Farmakologi – Definisi dan Cabang Ilmu

3021

Mendengar namanya saja, pasti sudah ketahuan betul kalau farmakologi adalah sebuah sebuah ilmu di mana istilah ini pun asalnya adalah dari Yunani. Pharmacon yang berarti obat serta logos yang memiliki makna ilmu adalah dua kata dari Yunani. Proses hidup yang ada di tingkat molekular selalu mendapat pengaruh dari zat kimia yang kita biasa sebut dengan istilah obat.

Sudah bisa ditebak, definisi dari farmakologi sendiri adalah sebuah ilmu pengetahuan yang inti dan fokusnya adalah pelajaran tentang interaksi obat dengan unsur pokok atau konstituen tubuh di mana tujuannya memroduksi terapeutik alias efek terapi. Ada pula yang menyatakan bahwa farmakologi adalah ilmu pengetahuan yang tak hanya tentang obat, tapi juga eksogen atau efek zat asing terhadap organisme tertentu.

Di dunia ini, farmakologi memegang peranan penting di mana ilmu pengetahuan inilah yang membantu manusia mengenal dan memelajari dengan baik akan obat itu sendiri dan juga setiap peran dari masing-masing obat. Tentunya, di dalam farmakologilah kita bisa belajar akan peran penting obat pada metabolisme yang ada di sistem biologi.

Bukan hanya itu, pada farmakologi jugalah manusia dapat mengetahui bagaimana sumber atau asal-usul obat tertentu bersama dengan sifat fisika-kimianya. Lebih dari itu, pelajaran tentang cara membuat berikut juga efek fisiologi dan biokimiwai yang bisa timbul dari obat tersebut pun termasuk dalam ilmu pengetahuan ini.

Farmakologi juga adalah ilmu yang akan membuat manusia mengerti dan paham betul akan proses perjalanan obat ketika sudah masuk ke dalam tubuh. Ada masih banyak lagi hal-hal yang tercakup di dalam farmakologi. Pengertian lain yang bisa kita ketahui bersama dari farmakologi ini adalah zat kimia yang mampu memengaruhi jaringan biologi.

Menurut Betran G. Katzung, perumusan dari farmakologi adalah kajian terhadap bahan-bahan yang melalui proses kimia memiliki interaksi dengan sistem kehidupan manusia. Interaksi yang dimaksud tersebut khususnya adalah melalui pengikatan beberapa molekul regulator yang tugasnya adalah menghambat atau mengaktifkan proses tubuh yang normal.

Dalam perkembangannya, ilmu pengetahuan ini sudah menjadi disiplin ilmu tersendiri di mana sebetulnya hal ini juga tidak sepenuhnya lepas dari farmakologi. Ada penggabungan yang telah dilakukan oleh para ahli farmakologi antara farmakologi medis atau farmakologi kedokteran (ilmu tentang pengobatan, pencegahan dan diagnosa penyakit) dengan toksikologi (ilmu tentang efek yang tak diharapkan yang berasal dari zat kimia atau obat lainnya).

(Baca juga: jenis-jenis narkoba efek dampak bahaya morfin)

Pengertian Obat

Obat merupakan zat kimia yang dapat memberikan pengaruh aktivitas psikis maupun fisik menurut WHO. Pengertian obat dikemukakan secara berbeda oleh KONAS atau Kebijakan Obat Nasional di mana obat dimaknai sebagai sediaan atau bahan yang penggunaannya bertujuan untuk menyelidiki atau memberikan pengaruh terhadap keadaan patologi atau sistem fisiologi.

Penetapan dari diagnosa, pengobatan dan pencegahan hingga pemulihan dari gejala sakit, rasa sakit, atau penyakit didukung oleh proses penyelidikan tersebut. Obat jugalah yang mampu bekerja sebagai peningkat kesehatan serta kontrasepsi. Jika melihat dari pengertian obat yang diberikan oleh KONAS, obat sebetulnya adalah bahan terkemas di mana sudah ada penandaan dan label yang memiliki klaim.

(Baca juga: arginin dalam makanan)

Cabang Ilmu Farmakologi

Ada sejumlah cabang ilmu dari farmakologi yang bisa dikenali di mana ini adalah bentuk dari perkembangan disiplin ilmu tersendiri dari farmakologi. Pada setiap cabang ilmu memang mempelajari hal yang berbeda, namun tidak lepas kaitannya dari farmakologi. Di bawah ini adalah ulasan dari klasifikasi farmakologi.

