Hipospadia – Penyebab, Gejala, Diagnosa, Bahaya dan Penanganannya

2334

Bagi beberapa orang mungkin hipospadia adalah sebuah istilah yang cukup asing karena kondisi penyakit ini tak banyak diketahui. Hipospadia sebetulnya merupakan sebuah ketidakwajaran yang terjadi di bagian uretra atau saluran kemih dan juga area penis. Cukup banyak orang yang belum begitu mengetahui seperti apa bentuk ketidaknormalan pada saluran kemih tersebut sehingga kurang begitu mengerti apa perbedaannya.

Pada kondisi yang normal, lokasi lubang uretra ada di ujung penis dan fungsi utamanya adalah untuk mengeluarkan urin. Sedangkan pada kondisi yang tidak normal, penderita hipospadia memiliki lubang uretra yang letaknya malah justru ada di bagian bawah penis. Penyakit kelamin ini cukup mengkhawatirkan karena tergolong kelainan bawaan.

Artinya, hipospadia ini merupakan penyakit kelainan bawaan yang dialami seseorang sejak ia dilahirkan. Tak mudah bagi penderita hipospadia untuk beraktivitas, apalagi saat harus buang air kecil atau pada waktu ereksi. Karena tak seperti pada normalnya, otomatis hal ini cukup mengganggu penderitanya dan membuat tak nyaman ketika melakukan aktivitas tersebut.

Kelainan seperti ini dikatakan sebagai kondisi yang tak dapat diobati karena satu-satunya penanganan yang paling tepat dan bisa ditempuh adalah dengan jalan operasi. Ketika masih anak-anak, mungkin belumlah terlalu dirasakan kerugiannya, namun bila tak segera dioperasi hal ini bakal menjadikan sang anak merasa terganggu saat sudah beranjak dewasa. Ini merupakan masalah serius saat seorang anak sudah menjadi dewasa dan kemudian menikah.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, hipospadia akan menimbulkan kesulitan tak hanya saat buang air kecil, tapi juga pada waktu ereksi. Tentunya ini bakal berpengaruh banyak pada waktu ia hendak melakukan hubungan intim dengan pasangannya. Karena penisnya yang bengkok serta letak lubang saluran kencing tak di ujung penis, kondisi seperti ini bakal cukup mengganggu.

Sebagai akibatnya, air mani jelas terhambat dan kemungkinan justru tak bisa masuk ke dalam rahim pasangannya. Risikonya ketika berhubungan suami istri adalah, akan ada banyak air mani yang tumpah keluar dari bagian kemaluan pasangan. Dari sini kita sudah dapat melihat apa kesusahan yang dialami.

Intinya, penderita hipospadia juga bakal merasakan bagaimana sulitnya proses pertemuan antara sperma dan sel telur dikarenakan hal tersebut. Bila tak segera ditangani, maka akibatnya bisa cukup panjang, seperti misalnya istri bakal sulit hamil. Itulah mengapa penting bagi kita sekalian untuk mengenal lebih jauh tentang hipospadia.

(Baca juga: daftar penyakit kelainan medis – infeksi saluran kencing)

Penyebab Hipospadia

Bila ditanya apakah penyebab pasti dari hipospadia, maka jawabannya adalah belum bisa dijelaskan dengan pasti. Karena merupakan kelainan bawaan, maka teori-teori yang bermunculan serta berkembang pun tak jauh dari masalah hormonal. Belum ditemukannya penyebab pasti dari kondisi hipospadia menjadikan beberapa teori dianggap sebagai referensi dan jawaban.

Telah diungkapkan oleh sebuah teori di mana kelainan bawaan ini dipicu oleh berhentinya perkembangan sel-sel penghasil androgen secara prematur di dalam testis. Ini yang kemudian menjadikan produksi androgen sempat terhenti yang kemudian berakibat pada timbulnya maskulinisasi inkomplit dari alat kelamin luar. Jadi, anggapan dari kondisi ini juga bukanlah semata-mata terjadi tanpa sebab.

Proses tersebut kemudian menjadikan pembentukan saluran kencing atau uretra menjadi terganggu. Diketahui pula bahwa semakin dini gangguan hormonal terjadi, maka lubang kencing yang tidak normal pun bakal makin dekat ke pangkal. Lokasi lubang saluran pun bisa berada di mana saja tergantung dari waktu gangguan hormonal terjadi.

