Disfagia – Penyebab, Gejala, Diagnosa dan Pengobatan

1436

Pernahkah Anda mendengar tentang kondisi kesehatan seperti sulit menelan? Istilah medis untuk itu adalah disfagia di mana keluhan ini disebabkan oleh adanya penyakit tertentu yang cukup serius sehingga memang penderitanya perlu memeriksakan diri ke dokter. Sulit menelan biasanya dianggap sebagai masalah ringan karena dikenal sebagai gejala radang tenggorokan atau flu yang termasuk ringan.

Padahal kesulitan menelan bisa saja lebih dari sekadar gejala flu karena berpotensi juga menjadi suatu penyakit tertentu yang serius. Terjadinya disfagia ini pada umumnya ada pada esofagus atau kerongkongan. Seperti kita tahu, saluran penghubung antara rongga mulut dan lambung adalah kerongkongan. Otot dinding esofagus normalnya bakal mengencang atau berkontraksi supaya makanan terdorong untuk menuju lambung.

Sementara itu, mukus atau lendir bakal terbentuk di esofagus oleh sel-sel dan kelenjar mukosa di mana fungsinya adalah sebagai pendukung supaya makanan bisa lewat saluran tersebut lebih gampang. Ada sfingter atau otot melingkar pada akhir esofagus setiap manusia dan otot ini bakal meregang alias berelaksasi supaya makanan lancar menuju lambung.

Otot tersebut akan kembali mengencang setelah meregang tadi dalam upayanya membuat makanan berhenti masuk ke lambung. Mengencangnya otot melingkar tadi juga terjadi supaya asam lambung tercegah naik ke esofagus. Pada penderita disfagia ini, kesulitan menelan tak hanya pada makanan saja, tapi juga cairan tertentu.

Ada juga beberapa kasus lain di mana penderitanya menderita gangguan mekanisme menelan di tingkat yang lebih parah. Terjadinya disfagia ini memiliki 2 alasan, yang pertama masalah penyumbatan di bagian kerongkongan dan tenggorokan, dan yang kedua, masalah di bagian saraf serta otot kerongkongan dan otot. Ada baiknya juga melirik informasi tentang penyebab, gejala, dan mengatasinya seperti berikut.

(baca juga: penyebab gizi buruk – obat sakit tenggorokan susah menelan)

Penyebab Disfagia

Disfagia atau sulit menelan bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari yang muda hingga yang tua. Seseorang yang mengalami disfagia bisa disebabkan oleh banyak faktor, dan berikut di bawah inilah Anda bisa simak kemungkinan faktor peningkat risiko sekaligus penyebab langsung disfagia:

  • Faktor usia. Pada beberapa kasus, disfagia sangat berhubungan erat dengan faktor penuaan karena memang saat usia bertambah tua, otot untuk menelan pun diketahui menjadi semakin lemah. Itulah mengapa orang-orang yang sudah masuk usia 50 tahun ke atas sekitar 8-10 persen berkemungkinan menderita disfagia.
  • Faktor bawaan. Kondisi bawaan juga bisa menjadi faktor penyebab disfagia pada seseorang, seperti misalnya bibir sumbing, gangguan belajar dan juga cerebral palsy. Kondisi kongenital seperti ini biasanya lebih dialami pada anak-anak dengan tanda sulit belajar. (baca juga: jenis-jenis penyakit saraf)
  • Kondisi-kondisi penyebab obstruksi atau penyempitan kerongkongan. Ada sejumlah kondisi kesehatan yang bisa membuat kerongkongan mengalami obstruksi maupun penyempitan. Penyakit-penyakit yang dimaksud di sini antara lain adalah kanker tenggorokan, kanker mulut, asam lambung, penyakit kantong esofagus, dan penyakit eosinophilic oesophagitis. Efek samping radioterapi pun mampu menjadi penyebab timbulnya disfagia.
  • Komplikasi akibat cedera. Terkadang cedera di bagian leher atau kepala yang mengalami komplikasi bisa berakibat kesulitan menelan. Ya, rupanya komplikasi cedera dari leher ke atas mampu membuat seseorang mengalami kesulitan dalam menelan.
  • Gangguan pernapasan. Seseorang yang memiliki masalah seperti penyakit paru obstruktif kronik diketahui mempunyai risiko lebih besar untuk menderita disfagia.
  • Gangguan/kerusakan sistem saraf pengendali proses menelan. Di dalam tubuh kita ada sistem saraf khusus yang peran utamanya adalah sebagai pengendali proses menelan. Apabila sistem saraf tersebut mengalami kerusakan atau gangguan, maka disfagia pun dapat terjadi. Contoh kondisi sistem saraf pengendali proses menelan yang rusak adalah seperti tumor otak, stroke, penyakit neuron motorik, multiple sclerosis, parkinson, myasthenia gravis dan Parkinson.
  • Gangguan otot pendorong makanan ke lambung dari kerongkongan. Pada tubuh setiap manusia juga ada yang namanya otot-otot khusus yang bertugas sebagai pendorong makanan untuk masuk ke dalam lambung yang berasal dari kerongkongan. Contoh penyakit atau gangguan otot tersebut adalah scleroderma dan akalasia.

