Fungsi Vaksin Difteri pada Orang Dewasa dan Anak

42

Penyakit difteri merupakan jenis penyakit yang dapat membahayakan kesehatan. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Senyawa racun yang dikeluarkan bakteri tersebut akan membentuk lapisan berwarna abu-abu di sepanjang saluran pernapasan, dan ketika racun menyebar dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, saraf dan ginjal. Difteri lebih banyak menyerang orang dewasa karena daya tahan tubuhnya lebih lemah, namun bukan berarti orang dewasa bisa merasa tenang karena resikonya tertular penyakit ini tetaplah sama.

Pengobatan penyakit difteri sendiri cukup sulit, selain karena bakterinya sangat cepat berkembang biak, juga cepat sekali menyebar hingga mudah sekali menular kepada orang lain. Bahkan di Indonesia tahun 2017 silam, penyakit ini sempat menjadi wabah dengan jumlah penderita lebih dari 900 orang. Untuk menghindari dampak tersebut, pemberian vaksinasi sangat diperlukan sehingga tubuh dapat terlindungi dari infeksi bakteri penyebab difteri. Namun Bolehkah Vaksin Difteri saat Flu?.

Fungsi Vaksin Difteri

Vaksin difteri tersedia dalam bentuk gabungan bersama vaksin lainnya yaitu DT yang berisi vaksin difteri dan tetanus, atau DPT yang berisi vaksin difteri, pertusis dan tetanus. Umumnya vaksin yang diberikan pada anak-anak adalah vaksin DPT, yang diberikan sebanyak lima kali. Tiga pemberian pertama yaitu pada usia 2, 3 dan 4 bulan, lalu yang keempat pada usia 18 bulan dan terakhir yang kelima pada usia 5 tahun.

Orang dewasa juga perlu mendapatkan vaksin difteri agar tidak mudah tertular penyakit tersebut, apalagi jika sebelumnya memang belum pernah mendapatkannya. Biasanya jenis vaksin yang direkomendasikan untuk orang dewasa adalah vaksin Tdap, yaitu vaksin ulang tetanus, difteri dan pertusis. Lalu vaksin ulangan dilakukan setiap 10 tahun sekali agar kekebalan tubuh terhadap penyakit tersebut tetap terjaga.

Manfaat pemberian vaksin difteri antara lain dapat mencegah terinfeksi bakteri Corynebacterium diptheriae yang menjadi penyebab penyakit difteri, terutama pada anak-anak. Selain itu, vaksin ini juga dapat diandalkan untuk memutus rantai penularan penyakit difteri sehingga wabah penyakit tersebut dapat dicegah. Namun, dalam pemberian vaksin difteri, ada hal yang perlu diperhatian, yaitu:

  • hentikan pemberian vaksin lanjutan jika anak mengalami gangguan saraf setelah vaksinasi dilakukan
  • anak tidak boleh diberi vaksinasi jika diketahui mengalami alergi setelah sebelumnya diberikan vaksin.

Orang dewasa yang sangat direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin difteri adalah mereka yang lupa pernah mendapatkan vaksin atau belum, orang yang memang belum pernah mendapatan vaksin difteri, orang yang bepergian ke daerah yang rawan penularan penyakit difteri, dan orang-orang yang sering melakukan kontak dengan penderita difteri seperti petugas kesehatan.

Imunisasi difteri untuk dewasa dan anak dapat dilakukan di pusat kesehatan masyarakat setempat. Biasanya vaksin ini akan menimbulkan efek samping, namun biasanya cukup ringan dan akan hilang kurang dari 3 hari. Jadi, jangan abaikan vaksin difteri dan pastikan Anda dan anak Anda mendapatkan vaksin tersebut secara lengkap.