Selain itu, tak dapat dipungkiri juga bahwa hipospadia ini merupakan salah satu kelainan yang terjadi sejak bayi dilahirkan. Itulah mengapa penyebab pasti dari perkembangan abnormal pada bagian penis belumlah terdeteksi. Seperti yang sudah disebutkan, gangguan hormonal merupakan dugaan sementara dan hal ini makin dikuatkan dengan fakta bahwa pembentukan penis selama janin berkembang di dalam rahim ditentukan oleh hormon.

Hormon testosteron adalah yang memegang peranan paling penting sehingga para ahli pun memperkirakan bahwa ketidaknormalan pada penderita hipospadia ini pemicunya adalah terhambatnya efektivitas hormon. Namun tak menutup kemungkinan juga akan adanya faktor lain yang bisa membuat bayi yang lahir mengalami hipospadia, seperti faktor keturunan.

Perlu diingat bahwa hipospadia bukanlah sebuah penyakit keturunan, namun ada juga kasus hipospadia pada bayi yang memang anggota keluarganya mempunyai riwayat hipospadia ini. Kondisi yang sama pada anggota keluarga dapat menaikkan risiko seorang bayi lahir dengan kekurangan seperti ini. Cukup mirip dengan kondisi cacat lahir yang rata-rata juga dikarenakan faktor keturunan.

Faktor-faktor lainnya yang tak boleh dilewatkan untuk diketahui antara lain adalah:

  • Usia sang ibu yang hamil saat usianya sudah 40 tahun ke atas.
  • Pajanan senyawa kimiawi selama masa hamil. Contoh dari senyawa kimia yang berbahaya untuk ibu hamil dan bayi di dalam kandungan adalah pestisida.
  • Pajanan rokok yang terus-terusan selama masa kehamilan.

(Baca juga: kelainan kromosom – terapi infeksi saluran kemih)

Gejala Hipospadia

Seperti pada kondisi penyakit lainnya, gejala suatu penyakit yang dialami oleh setiap individu penderitanya bisa berbeda-beda. Tingkat keparahan pun ditentukan berdasarkan kepada letak dari lubang saluran kencing tadi di area penis. Secara umum, pengidap hipospadia bakal memiliki lubang uretra yang letaknya cukup dekat dengan ujung penis.

Tapi tak semua penderita hipospadia memiliki keabnormalan serupa karena ada juga penderita hipospadia yang letak lubang saluran kencingnya ada di bagian tengah atau pada pangkal penis di mana hal ini lebih serius dan abnormal lagi. Ketika seorang penderita hipospadia mengalami hal tersebut, itulah yang dianggap sebagai kondisi parah dari hipospadia.

Sebagian besar anak-anak dengan masalah kelainan ini juga biasanya mempunyai bentuk batang penis yang membengkok atau melengkung. Pada area lubang kencing pun ada terbentuk suatu jaringan ikat atau dinamakan juga dengan fibrosis di mana sifatnya adalah mengerutkan atau menarik kulit di sekelilingnya. Kalau tampak samping, maka penis terlihat seperti kipas dengan bentuk melengkung.

Tapi masalahnya, ini tidak kemudian mengartikan bahwa setiap penderita kemudian memiliki gejala yang sama karena ada juga yang cukup berbeda. Pada beberapa kasus, ada juga anak laki-laki dengan kelainan hipospadia ini mempunyai kelainan yang disebut juga dengan undescended testis. Artinya, kondisi testisnya belumlah turun hingga ke kantong kemaluan.

Selain daripada hal yang sudah dijelaskan sedikit sebelumnya, ada gejala-gejala lain dari hipospadia yang kelihatannya mirip. Berikut ini bisa dilihat gejala lainnya yang dapat juga dikenali:

  • Bentuk penis melengkung ke arah bawah di mana hal ini terjadi sebagai akibat dari pengencangan jaringan pada area bawah penis.
  • Ujung penis dinaungi kulup dan ini bisa terjadi dikarenakan kulup tidak mengalami perkembangan pada bagian bawah penis.
  • Adanya percikan yang tak wajar saat melakukan buang air kecil sebagai akibat dari letak lubang yang tidak seperti normalnya.

Karena ketidaknormalan aliran kencing pada penderitanya, maka otomatis pada beberapa orang dengan masalah hipospadia ini kesulitan saat berkemih. Alhasil, mereka pun harus duduk ketika melakukan buang air kecil.

