Home ReviewTindakan Medis VAD (Vacuum Assisted Delivery) : Kriteria – Persiapan – Prosedur – Efek

VAD (Vacuum Assisted Delivery) : Kriteria – Persiapan – Prosedur – Efek

by Merlinda Gouw

vacuum-assisted-deliveryProses kelahiran merupakan hal yang sangat dicemaskan oleh orangtua yang sedang hamil, khususnya ibu. Kecemasan ini sangat wajar, mengingat proses kelahiran merupakan proses yang memiliki banyak resiko yang mengancam hidup ibu dan anak.

Kebanyakan ibu ingin melahirkan dengan kemampuan medis yang paling minimal atau biasa disebut secara normal tetapi tidak semua ibu dapat melakukan proses melahirkan normal karena berbagai alasan, seperti penyakit yang diidap oleh ibu, posisi janin dan berbagai alasan lainnya.

Seiring perkembangan jaman, semakin banyak penelitian mengenai cara atau proses untuk membantu ibu yang tidak dapat melahirkan secara normal. Di jaman modern ini, terdapat banyak prosedur yang dapat membantu proses kelahiran menjadi lebih aman untuk ibu dan anak, salah satunya adalah Vacuum Assisted Delivery atau VAD.

VAD atau Vacuum Assisted Delivery adalah proses kelahiran melalui vagina yang dibantu dengan vacuum (atau penyedot). Ini merupakan salah satu cara untuk membantu proses kelahiran dengan alat vacuum. VAD biasanya dilaksanakan jika tahap kedua dari proses kelahiran tidak berjalan dengan lancar. VAD juga merupakan alternatif dari operasi caesar.

Prosedur VAD membantu ibu untuk memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bisa melahirkan dengan normal di kehamilan berikutnya. Prosedur ini juga sering dilakukan oleh ibu hamil yang melakukan persalinan untuk pertama kalinya. Tujuan dari VAD secara umum adalah untuk membantu proses kelahiran bayi agar bayi dapat lahir tepat waktu dan tidak terjadi hal yang tidak inginkan.

Kriteria Kelahiran yang Harus Menggunakan VAD

Terdapat beberapa indikasi untuk menggunakan bantuan VAD dalam proses melahirkan:

  • Rasa lelah yang luar biasa pada ibu sehingga ibu tidak memiliki energi untuk mengejan lagi. Hal ini dapat disebabkan oleh energi ibu yang lemah, kondisi medis, dan penggunaan epidural.
  • Tahap kedua kelahiran yang terlalu panjang.
  • Rasa stress janin pada tahap kedua kelahiran (diindikasikan dengan perubahan detak jantung janin, ditandai dengan lebih dari 160 bpm atau kurang dari 80 bpm, biasanya diukur dengan CTG). Perubahan denyut jantung ini menjadi tanda bahwa janin mengalami kekurangan oksigen atau hipoksia.
  • Penyakit yang diidap oleh ibu membuat proses mendorong menjadi riskan, seperti kondisi jantung, aneurisma, glaukoma. Jika kondisi seperti ini diketahui sebelum proses kelahiran, maka operasi caesar juga dapat menjadi salah satu alternatif.
  • Posisi kepala bayi tidak berada di posisi yang baik untuk dilahirkan.

Persiapan Sebelum VAD

Sebelum VAD dilakukan, dokter harus terlebih dahulu memastikan beberapa hal:

  • Panggul ibu dapat dilewati oleh janin atau tidak sempit
  • Ukuran janin tidak terlalu besar
  • Posisi kepala janin sudah di dasar panggul ibu

Jika ibu dan janin tidak memenuhi indikasi-indikasi ini (seperti janin terlalu besar atau posisi janin belum terletak di dasar panggul ibu), maka operasi caesar dapat menjadi alternatif lainnya.

