Home Merk Obat A-ZMerk Obat A Adacel – Fungsi Obat – Obat Apa – Dosis Dan Efek Samping

Adacel – Fungsi Obat – Obat Apa – Dosis Dan Efek Samping

by Virlyana , S. Farm

Obat apakah Adacel itu?

Adacel merupakan obat berbentuk vaksin yang digunakan untuk imunisasi pencegahan penyakit difteri, penyakit tetanus, batuk rejan dan beberapa infeksi lain.

Setiap sedian Adacel 0,5 ml yang dimanufaktur oleh Sanofi Pasteur memiliki kandungan zat aktif berupa :

  •  Difteria Toxoid
  •  Tetanus Toxoid

Komponen-komponen pertussis yang terdiri dari fimbrial agglutinogens 2+3 5 mcg, pertactin 3 mcg, filamentous  haemagglutinin 5 mcg, pertussis toxoid 2.5 mcg.

Tentang zat aktif dan fungsinya

Adacel yang merupakan obat dengan golongan yang harus digunakan dengan resep dokter terdiri dari tiga komponen zat aktif utama yaitu

  • Vaksin difteri atau difteria toxoid yang berfungsi melawan bakteri penyebab difteri pada anak dan dewasa yaitu Corynebacterium diphtheria. Pemberian vaksin bisa dimulai ketika usia bayi menginjak enam minggu pertama. Vaksin jenis ini memiliki masa efektif sekitar sepuluh tahun, setelah itu diperlukan pemberian dosis booster.
  • Vaksin tetanus atau tetanus toxoid yang berfungsi untuk mencegah penyakit tetanus. Untuk pemberian awal biasanya diberikan lima dosis pada masa kanak-kanak. Dosis keenam diberikan pada masa remaja dan dosis tambahan disarankan setiap sepuluh tahun. Untuk pasien yang vaksinasi tidak lancar maka wajib mendapatkan tetanus booster dalam kurun waktu 48 jam setelah mendapatkan luka.
  • Vaksin pertussis yang berfungsi mencegah manusia dari penyakit batuk rejan. Vaksin jenis ini memiliki dua bentuk utama yaitu acellular vaccines dan whole-cell vaccines. Untuk acellular vaccines memiliki efektifitas lebih tinggi yaitu hingga 85% sedangkan whole-cell vaccines hanya memiliki tingkat efektifitas hingga 78% saja. Meski begitu, penurunan tingkat efektifitas pada acellular vaccines justru lebih cepat terjadi. Karena efek sampingnya yang kecil, acellular vaccines ini lebih banyak digunakan pada Negara-negara maju.

Indikasi

Seperti yang telah dibahas di atas, kegunaan Adacel adalah sebagai vaksin yang digunakan untuk imunisasi booster aktif pada pencegahan difteri, tetanus dan penyakit batuk rejan atau pertussis pada anak usia 4, 6, 11 tahun atau lebih. Oleh karena itu, vaksin satu ini tidak bisa digunakan untuk mengobati infeksi pada pasien yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtheria, Clostridium tetani dan Bordetella pertussis.
Adacel dapat dipertimbangkan sebagai pilihan lain dosis kelima untuk tetanus, difteri dan penyakit batuk rejan pada anak-anak dengan rentang usia 4 hingga 6 tahun.
Adacel sendiri tidak boleh diberikan kepada anak-anak dengan usia di bawah empat tahun.

Mekanisme kerja

Adacel bekerja dengan menghasilkan antibodi untuk mencegah bahaya tetanus, difteri dan pertusis. Menghambat pertumbuhan bakteri hingga memproduksi antibodi untuk membunuh bakteri.

Dosis

Dosis Adacel yang direkomendasikan adalah 0,5 ml dan diberikan lewat suntikan secara intramuskular pada otot deltoid. Adacel diberikan pertama kali sebagai suntikan booster mencegah tetanus, difteri dan pertussis.
Pengulangan pemberian Adacel biasanya dilakukan dengan jarak 5 hingga 10 tahun.
Pemberian Adacel di bawah dosis yang sudah direkomendasikan sangat tidak disarankan karena efektifitas dan keamanannya belum diketahui.

Kontra Indikasi

Adacel tidak boleh diberikan pada pasien dengan riwayat hipersensitif terhadap salah satu komponen yang terkandung di dalam vaksin. Atau pada kasus di mana pada pemberian Adacel sebelumnya, pasien mengalami reaksi yang membahayakan jiwanya. Oleh karena itu, sebelum menerima imunisasi, pasien sebaiknya menjalani salah satu tes dari cara tes alergi yang ada terlebih dahulu. Berikut beberapa kondisi pasien di mana Adacel sebaiknya tidak diberikan yaitu pasien dengan kesadaran menurun hingga koma dan enselopati.

