CalSource/CalSource Forte/CalSource Plus Vitamin – Fungsi Obat – Obat – Dosis Dan Efek Samping

√ Verified Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

CalSource/CalSource Forte merupakan jenis obat yang fungsi utamanya mengobati kekurangan kalsium, penyakit osteomalasia dan rickets. Obat ini juga  digunakan sebagai   terapi penunjang untuk osteoporosis yang timbul akibat berbagai sebab. CalSource Plus Vitamin C digunakan untuk meningkatkan kebutuhan kalsium dan vitamin C pada tubuh, sebagai pengobatan untuk defisiensi kalsium dan pasien yang bersangkutan mesti diberikan informasi mengenai bahaya kekurangan kalsium sejak dini)  dan calsourse plus vitamin C juga digunakan sebagai  terapi tambahan untuk flu dan selesma.

Indikasi

CalSource / CalSource Forte dan CalSource Plus Vitamin C umumnya digunakan untuk :

  1. Pasien yang kekurangan kalsium(perhatikan ciri-ciri kekurangan kalsium pada pasien)
  2. Tetanus laten, merupakan penyakit yang disebabkan infeksi luka oleh bakteri clostridium tetani yang ditandai dengan pasien mengalami gejala kejang-kejang.
  3. Rakhitis (pelunakan tulang pada anak-anak disebabkan defisiensi dan atau gangguan metabolisme vitamin D, fosfor, kalsium dan magnesium, berpotensi menyebabkan patah tulang dan kelainan bentuk tulang) dan osteomalasia (kelainan pada tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lunak dan rapuh yang berakibat tulang mudah mengalami patah)
  4. Pengobatan suportif osteoporosis 
  5. Pasien yang memiliki ciri-ciri kekurangan vitamin c
  6. Defisiensi
  7. Membantu meredakan sakit pilek dan flu
  8. Pembentukan kolagen intraseluler, diperlukan untuk memperkuat struktur gigi, tulang, dan dinding kapiler
  9. Berpartisipasi dalam reaksi redoks, metabolisme tirosin,  metabolisme karbohidrat, sintesis lipid dan protein, metabolisme zinkum, proses seluler pernafasan. Mengurangi kebutuhan vitamin B1, B2, A, E, asam folat, asam pantotenat, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi
  10. Meningkatkan penyerapan zat besi

Kontraindikasi

Perlu menjadi perhatian akan terjadinya dampak atau kontra indikasi dari obat ini. beberapa diantaranya adalah :

  • Hiperkalsemi, merupakan gejala tingginya kadar kalsium di dalam plasma darah, pada kondisi kronik, hal ini merupakan indikasi sedang terjadinya penyakit. Gejala klinis hiperkalsemia antara lain ditandai dengan ; konstipasi, otot yang lemah dan hipotonik, turunnya refleks otot, perlambatan detak jantung , sedangkan gejala paraklinis antara lain munculnya hipo albuminemia dan nefrokalsinosis)
  • Hiperkalsiuria berat
  • Gagal ginjal berat
  • Galaktosemi, merupakan suatu kelainan bawaan lahir yang mana bayi tidak mampu melakukan metabolisme galaktosa dan gula susu.
  • Pasien dengan hiperkalsiuria ringan
  • Gangguan fungsi ginjal
  • Riwayat adanya batu pada saluran kemih
  • Hindari pemberian vitamin d dengan dosis tinggi
  • Pasien dengan riwayat diabetes melitus
  • Pasien yang sedang menjalani diet rendah natrium.
  • Memiliki sifat antioksidan.
  • Melalui mekanisme intravaginal mampu menurunkan pH vagina, menghambat pertumbuhan bakteri dan membantu mengembalikan dan mempertahankan flora normal pH dan vagina (lactobacillus gasseri dan lactobacillus acidophilus).

Efek Samping

Efek samping dari obat dapat diartikan sebagai efek yang tidak diinginkan ketika mengkonsumsi obat.

  1. Efek samping dapat berdampak luas dan bervariasi dari obat ke obat, dan juga tergantung pada pemberian dosis obat, kepekaan dari pasien yang bersangkutan, merk obat atau perusahaan yang memproduksi obat.
  2. Jika efek samping ternyata lebih besar dampaknya daripada manfaat dari obat, maka agak sulit untuk meyakinkan pasien untuk mengkonsumsi obat. 
  3. Beberapa pasien mendapatkan efek samping secara spesifik untuk obat-obat tertentu; dalam kasus ini, dokter bisa saja mengganti obat dengan obat substitusi lainnya.
  4. Jika pasien merasakan efek samping dan itu mengganggu, maka  segeralah konsultasikan dengan dokter.

Adapun efek samping dari penggunaan  CalSource/CalSource forte dan calsource plus vitamin C  adalah terjadinya :

Interaksi Obat

CalSource/CalSource forte dan calsource plus vitamin C dapat berinteraksi dengan obat-obatan berikut :

  1. Obat tetrasiklin (merupakan antibiotik dalam spektrum luas yang dikontradiksikan  selama masa kehamilan, dapat mengakibatkan berubahnya warna pada gigi anak dan degenerasi awal pada gigi susu) atau fluorid oral,
  2. Vitamin D,
  3. Bayam
  4. Rhubarb, merupakan semacam talas atau keladi,  tanaman ini mempunyai daun yang bersifat racun tapi batang pohonnya dapat digunakan sebagai bahan makanan yang sehat dan enak. Mengandung vitamin B-kompleks, kalsium, mangan, vitamin C, vitamin K, kalium dan antioksidan serta mineral lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh.
  5. Dedak
  6. Sereal
  7. Susu
  8. Poduk turunan susu
  9. Penghambat kanal kalsium,
  10. Digitalis, merupakan tumbuhan yang  dapat dikelompokkan dalam keluarga Plantaginaceae. Bunga dari tumbuhan ini mempunyai bentuk layaknya lonceng kecil dan warnanya berbeda-beda menurut spesies dari warna putih, kuning, ungu dan merah muda. Tumbuhan ini berasal dari afrika utara, eropa, Asia bagian barat dan tengah.