  1. Farmakognosi

Ilmu pengetahuan satu ini berfokus pada bagian-bagian tumbuhan maupun hewab di mana biasanya dapat dijadikan sebagai obat yang alami. Jadi, bisa dikatakan bahwa farmakognosi ini merupakan ilmu tentang obat yang terbuat dari bahan mineral, hewani dan nabati. Tentunya, untuk menjadikan bahan-bahan tersebut menjadi obat sudah melalui beragam pengujian, termasuk uji biofarmasetika, uji toksikologi, dan uji farmakodinamik.

Farmakognosi sendiri masih merupakan bagian dari biofarmasi, kimia sintesa, dan juga biokimia di mana ruang lingkupnya lebih luas dan hal ini persis seperti yang dinyatakan oleh Fluckiger. Untuk mengenal farmakognosi lebih jauh, ada beberapa istilah yang kiranya bisa diketahui lewat pelajarannya, yakni:

  • Eksudat tanaman – Tanaman akan mengeluarkan secara spontan isi sel atau bisa juga didefinisikan sebagai isi sel yang dikeluarkan dari selnya melalui cara tertentu. Hal ini juga bisa berupa zat-zat nabati lain yang akan dipisahkan dengan cara tertentu dari tumbuhan.
  • Simplisia nabati – Inilah yang disebut dengan eksudat tanaman atau masih merupakan bagian dari sebuah tanaman. Simplisia sendiri adalah berupa atau berbentuk tanaman utuh.
  • Simplisia mineral – Simplisia ini datang dengan bentuk mineral yang sama sekali belum melalui proses pengolahan. Kalaupun sudah diolah, maka cara pengolahannya adalah proses yang sangat sederhana.
  • Hormon – Zat ini biasanya adalah hasil yang diproduksi oleh kelenjar endokrin. Hormon dari kelenjar endokrin ini mampu memberikan pengaruh terhadap tubuh, terutama dalam hal pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Itulah mengapa ada beberapa akibat kekurangan dan kelebihan kelenjar endokrin pada tubuh. Bentuk tubuh yang dapat menjadi lebih besar pun tak lepas dari peran hormon.
  • Vitamin – Zat ini memang diperlukan dan wajib bagi tubuh manusia, namun memang dalam kadar yang termasuk sedikit. Hanya saja, tanpa adanya vitamin tentunya tubuh tak akan bisa bermetabolisme dengan lancar dan sempurna. Vitamin didapat dari luar karena tubuh tak memiliki kemampuan untuk menghasilkannya.
  • Enzim – Senyawa atau zat yang juga dianggap sebagai biokatalisator ini memiliki manfaat atau tigas sebagai yang mempercepat reaksi metabolisme atau biokimia pada tubuh organisme.
  • Pemerian – Ini juga bisa dianggap sebagai informasi dalam bentuk penjelasan atau uraian lebih kepada warna, bau, bentuk dan juga rasa dari simplisia. Informasi ini sangatlah dibutuhkan dalam pengamatan terhadap simplisia nabati yang masih dalam satu bagian pada tanaman, entah itu akarnya, daun, atau bagian lainnya.
  • Simplisia hewani – Simplisia ini datang dalam bentuk atau rupa hewan yang masih utuh. Tapi bagian atau juga zat-zat yang berguna di mana berasal dari hewan juga dinamakan simplisia hewani.
  • Glikosida – Zat ini adalah zat yang mampu terurai oleh enzim tertentu menjadi semacam gula atau juga non-zat gula. Salah satu contoh yang bisa diambil adalah amigdalin di mana akan terurai menjadi benzaldehida + glukosa + asam sianida oleh enzim emulsin.
  • Alkaloida – Ini juga dikenal sebagai basa organik di mana di dalamnya terkandung unsur Nitrogen yang asalnya adalah dari tumbuhan. Basa organik ini diketahui pula memiliki efek fisiologis keras/kuat terhadap manusia.

(Baca juga: obat kepala terasa berat)

  1. Farmakokinetik

Inilah sebuah cabang ilmu dari farmakologi yang berfokus tentang proses perjalanan obat pada tubuh organisme, tentunya meliputi manusia. Hal ini otomatis meliputi juga proses absorpsi, biotransformasi, distribusi serta proses ekskresi. Supaya dapat memberikan efek yang diharapkan, tentu target tempat bekerja perlu dicapai oleh obat yang masuk ke dalam tubuh.

Misalnya, ambil saja contoh jenis-jenis antibiotik dalam mengobati penyakit ginjal (dalam hal ini infeksi ginjal). Antibiotik perlu sampai ke ginjal yang dianggap sebagai tempatnya bekerja supaya segala jenis bakteri yang dapat menginfeksi ginjal bisa terbasmi dengan baik. Ada efek terapeutik yang diberikan oleh obat pada penyakit ginjal ini.

