kesehatan sistem saraf otak – ciri-ciri depresi ringan dan beratcara mencegah depresi pada diri sendiri)

2. Memicu Kegemukan

Hati-hati bagi Anda yang takut gemuk sebelum mengonsumsi antibiotik, karena zaman sekarang antibiotik banyak digunakan oleh industri peternakan di tanah air dalam rangka menggemukkan ayam dan sapi sebelum pemotongan. Walau para ahli atau ilmuwan masih belum yakin sepenuhnya tentang alasan mengapa penggemukan dapat terjadi karena antibiotik, disimpulkan bahwa hal yang sama dapat juga terjadi jika tubuh manusia memperoleh asupan antibiotik.

Ditemukan oleh sebuah studi pada International Journal of Obesity bahwa pemakaian antibiotik pada anak-anak tak hanya akan memberikan pengaruh naiknya bobot tubuh pada waktu itu, namun hal ini juga akan berefek jangka panjang. Hal ini kemudian juga dikaitkan dengan diabetes tipe 2. Seperti yang telah kita ketahui, faktor risiko terjadinya pengembangan diabetes adalah obesitas, maka penggunaan obat antibiotik tanpa resep dokter dan dalam dosis yang kurang tepat mampu menaikkan berat badan secara jangka panjang yang artinya bisa memicu obesitas dan penyakit diabetes.

(Baca juga: penyebab obesitas tubuh)

3. Gangguan pada Usus

Antibiotik sangat efektif dalam mematikan bakteri jahat yang bersarang di dalam usus manusia dan hal ini merupakan kabar baiknya. Kabar buruknya, bakteri baik di dalam usus pun juga dapat terbunuh. Pada kenyataannya, banyak orang yang mengakui bahwa setelah berhenti minum antibiotik perut mereka menjadi lebih baik, tapi banyak juga orang yang setelah berhenti pun perutnya masih tidak enak dan bermasalah, bahkan tidak pernah sembuh.

Hasil penelitian pada The American Journal of Gastroenterology menunjukkan bahwa dalam jangka waktu 5 tahun saja, seseorang yang mengonsumsi lebih dari 3 antibiotik, 1,5 kali lebih berisiko mengalami penyakit Crohn. Tak hanya itu, kondisi lainnya yang termasuk dari risiko atau bahaya mengonsumsi antibiotik adalah iritasi pencernaan dan juga kolitis ulserativa.

(Baca juga: sariawan usus)

4. Penyakit Memburuk

Obat antibiotik tidak boleh sembarangan dikonsumsi karena hal ini dapat justru memperburuk kondisi penyakit Anda. Tanpa resep dokter, Anda kemungkinan akan salah mengambil dosis dan bahkan tidak mengerti aturan penggunaannya yang menyebabkan gangguan kesehatan. Bukannya menjadi sembuh dan sehat, bisa jadi antibiotik tersebut menjadi senjata makan tuan yang memperparah penyakit Anda.

5. Kebal

Salah satu bahaya mengonsumsi obat antibiotik apabila tidak dengan resep dokter adalah Anda bisa menjadi kebal karena terlalu sering dan mungkin juga terlalu banyak mengonsumsinya. Takaran yang Anda konsumsi jelas kurang benar karena tidak sesuai dengan yang seharusnya, maka hal ini justru membuat tubuh lebih kebal dan resisten terhadap obat antibiotik. Untuk itu, penting adanya memastikan secara tepat virus apa yang tengah ada di dalam tubuh Anda.

Mengetahui secara detil dan benar virus apakah gerangan yang menyebabkan penyakit yang Anda alami akan membantu Anda mendapatkan jenis antibiotik yang memang sesuai. Apabila Anda hanya menebak-nebak dan bahkan salah dalam mengonsumsi jenis antibiotik, kemungkinan besar malah dapat membuat bakteri tidak mati. Virus dan bakteri akan bertahan hidup di dalam tubuh karena bakteri akan kebal terhadap obat yang dikonsumsi sehingga tidak bereaksi.

(Baca juga: gejala diare karena bakteri)

6. Kecanduan

Bahaya jika sampai Anda kecanduan obat antibiotik, apalagi terlalu sering mengonsumsinya. Ada sejumlah orang yang dengan mudah memutuskan untuk meminum obat antibiotik walaupun kondisinya sebenarnya tidak atau belum memerlukan antibiotik. Hal ini bahkan dapat dianggap sebagai kebiasaan berbahaya dan buruk sehingga perlu dihindari dengan mengonsumsinya menurut resep dokter saja.

Mengonsumsi dalam dosis yang lebih dari seharusnya tidak akan baik untuk tubuh karena adanya efek negatif. Kemudian, manfaat obat pun tentu akan berkurang secara drastis sebab tubuh akan mulai terbiasa dengan obat antibiotik (dengan kata lain tubuh kebal) sehingga manfaatnya tidak lagi dapat dirasakan. Kecanduan obat yang tidak dapat memberikan manfaat bagi tubuh tentu adalah kerugian yang dobel.

(Baca juga: obat alergi gatal)

7. Terjadi Reaksi Alergi

Dengan tidak adanya resep dokter, Anda yang mengonsumsi obat antibiotik dengan mengandalkan takaran sendiri dapat berisiko mengalami reaksi alergi. Bila jenis-jenis antibiotik dan manfaatnya kurang sesuai dengan kondisi sebenarnya dari tubuh, maka itu artinya akan sulit bagi tubuh untuk menoleransi obat tersebut yang justru menimbulkan reaksi alergi. Oleh karena itu, mengandalkan resep dokter adalah keputusan bijak karena hanya dokter dan ahli medis yang bakal paling mengerti jenis antibiotik yang diperlukan oleh Anda.

Terlebih untuk Anda yang memiliki alergi, tentu akan lebih dianjurkan mengonsumsi antibiotik dengan resep dokter agar realsi alergi tidak muncul. Karena jika reaksi alergi sampai muncul, Anda akan mengalami pembengkakan pada lidah, wajah, dan bahkan akan timbul ruam pada kulit. Hal yang lebih serius juga akan muncul, seperti misalnya kesulitan bernapas atau yang dikenal juga dengan istilah anafilaksis. Konsultasi dengan dokter dan mendapatkan resep yang sesuai akan membantu kesembuhan penyakit lebih cepat dan baik.