5 Penyebab Stroke Hemoragik dan Cara Mengatasinya

3556

Stroke hemoragik juga sering disebut dengan stroke pendarahan otak. Jenis jenis stroke ini terjadi ketika pasokan darah ke otak mengalami gangguan karena pembuluh darah pecah sehingga membuat otak mengalami pendarahan. Pendarahan di otak akan menyebabkan gangguan bagi seluruh kinerja tubuh dan kesehatan sistem saraf otak. Kerusakan otak akibat stroke hemoragik ini akan menyebabkan berbagai gangguan seperti pergerakan tubuh, gangguan bicara, gangguan pemahaman, dan juga emosional. Dari total 100 kasus stroke, 14 di antaranya mengalami stroke hemoragik. Gejala yang ditimbulkan biasanya lebih parah bila dibandingkan dengan stroke iskemik.

Stroke hemoragik atau stroke pendarahan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya penyebab stroke hemoragik adalah :

1.Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)

Sekitar 2/3 dari kasus stroke hemoragik biasanya disebabkan oleh tekanan darah tinggi (hipertensi). Hipertensi akan menyebabkan pembuluh darah arteri melemah dan rentan terhadap kerusakan (robek). Beberapa faktor yang meningkatkan resiko hipertensi adalah obesitas, merokok, konsumsi alkohol berlebih, kurang berolah raga, dan pola makan tidak sehat (mengandung banyak lemak dan kolesterol).

artikel yang berhubungan dengan tekanan darah tinggi

2. Aneurisma

Aneurisma adalah gangguan pada pembuluh arteri di mana titik lemah pada pembuluh arteri mengalami penggelembungan keluar dan membentuk kantong. Pada dasarnya, pembuluh darah arteri adalah pembuluh darah yang kuat, namun bagian aneurisma adalah bagian yang lemah sehingga memungkinkan lebih cepat rusak dan mengalami robek.

Pada bagian otak, aneurisma sering disebut juga dengan aneurisma berry karena bentuknya yang seperti buah berry. Resiko aneurisma lebih rentan muncul pada orang-orang dengan yang memiliki pola hidup tidak sehat, riwayat hipertensi, dan riwayat keluarga. Pada beberapa kasus, aneurisma juga bisa menjadi bawaan sejak lahir. Penyebab utama dari pecahnya aneurisma adalah tekanan darah tinggi.

3. Pembuluh Darah Abnormal

Pembuluh darah abnormal biasanya diderita oleh orang-orang sejak mereka lahir. Pembuluh darah abnormal tersebut biasanya disebut malformasi pembuluh darah yang meliputi jalinan pembuluh darah dan pembesaran pembuluh darah. Kasus malformasi ini memang tergolong jarang terjadi, jumlah penderita malformasi pembuluh darah tidak lebih dari 1% dari jumlah populasi. Malformasi akan menyebabkan pembuluh darah di otak rentan pecah dan mengalami pendarahan sehingga terjadilah stroke hemoragik.

4. Angiopati Amiloid Serebral

Angiopati amiloid serebral sering juga disebut dengan Cerebral Amyloid Angipathy (CAA). CAA terjadi karena adanya protein atau yang disebut amiloid menumpuk di bagian pembuluh darah di otak. Kondisi semacam itu akan menyebabkan pembuluh darah arteri lebih rentan terhadap kerusakan, terutama pada orang-orang yang telah berusia lanjut. Biasanya CAA akan menyebabkan pendarahan pada bagian otak tertentu di dekat area lobar. Posisi tersebut akan menyebabkan darah bocor ke ruang subarachnoid. Studi juga menyebutkan bahwa 63% kasus pendarah di otak akan menyebabkan darah bocor ke subarachnoid.

5. Konsumsi Obat-obatan

Mengkonsumsi beberapa jenis obat seperti obat pencegah  proses pembekuan darah secara tidak terkontrol juga dapat menyebabkan resiko pecahnya pembuluh darah lebih rentan terjadi. Selain itu, beberapa jenis obat-obatan ilegal seperti kokain juga akan meningkatkan resiko pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan stroke hemoragik.

Macam-macam Stroke Hemoragik

Ada dua macam stroke hemoragik, yaitu stroke hemoragik intraserebral dan stroke hemoragik subarachnoid.