Kemasan

Obat tersedia dalam bentuk kemasan :

  • CalSource Forte effervescent tablet
  • CalSource Plus Vitamin C effervescent tablet
  • CalSource sirup
  • CalSource Junior Growth tablet
  • CalSource Junior Strength tablet 625 mg

Dosis

Dosis yang dianjurkan untuk obat ini adalah :

  • Dosis untuk dewasa adalah 1 tablet per hari
  •  Anak 3-7 thn ½-1 tablet. Diberikan 1 sampai 2 kali per hari

Dapat dikonsumsi bersamaan dengan makanan

Petunjuk Dan Cara Kerja Obat

  • Kebutuhan harian minimum asam askorbat pada trimester II dan III masa kehamilan adalah sekitar 60 mg.
  • Asam askorbat bekerja melewati penghalang plasenta.
  • Janin dapat beradaptasi dengan pemberian dosis tinggi asam askorbat, yang diberikan kepada ibu hamil, dan setelah itu, bayi yang baru lahir dapat mengembangkan penyakit askorbik sebagai reaksi pembatalan.
  • Oleh karenanya, selama masa kehamilan,  ibu hamil mesti diberi tahu mengenai fungsi asam askorbat untuk tubuh, tidak diperkenankan mengkonsumsi asam askorbat dalam dosis yang tinggi , kecuali untuk kasus di mana manfaat pengobatan yang diharapkan mampu melebihi potensi risiko negatifnya.
  • Kebutuhan harian minimum selama ibu menyusui adalah 80 mg.
  • Asam askorbat diekskresikan dalam bentuk ASI. Diet yang dilakukan oleh ibu menyusui untuk makanan yang mengandung asam askorbat dalam jumlah yang cukup, dapat berdampak positif, namun dapat timbul bahaya asam askorbat yang tentunya dapat mengganggu fungsi organ tubuh, dapat membantu bayi mengatasi defisiensi zat tersebut.
  • Belum ditemukan kasus yang menyebutkan apakah muncul efek negatif untuk ibu dan anak yang mengkonsumsi asam askorbat dalam dosis tinggi. Namun, dianjurkan untuk tidak memberikan asam askorbat melebihi dosis kebutuhan ibu menyusui harian yang  maksimum.
  • Dalam istilah medis efek dari pemberian obat disebut farmakodinamik. Untuk mendapatkan  efek obat dan mengubah proses patologis yang terjadi pada tubuh dan untuk mengurangi gejala atau menyembuhkan penyakit, obat harus berfungsi dengan cara tertentu.
  • Efek dari obat yang diberikan pada tubuh pada tingkatan sel mestilah memberikan hasil yang diinginkan untuk mengobati suatu penyakit. Obat-obatan bekerja dengan cara merangsang atau menghambat reseptor atau enzim atau protein hampir sepanjang waktu.
  • Obat-obatan yang dibuat sedemikian rupa sehingga komposisi bahan-bahannya dapat membawa perubahan kimia dalam tubuh yang dapat menghentikan atau membalikkan reaksi kimia yang menyebabkan penyakit.
  • Farmakokinetik obat dapat didefinisikan sebagai reaksi tubuh terhadap obat setelah dikonsumsi. Hasil terapi obat tergantung pada farmakokinetik obat. Hal ini berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan untuk obat diabsorbsi, di metabolisme oleh tubuh, proses dan reaksi kimia yang terlibat dalam metabolisme dan ekskresi dari obat. 
  • Semua faktor ini sangat penting untuk menentukan kemanjuran obat. Berdasarkan prinsip-prinsip farmakokinetik ini, produsen farmasi meracik bahan-bahan obat, dengan komposisi dosis dan menentukan alur pemberian obat di tubuh.
  • Konsentrasi obat di tempat tindakan diharapkan menghasilkan pengobatan yang sebanding dan pengobatan ini merupakan salah satu cara meningkatkan metabolisme tubuh  yang tentunya tergantung pada berbagai reaksi farmakokinetik yang terjadi di dalam tubuh. 
  • Setelah pemberian asam askorbat secara oral, maka obat tersebut sepenuhnya diserap dari saluran  pencernaan, selanjutnya di distribusikan secara luas di seluruh jaringan tubuh.
  • Konsentrasi asam askorbat dalam plasma darah dalam jumlah normal sekitar 10-20 mg / ml. Konsentrasi asam askorbat dalam sel darah putih dan trombosit lebih tinggi daripada di eritrosit dan plasma darah.
  • Protein plasma mengikat sekitar 25% asam askorbat dan secara reversibel teroksidasi, kemudian membentuk asam dehidroaskorbat, di metabolisme dengan pembentukan askorbat-2-sulfat yang tidak aktif dan asam oksalat yang diekskresikan melalui urin.
  • Asam askorbat yang dikonsumsi dalam jumlah berlebihan dengan cepat dikeluarkan dan tidak berubah dalam urin, biasanya terjadi ketika melebihi dosis hariannya yaitu sebanyak 200 mg.
fbWhatsappTwitterLinkedIn