(Baca juga: tenggorokan serak berdahak)

Gejala Disfagia

Setelah mengenali penyebab-penyebabnya, tentu penting untuk mengetahui setiap kemungkinan gejala pada kondisi disfagia. Gejala disfagia cukup beragam, namun tergantung pula dari tingkat keparahannya. Gangguan menelan dapat terjadi mulai dari tingkat ringan hingga berat, maka ketahui lebih dulu menurut tingkat keparahannya.

  • Disfagia pada tingkat ringan – Keadaan disfagia pada tahap ringan ini biasanya tak menunjukkan adanya masalah yang berarti dalam proses menelan cairan. Hanya saja, akan sangat terasa mengganggu dan tak nyaman ketika menelan makanan yang bertekstur padat. Otomatis, waktu yang digunakan lebih lama untuk menelan makanan yang masuk ke dalam tenggorokan.
  • Disfagia pada tingkat sedang – Kondisi gangguan menelan tahap sedang ini adalah ketika sejumlah potong makanan yang masuk bisa tersangkut di tenggorokan ketika Anda mencoba menelannya seperti biasa. Tak hanya itu, makanan juga akan terasa mengganjal di kerongkongan atau malah seperti menyangkut di bagian dada.
  • Disfagia pada tingkat berat – Pada kasus disfagia berat, biasanya penderita sudah mulai mengalami kesulitan menelan cairan. Seperti kita tahu, cairan adalah yang paling mudah untuk ditelan, tapi penderita disfagia berat mengalami kesulitan untuk menelan makanan padat sekaligus cair.

Pada umumnya, gejala-gejala yang timbul lainnya pada penderita disfagia antara lain adalah:

  • Terasa nyeri ketika dipakai menelan.
  • Regurgitasi alias proses makanan yang balik ke atas lagi dan bisa-bisa keluar lewat hidung.
  • Batuk
  • Tersedak sewaktu makan.
  • Muntah
  • Dari mulut keluar air liur terus-menerus.
  • Suara serak.
  • Sering bersendawa
  • Sakit di bagian ulu hati.
  • Asam lambung mengalami kenaikan sampai ke tenggorokan.
  • Bau mulut.
  • Penderita disfagia akan memotong makanannya kecil-kecil supaya mampu menelan dengan baik.

(Baca juga: cara mengatasi sakit tenggorokan)

Metode Diagnosa Disfagia

Dalam memastikan bahwa gangguan menelan yang dialami penderita adalah benar-benar disfagia, maka diperlukan penempuhan metode diagnosa. Untuk tes awal, penderita biasanya diminta oleh dokter untuk minum air dengan takaran yang telah ditentukan. Dokter pun akan mencatat waktu yang didapat serta jumlah air yang mampu ditelan pasien supaya terdeteksi akan kemampuan penderita dalam menelan.

Sejumlah metode diagnosa yang perlu dilakukan dalam hal ini antara lain seperti:

  • Fluoroskopi – Metode pemeriksaan satu ini adalah dengan memanfaatkan X-ray dan ada pula pemanfaatan barium, zat khusus yang turut memandu jalannya prosedur pemeriksaan ini.
  • Endoskopi – Prosedur pemeriksaan lainnya yang juga sangat membantu dalam diagnosa disfagia adalah endoskopi. Pada langkah ini, dokter akan memasukkan selang fleksibel khusus yang ada lampu serta kameranya. Kamera itu berperan sebagai penangkap gambar yang dokter bisa lihat lewat sebuah layar monitor. Penerapan endoskopi ini dapat digunakan untuk memeriksa kondisi esofagus serta kondisi rongga pernapasan bagian atas.
  • Manometri – Ada pula manometri di mana tujuan dari metode pemeriksaan ini adalah untuk melihat kondisi dan performa dari esofagus, yakni dengan pengukuran besaran tekanan di bagian tersebut saat digunakan menelan. Kateter juga turut membantu proses manometri ini dan dilengkapi pula dengan sensor tekanan.

Pada langkah metode yang terakhir, tak hanya bagian kerongkongan saja yang dicek, tapi juga volume aliran balik asam dari lambung dapat diukur juga. Hal tersebut kiranya turut diperlukan supaya dapat dipastikan apakah disfagia disebabkan oleh asam lambung yang naik. Itulah mengapa kadar asam lambung perlu diukur.

(Baca juga: jenis-jenis penyakit autoimun)

Pengobatan Disfagia

Perubahan pola makan dan sikap akan dianjurkan oleh dokter ketika kondisi disfagia termasuk dalam tahap ringan. Contoh dari sikap dan pola makan yang baik adalah posisi tubuh saat duduk dipastikan dalam postur yang tepat. Tak hanya itu, porsi makanan di garpu atau sendok juga perlu diatur, bahkan saat makan juga disarankan hanya boleh minum sedikit air.