Proses atau Prosedur VAD yang Tepat

  1. Ibu dibaringkan dengan posisi litotomi. Posisi litotomi adalah di mana pasien berbaring menghadap langit-langit dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya ke atas perut. Posisi ini umum dilakukan ketika ingin melakukan pemeriksaan genitalia pada proses persalinan dan memasang alat kontrasepsi.
  2. Suction cup (atau mangkuk penyedot) akan diletakan di bagian atas kepala bayi. Mangkuk tersebut akan menyedot kulit dari ubun-ubun bayi. Mangkuk ini harus diletakkan dengan akurat, yaitu di flexion point, sebuah titik di mana mangkuk ini harus diletakkan agar prosedur VAD dapat berjalan dengan lancar. Flexion point terletak di bagian depan dari posterior oksipital fontanel bayi.
  3. Tangkai dari suction cup akan membantu bidan dan ibu untuk mengeluarkan kepala bayi dari tubuh ibu.
  4. Agar alat VAD dapat digunakan dengan baik, serviks ibu harus melebar atau membesar, posisi kepala bayi juga harus diketahui dan terletak di dasar panggul ibu.
  5. Jika proses VAD gagal, operasi caesar atau forceps dapat dijadikan alternatif untuk membantu proses kelahiran.

Efek VAD bagi Ibu

Efek samping prosedur VAD bagi ibu adalah pendarahan di jalan lahir karena terjadi pembukaan yang lebih luas pada jalan lahir. Selain itu, ibu juga memiliki resiko untuk mengalami penggumpalan pada pembuluh darah kaki atau panggul. Untuk mencegah hal ini, ibu disarankan untuk:

  • Banyak bergerak setelah proses melahirkan
  • Menggunakan kaos kaki panjang atau stoking khusus
  • Mendapatkan suntik heparin yang dosisnya ditentukan oleh dokter
  • Makan makanan yang cepat menyembuhkan luka operasi, seperti wortel, olahan susu, hati sapi dan lainnya dengan pengawasan atau rekomendasi dokter atau bidan

Ibu juga memiliki resiko untuk terkena infeksi, jika dilakukan prosedur episiotomi. Jika vacuum atau mangkuk penyedot tidak menempel dengan benar ke kepala bayi, maka terdapat kemungkinan kerusakan pada vagina dan atau serviks ibu. Selain itu, ibu juga mungkin merasakan sakit di persendian panggul yang disebabkan oleh posisi selama melahirkan.

Efek VAD bagi Bayi

Jika VAD tidak dilakukan oleh profesional yang ahli, bayi dapat mengalami beberapa resiko, seperti:

  • Luka pada kulit kepala bayi: Kasus ini lebih sering terjadi daripada resiko-resiko lain yang disebutkan di bawah. Akan tetapi luka pada kulit kepala bayi ini dapat diobati dengan mudah, yaitu dengan obat antiseptik. Luka ini akan sembuh sekitar usia bayi mencapai satu minggu.
  • Hematoma: terkumpulnya darah di bawah kulit kepala bayi.
  • Pendarahan di bagian dalam tengkorak bayi: Kasus ini sangat jarang terjadi tetapi sangat membahayakan bayi karena dapat menyebabkan hilangnya ingatan, kemampuan berbicara dan bergerak di bagian yang terluka.
  • Pendarahan retina: Pendarahan di bagian belakang mata, merupakan salah satu kasus yang cukup umum dialami oleh bayi yang baru lahir. Kondisi ini biasanya tidak parah dan dapat cepat disembuhkan tanpa mengakibatkan komplikasi lainnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh tekanan yang diletakkan di atas kepala bayi saat kepala bayi keluar dari vagina ibu.

Oleh karena itu, VAD harus dilakukan oleh profesional yang ahli dan berpengalaman agar ibu dan bayi tetap sehat saat atau setelah prosedur VAD dilakukan. Bayi yang lahir dengan prosedur VAD ini bisa menjadi sangat rewel pada beberapa hari pertama, tetapi hal ini dapat diatasi dengan banyak kontak fisik dengan ibu sehingga ibu harus sering menggendong dan memomong anaknya.

Salah satu mitos mengenai VAD ini adalah jika bayi dilahirkan dengan prosedur VAD atau bantuan vacuum maka bayi akan mejadi bodoh. Akan tetapi mitos yang tersebar di kalangan orangtua ini tidak benar sama sekali, karena kecerdasan seorang anak dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya, seperti genetik, lingkungan, gizi dan nutrisi.

You may also like