Cripsa – Fungsi – Obat Apa – Dosis Dan Efek Samping

1763

Cripsa termasuk ke dalam golongan obat keras yang hanya bisa didapatkan dengan menggunakan resep dokter.

Komposisi

  • Setiap tablet Cripsa mengandung bromokriptin sebagai senyawa aktifnya

Indikasi

Cripsa diindikasikan untuk parkinson, akromegali serta kondisi-kondisi yang disebabkan hiperprolaktinemia seperti amenorrhea dan infertilitas

Mekanisme Kerja Obat

Parkinson merupakan salah satu penyakit yang ditandai dengan tubuh yang selalu gemetar, tubuh terasa kaku, gerakan tubuh menjadi lambat, dan tremor, penyakit ini disebabkan oleh kurangnya aktivitas dopamin di otak. Dopamin merupakan salah satu neurotransmitter (suatu senyawa kimia yang dihasilkan oleh tubuh untuk digunakan sebagai “pembawa pesan” antar sel saraf) yang ada di otak.

Akromegali adalah suatu kondisi dimana produksi hormon pertumbuhan seseorang terjadi secara berlebihan sehingga timbul kondisi pertumbuhan yang berlebihan. Neurotransmitter dopamin diketahui dapat menghambat produksi hormon pertumbuhan pada penderita akromegali.

Hiperprolaktinemia adalah suatu kondisi dimana terjadi produksi hormonprolaktin secara berlebihan. Wanita yang sedang hamil atau menyusui umumnya memiliki kadar prolaktin yang tinggi, namun kadar prolaktin yang tinggi pada kondisi selain hamil dan menyusui dpaat menyebabkan berbagai kelainan seperti infertilitas, penurunan gairah seksual, dan menstruasi yang tidak teratur atau bahkan tidak mengalami menstruasi. Produksi hormon prolaktin dapat dihambat dengan adanya neurotransmitter dopamin.

Ketiga kondisi di atas dapat diobati dengan penggunaan Cripsa. Bromokriptin yang terkandung dalam Cripsa merupakan obat yang berfungsi sebagai agonis dopamin. Sebagai agonis, obat ini akan memiliki efek yang serupa dengan dopamin di dalam tubuh dan dapat digunakan untuk penanganan kondisi-kondisi di atas.

Dosis dan Cara Penggunaan

  1. Dosis Cripsa untuk parkinson: dosis awal yang biasa diresepkan adalah 1,25 mg setiap 12 jam, dosis dapat ditingkatkan setiap 2-4 minggu sampai efek yang diinginkan tercapai (dosis maksimum 100 mg/hari)
  2. Dosis Cripsa untuk akromegali: dosis awal yang biasa diresepkan adalah 1,25-2,5 mg yang diminum menjelang tidur selama 3 hari pertama pengobatan, dosis dapat ditingkatkan setiap 3-7 hari sampai efek yang diinginkan tercapai (dosis maksimum 100 mg/hari)
  3. Dosis Cripsa untuk hiperprolaktinemia: 1,25-2,5 mg dalam sehari, dosis dapat ditingkatkan setiap 2-7 hari sampai efek yang diinginkan tercapai (rentang dosis yang biasa digunakan adalah 2,5-15 mg/hari)
  4. Sebaiknya Cripsa dikonsumsi setelah makan
  5. Ingat! Peningkatan dosis hanya boleh dilakukan oleh dokter

Kontraindikasi

Pasien yang memiliki kondisi-kondisi berikut tidak diperbolehkan menggunakan Cripsa:

  • Hipersensitif terhadap bromokriptin atau obat turunan ergot
  • Hipertensi / darah tinggi yang tidak terkontrol
  • Wanita yang baru melahirkan

Kategori Keamanan bagi Ubu Hamil dan Menyusui

  • Keamanan penggunaan bromokriptin pada ibu hamil masih belum diketahui, segeralah beritahukan kepada dokter jika Anda hamil saat dalam masa pengobatan menggunakan Cripsa
  • Bromokriptin dikontraindikasikan bagi ibu menyusui karena pemberian obat ini dapat menurunkan produksi ASI

