Vektor Mekanis : Pengertian – Jenis – Cara Mencegah Serangannya

√ Verified Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Vektor merupakan hewan arthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu patogen dari sumber infeksi kepada individu yang rentan terhadap patogen tersebut. Hewan yang termasuk kelompok vektor sangat merugikan karena dapat mengganggu manusia secara langsung dan menjadi perantara penularan penyakit. Vektor adalah binatang yang membawa patogen atau bibit penyakit berupa parasit dan virus dari satu makhluk hidup ke makhluk hidup lainnya. Vektor dapat diartikan sebagai organisme yang dapat menyalurkan sumber penyakit dari hewan ke hewan atau manusia. Sebagai tambahan, arthropoda juga dianggap sebagai vektor penting dalam penularan penyakit parasit dan virus tertentu.

Vektor mekanis merupakan vektor yang bisa menyebarkan agen infeksi secara langsung, seperti menggigit, menghisap, dan menempel. Vektor mekanis memiliki ciri-ciri, yaitu sebagian siklus hidup parasit tidak terjadi di dalam tubuh korban. Salah satu contoh vektor mekanis adalah hewan nyamuk. Nyamuk dapat menularkan virus atau parasit ketika mengisap darah korbannya. Lalat juga merupakan vektor mekanis dalam penyebaran diare, keracunan makanan dan berbagai bahaya lainnya.

Vektor mekanis dapat menularkan berbagai jenis penyakit, dari penularan penyakit diaredemam tifoid, keracunan makanan dan trachoma yang dibawa oleh lalat. Lalat dapat membawa agen penyakit dari manusia berupa tinja, darah, ulkus superfisial, atau eksudat. Biasanya kontaminasi dilakukan dengan bersentuhan dengan lalat secara langsung. Lalat rumah dapat menularkan bakteri enterik yang menyebabkan salmonela, tuberkulosis (TBC), anthrax, tularemia, dan brucellosis.

Jenis Vektor Mekanis dan Penyakit yang Disebabkan serta Cara Penanganannya

Terdapat berbagai binatang yang menjadi vektor mekanis dari berbagai macam penyakit.

1. Nyamuk

Nyamuk dapat menularkan penyakit demam berdarah atau DBD dan malaria melalui gigitannya. Penyakit chikungunya atau flu tulang juga dapat ditularkan oleh serangga nyamuk. Penyakit demam berdarah atau DBD dapat ditangani dengan minum banyak cairan, beristirahat, serta mengonsumsi paracetamol dan acetaminophen. Jika pengobatan tersebut dilakukan dengan baik, maka umumnya gejala DBD akan mulai menunjukkan tanda-tanda pulih dalam waktu 2-5 hari.

Sedangkan pada penyakit malaria, pasien disarankan untuk mengonsumsi obat antimalaria yang berfungsi untuk mengobati sekaligus mencegah penularan malaria. Obat malaria diberikan harus mempertimbangkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pasien malaria, yaitu:

  • Tingkat keparahan gejala malaria yang muncul
  • Jenis parasit penyebab malaria
  • Lokasi penularan malaria
  • Serta kondisi fisik pasien

Jika pasien sedang hamil, maka pengobatan yang diberikan berbeda dengan pasien yang sedang tidak hamil. Penyakit chikungunya dapat ditangani dengan obat pereda rasa sakit dan anti radang yang bertujuan untuk meredakan gejala yang muncul. Pada sebagian penderita yang kekurangan cairan yang disebabkan oleh nafsu makan yang menurun dapat diberikan cairan oralit atau infus bisa dilakukan untuk mencegah dehidrasi.

2. Lalat Rumah

Lalat rumah dapat menularkan penyakit disentri, kolera, tifoid dan paratifoid secara mekanis. Penyakit dari vektor lalat rumah dapat dihindari dengan tidak mengonsumsi makanan yang telah dihinggapi oleh lalat rumah karena lalat akan mengeluarkan enzim pencernaan pada makanan sebelum memakannya. Selain itu, lalat rata-rata membawa lebih dari 200 jenis bakteri di rambut kecil yang jumlahnya tidak sedikit pada lengan dan kakinya, karena lalat gemar hinggap di makanan busuk dan kotoran yang penuh bakteri sehingga memungkinkan lalat untuk mengotori makanan.