Kondisi ini bakal semakin rumit ketika dibiarkan sampai anak laki-laki bertumbuh dewasa dan gejala yang muncul berikutnya berkaitan erat dengan psikologis. Semakin bertambah usianya, maka masalah psikologis pun akan timbul dikarenakan ketidaknormalan bentuk penis serta ketidaklaziman saat proses berkemih seperti anak laki-laki lainnya yang bisa melakukan secara normal.

Selain itu, di usia penderita hipospadia yang masuk masa pasca-pubertas serta di masa usia reproduksi, fungsi reproduksi pun bakal terganggu. Bentuk penis yang melengkung menjadi hal yang akan sangat mengganggu, terutama ketika ereksi. Gangguan lainnya adalah kesulitan penetrasi penis sewaktu berhubungan intim serta pancaran ejakulasi yang terganggu.

(Baca juga: herpes genital)

Kapan Harus ke Dokter?

Karena rata-rata hipospadia terdeteksi pada kebanyakan bayi yang baru lahir, diagnosa pun bisa didapat segera sesudah mereka dilahirkan dan masih berada di rumah sakit. Hanya saja, hipospadia yang dianggap tidak begitu serius malah biasanya diabaikan dan tidak segera ditangani.

Hipospadia yang dianggap tak begitu parah memang pada umumnya tak begitu nampak, sehingga hal ini kerap diremehkan. Seketika Anda menyadari ada yang tidak beres di mana gejala seperti adanya muara uretra anak yang lokasinya tidaklah berada di ujung penis, mulailah untuk curiga dan menghubungi dokter untuk ini.

Belum lagi bila Anda melihat adanya kulit penutup penis yang tak berkembang sempurna atau penis melengkung ke arah bawah, Anda sebaiknya langsung bawa anak ke dokter dan jangan menunggunya hingga beranjak dewasa. Gejala-gejala yang muncul tersebut sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter supaya penanganan segera diberikan supaya sang anak tak stres dan mengalami masalah di kemudian hari.

Diagnosa Hipospadia

Ketika gejala sudah terlihat dari sejak bayi, terutama pada bayi yang baru lahir, diagnosa perlu segera dilakukan. Walau gejala merujuk pada kondisi hipospadia, akan jauh lebih baik kalau dipastikan lagi dengan melakukan diagnosa. Karena dengan diagnosa, dokter pun dapat menentukan penanganan seperti apa yang pas untuk diberikan kepada pasien.

  • Pemeriksaan Fisik

Tentu saja pemeriksaan fisik adalah yang utama di sini, terutama hal ini bakal dilakukan ketika bayi  baru saja dilahirkan. Dokter akan memeriksa pada ujung kepala penis akan ada atau tidaknya lubang saluran kencing. Dokter juga tak lupa mengecek bentuk penis apakah melengkung atau tidak.

Bila lubang saluran kencing tak berada di ujung penis dan disertai pila dengan bentuk yang melengkung, otomatis bisa diperkirakan bahwa ini adalah keadaan hipospadia. Pada kasus kelainan yang sudah pada level yang berat, dokter pun menjumpai kesulitan dalam mengenali jenis kelamin bayi sebagai laki-laki atau perempuan kalau didasarkan hanya pada pemeriksaan fisik saja.

Ketika dokter merasa susah untuk mendeteksi kelamin sang bayi, maka solusinya adalah pemeriksaan sex chromatin. Melalui pemeriksaan seperti ini, dokter bakal lebih mudah mendeteksi jenis kelamin sebelum akhirnya mendeteksi kondisi sebenarnya yang dialami sang buah hati. Namun tak hanya pemeriksaan fisik saja yang diperlukan untuk kemudian memberikan penanganan bagi penderita.

  • Pemeriksaan Penunjang

Dalam metode diagnosa, pemeriksaan fisik bukanlah satu-satunya, melainkan masih ada pemeriksaan penunjang yang perlu ditempuh oleh penderita hipospadia. Tes lainnyanyang kiranya dibutuhkan walaupun cukup jarang pelaksanaannya adalah Tes Radiologis Urografi atau IVP di mana tujuannya adalah untuk bisa menilai gambaran dari saluran kemih secara menyeluruh.

Pada proses pemeriksaan penunjang tersebut, saluran kemih akan tergambar secara lebih jelas dan penuh dengan bantuan kontras. Khusus untuk pemeriksaan satu ini biasanya dilakukan ketika sang anak sudah cukup besar dan memiliki keluhan akan kesulitan sewaktu berkemih. Ini karena ada beberapa penderita yang menganggap kondisinya tak begitu parah sampai akhirnya merasa tak nyaman ketika berkemih.

