Kolonoskopi – Metode, Fungsi dan Bahaya

3065

Kolonoskopi merupakan sebuah tindakan medis yang ada hubungannya dengan usus besar, yakni rektum dan kolon. Diketahui bahwa kolonoskopi ini adalah prosedur yang menggunakan alat dengan bentuk pipa untuk dimasukkan ke usus besar. Proses ini biasanya bertujuan untuk memeriksa eksistensi polip atau kecurigaan timbulnya kanker di dalam tubuh, khususnya bagian usus.

Prosedur dari kolonoskopi ini terbilang sangat penting karena menjadi salah satu dari prosedur pencegahan kanker. Tes diagnosa kolonoskopi ini sebetulnya tidak begitu memiliki reputasi yang baik atau menyenangkan, tapi ketika pasien benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan benar, tak banyak kesulitan yang akan dihadapi oleh pasien. Bahkan bila berhasil, tentunya ada jaminan bahwa pasien tak usah lagi menjalaninya.

(Baca juga: gejala infeksi usus – bahaya konsumsi jeroan bagi kesehatan)

Definisi Kolonoskopi

Pada dasarnya, kolonoskopi merupakan sebuah tindakan rawat jalan untuk pemeriksaan bagian dalam usus besar. Proses pun dilakukan dengan peneropongan lewat kamera yang ada pada alat khusus untuk dimasukkan ke dalam usus besar. Dari situlah dokter mampu menilah adanya masalah di dalam pencernaan, seperti perdarahan pada dubur dan sakit perut.

Ahli pencernaan adalah yang biasanya akan melakukan kolonoskopi dan menggunakan alat yang bernama kolonoskop atau teropong usus. Kolonoskop sendiri adalah alat yang bentuknya tabung panjang, lentur dan tipis di mana ini melekat di sebuah kamera berukuran kecil dan dihubungkan pada layar TV.

Gastroenterologis adalah nama atau sebutan untuk seorang ahli saluran pencernaan, dan dengan memanfaatkan beragam kontrol pada perangkat khusus, dokter ahli ini akan memandu alat yang sudah dimasukkan untuk memeriksa dan menyelidiki gejala pada usus besar. Dari proses ini, dokter juga baru bisa menentukan potensi penyebab gejala yang dirasakan pasien di saluran pencernaan.

Bila Anda pernah mendengar tentang sigmoidoskop, maka ini merupakan varian yang lebih pendek dari kolonoskop dan biasanya dokter memanfaatkannya untuk mendeteksi masalah yang lebih khusus. Sigmoidoskop ini pada umumnya lebih digunakan untuk masalah terbatas yang berada di bagian bawah usus besar.

(Baca juga: obat infeksi usus)

Persiapan dan Metode Kolonoskopi

Sebelum kita masuk ke poin cara kerjanya, perlu juga untuk mengetahui apa saja langkah yang harus ditempuh untuk mempersiapkan diri sebelum menjalani prosedurnya. Di bawah ini merupakan hal-hal yang sangat perlu diperhatikan dan dilakukan untuk membuat prosesnya nanti berhasil dan sempurna.

  1. Tujuan Kolonoskopi

Tersedianya kolonoskopi sebetulnya sangat membantu banyak orang dan ini juga merupakan salah satu teknologi terbaik untuk pasien bisa menerima kepastian ada tidaknya pertumbuhan kanker maupun prakanker atau polip pada organ usus besar. Ketika dideteksi atau terdiagnosa dari awal, maka perawatan yang dibutuhkan pun akan menjadi jauh lebih cepat juga.

Dengan perawatan yang juga diberikan sedari awal, ini otomatis secara efektif akan mencegah perkembangan dari sel kanker untuk bertumbuh ke tahap berikutnya. Pada orang-orang tua yang usianya sudah ada 50 tahun lebih dan memiliki potensi terkena kanker usus besar dianjurkan untuk menempuh metode kolonoskopi lebih sering. Sementara itu, yang risikonya lebih kecil pun tetap harus memeriksakan diri paling tidak 10 tahun sekali.

Orang-orang yang perlu sering-sering menjalani kolonoskopi adalah:

  • Yang beriwayat polip atau kanker usus besar.
  • Yang beriwayat keluarga ada yang menderita kanker usus besar.
  • Yang beriwayat penyakit radang usus atau penyakita Crohn.
  • Yang merupakan keturunan kanker usus non-poliposis.
  • Yang dengan poliposis familial adenomatosa.