3. Cacing Filaria

Cacing Filaria dapat menyebabkan penyakit kaki gajah yang menyerang tubuh manusia. Untuk penanganan kaki gajah, pasien harus berkunjung ke dokter. Dokter biasanya mewajibkan pengobatan tahunan untuk obat yang bernama diethylcarbamazine (DEC). Fungsi obat tersebut adalah untuk membunuh cacing filaria dalam darah. Obat ini diharapkan dapat membantu melindungi Anda dari infeksi lebih lanjut atau menghentikan penularan ke orang lain, meskipun tidak dapat membunuh cacing filaria hingga tuntas. Dokter juga dapat merekomendasikan beberapa cara untuk mencegah kondisi pasien kaki gajah menjadi semakin buruk, yaitu:

  • Membersihkan area yang membengkak dengan sabun setiap hari.
  • Mengoleskan krim anti bakteri pada area yang membengkak untuk menghentikan infeksi bakteri.
  • Meningkatkan aliran darah daerah yang membengkak dengan cara mengangkat dan melatih area tersebut.

Cara Mencegah Serangan Vektor Mekanis

Vektor tidak dapat dibasmi hingga tuntas tetapi pengendalian vektor dalam usaha mengurangi dan menurunkan populasi vektor hingga tingkat yang tidak merugikan dan membahayakan hidup manusia sangat krusial untuk mencapai lingkungan yang lebih sehat. Terdapat beberapa cara untuk pengendalian vektor arthropoda secara khusus, antara lain:

1. Pengendalian Lingkungan

Cara terbaik untuk mengontrol arthropoda atau hewan sumber vektor mekanis karena hasilnya dapat bersifat permanen adalah pengendalian lingkungan.  Pengendalian lingkungan dapat dilakukan dengan membersihkan tempat hidup arthropoda, seperti comberan, kamar mandi, dan lain-lain.

2. Pengendalian Kimia

Penggunaan beberapa golongan insektisida, seperti golongan organoklorin, organofosfat dan karbamat merupakan alternatif yang bersifat pengendalian kimia, tetapi penggunaan bahan kimia ini sering menimbulkan resistensi pada arthropoda dan juga dapat mengkontaminasi pada lingkungan.

3. Pengendalian Biologi

Pengendalian biologi dilakukan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pengendalian kimia seperti penggunaan insektisida yang berasal dari bahan beracun yang membahayakan lingkuhan. Contoh dari pengendalian biologi adalah pemeliharaan ikan.

Cara Pengendalian Tikus

Selain pengendalian terhadap vektor arthropoda, pengendalian terhadap tikus yang juga merupakan vektor dari beberapa penyakit menular juga diperlukan. Berikut adalah pengendalian terhadap tikus (Depkes RI, 2011):

  • Penangkapan tikus dengan perangkap

Jika terdapat tanda keberadaan tikus, pemasangan perangkap tikus dapat dilakukan di rute yang sering dilewati tikus, seperti di pinggir saluran air, taman, kolam, di dalam semak-semak, sekitar tempat pembuangan sampah (TPS), dan tumpukan barang bekas. Depkes RI menyarankan untuk memasang perangkap tikus di setiap ruangan dengan luas sampai dengan 10 m2  dan untuk setiap kelipatan 10 m2 ditambah satu perangkap.

  • Pemberantasan tikus dan mencit secara kimiawi dengan umpan beracun

Pemberantasan tikus secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan umpan beracun atau racun tikus. Pengendalian vektor tikus dengan menggunakan racun tikus mempunyai efek sementara. Racun tikus yang bersifat antikoagulan kronik adalah umpan beracun yang hanya dianjurkan untuk digunakan di tempat yang tidak dapat dicapai oleh  anak-anak dan hewan domestik. Pengendalian tikus dengan racun tikus sebaiknya dijadikan sebagai pilihan terakhir.

Jika tidak teliti dalam meletakkan racun tikus, kasus yang sering terjadi adalah bangkai tikus yang tidak segera ditemukan menimbulkan bau busuk yang sangat menusuk. Selain itu, racun tikus juga sangat berbahaya bagi manusia dan hewan lainnya.

Dewasa ini, terdapat dua jenis racun tikus yang beredar di pasaran, yaitu racun akut dan kronis. Racun akut harus diberikan dalam dosis besar yang bersifat letal. Jika tidak, maka tikus tidak akan mati dan tidak akan mau lagi untuk memakan umpan racun tikus yang beracun sejenis. Oleh karena itu, racun tikus sebaiknya diberikan dalam dosis besar yang bersifat letal sehingga tikus akan mati setengah jam setelah mengonsumsi racun yang sudah terpasang.

fbWhatsappTwitterLinkedIn