Disfagia dapat diobati berdasarkan dari seberapa berat kondisi penderita pada gangguan menelan di rongga mulut. Dilihat juga penyakit dasar dari keluhan ini sehingga pengobatan yang diberikan tepat dan sesuai dengan keadaan. Itulah mengapa sangat penting untuk lebih dulu mendeteksi penyebab disfagia.

  • Disfagia Akibat Asam Lambung

Untuk menyembuhkan disfagia yang disebabkan oleh asam lambung, maka dokter biasanya akan memberikan resep obat pencegah refluks, seperti PPI atau proton pump inhibitor yang akan membuat gejala disfagia terasa lebih ringan. Dengan obat ini jugalah aliran balik asam lambung menuju bagian dalam esofagus juga dapat dicegah.

Gejala disfagia akibat jaringan parut di esofagus pun mampu diatasi dengan baik. Dokter juga akan memberi obat kortikosteroid untuk membantu mengurangi radang di esofagus bila memang terjadi dan dialami oleh pasien.

  • Disfagia Akibat Kelumpuhan Otak

Lumpuhnya otak bisa menyebabkan disfagia dan bila memang ini terjadi, penyembuhan yang dianjurkan oleh dokter adalah terapi khusus untuk membuat kemampuan menelan penderitanya bisa ditingkatkan. Pada kondisi ini, sistem saraf yang berperan sebagai pengendali proses menelan akan terganggu, otomatis otot pendorong makanan ke dalam lambung dari kerongkongan ikut terhambat kinerjanya, maka dari itu membutuhkan terapi yang harus didampingi oleh ahlinya supaya berjalan lancar dan benar.

(Baca juga: obat sakit tenggorokan)

  • Disfagia Akibat Tumor dan Akalasia

Tumor juga bisa menjadikan seseorang mengalami disfagia dan otomatis solusi paling tepat adalah operasi. Pembedahan juga bisa dilakukan pada kasus disfagia akibat penyakit akalasia. Hanya saja, dokter biasanya akan lebih dulu meresepkan obat botulinum toxin untuk mengatasi gejala sebelum dilakukannya pembedahan pada pasien.

  • Disfagia Akibat Ada Penghalang di Esofagus

Jika terjadi pembentukan jaringan parut pada esofagus, otomatis kinerjanya menjadi terhambat, apalagi kalau ada penyempitan di sana. Metode endoskopi adalah solusinya di mana ini tak hanya menjadi prosedur pemeriksaan saja, tapi juga bisa dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan obyek penghalang pada esofagus. Dengan endoskopi tersebut, biasanya diameter saluran esofagus akan diperbesar.

  • Disfagia Parah

Pada kasus disfagia yang sudah sangat parah atau pada tingkat berat, pada umumnya solusi yang diberikan adalah pemberian makanan melalui selang makanan. Selang khusus akan dipasang oleh dokter dalam upaya pencegahan malnutrisi dan juga bahaya dehidrasi pada penderitanya. Karena sulit menelan, biasanya penderita juga otomatis merasa malas makan.

Penurunan berat badan drastis pun akan terjadi, dan cara meningkatkan nafsu makan apapun tak akan mempan karena masalah utama terletak pada esofagus. Pemberian selang khusus tersebut pada umumnya akan dokter masukkan melalui mulut atau bahkan hidung. Konsultasikan lebih jauh dan detil bersama dokter kepercayaan Anda agar lebih memahami prosedur dan efeknya.

(Baca juga: lidah tidak bisa merasakan rasa makanan – penyebab sakit tenggorokan saat menelan)

Disfagia bukanlah suatu kondisi yang bisa diremehkan apalagi diabaikan karena meski kelihatannya sepele, disfagia pun bisa menjadi gejala dari penyakit serius. Disfagia cukup mengancam kesehatan penderitanya karena pada sebagian kasus yang ada, penderitanya sama sekali tak bisa minum dan makan karena sudah sangat kesakitan.

Akibat paling buruk dari disfagia adalah kekurangan gizi alias malnutrisi dan karena hal ini, berat badan juga pasti akan terpengaruh. Ketika penurunan berat badan secara drastis terus terjadi, maka bukan tak mungkin kematianlah yang akan menjadi bahaya paling besar pada penderita disfagia. Sebegitu mengerikannya disfagia sehingga memang harus diatasi secara tepat.

Untuk kasus disfagia tertentu, terutama yang berhubungan dengan saraf atau gangguan neurologi, biasanya pengobatan jauh lebih sulit nantinya. Namun yang lebih penting adalah memeriksakan sesegera mungkin ketika gejala disfagia timbul. Jika penyebab dan gejala terdeteksi awal, maka penyembuhan juga dijamin lebih mudah dan cepat.