1. Stroke Hemoragik Intraserebral

Gejala stroke hemoragil intraserebral disebabkan oleh pendarahan di dalam otak. Pendarahan tersebut terjadi karena pecahnya pembuluh darah di dalam otak. Sekitar 10% dari seluruh kasus stroke adalah jenis stroke hemoragik intraserebral. Pendarahan intraserebral dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan tempatnya, di antaranya pendarahan thalamus, hematom subdural, dan pendarahan intraventrikuler.

Gejala dari stroke jenis ini biasanya berupa lemah, mati rasa atau kesemutan pada salah satu sisi tubuh, kesulitan dalam hal pemahaman dan berbicara, pusing, dan gangguan penglihatan. Gejala tersebut biasanya juga akan disertai gejala lainnya seperti sakit kepala yang parah secara tiba-tiba, menurunnya kesadaran, muntah, dan leher terasa kaku. (baca : penyebab leher terasa kaku dan tegang)

2. Stroke Hemoragik Subarachnoid

Otak manusia terdiri atas dua lapisan yang melindungi tengkorak manusia. Di antara kedua lapisan tersebut terdapat ruang yang disebut subarachnoid. Stroke hemoragik subarachnoid terjadi ketika pembuluh darah di dekat permukaan otak pecah dan darah masuk ke daerah subarachnoid. Dari seluruh kasus stroke, sekitar 5% di antaranya adalah jenis stroke hemoragik subarachnoid. Stroke jenis ini biasanya akan menimbulkan dampak fatal dan sekitar 50% di antaranya tidak dapat bertahan hidup dan jika bertahan hidup biasanya akan menimbulkan cacat berat. Gejala dari stroke hemoragik subarachnoid biasanya berupa sakit kepala parah yang diikuti dengan hilangnya kesadaran, mual, muntah, leher kaku, kebingungan, dan demam. Biasanya gejalanya juga berupa kesulitan bicara dan melemahnya salah satu sisi tubuh.

Penanganan Medis terhadap Stroke Hemoragik

Penanganan medis yang akan dilakukan untuk menangani stroke hemoragik biasanya berupa pembedahan darurat, pembedahan untuk menutup aneurisma, dan metode pengobatan.

1. Pembedahan Darurat – Metode pembedahan darurat untuk menangani kasus stroke hemoragik biasanya disebut dengan kraniotomi. Saat proses operasi berlangsung, sebagian kecil bagian tengkorak akan dipotong untuk mengetahui penyebab pendarahan dan melakukan perbaikan pembuluh darah yang rusak. Selain itu, pembedahan dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada penggumpalan darah yang akan menyebabkan aliran darah ke otak terhambat. Proses pembedahan juga dilakukan untuk menghilangkan gumpalan darah. Saat proses pendarahan berhenti, potongan tengkorak akan segera diganti. Saat proses operasi selesai, penderita stroke hemoragik akan ditempatkan pada ventilator untuk membantu penderita tetap bernapas. Proses tersebut akan membantu penderita pulih dan mengontrol pembengkakan di bagian otak.

2. Pembedahan untuk Menutup Aneurisma – Jika stroke hemoragik terjadi karena aneurisma, maka langkah yang dapat dilakukan adalah tindakan pembedahan untuk menutup aneurisma. Tindakan pembedahan biasanya akan dilakukan sehari atau dua hari setelah serangan stroke terjadi. Namun, jika keadaan penderita tidak sadar biasanya tindakan pembedahan akan dilakukan saat kondisi penderita lebih stabil. Metode pembedahan paling umum yang dilakukan untuk menutup aneurisma adalah coiling. Metode tersebut dilakukan dengan memasukkan tabung ke bagian arteri pangkal paha kemudian mengarahkannya ke aneurisma dekat otak. Biasanya akan digunakan sinar X untuk memandu pergerakan tabung. Metode ini biasanya akan dipilih karena bersifat invasif dan rendah resiko.

3. Pemberian Obat – Teknik pengobatan dilakukan dengan pemberian beberapa jenis obat kepada penderita stroke hemoragik. Beberapa jenis obat yang digunakan meliputi nimodipin dan penghilang rasa sakit seperti morfin atau paracetamol.

Itulah beberapa hal terkait dengan penyebab stroke hemoragik dan penangananya. Jika langkah medis telah ditempuh untuk menyembuhkan stroke hemoragik tersebut, maka langkah selanjutnya adalah tahap pemulihan. Tahap pemulihan biasanya akan dilakukan dengan metode rehabilitasi dan fisioterapi.

baca juga artikel halo sehat lainnya