Dikira Sembelit Biasa Hingga Serangan Jantung, Balita Ini Meninggal Karena Kanker Usus

88

Anak-anak apalagi usia balita sudah biasa mengalami sembelit atau susah BAB dan kerap dianggap hal yang wajar. Namun sebenarnya, para orangtua juga wajib untuk khawatir serta curiga apabila sembelit terjadi terus-menerus apalagi sampai anak tidak BAB berhari-hari. Ini bisa jadi tanda penyakit mematikan seperti yang dialami oleh Francesca Sio, anak usia 3 tahun asal Kent, Inggris.

Dokter memang telah memulangkan bocah ini namun empat hari setelahnya anak ini justru meninggal di mana dokter menyebut bahwa kondisi serangan jantunglah penyebabnya. Hanya saja, petugas medis terungkap mendapati adanya tumor berukuran 5 cm pada usus Sio. Tumor itulah yang menjadi faktor terjadinya sumbatan pada usus bocah tersebut.

Bukan karena sembelit biasa ataupun serangan jantung, John dan Lorraine sebagai orangtua mendapat informasi lebih lanjut mengenai kondisi anak mereka yang telah tiada. Seorang dokter senior memberi tahu kepada mereka bahwa Sio menderita hal yang jarang, bukan serangan jantung mendadak atau semacamnya, melainkan kanker ususlah yang menyebabkan kematiannya.

Dilansir dari The Sun, John ayah Sio pun mengungkapkan kemarahannya dan bercerita bahwa awalnya ia mendapati Sio demam yang tak kunjung sembuh ditambah sembelit sehingga membawa sang buah hati ke dokter. Sang dokter tak mengatakan apapun selain memberi resep obat pencahar dan memperbolehkan Sio untuk pulang.

6 hari kemudian bukannya bertambah baik, justru keadaan Sio makin buruk dan saat dibawa ke rumah sakit lain hasilnya pun sama saja. Dokter hanya mendiagnosanya terkena sembelit, itu saja sehingga perawat di sana memberi obat padat yang harus dimasukkan ke dubur atau istilahnya supositoria. Sayangnya, obat tersebut tak mempan.

Resep obat pencahar pun lagi-lagi diberikan meski oleh dokter yang berbeda. Namun sayangnya, kali ini nyawa Sio justru tak tertolong dan harus mengembuskan nafas terakhirnya setelah beberapa hari. Diketahui terdapat gumpalan darah yang ada hubungannya dengan kanker yang rupanya sudah menyebar sampai organ lainnya, termasuk paru-paru.

John mengungkapkan kekecewaannya terhadap para ahli medis yang ia sempat datangi bersama sang istri untuk memeriksa sang anak. Bukannya melakukan pemeriksaan secara teliti dan hati-hati, sejumlah dokter yang ia temui terlalu optimis bahwa kondisi Sia hanyalah kondisi ringan yang justru rupanya malah merenggut nyawa anak ini.

Susah buang air besar lebih baik jangan disepelekan apalagi jika hal ini terus berulang pada balita Anda. Agar dapat terdeteksi, pastikan untuk melakukan beberapa langkah berikut:

  • Memeriksakan anak ketika selain sembelit, ada gejala lain seperti berat badan turun, perdarahan di usus besar, perut sakit, feses keras atau lembek saat BAB, perut kembung, serta perut terasa penuh walau sudah BAB.
  • Menempuh pemeriksaan kolonoskopi supaya keadaan usus dapat dicek.
  • Bila tak ada tumor atau kanker ditemukan, itu tandanya saluran pencernaan terkena infeksi sehingga anak tak mau makan dan sembelit.
  • Tergantung dari tingkat keparahan kanker, operasi kemungkinan besar menjadi solusi pengobatan, begitu juga dengan radioterapi dan kemoterapi serta obat-obatan khusus.

Biasanya, kanker usus dapat terdeteksi dari awal apabila dilakukan pemeriksaan pemindaian atau skrining. Jika sebagai orangtua menemukan kejanggalan saat memeriksakan anak yang terus-terusan sembelit, mintalah kepada dokter melakukan skrining meski dokter tak menyuruh agar dapat mendeteksi kondisi sesungguhnya sejak dini.