Ketika obat sudah sampai di tempatnya bekerja dan pasca bekerja di mana efeknya sudah terasa, maka proses obat selanjutnya di dalam tubuh adalah ekskresi. Tahapan yang obat perlu lalui hingga obat bisa dikeluarkan dari tubuh antara lain adalah seperti di bawah ini:

  • Absorpsi

Proses ini adalah suatu proses di mana zat aktif dari obat diserap oleh tubuh dan proses inilah yang termasuk vital dalam menentukan efek obat. Tubuh hanya akan menyerap zat aktif yang ada dalam kondisi larut dan ketika zat aktif sudah dalam kondisi larut pada pencernaan, absorpsi akan terjadi melalui usus dan bakal masuk ke pembuluh darah. Pinositosis, transpor, transpor aktif, difusi pasir, filtrasi, dan difusi terfasilitasi adalah contoh mekanisme absorpsi.

Difusi pasif adalah mekanisme absorpsi yang paling sering digunakan oleh tubuh dalam mengabsorpsi obat. Tahap absorpsi sendiri dialami oleh seluruh bentuk sediaan obat, tapi obat yang pemakaiannya secara intravena tidaklah demikian. Khusus obat seperti itu biasanya penyuntikkannya langsung ke pembuluh darah, jadi tidak ada tahapan absorpsi dan liberasi.

  • Distribusi

Setelah proses absorpsi, maka proses yang selanjutnya adalah distribusi di mana ini merupakan proses yang penting juga untuk menyalurkan obat lewat pembuluh darah. Sesudah ada pada pembuluh darah maka obat akan menyebar ke seluruh tubuh yang diedarkan oleh darah. Obat kemudian juga bakal masuk ke organ-organ tubuh di mana tahap inilah obat sampai di tempat kerja dan kemudian memberikan efek.

Ada sejumlah obat tertentu yang mampu melintasi plasenta atau tali pusat dan inilah yang menjadi alasan mengapa obat-obatan tak boleh sembarangan digunakan oleh para ibu hamil. Ketika digunakan secara sembarangan tanpa pertimbangan yang baik, ada potensi bahwa obat yang dikonsumsi bisa memicu timbulnya pengaruh berbahaya pada janin.

  • Metabolisme

Ini adalah proses detoksifikasi yang dilakukan oleh tubuh karena pada dasarnya dalam tubuh manusia menganggap obat sebagai benda asing. Detoksifikasi adalah proses yang penting untuk tubuh lakukan supaya kadar racun dari zat kimia dapat diturunkan. Oleh enzim-enzim mikrosomal pada hatilah yang biasanya mendetoksifikasi sebagian besar obat.

Proses pendetoksifikasian akan memroduksi senyawa yang sifatnya racun atau toksik secara lebih sedikit atau rendah sehingga tak akan begitu berisiko dalam meracuni tubuh organisme. Ada sejumlah kelompok obat yang meski sudah didetoksifikasi hati akan tetap dalam bentuknya yang aktif. Hanya saja, ada pula kelompoka obat yang kemudian tak lagi aktif setelah detoksifikasi.

Khusus untuk kelompok obat yang diberikan dengan cara disuntik ke pembuluh darah secara langsung, ini otomatis tidaklah melalui proses detoksifikasi hati. Penyebarannya terjadi langsung ke seluruh tubuh bersama-sama dengan proses peredaran darah. Sesudah proses detoksifikasi hati itulah obat kemudian berubah menjadi bentuk yang tak aktif.

Obat yang masuk ke organ hati lebih dulu biasanya dilakukan secara oral karena pembuluh darah yang asalnya dari usus bakal mengarah ke hati. Baru sesudahnya, proses penyebaran terjadi ke seluruh tubuh. Detoksifikasi obat pun kemudian terjadi lebih dulu sebelum si obat berhasil sampai di tempat kerja jadi efeknya tak menjadi optimal.

  • Ekskresi

Pada proses ekskresi, ini adalah proses di mana obat dikeluarkan dari tubuh organisme melalui urine yang dilakukan oleh organ ginjal. Tak hanya lewat urine, obat juga dapat terekskresikan melalui keringat atau kulit, udara atau pernapasan, air mata atau mata, feses atau saluran pencernaan, dan juga air susu atau kelenjar payudara. Metabolit adalah bentuk pengeluaran obat di mana ini adalah bentuk asal dari obat tersebut.