Karena dokter perlu tahu apa yang menjadi riwayat kesehatan tertentu yang pernah atau tengah diderita pasien, maka perlu juga bagi pasien untuk memberi tahu apa saja obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Dokter biasanya akan meminta pasien untuk menghentikan konsumsi obat-obatan tersebut beberapa hari sebelum kolonoskopi dilakukan.

Meski pada beberapa kasus Anda tetap bisa mengonsumsi obat-obatan yang sedang dikonsumsi, namun kebanyakan dokter akan tetap melaang Anda untuk mengonsumsinya supaya proses kolonoskopi nantinya bisa jauh lebih optimal. Tak hanya obat-obatan, beberapa suplemen pun dapat mengganggu tes, jadi perhatikan obat dan suplemen apa saja yang perlu dihentikan konsumsinya seperti di bawah ini:

  • Obat tekanan darah.
  • Aspirin
  • Obat pengencer darah.
  • Obat anti-inflamasi.
  • Suplemen minyak ikan.
  • Obat diabetes.
  1. Persiapan Tubuh dan Rencana untuk Hari-H

Perlu dan pentingkah pasien untuk mempersiapkan tubuh sebelum kolonoskopi dimulai? Ya, tentu saja. Saat sudah bertemu dengan dokter di awal, diskusi akan meliputi kolonoskopi berikut juga instruksi bagi pasien untuk mempersiapkan diri dengan benar sebelum tesnya dimulai. Biasanya, pasien tak akan diperbolehkan untuk makan makanan padat dan cairan yang harus diminum pun ditentukan.

Persiapan tersebut wajib untuk ditaati oleh setiap pasien yang hendak menjalani kolonoskopi supaya usus besar benar-benar dalam keadaan kosong dan bersih saat diperiksa. Ketika pasien melanggar dan malah makan atau minum cairan yang bukan seperti disarankan dokter, maka kamera tak akan mampu menampilkan keadaan usus secara jernih.

Saat kamera gagal menampilkan secara jelas, risikonya pasien harus mengulangi kembali kolonoskopi di lain waktu yang tentunya malah akan lebih merepotkan. Jadi, ingatlah bahwa mengonsumsi camilan saja akan membuat tes kolonoskopi batal. Memang berpuasa adalah hal yang berat, apalagi sehari sebelumnya, namun hasilnya nanti akan memuaskan dan tak perlu diulang.

Proses pun bakal dilakukan secara cepat ketika keadaan perut atau usus besar bersih. Jika ingin lebih mudah, cobalah untuk mempersiapkan diri 1 minggu sebelumnya dengan membuat porsi makan menjelang hari-H lebih sedikit dari hari biasanya. Cara ini akan sangat membantu Anda mempersiapkan diri jauh lebih baik dan mudah.

Ada jenis-jenis makanan atau cairan yang perlu disantap oleh pasien namun ditentukan oleh dokter, alias tak boleh sembarangan. Cairan yang masuk ke dalam tubuh pun disarankan untuk yang berwarna bening, seperti:

  • Kaldu ayam.
  • Kopi atau teh tanpa tambahan susu.
  • Air putih.
  • Jus apel yang tanpa ampas.
  • Madu
  • Permen keras.
  • Es loli.
  • Minuman olahraga bening.
  • Minuman soda.
  • Sayur bening.

(Baca juga: penyebab feses berwarna hitam – perut terasa penuh)

Bila sudah mengetahui makanan atau cairan bening apa saja yang bisa dikonsumsi, Anda pun perlu mengetahui makanan serta minuman apa yang menjadi pantangan sebelum kolonoskopi. Yang paling dilarang oleh dokter adalah makanan padat atau cairan buram. Hindarilah cairan yang ada ampasnya, bahkan susu pun tak diperbolehkan; berikut ini detilnya.

  • Sayur
  • Biji-bijian
  • Buah
  • Daging
  • Sup yang ada potongan makanannya.
  • Produk susu, seperti keju maupun susu kocok dan olahan susu lainnya.
  • Jus buah yang tidaklah tembus pandang alias buram, seperti jus nanas, jus jeruk dan jus buah lainnya.
  • Smoothie yang juga merupakan campuran buah serta sayur.

Setiap kali makan, minumlah minimal cairan bening 4 gelas. Minimal 236-298 ml cairan bening yang perlu untuk Anda konsumsi setiap kali sehabis sarapan, makan siang serta makan malam tepat 1 hari sebelum kolonoskopi dijalani. Anda boleh-boleh saja mengonsumsi segelas kopi tanpa ampas dan tanpa tambahan susu, 2 gelas air putih dan 1 gelas jus apel untuk sarapan.

