Thursday, March 21, 2019

Disentri

Disentri adalah infeksi pada saluran pencernaan, dan menyebabkan diare yang berlendir dan berdarah. Diare yang dimaksud adalah perubahan konsistensi tinja menjadi cair, disertai peningkatan frekuensi buang air besar lebih dari 3x dalam satu hari. Infeksi ini dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, toksin yang dilepaskan bakteri, atau protozoa.

Diare berdarah ini sering ditemukan di negara berkembang, terutama pada daerah yang padat penduduk dengan sanitasi yang kurang baik. Hal ini berkaitan dengan penyebaran dari agen penyebabnya disentri. Secara umum disentri menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi, tetapi penyebaran antar-individu melalui feses masih memungkinkan.

Penyebab

  • Disentri Basiler

Disentri yang diakibatkan oleh bakteri, disebut juga disentri basiler. Bakteri yang umum menimbulkan gangguan ini adalah shigella species (contoh: Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, Shigella sonnei, Shigella boydii). Kuman ini adalah bakteri gram negatif yang sangat infeksius, dan menyebabkan disentri cukup dengan 180 organisme.

Kerusakan yang terjadi pada disentri basiler melalui dua mekanisme. Awalnya ketika tertelan, kuman akan menginvasi sel usus dan menimbulkan kerusakan. Luka ini bermanifestasi sebagai adanya darah pada feses. Setelah itu bakteri ini akan memproduksi enterotoksin yang mengganggu usus dan  berakibat munculnya diare. Adanya diare mempermudah bagi bakteri untuk menyebar dari satu orang menuju orang lain.

  • Disentri Amoeba

Selain bakteri disentri juga dapat diakibatkan oleh amoeba, golongan protozoa atau makhluk hidup bersel tunggal. Amoeba yang menyebabkan disentri bernama Entamoeba Histolytica. Nama yang dimiliki mencerminkan cara makhluk ini merusak saluran pencernaan melalui pemecahan sel, dimana histo berarti sel dan lisis berarti rusak.

Disentri dimulai dengan tertelannya kista dari makanan ataupun minuman terkontaminasi. Kista ini pecah dan melepaskan trofozoit yang bergerak menuju usus besar. Disini trofozoit akan menembus usus dan menyebabkan kerusakan jaringan dan protein. Hal ini akan menyebabkan adanya gejala diare berdarah. Sebagian trofozoit yang berada di kolon, akan membentuk kista lagi dan dikeluarkan melalui feses, yang bermanfaat dalam penyebaran menuju pasien lain. Trofozoit yang menetap di usus dapat tersebar melalui pembuluh darah dan menimbulkan kerusakan pada organ lain.

Gejala

Secara umum gejala disentri sesuai dengan definisinya yaitu diare berlendir dan berdarah, tetapi bisa muncul beberapa gejala lain yang dapat bervariasi. Variasi pada disentri basiler adalah demam, serta nyeri perut seperti penyebab kram perut. Disentri oleh shigella umumnya akan BAB lebih sering dibandingkan disentri amoeba, sehingga ada kemungkinan dehidrasi pada pasien. Dehidrasi dapat dilihat melalui mata dan ubun-ubun terlihat cekung, disertai penurunan produksi urin dan air mata, yang lebih mudah dilihat pada anak-anak

Disentri amoeba menimbulkan gejala yang tidak khas, seperti bau feses yang lebih busuk. Dapat juga muncul keluhan mual, muntah, nyeri perut, atau demam. Gejala disentri amoeba lebih ringan dibandingkan basiler, tetapi karena adanya kemungkinan persebaran ke organ lain, dalam kondisi berat dapat muncul keluhan kuning, sesak napas, batuk, penurunan kesadaran, dan lain-lain.

Diagnosa

Pada pasien dengan diare berlendir dan berdarah, diagnosis umumnya ditegakkan dengan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan tambahan yang diperlukan terutama terkait feses lengkap, dimana tinja akan diambil dan dilihat di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini bertujuan selain untuk melihat adanya darah pada feses, dan juga untuk menemukan agen penyebab disentri.

Pada kasus-kasus dimana diagnosis tidak dapat ditegakkan melalui pemeriksaan feses lengkap, maka diperlukan pemeriksaan tambahan. Salah satu pemeriksaan tersering adalah pemeriksaan antigen E. hystolytica. Alternatif lain dapat dilakukan kultur feses, dimana kuman dalam feses dikembang-biakkan lebih lanjut agar dapat dilihat lebih mudah. Perlu diingat pemeriksaan tambahan ini akan memakan biaya dan waktu lebih, dan dapat memperlambat pengobatan.