(Baca juga: bahaya antibiotik tanpa resep dokter)

  1. Farmakoekonomi

Fokus tentang hubungan di antara obat dengan nilai ekonomis dari obat tersebut akan dapat dipelajari pada cabang ilmu khusus satu ini, yakni farmakoekonomi. Diketahui bahwa ada 4 metode analisis yang kerap dipakai, yaitu:

  • CMA atau analisa minimalisasi-biaya – Pada metode ini, diketahui bahwa karakteristik analisisnya adalah efek 2 intervensi yang setara atau sama di mana juga valuasinya dalam bentuk rupiah.
  • CEA atau analisa efektivitas-biaya – Pada metode ini, diketahui bahwa karakteristik analisisnya adalah lebih tingginya efek dari satu intervensi dan pengukuran hasil pengobatannya diukur dalam unit alamiah dengan biaya atau valuasi dalam bentuk rupiah.
  • CUA atau analisa utilitas-biaya – Pada metode ini, diketahui bahwa karakteristik analisisnya adalah lebih tingginya efek dari satu intervensi di mana biaya dalam bentuk rupiah. Untuk hasil pengobatannya pada umumnya datang dalam bentuk QALY atau quality-adjusted life years.
  • CBA atau analisa manfaat-biaya – Pada metode ini, diketahui bahwa karakteristik analisisnya adalah lebihtingginya efek dari satu intervensi di mana juga pernyataan hasil pengobatan adalah dalam rupiah. Biaya atau valuasinya pun dalam bentuk rupiah.

Hasil dari kajian diharapkan bisa menawarkan masukan untuk ketetapan pemakaian sumber daya kesehatan yang sebetulnya berjumlah terbatas supaya bisa lebih efisien karena prinsip dasar kajian farmakoekonomi adalah unit moneter.

  1. Toksikologi

Jika bicara tentang ilmu pengetahuan yang fokus mempelajari efek negatif dari bahan kimia terhadap suatu organisme hidup, maka inilah yang dinamakan dengan toksikologi. Toksikologi ini masih ada kaitannya erat dengan farmakologi. Sementara itu, toksikologi lingkungan juga adalah sebuah ilmu pengetahuan yang berfokus pada efek dari bahan polutan terhadap kehidupan serta efeknya pada ekosistem yang dipakai dalam evaluasi hubungan antara polutan dan manusia di lingkungan.

Ada 4 hal yang menjadi perhitungan untuk pencegahan keracunan pada organisme, yaitu, toxicity  (kuantifikasi sekaligus juga deskripsi akan sifa dari segala toksis zat kimia), risk (besar kecilnya potensi zat kimia yang mampu menyebabkan keracunan), hazard (potensi zat kimia dalam menyebabkan cedera pada organisme), serta safety (keamanan).

Diketahui pula bahwa ada 3 hal yang menentukan efek toksik di dalam tubuh suatu organisme, faktor-faktor tersebut antara lain adalah:

  • Reaksi ideosinkrasi – Reaksi ini dianggap abnormal secara genetis yang penyebabnya adalah bahan polutan atau bahan kimia.
  • Reaksi alergi – Reaksi ini dianggap membawa kerugian di mana penyebabnya adalah toksian atau bahan kimia dikareanakan kepekaan pada bahan tersebut.
  • Toksisitas setempat dan sistemik – Perbedaan efek toksik yang ditentukan oleh lokasi manifestasi.

(Baca juga: antibiotik radang tenggorokan di apotik)

  1. Farmakodinamik

Perlu diketahui pula bahwa salah satu cabang ilmu dari farmakologi adalah farmakodinamik yang mempelajari lebih tentang efek fisiologi serta biokimiawi sebuah obat berikut juga mekanisme kerja obat. Untuk mengetahui interaksi antara obat dan sel, efek utama dari obat serta urutan peristiwa spektrum efek serta reaksi pada organ tubuh organisme, maka penting untuk mempelajari farmakodinamik.

Bekerjanya obat dapat berlangsung ketika sudah terkait dengan reseptornya pada sel yang memang tengah memerlukan obat. Untuk itulah mengapa setelahnya timbul adanya efek biokimiawi sekaligus fisiologis secara spesifik yang ditimbulkan. Timbulnya reaksi spesifik ini disebabkan oleh adanya sel yang melakukan pengiriman biologis sesudah adanya ikatan dengan obat. Protein adalah yang diketahui sebagai reseptor obat, sementara itu enzim adalah permukaan reseptor.

  1. Farmakoterapi

Cabang ilmu dari farmakologi yang jangan sampai terlupakan adalah farmakoterapi di mana bidang ini lebih kepada ilmu pengetahuan tentang kaitan antara penggunaan obat pada pencegahan maupun pengobatan suatu jenis penyakit tertentu. Pada hakikatnya, seluruh ilmu yang masih ada kaitannya dengan farmakologi bakal berfokus pada bagaimana penggunaan obat mampu menjadikan kesejahteraan serta kualitas hidup organisme (manusia) bisa meningkat.