Alternatif lainnya adalah meminum 1 gelas kaldu bening, 1 gelas minuman olahraga, serta 1 gelas air untuk makan siang. Mengonsumsi camilan juga boleh, asalkan itu permen bening yang keras, agar-agar bening atau es loli. Sedangkan untuk menu makan malamnya, nikmatilah 1 gelas kaldu sayuran, 2 gelas air putih, dan juga 1 gelas teh.

Untuk makanan dan minuman sudah dibahas, namun persiapan tes juga meliputi pemberian obat oleh dokter di mana dokter akan memberikan pasiennya obat wajib minum di waktu tertentu, yakni jam 6 sore sehari sebelum kolonoskopi dilakukan. Obat ini merupakan obat persiapan dan fungsinya adalah sebagai pembersih usus untuk esok harinya.

Resep obat dari dokter tersebut akan diberikan terpisah di mana setengah perlu dikonsumsi malam hari dan setengahnya lagi pada saat hari-H di mana tes akan dilangsungkan. Dengan mengikuti petunjuk dokter berikut juga petunjuk yang ada pada kemasan obat, Anda bisa mengonsumsinya secara lebih tepat tanpa takut akan efeknya.

Pasca konsumsi obat pemberian dokter tersebut, biasanya ada efek yang didapat dan berkaitan dengan feses yang dikeluarkan. Feses yang keluar biasanya bakal kelihatan seperti cairan yang bening seperti cairan yang masuk ke dalam tubuh sebelumnya. Kalau demikian, ini kemudian menandakan bahwa obat persiapan telah bekerja secara maksimal.

Justru ketika feses yang keluar warnanya masih kelihatan keruh atau kecoklatan, obat persiapan tersebut belumlah bekerja di dalam tubuh Anda. Apabila warnanya adalah oranye dan bening atau cokelat dan bening, obat berarti sudah mulai bekerja karena sudah ada efek beningnya. Feses yang sudah kuning dan bening warnanya menandakan bahwa Anda sudah siap untuk ke rumah sakit menjalani kolonoskopi; biasanya warna persis dengan urin yang sehat.

Ketika sudah persiapan tubuh, Anda tetap perlu melakukan persiapan rencana untuk menempuh kolonoskopi di hari-H atau hari tesnya. Ketika gejala radang usus besar mulai terjadi, jangan ragu untuk ke dokter supaya dokter bisa melakukan tes kolonoskopi secepatnya.

Jalannya proses kolonoskopi pada umumnya dilakukan pada pagi hari, sehingga akan jauh lebih baik untuk mengosongkan jadwal demi hendak menjalani tes ini. Karena dokter pun bakal memberikan obat kepada pasien untuk berisitirahat, pasien rata-rata akan merasakan kantuk luar biasa sehingga akan sangat berbahaya apabila melakukan rutinitas seperti biasanya.

Ketika Anda hendak beraktivitas dan butuh untuk pergi-pergi, sebaiknya pun mintalah seseorang untuk mengantarkan maupun menjemput Anda. Tak masalah untuk ambil waktu libur 1 hari supaya persiapan makin maksimal dan hasil kolonoskopi juga sempurna. Paling tidak, Anda yang sibuk bisa juga meluangkan 1-2 jam untuk mengistirahatkan tubuh.

  1. Cara Kerja

Sesudah mengetahui tujuan dari kolonoskopi, penting juga untuk kemudian mengenal akan cara kerja dari proses kolonoskopi. Yang pertama-tama dokter akan lakukan adalah pemeriksaan dubur di mana dokter perlu memeriksa area sekitar dubur dan anal. Alat yang tadi sudah disebutkan berupa pipa akan dimasukkan oleh dokter melalui anus untuk menuju bagian dalam usus.

Kamera kecil ada di bagian ujungnya untuk melengkapi alat ini sehingga fungsinya dapat menampilkan kondisi usus besar, polip, maupun adanya perkembangan lainnya. Seperti halnya ketika operasi pada umumnya, pasien diminta untuk tidak makan apapun, atau biasanya tidak diperbolehkan makan makanan padat sehari sebelum kolonoskopi atau tepat pada hari prosedur hendak dilakukan.

Ketika usus besar dalam keadaan kosong atau tidak bekerja terlalu keras, maka kamera biasanya dipastikan mampu menunjukkan gambar usus besar secara lebih jelas lewat kamera pada alat tadi. Dokter pun tak ketinggalan memberikan obat pada pasien untuk merilekskan tubuh pasien selama prosedur kolonoskopi dijalankan.