Komplikasi

Bahaya utama dalam disentri, adalah ketika terjadi komplikasi akibat terlambatnya pengobatan. Berdasarkan masing-masing penyebab dibedakan menjadi:

  • Komplikasi Disentri Basiler

Disentri akibat shigella akan menyebabkan diare yang lebih berat, dan dapat menimbulkan dehidrasi. Ketidak-seimbangan cairan yang keluar dan masuk ini, akan menimbulkan gagal ginjal bila dibiarkan. Anemia juga dapat terjadi karena keluarnya darah terus-menerus. Bakteri juga dapat masuk ke pembuluh darah dan menyebabkan sepsis, berlanjut dengan pemecahan sel darah merah yang memperburuk kondisi anemia. Dalam kondisi sepsis juga akan menurunkan kadar trombosit, sehingga terjadi perburukan perdarahan saluran cerna. Keseluruhan ini dapat menimbulkan syok dan berujung pada kematian

  • Komplikasi Disentri Amoeba

Amoeba memiliki kemampuan untuk masuk ke pembuluh darah dan pada akhirnya tersimpan pada organ lain sesuai dengan perjalanan pembuluh darah. Pembuluh darah balik di usus akan dikumpulkan menuju hati untuk detoksifikasi. Oleh karena itu target pertama dan paling sering setelah E. hystolytica masuk ke pembuluh darah adalah dalam bentuk abses hati, sebanyak 5% dari semua kasus disentri amoeba. Kelainan ini muncul pada pasien disentri yang tidak diobati selama 2 minggu. Infeksi hati akan menimbulkan nyeri perut kanan atas, serta sakit kuning yang terlihat di mata dan kulit.

Terdapat komplikasi lain yang lebih jarang, tetapi lebih mengancam nyawa. Setelah darah melewati hati, maka trofozoit akan terbawa menuju jantung, dan menyebabkan infeksi lapisan jantung. Kasus ini dapat ditemukan pada 3% kasus abses hati karena amoeba, umumnya disebabkan karena abses yang pecah. Gejalanya meliputi nyeri dada, dan sesak napas yang menyerupai gagal jantung. Amoeba setelah dari jantung, akan dipompa ke paru dan seluruh tubuh, menimbulkan gejala batuk berdahak, sesak dan nyeri saat menarik napas, mual, nyeri kepala, ataupun penurunan kesadaran.

Pengobatan

Pengobatan infeksi ini tentunya adalah datang ke dokter, tetapi tentu ada yang dapat dilakukan terlebih dahulu. Akibat diare, pasien perlu mendapatkan cairan yang cukup. Pasien perlu mendapatkan minum setidaknya sebanyak yang dikeluarkan, dan masih BAK dalam jumlah cukup setiap 4 jam. Selain itu nyeri perut dan mual menyebabkan rasanya malas makan, sehingga dapat diberikan makanan yang lebih lunak dalam jumlah sedikit tapi sering. Hindari juga pemberian makanan berserat seperti sayur agar tidak memperburuk diare.

Apabila tidak memungkinkan untuk ke dokter dalam waktu dekat, maka dalam pemberian antibiotik perlu diketahui adanya demam (suhu dengan termometer ketiak >37,5oC). Demam lebih mengarahkan  pada disentri basiler, sehingga sebaiknya diberikan tablet kotrimoxazole 2 x 480 mg selama 5 hari (dosis dewasa). Apabila pada hari ketiga tidak ada perbaikan atau pasien sejak awal tidak demam, maka dipikirkan disentri amoeba, dan diberikan tablet metronidazole 3x 500 mg selama 5 hari (dosis dewasa). Meskipun demikian, untuk mendapatkan pengobatan optimal sebaiknya pasien dibawa ke dokter untuk pemeriksaan lengkap.

Pencegahan

Disentri terjadi melalui persebaran makanan dan minuman, oleh karena itu dapat dilakukan beberapa hal di bawah ini untuk menghindari proses masuknya kuman dalam tubuh:

  1. Hindari minum air yang mungkin terkontaminasi, minum dari air kemasan saja
  2. Apabila air kemasan tidak tersedia, air yang akan diminum dapat dibersihkan dengan mudah dengan dimasak sampai mendidih lebih dari 1 menit.
  3. Jangan makan buah dan sayur yang tidak dimasak, segala makanan sebaiknya dimasak, atau buah yang dikupas sendiri.
  4. Sayur yang akan dimakan tanpa dimasak, sebaiknya dicuci dahulu dan direndam dalam air cuka selama 10-15 menit.

Recommended