Kematian Mendadak – Penyebab, Gejala dan Penanganan

5683

Kematian mendadak yang terjadi pada seseorang yang dekat dengan kita, maupun keluarga kita. Tentu saja merupakan suatu hal yang sangat mengejutkan dan yang tak terduga oleh kita sebelumnya. Kematian mendadak bisa terjadi pada siapa saja, baik anak-anak, dewasa, maupun orang tua.

Berikut ini beberapa kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan terjadinya kematian mendadak pada seseorang :

A. Berhentinya fungsi jantung

Kematian MendadakJantung merupakan salah satu organ vital untuk kelangsungan hidup manusia, dimana ia memiliki tugas dan fungsi yang sangat penting bagi tubuh yang tidak pernah berhenti selama kehidupan masih berlangsung. Diantara fungsi jantung tersebut antara lain adalah untuk memompa aliran darah yang nantinya akan disebarkan ke seluruh organ tubuh. Pada saat fungsi dari oran jantung terhenti, maka hal tersebut dapat mengakibatkan seseorang mengalami kematian mendadak.

Beberapa penyebab berhentinya fungsi jantung diantaranya adalah :

1. Hypertrophic cardiomyopathy (HCM)

Yaitu ini adalah penyakit gangguan jantung yang terjadi di mana otot jantung (miokardium) mengalami penebalan yang abnormal. Hal ini berakibat terhambatnya fungsi jantung untuk memompa darah yang nantinya akan disebarkan ke seluruh tubuh. Dalam beberapa kasus, penebalan otot jantung dapat menjadi penyebab dada sesak, nyeri dada atau masalah pada sistem listrik jantung yang menjadikan irama jantung (aritmia) menjadi abnormal. Gangguan ini merupakan penyebab kematian mendadak yang umum terjadi pada orang-orang usia dibawah 30 tahun, misalnya pada para atlet.

Tanda-tanda Hypertrophic cardiomyopathy, diantaranya adalah :

  • Terjadinya sesak napas dan rasa nyeri pada dada terutama pada saat sedang melakukan kegiatan olahraga.
  • Mengalami pingsan terutama selama atau setelah melakukan kegiatan yang menguras tenaga seperti berolahraga
  • Detak jantung yang abnormalatau terlalu cepat
  • Timbulnya jantung murmur yang biasanya terdeteksi pada saat dokter mencoba mendengarkan detak jantung.

Penyebab Hypertrophic cardiomyopathy :

Gangguan ini bisa disebabkan oleh tidak normalnya mutasi gen yang menyebabkan otot jantung mengalami penebaan yang abnormal. Penderita gangguan ini mengalami pengaturan sel-sel jantung yang abnormal.

  1. Obstructive hypertrophic cardiomyopathy – Kebanyakan pasien kardiomiopati hipertrofik mengalami pembesaran area dinding (septum) antara dua ruang bawah jantung (ventrikel), sehingga menghambat aliran darah keluar dari jantung.
  2. Non obstruktif hypertrophic cardiomyopathy – Gangguan hypertrophic cardiomyopathy terkadang juga dapat disebabkan karena ventrikel kiri (ruang pompa utama jantung) menjadi kaku, sehingga dapat mengurangi jumlah darah yang dipompa ventrikel untuk nantinya akan dissebarkan kembali ke seluruh tubuh

2. Kelainan arteri koroner (Serangan jantung mendadak)

Merupakan cacat dalam satu atau lebih dari arteri koroner jantung yang biasanya terjadi sejak lahir

Penyebab

Penyebab pasti terjadinya gangguan ini belum dapat diketahui. Namun ada banyak cara pengembangan gangguan ini pada janin. Beberapa penyakit jantung bawaan seperti trunkus arteriosus persisten, transposisi arteri besar, paru katup atresia, dan tetralogi Fallot dikaitkan sebagai faktor penyenab gangguan ini. Namun beberapa penelitian juga menyatakan bahwa gangguan jantung ini dapat diakibatkan karena faktor keturunan.

Karena fungsi dari arteri koroner adalah untuk mensuplai darah yang kaya oksigen ke otot jantung, maka terjadinya cacat pada arteri koroner dapat mengurangi jumlah pasokan oksigen dan nutrisi pada organ tersebut. Gangguan ini dapat menyebabkan iskemia miokard (kurangnya darah ke otot jantung) serta kematian mendadak.

Gejala yang mungkin ditimbulkan dari gangguan arteri ini adalah :

  • Masalah pernapasan
  • Kulit pucat
  • Pola makan yang buruk
  • Sering berkeringat
  • Mengalami pingsan pada saat sedang melakukan latihan (olahraga)
  • Sesak napas pada saat istirahat atau selama latihan
  • Kelelahan
  • penyebab dada sakit (nyeri) pada saat istirahat atau selama latihan

Diagnosa

  • Ekokardiografi, untuk menunjukkan ukuran jantung dan kerusakan otot jantung
  • Magnetic resonance imaging (MRI), untuk menunjukkan gambar jantung secara rinci, termasuk arteri koroner untuk melihat kemungkinan timbulnya gangguan ini.
  • Magnetic resonance angiography (MRA), untuk mengevaluasi aliran darah melalui arteri.
  • Angiography, untuk mendapatkan tampilan yang sangat rinci dari gangguan ini.
  • Transesophageal echocardiography, untuk mendapatkan gambar jantung dari dalam kerongkongan bukan melalui dinding dada.
  • Computed tomography (CT) scanning, untuk mendapatkan gambar arteri koroner lebih jelas.
  • Tes pencitraan, untuk melihat aliran darah ke jantung.