Efek Samping

Berikut adalah efek samping yang mungkin timbul setelah penggunaan Cripsa:

  1. Merasa pusing
  2. Insomnia
  3. Sakit kepala
  4. Peningkatan libido
  5. Mudah tertidur
  6. Tinnitus (telinga berdengung)
  7. Bradikardia
  8. Takikardia
  9. Mual muntah
  10. Diare
  11. Konstipasi / sembelit

Tidak semua pasien yang menggunakan Cripsa akan mengalami efek samping di atas. Namun, jika Anda merasakan efek samping apapun, baik yang telah disebutkan di atas maupun efek samping lainnya setelah menggunakan Cripsa, segeralah konsultasikan hal tersebut kepada dokter atau apoteker agar efek samping tersebut bisa segera ditindaklanjuti.

Interaksi Obat

Berikut adalah obat-obat yang mungkin menimbulkan interaksi jika digunakan bersamaan dengan Cripsa:

  1. Obat-obat berikut dapat saling meningkatkan toksisitas jika digunakan secara bersamaan dengan bromokriptin: almotriptan, dihidroergotamin, eletriptan, ergotamin, naratriptan, sumatriptan
  2. Obat-obat berikut dapat saling meningkatkan efek jika digunakan bersamaan dengan bromokriptin: efedrin, ivacaftor
  3. Bromokriptin dapat menurunkan efek obat-obat berikut jika digunakan secraa bersamaan: aripiprazole, gliseril trinitrat, nitrogliserin, olanzapine, prometazin, risperidone
  4. Obat-obat berikut dapat menurunkan efek bromokriptin jika digunakan secraa bersamaan: apalutamide, haloperidol, klorpromazin, klozapine
  5. Obat-obat berikut dapat meningkatkan efek bromokriptin jika digunakan secara bersamaan: efavirenz

Selalu konsultasikan mengenai obat apapun (sintetis maupun herbal) yang sedang atau akan Anda gunakan kepada dokter dan/atau apoteker untuk memastikan bahwa penggunaan obat tersebut bersamaan dengan Cripsa tidak akan menimbulkan efek samping yang merugikan bagi Anda. jika ternyata obat tersebut tidak bisa digunakan bersamaan dengan Cripsa, dokter atau apoteker mungkin akan menyarankan pemberian jeda waktu antara pemberian Cripsa dengan pemberian obat lainnya atau mengganti salah satu obat dengan obat lain sebagai alternatif.

Hal-Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Cripsa:

  1. Jangan mengubah dosis Cripsa yang telah diresepkan oleh dokter
  2. Jangan memulai atau mengulangi pengobatan dengan menggunakan Cripsa tanpa menggunakan resep dokter
  3. Jangan menghentikan penggunaan Cripsa tanpa anjuran dari dokter, pengehentian penggunaan Cripsa tidak boleh dilakukan secara sekaligus (harus dilakukan penurunan dosis sedikit demi sedikit)
  4. Penggunaan Cripsa dapat menimbulkan efek samping berupa penurunan kesadaran dan mudah tertidur, jadi hindarilah mengemudikan kendaraan atau mengoperasikan peralatan yang dapat membahayakan jika tidak dioperasikan dengan benar
  5. Beberapa pasien dilaporkan mengalami hipotensi / darah rendah pada hari pertama pengobatan menggunakan Cripsa
  6. Sebelum mengkonsumsi Cripsa atau obat apapun, selalu perhatikan kondisi obatnya, jika Anda melihat ada perubahan warna (misalnya terdapat bercak-bercak warna pada tablet) atau perubahan bentuk obat, jangan gunakan obat tersebut dan segera tanyakan kepada apoteker mengenai apa yang harus Anda lakukan
  7. Selalu perhatikan tanggal kadaluwarsa Cripsa atau obat apapun yang akan Anda konsumsi, pastikan obat tersebut belum melewati tanggal kadaluwarsanya
  8. Simpanlah Cripsa pada suhu kamar di tempat yang kering dan terlindung dari sinar matahari langsung, jauhkan dari jangkauan anak-anak