Peningkatan kesejahteraan akan kualitas hidup manusia di sini melingkupi upaya mencegah penyakit, mengobati penyakit, atau juga mengubang fungsi fisiologis pada sistem tubuh manusia. Di bawah ini adalah sejumlah manfaat yang bisa diperoleh ketika mempelajari farmakoterapi.

  • Dapat memilih obat yang tepat.
  • Dapat memahami dan mengenal pemakaian obat sesuai dengan penyakitnya.
  • Dapat berinteraksi dengan tenaga medis, terutama dokter.
  • Dapat memberikan informasi tentang obat, meliputi efek samping, interaksi obat dengan makanan, interaksi obat dengan obat yang lainnya, maupun kontraindikasi obat.
  • Dapat menolong pasien untuk melaksanakan self medication.

(Baca juga: terapi vertigo)

  1. Farmakologiklinik

Cabang ilmu dari farmakologi ini berfokus lebih kepada efek obat terhadap tubuh manusia, namun memang perlu dibedakan antara farmakologi dasar dengan farmakologi klinik. Di bawah ini dapat dilihat perbedaan keduanya.

Farmakologi dasar lebih berfokus dalam hal:

  • Disiplin ilmu yang berdasarkan pada laboratorium.
  • Interaksi antara sistem biologis dan juga obat.
  • Sifat, mekanisme kerja, efek samping, dan perjalanan obat di dalam tubuh.
  • Kaitan antara efek biologis dan dosis obat.

Sementara itu, farmakologi klinik lebih berfokus dalam hal:

  • Efek obat, pemakaian obat dengan prinsip ilmiah klinik dan perjalanan obat di sistem biologis manusia.
  • Memastikan bahwa penggunaan dari klinik obat bisa bekerja secara efisien dan efektif, rasional dan juga aman bagi pasien.
  • Pemberian obat secara tepat, terutama dalam klinik.

Oleh WHO, definisi dari farmakologiklinik sendiri adalah penelitian ilmiah obat terhadap manusia dan tentunya pengertian ini tak akan lepas dari konteks waktu dari sejak farmakologiklinik berkembang. Penelitian ilmiah telah dilakukan tentang obat terhadap manusia di mana ini adalah kebutuhan dan bahkan menjadi prioritas di dalam bidang kedokteran. Disiplin ini kemudian berkembang dan akhirnya terjadi pergeseran ruang lingkup ke arah pelayanan terhadap para pasien.

Ilmu pengetahuan dan pengembangan akan farmakologiklinik ini dilatarbelakangi oleh sejumlah alasan, seperti:

  • Penggunaan obat secara tidak rasional sehingga akhirnya pemakaiannya dianggap tidak tepat.
  • Jenis obat yang ada pada zaman sekarang sudah makin banyak untuk mengobati penyakit.
  • Adanya sejumlah bencana pengobatan.

(Baca juga: jenis obat analgesik – obat luka dalam akibat benturan – efek samping ambroxol)

Kesimpulan

Serangkaian informasi mengenai farmakologi dan cabang-cabang ilmunya telah dibahas secara sepintas. Maka dapat ditangkap bahwa farmakologi adalah sebuah ilmu pengetahuan di mana fokus pembelajarannya adalah tentang interaksi obat dengan unsur pokok tubuh yang tujuannya adalah demi memroduksi efek terapi. Sejak zaman dulu, obat yang tersedia sudah termasuk banyak ditambah pula zaman sekarang di mana jumlah jenis obat makin bertambah.

Cabang-cabang ilmu pun dapat menelaah dan meneliti obat-obat yang makin bertambah hari demi hari di dunia ini. Pemberian obat kepada seorang pasien tentunya harus tepat dan pemakaiannya untuk mengobati juga harus benar di mana dapat disesuaikan dengan jenis penyakit yang diderita. Sebelum pemberian obat kepada pasien, tentunya uji toksikologi adalah penting karena obat perlu diuji lebih dulu, khususnya tentang efek samping supaya pasien memahami efek obat yang dikonsumsi.

Kini banyak obat yang beredar dan belum tentu baik untuk kesehatan dan mampu mengobati penyakit yang ada. Obat-obat palsu dan belum teruji kemampuan serta keamanannya sangatlah banyak belum lagi efek samping obat jangka panjang. Untuk itulah setiap pasien harus waspada, obat yang belum teruji justru bisa menyebabkan gangguan kesehatan memburuk, bahkan bisa sampai terjadi komplikasi.