(Baca juga: bahaya mencukur bulu kemaluan pria)

Bahaya Hipospadia

Hipospadia bukanlah suatu kelainan yang bisa dianggap remeh. Meski memang tampaknya belum terlalu banyak kasus seperti ini di Indonesia, kenyataan bahwa angka kejadian ini terus bertambah tak boleh diabaikan. Memang benar bahwa kasus hipospadia timbul dan dialami oleh 1 dari 300 bayi laki-laki yang baru dilahirkan.

Di Amerika Serikat sendiri, kasus ini sudah termasuk besar karena angkanya terus meningkat menjadi 2 kali lipat bila dilihat dari sejak tahun 1970 sampai 1993. Hipospadia terjadi lebih kepada karena kegagalan dalam proses embriologi sistem urogenital. Hal ini kemudian menjadikan genitalia eksternal laki-laki berkembang di bawah pengaruh hormon androgen yang testis janin sekresikan.

Masalah ini cukup serius karena pada beberapa kasus saja, ada banyak kekeliruan yang terjadi di mana orang tua mengira bahwa anak yang sudah dilahirkannya berjenis kelamin perempuan. Hal ini sangat mungkin terjadi karena mereka belum mengetahui apa sebenarnya hipospadia itu. Itulah mengapa terkadang penanganan pun menjadi terlambat.

Orang tua perlu menjadi jeli ketika anaknya baru saja lahir dan ketika para orang tua yang tak tahu-menahu tentang hipospadia, otomatis akan membiarkannya. Sampai anak tumbuh besar, sang ibu masih mengira bahwa jenis kelamin anak adalah perempuan yang sebetulnya adalah laki-laki. Pengabaian akan berujung pada masalah kejiwaan yang timbul pada si anak nantinya.

Intinya, ada 2 macam bahaya yang bisa dialami oleh anak penderita hipospadia, khususnya jika tak ditangani atau mendapatkan penanganan yang kurang tepat, yakni:

  • Gangguan Kejiwaan

Masalah kejiwaan seperti depresi bisa terjadi seperti yang sudah disebutkan sebelumnya dan hal ini cukup besar risikonya apalagi ketika sang anak mulai remaja. Saat masa pubertas, ia akan mulai melihat perbedaan antara dirinya dengan anak-anak laki-laki lain sebayanya. Berkemih yang tidak normal menjadi hal yang disadari pertama kali.

Minder serta rasa tak percaya diri pun akan terus berkembang, khususnya saat sudah mulai dewasa di mana terjadi gangguan ereksi. Saat sudah menikah pun ini menjadi masalah baru di mana sang pria dengan masalah hipospadia tak akan bisa maksimal ketika harus berhubungan intim dengan pasangannya.

  • Kemandulan

Selain masalah psikologis, kemandulan alias tidak mampu untuk memiliki anak dapat terjadi pada penderita hipospadia ketika sudah dewasa dan beristri. Tidak sempurnanya proses hubungan intim antara penderita dan pasangannya dapat berujung pada masalah kemandulan ini. Kesulitan pertemuan antara sperma dan sel telur jelas menjadi masalah utama.

Ketika berhubungan intim, air mani dari sang pria akan otomatis banyak yang tumpah dan hal inilah yang menjadi penyebab mengapa sperma tak bisa dengan mudah bertemu dengan sel telur. Bila penderita mengalami hal ini secara terus-menerus dalam jangka panjang, tak diragukan lagi, kemandulan menjadi risiko yang harus dihadapi. Oleh karena itu, setiap penderita hipospadia perlu mendapatkan terapi.

(Baca juga: ciri-ciri hiv aids)

Penanganan dan Perawatan Hipospadia

Walaupun diagnosa hipospadia sudah menunjukkan hasil positif, sang bayi bisa jadi belumlah tentu memerlukan penanganan secara medis. Dokter tentunya akan memberikan pengobatan berdasarkan tingkat keparahan dari hipospadia yang penderita alami. Operasi adalah solusi yang jelas akan dianjurkan oleh dokter karena pasca operasi, umumnya hipospadia tak akan menjadi penghalang bagi penderitanya untuk memiliki anak.