Pengobatan

  • Perubahan gaya hidup yaitu dengan menghindari atau mengurangi olahraga yang terlalu berat .
  • Penggunaan obat-obatan seperti Beta-blocker, diuretik, obat antiaritmia, terapi oksigen, Percutaneous coronary interventions.
  • Prosedur operasi

3. Long QT syndrome

Merupakan gangguan irama jantung bawaan yang dapat menyebabkan detak jantung menjadi lebih cepat atau abnormal. Detak jantung yang cepat dapat disebabkan oleh perubahan organ jantung yang dapat menyebabkannya pingsan, serta dapat mengancam jiwa.

Gejala :

  • Sering mengalami pingsan, baik pada saat senang, marah, maupun pada saat melakukan kegiatan fisik seperti berolahraga
  • Kejang yang dikarenakan denyut jantung yang abnormal, serta minimnya supai oksigen
  • Kematian mendadak

Penyebab :

  • Prolonged Q-T interval, yaitu suatu kondisi dimana organ jantung memerlukan waktu yang lebih lama dari biasanya untuk melakukan pemompaan darah.
  • Mewarisi long QT syndrome, yaitu terjadinya mutasi gen yaitu sekitar 12 jenis gen yang terkait sindrom QT.
  • Acquired long QT syndrome, yaitu sindrom QT yang bisa disebabkan oleh penggunaan obat-obatan seperti antidepresan, antihistamin, diuretik, obat jantung, obat penurun kolesterol tinggi, obat diabetes, serta beberapa antijamur dan obat antipsikotik.

Diagnosa :

  • Elektrokardiogram (EKG), untuk memonitor gelombang impuls listrik di jantung
  • Pemantauan EKG rawat jalan, untuk memonitor jantung dan adanya penyimpangan irama selama pasien melakukan aktivitas normal untuk periode 24 jam tanpa gangguan.
  • A nonexercise (medication) stress test, yaitu penggunaan obat intravena untuk memonitor efek adrenalin
  • Electroencephalogram (EEG), untuk mengukur gelombang aktivitas listrik otak serta untuk menemukan penyebab neurologis terjadinya pingsan.
  • Pengujian genetik, untuk mengetahui adanya faktor keturunan yang menjadi penyebab sindrom tersebut.

Pengobatan :

  • Penggunaan obat-obatan seperti beta blocker, mexiletin, potasium, maupun minyak ikan.
  • Prosedur operasi yang umumnya diperuntukkan bagi pasien yang dianggap berisiko tinggi mengalami kematian mendadak.
  • Perbahan gaya hidup, seperti menghindari melakukan kegiatan olahraga berat, hal-hal yang bisa mengejutkan pasien, maupun tinggal jauh dari situasi yang bisa membuat pasien cepat marah.

B. Pecahnya pembuluh darah dalam tubuh

Pecahnya pembuluh darah dalam tubuh manusia dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya kematian mendadak. Hal tersebut terjadi apabila pembuluh darah yang pecah menimpa pada organ-organ vital dalam tubuh. Adapun penyebab pecahnya pembuluh darah antara lain adalah :

1. Aneurisma

Merupakan suatu kondisi dimana terjadi kelainan pada pembuluh darah yang ada di otak akibat adanya penipisan serta degenerasi dinding pembuluh darah arteri.

Penyebab :

Gejala :

  • Timbulnya rasa nyeri pada kepala secara tiba-tiba
  • Kejang
  • Penurunan kesadaran
  • Mual dan muntah
  • Leher terasa kaku
  • Penglihatan menjadi kabur
  • Lebih sensitif terhadap cahaya
  • Terjadinya kelumpuhan seperti stroke
  • Rasa nyeri pada wajah
  • Kelopak mata sulit untuk dibuka

Diagnosa :

  • Angiografi, untuk memeriksa pembuluh darah yaitu dengan menggunakan sebuah alat yang disebut kateter atau selang yang dimasukkan ke pembuluh darah.
  • CT Scan serta MRI untuk mendiagnosa gangguan lebih lanjut.

Pengobatan :

  • Tindakanclipping aneurysm, yaitu prosedur pembedahan untuk menangani pasien aneurisma yaitu dengan memasang clip pada leher pasien.
  • Tindakan Coiling, yaitu teknik pengobatan aneurisma dengan penggunaan radiologi intervensi yaitu dengan memasukkan coil untuk menyumbat aneurisma.