Seperti operasi, obat tersebut adalah obat bius di mana akan memberikan efek tidak sadar pada pasien. Bahkan kebanyakan orang tak lagi mampu untuk mengingat kembali prosedur yang telah berlangsung sesudah efek obatnya hilang. Prosedur ini pada umumnya akan berlangsung selama setengah jam hingga 1 jam, jadi tak akan terlalu lama.

Selama prosesnya, dokter ahli biasanya akan memastikan bahwa pasien merasakan kenyamanan dan jangan khawatir karena banyak pasien sudah membuktikannya. Ketidaknyamanan tidak akan ada sama sekali atau sedikit saja walaupun Anda berpotensi memiliki keinginan untuk kram kecil dan buang air besar. Karena alatnya lentur serta bisa bergerak fleksibel mengitari lengkungan usus besar, Anda tak perlu takut.

Sesekali agar dokter lebih mudah meneropong, Anda akan diminta untuk merubah posisi demi mendorong alat agar pas dalam menampilkan bagian tertentu. Sejumlah kecil jaringan bakal diambil untuk biopsi atau analisis dengan melihatnya melalui teropong apabila didapati adanya kelainan.

Atau, jaringan bisa juga sepenuhnya dokter ambil ketika termasuk dalam kasus polip jinak. Pada kasus pendarahan anus, dokter akan mengambil contoh jaringan setelah mengenali situs perdarahan supaya bisa menilai dan kemudian mengobatinya. Peneropongan atau kolonoskopi ini rupanya sangat handal karena memberikan hasil diagnosa yang akurat tanpa memerlukan operasi.

(Baca juga: sariawan usus)

Fungsi Kolonoskopi

Tindakan pemeriksaan kolonoskopi ini dilakukan ketika seseorang hendak menentukan penyebab dari gejala-gejala penyakit ini:

  • Nyeri di bagian dubur.
  • Nyeri perut.
  • Perubahan kebiasaan buang air besar.
  • Diare kronis atau diare berkepanjangan.
  • Perdarahan usus besar.
  • Kehilangan banyak darah.

Proses atau tindakan umum satu ini juga banyak dokter gunakan untuk penyelidikan lebih lanjut akan kelainan pada tubuh seseorang yang sebelumnya sudah dikenali lewat CT scan maupun rontgen di usus besarnya. Bahkan dengan kolonoskopi ini jugalah, dokter bisa mengenali adanya kanker usus serta cara mengobati polip usus besar. Pasien dengan riwayat polip usus besar, kanker usus besar, dan kolitis ulseratif atau radang usus memang harus diperiksa dnegan langkah tes ini.

Para spesialis atau dokter ahli pencernaan pun melakukan metode kolonoskopi ketika hendak menghilangkan pertumbuhan mencurigakan di dalam tubuh pasiennya. Tanpa rasa sakit, pasien akan merasa lebih aman ketika proses ini dilakukan dan dari cara ini, dokter bisa mengambil contoh jaringan atau biopsi sehingga analisis lebih lanjut dapat ditentukan.

Kapan Pasien Perlu Melaksanakan Kolonoskopi?

Saat seseorang sudah mengalami ketidaknyamanan seperti timbulnya gejala-gejala penyakit dan gangguan pencernaan berkelanjutan, seperti sakit perut yang tak kunjung sembuh, penting untuk segera ke dokter. Dokter kemungkinan bisa memberikan Anda arahan untuk ke spesialis pencernaan apabila memang gejala sudah pada tahap parah.

Dokter ahli atau spesialis pencernaan bakal lebih jeli dalam melakukan penyelidikan demi menentukan apa pemicu gejala yang terjadi pada Anda. Gejala penyakit saluran pencernaan yang di level sedang sampai yang parah biasanya dianjurkan untuk diperiksa dengan kolonoskopi ini. Ketika ditemukan bahwa gejala lebih serius dari yang dibayangkan, kolonoskopi perlu dilakukan sering-sering.

(Baca juga: penyebab usus bocor – penyebab perut melilit dan mencret)

Efek Samping/Bahaya Kolonoskopi

Meski kelihatannya aman dan nyaman bagi pasien, tentu setiap tindakan medis selalu ada risikonya. Efek samping atau bahaya atau komplikasi dapat membayangi pasien dan hal ini perlu diketahui oleh setiap orang yang hendak melakukan jalur kolonoskopi. Pasca tindakan, biasanya pasien akan dibawa ke area perawatan dan pemulihan lebih dulu.