Apabila ingin mengatasi masalah hipospadia, maka terapi utama yang perlu ditempuh penderitanya adalah dengan operasi. Pada terapi ini, penggunaan kulup penis anak adalah yang utama sehingga para orang tua dianjurkan untuk tidak menyunat anaknya lebih dulu sebelum hipospadia dikoreksi. Terapi operasi sendiri diketahui memiliki beberapa tahapan dan alangkah baiknya bila Anda mengenalinya lebih dulu.

  • Operasi Tahap Awal. Pada operasi ini, berlangsungnya adalah pada anak yang berusia kurang lebih 1 tahun atau dengan rentang 4 hingga 18 bulan yang tujuannya adalah untuk membuang chordee serta membentuk lubang dan salurna kencing baru pada kepala penis si penderita.
  • Operasi Tahap Kedua. Pada operasi ini, berlangsung 6 bulan pasca operasi pertama dengan tujuan membentuk saluran kencing baru pada batang penis penderita. Dengan prose sterapi ini jugalah lubang kencing awal bisa dihubungkan dnegan yang berada pada ujung penis.

Ketika hipospadia masih dalam tahap ringan, di mana lokasi lubang kencing abnormal cukup dekat dengan ujung penis, maka terapi operasi ini pelaksanaannya hanya satu tahap saja. Penderita yang penisnya berukuran terlalu kecil, tentu pasien akan dirujukkan ke dokter anak supaya bisa mendapatkan terapi hormon.

Operasi bukanlah solusi pengobatan bagi anak-anak yang masih terlalu kecil dengan penis yang masih sangat kecil, sehingga operasi bakal dianjurkan dan dilaksanakan ketika ukurannya sudah memadai. Pada umumnya, operasi adalah proses untuk mengoreksi hipospadia dan solusi ini sebaiknya diperoleh anak secara tuntas sebelum si anak mulai sekolah.

Kabar baiknya, operasi untuk mengoreksi ini memiliki angka keberhasilan yang terbilang tinggi di mana angka komplikasinya bisa dilihat sebagai berikut:

  • Kebocoran kencing pada area lubang kencing sebanyak 3-9 persen.
  • Pembentukan saluran atau fistula abnormal sebanyak 0,6-23 persen untuk operasi 1 tahap dan 2-37 persen untuk prosedur terapi operasi 2 tahap.
  • Chordee persisten atau penis yang bentuknya tetap melengkung sebanyak < 1 persen.
  • Penyempitan saluran kencing sebanyak 8,5 persen.

Tentunya angka komplikasi dan keberhasilan bisa cukup beragam karena didasarkan pada sumber data yang diperoleh. Namun intinya, operasi merupakan jalan satu-satunya yang bisa menyelamatkan kondisi penderita hipospadia sebelum menjadi jauh lebih parah. Karena kemandulan dan masalah psikologi menjadi bahayanya, tentu proses terapi bisa dilaksanakan secepatnya ketika ukuran penis sudah terbilang memadai.

Pasca operasi, penderita harus mendapatkan perawatan yang maksimal juga. Perawatan selama di rumah harus sempurna dan maksimal agar hipospadia dapat benar-benar sembuh dan tak mengganggu lagi.

  • Sesudah operasi, pakaikan 2 popok, 1 popok khusus untuk urin dari kateter dan 1-nya lagi adalah khusus untuk feses.
  • Penis harus selalu terjaga kebersihannya karena saat luka operasi terkena feses, ini akan menimbulkan masalah lain. Maka segera bersihkan menggunakan air bersih saat hal tersebut terjadi.
  • Pasca operasi, ada beberapa kasus di mana penderita mengalami demam, atau bahkan penis mengeluarkan nanah. Ada juga yang mengalami tak keluarnya urin dari kateter selama 1 jam lebih atau terjadi rembesan urin dari area penis yang lainnya. Untuk itu, segera hubungi dokter bila mengalami masalah-masalah semacam ini.
  • Pasca operasi, ada kemungkinan untuk penderita mengalami perdarahan secara terus-menerus di mana darah keluar dari area penis tersebut. Segera bawa ke instalasi gawat darurat untuk penanganan yang cepat.

(Baca juga: obat infeksi saluran kemih bahaya infeksi saluran kencing)

Itulah sedikit informasi mengenai hipospadia, mulai dari kemungkinan penyebab dan faktor risiko, gejala, hingga bahaya serta penanganannya. Sekalipun ada komplikasi yang cukup mengerikan, operasi untuk hipospadia rata-rata berjalan sukses, baik saat pelaksanaan maupun kondisi pasca operasi.