2. Hipertensi

Merupakan suatu kondisi dimana darah yang dipompa oleh jantung memiliki kecepatan serta kekuatan yang abnormal.

Penyebab :

  • Stress
  • Kebiasaan merokok
  • Obesitas (kegemukan)
  • Kurang gerak
  • Mengkonsumsi alkohol
  • Konsumsi kalium serta garam yang terlalu tinggi
  • Faktor usia
  • Faktor keturunan

Gejala :

  • Kepala pusing
  • Mudah lelah
  • Hilangnya keseimbangan tubuh
  • Telinga berdenging
  • Vertigo
  • Pingsan tiba-tiba

Diagnosa :

Untuk mendiagnosa gangguan ini dokter akan melakukan tes tekanan darah ambulatory, untuk memantau tekanan darah pasien setiap hari. Hasil tes tersebut akan dapat menunjukkan apakah pasien memiliki darah rendah, normal, atau darah tinggi.

Pengobatan :

Beberapa tipe pengobatan mungkin akan dilakukan untuk mengatasi adanya hipertensi, seperti :

  • Penggunaan obat-obatan seperti Thiazide diuretics, Beta blockers, Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors, Angiotensin II receptor blockers (ARBs), Calcium channel blockers, serta Renin inhibitors.
  • Mengubah gaya hidup seperti berhenti merokok, mengurangi asupan garam, berolahraga secara teratur,maupun menurunkan berat badan.

C. Epilepsi atau ayan

Epilepsi Merupakan suatu kondisi terganggunya aktivitas sel-sel sistem saraf pusat  pada otak yang dapat mengakibatkan penderita mengalami kejang yang terkadang disertai dengan kehilangan kesadaran pada penderita tersebut.

Penyebab Epilepsi antara lain adalah :

  • Faktor genetik atau faktor keturunan
  • Pernah mengalami trauma atau cidera di bagian kepala
  • Kondisi otak, seperti karena adanya tumor maupun komplikasi stroke
  • Karena beberapa penyakit menular karena infeksi, seperti meningitis maupun ensefalitis virus AIDS
  • Cidera prenatal
  • Gangguan perkembangan seperti autisme dan neurofibromatosis.

Gejala Epilepsi :

  • Timbulnya kebingungan sementara
  • Tatapan mata yang tajam dan kosong
  • Timbulnya gerakan menyentak tak terkendali pada lengan dan kaki
  • Kehilangan kesadaran

Diagnosa :

  • Pemeriksaan neurologis, untuk menguji perilaku, kemampuan motorik, serta fungsi mental pasien.
  • Tes darah, untuk memeriksa tanda-tanda infeksi, kondisi genetik, maupun kondisi lain yang berhubungan dengan kejang.
  • CT scan, untuk menemukan kelainan pada otak penyebab kejang, seperti tumor, pendarahan dan kista.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI), untuk mendeteksi lesi atau kelainan di otak pasien yang menjadi penyebab kejang
  • Fungsional MRI (fMRI), untuk mengidentifikasi lokasi dari beberapa fungsi penting tubuh, seperti berbicara dan gerakan, sehingga ahli bedah dapat menghindari melukai tempat-tempat tersebut selama melakukan operasi.
  • Tomografi emisi positron (PET), untuk membantu memvisualisasikan daerah aktif otak dan mendeteksi kelainan
  • Emisi foton tunggal computerized tomography (SPECT), untuk memberikan hasil yang lebih rinci mengenai aktivitas peredaran darah ke otak selama pasien mengalami kejang.
  • Tes neuropsikologi, untuk menentukan lokasi bagian otak sebagai sumber kejang

Pengobatan :

  • Menggunakan obat-obatan anti epilepsi
  • Prosedur operasi untuk mencegah penyebaran area terjadinya kejang
  • Prosedur terapi, seperti stimulasi saraf vangus, maupun diet ketogenik.

D. Cidera kepala

Cidera kepala seringkali terjadi pada saat terjadi kecelakaan dengan kendaraan bermotor. Hal ini juga dapat menimbulkan terjadinya kematian mendadak. Untuk mengantisipasi timbulnya berbagai jenis kondisi kesehatan yang mungkin dapat menyebabkan terjadinya kematian mendadak, maka sebaiknya kita melakukan antisipasi sejak dini dengan melakukan beberapa langkah berikut :

  1. Selalu membiasakan menjalani gaya hidup sehat, seperti menjaga asupan makan, berolahraga, istirahat yang cukup, menjaga berat badan, menjaga tekanan darah, dan lain sebagainya.
  2. Melakukan Medical check up secara berkala untuk pemeriksaan kesehatan.
  3. Selalu berusaha untuk cepat tanggap, siaga, serta tidak menganggap remeh apabila mengalami keluhan-keluhan kesehatan
  4. Selalu memperhatikan keselamatan diri pada saat beraktivitas, misalnya pada saat mengendarai kendaraan bermotor harus selalu menggunakan helm yang memenuhi standar keselamatan.