Tujuan dari pemindahan pasien ke area pemulihan adalah menunggu sampai efek dari obat penenangnya hilang total. Pada waktu ini, pasien akan sering merasakan kram atau pembuangan gas yang cukup cepat. Hal tersebut wajar, namun yang paling penting untuk diperhatikan adalah menghindari obat-obatan tertentu, seperti obat pengencer darah, khususnya apabila dokter telah menghilangkan polip atau contoh jaringan.

Selain itu, ada juga kemungkinan bagi pasien mengalami yang namanya pendarahan kecil di area polip atau contoh jaringan yang diambil. Anda tak usah khawatir karena pada umumnya, pendarahan ini hanya sementara saja. Dalam beberapa hari, pendarahan akan hilang dan tak usah khawatir.

Namun selalu ada komplikasi di dalam kolonoskopi sekalipun prosedurnya dianggap aman. Komplikasi yang terjadi pun tak sebesar dan seberbahaya yang Anda bayangkan dan cukup langka juga terjadi pada pasien. Komplikasi yang dimaksud antara lain adalah menusuk atau memotong dinding usus yang memang langka sehingga kemungkinannya termasuk sangat kecil.

Anda pun perlu memberi tahu dokter secepatnya ketika setelah proses kolonoskopi Anda mengalami perdarahan dubur yang berkelanjutan dan berlebihan. Apabila ditambah dengan sakit perut yang parah disertai juga dengan demam serta menggigil selama 2 minggu lebih. Meski komplikasi seperti ini terbilang jarang, tetap saja ada potensi untuk terjadi, jadi konsultasikan dengan dokter.

Ketika beberapa masalah komplikasi tampak atau mulai dirasakan, silakan untuk menemui dokter untuk mengatasinya. Pemeriksaan lebih lanjut pun sangat dibutuhkan berdasarkan dari hasil kolonoskopi. Metode yang akurat ini pun tetap saja memiliki bahaya dan komplikasi walaupun kecil, dan Anda perlu mengenali setiap bahayanya supaya terdeteksi dengan cepat.

(Baca juga: penyebab radang usus)

Perawatan

Bahkan bila dokter tak menyarankan secara spesifik dan mendetil, Anda bisa langsung kembali pada pola makan normal sesudah kolonoskopi. Hanya saja, yang paling tidak dianjurkan adalah kegiatan atau rutinitas di luar ruangan, mengemudi sendiri, mengonsumsi alkohol, serta mengendalikan mesin-mesin berat. Hal-hal tersebut adalah hal-hal yang perlu dihindari hingga 24 jam sesudah proses kolonoskopi dilakukan.

Risiko komplikasi akan makin tinggi ketika Anda tak menjaga tubuh dengan baik tepat pasca kolonoskopi. Hal-hal apa sajakah yang mampu membuat risiko komplikasi meningkat? Faktor-faktor di bawah ini menjadi ancaman bagi kesehatan Anda sehingga perlu diwaspadai:

  • Terapi radiasi yang mungkin didapat pada pengobatan sebelumnya.
  • Kolitis aktif, diverkulitis atau kondisi gangguan usus lain.
  • Pernah operasi perut sebelum melakukan kolonoskopi.
  • Memiliki penyakit ginjal maupun jantung.
  • Merokok

Hindari merokok dan aktivitas yang terlalu berat dan setelah kembali ke rumah pasca kolonoskopi, silakan untuk memastikan bahwa Anda mengikuti petunjuk dari dokter. Minumlah secara rutin obat-obatan yang memang diberikan oleh dokter. Lanjutkan pula diet normal dan istirahatlah yang cukup.

Apabila terjadi sembelit, sakit perut yang berlebihan dan parah, tanda-tanda infeksi, susah buang angin, sesak nafas, dada sakit, batuk, mual dan muntah, perdarahan di rektum, serta demam disertai menggigil, waktunya Anda menghubungi atau menemui dokter kembali. Gejala-gejala tersebut jangan sampai diabaikan dan perlu untuk segera ditangani.

(Baca juga: bab berdarah perut terasa penuh)

Itulah tentang kolonoskopi atau peneropongan yang merupakan metode pemeriksaan di dalam usus besar ketika terjadi gejala-gejala yang mencurigakan. Setelah mengetahui apa itu kolonoskopi, berikut juga persiapan sebelum dilaksanakan, metode atau cara kerjanya, serta efek samping dan perawatan, kiranya Anda bisa lebih mantap ketika hendak menjalaninya. Asalkan dokter ahli yang Anda tuju adalah yang terpercaya, segala risikonya tak perlu dikhawatirkan.