Perhatian

  • Sebelum pemberian Adacel, pasien sebaiknya menginformasikan kepada dokter atau tenaga kesehatan yang menangani mengenai riwayat obat-obatan yang sedang dikonsumsi hingga riwayat penyakit yang dimiliki seperti riwayat alergi dan penyakit-penyakit lainnya. 
  •  Dilakukan peninjauan terhadap riwayat imunisasi sebelumnya hingga adanya kemungkinan kontraindikasi sebelum imunisasi dilakukan.
  • Adacel sama halnya dengan vaksin lain yang pernah ada, tidak dapat menjamin perlindungan 100% kepada pasien atau orang yang menerima vaksin.
  • Adacel tidak boleh diberikan pada pasien dengan epilepsi yang tidak terkontrol, kelainan neurologis yang bersifat progresif, atau enselopati yang progresif hingga rejimen obat sudah diberikan, kondisi telah stabil dan sisi manfaat yang diperoleh lebih besar dari resiko yang mungkin terjadi
  • US Institute of Medicine atau IOM menunjukkan bukti bahwa ada semacam hubungan neuritis brakialis, syndrome Guilian-Barre (GBS) dan toksoid tetanus. Jika GBS terjadi dalam waktu enam minggu setelah pemberian vaksin toksoid tetanus, maka dalam hal ini pemberian Adacel harus didasari pada pertimbangan seksama akan manfaat yang didapatkan hingga faktor resiko yang mungkin saja terjadi.
  • Terdapat beberapa kasus kelumpuhan yang terjadi pada sistem saraf pusat, mononeuropati cranial dan mononeuropati perifer setelah pemberian vaksin yang mengandung toksoid difteri dan atau toksoid tetanus. Meski begitu, IOM menolak untuk menarik kesimpulan adanya hubungan antara kondisi ini dengan pemberian vaksin Adacel.
  • Adacel tidak boleh diberikan melalui rute selain yang direkomendasikan yaitu intramuskular. Jadi rute seperti subkutan, intradermal hingga intravascular sangat dihindari.
  • Jika pasien sedang terserang demam atau penyakit akut lainnya, pemberian Adacel sebaiknya ditunda. Namun pada gejala demam ringan biasanya Adacel dapat diberikan.
  • Pada wanita hamil dan menyusui sebaiknya pemberian Adacel dipertimbangkan dengan seksama.

Efek samping

Ada beberapa efek samping yang biasanya ditimbulkan setelah pemberian Adacel antara lain,

  • Gangguan pada tempat disuntikannya obat berupa pembengkakan. Pada rentang 24-72 jam setelah pemberian, beberapa remaja hingga orang dewasa dilaporkan mengalami reaksi ini. Biasanya pembengkakan diikuti rasa nyeri jika ditekan pada situs injeksi hingga rasa panas dan eritema. Namun reaksi satu ini biasanya sembuh secara spontan dalam 3 hingga 5 hari.
  • Gangguan pada sistem kekebalan tubuh
    Pada beberapa pasien biasanya mengalami reaksi hipersensitivitas, edema, ruam, angiodema hingga hipotensi.
  • Gangguan pada jaringan subkutan dan kulit berupa urtikaria dan pruritus
  • Gangguan pada sistem saraf mulai dari kelumpuhan wajah, kejang, paraesthesia, hypoesthesia, syndrome Guillain-Barre, neuritis brakialis hingga myelitis.
  • Gangguan pada jantung seperti miokarditis
  • Gangguan pada jaringan musculoskeletal seperti kejang otot dan myostitis.

Selain gangguan di atas, pada beberapa orang dilaporkan terjadi reaksi mual, muntah, sakit kepala hingga demam.
Jika mengalami efek samping yang disebutkan di atas dan terjadi dalam waktu yang cukup lama, pasien sebaiknya segera menghubungi dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Interaksi dengan obat lain

Penggunaan terapi immunosupresan dapat menghambat perkembangan respon imun yang dibutuhkan.
Adacel juga sebaiknya tidak diberikan bersamaan dengan obat-obatan kortikosteroid, sitotoksik dan anti metabolit.
Adacel boleh diberikan bersamaan dengan vaksin hepatitis B dan vaksin influenza inaktif pada anak dalam rentang usia 11 sampai 12 tahun.

Dampak pada kehamilan

Pada kondisi ibu hamil hingga menyusui, Adacel sebaiknya tidak diberikan. Hal ini dikarenakan hasil studi percobaan pada hewan telah menunjukkan reaksi yang tidak diinginkan pada janin atau biasa disebut efek teratogenik. Meski pada dasarnya, vaksin Adacel ini tidak aktif sehingga resiko terhadap janin atau embrio hampir mungkin tidak terjadi. Tetapi pemberian Adacel pada ibu hamil sebaiknya dihindari kecuali dapat dipastikan tidak adanya resiko ibu atau janin menderita pertusis. Adacel hanya dapat diberikan jika setelah dipertimbangkan, manfaat yang didapat lebih besar dari pada resiko terhadap janin.

Sebagai obat dengan logo K yang artinya obat keras, Adacel berpotensi menimbulkan bahaya penggunaan obat tanpa resep dokter. Jadi, jika Anda ingin mendapatkan Adacel, berkonsultasilah terlebih dahulu dan minta resep pada dokter Anda. Pemberian vaksin ini juga harus dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis yang berwenang. Sehingga manfaat yang didapat bisa maksimal dan resiko yang terjadi bisa diminimalisir sejak dini.

You may also like