Dialisis – Pengertian, Jenis, Tujuan dan Efek Samping

1392

Ginjal merupakan sebuah organ yang sangat penting peranannya dalam tubuh manusia. Banyak sekali unsur kesehatan dalam tubuh manusia yang bersentuhan secara langsung dengan fungsi ginjal sendiri. Namun, selain itu ada juga beberapa fungsi ginjal yang secara tak langsung juga mempengaruhi fungsi dan kerja dari organ lain dalam tubuh manusia. salah satu fungsi ginjal yang cukup penting adalah perannya sebagai organ pembuangan limbah. Banyak sekali limbah-limbah yang dikeluarkan melalui ginjal.

Prosesnya sendiri merupakan sebuah proses yang tak sederhana. Diperlukan penyaringan dan pengendapan racun serta limbah lain yang berasal dari organ kerja tubuh manusia. Ginjal sendiri juga sangat rentan dengan serangan penyakit, kita mengenal banyak sekali jenis penyakit ginjal yang cukup berbahaya. Ketika ginjal terserang penyakit maka kinerja ginjal akan menurun, bahkan ada kemungkinan ginjal akan berhenti total. Untuk menyiasati hal tersebut biasanya dilakukan berbagai tindakan medis. Salah satu tindakan medis yang sering dilakukan untuk mengatasi kondisi ginjal tersebut adalah dialisis ginjal.

Beberapa orang mungkin telah mengetahui apa itu dialisis, namun pengetahuan mereka terkadang hanya sebatas pada permukannya saja. Sebenarnya ada banyak hal yang berhubungan dengan dialisis yang harus kita pahami. Hal tersebut berhubungan dengan apa itu dialisis dan bagaimana dialisis dikerjakan. Beberapa hal yang harus kalian ketahui adalah,

Apa itu Dialisis?

Secara umum dialisis sendiri merupakan sebuah proses  yang berhubungan dengan perpindahan molekul dalam larutan yang disebabkan oleh adanya proses difusi. Perpindahan molekul ini sendiri terjadi melalui membran semi-permeable. Melalui membran itulah molekul-molekul tertentu akan mengalami perpindahan. Biasanya membran yang digunakan dalam proses ini sendiri adalah membran yang terbuat dari jaringan Selulosa. Proses dialisis ini sendiri sangat sering digunakan untuk memurnikan kandungan zat tertentu. Namun, biasanya yang disaring adalah kandungan garam yang berlebih pada suatu larutan atau cairan tertentu. Selain kandungan garam proses ini sendiri juga sering digunakan untuk memisahkan kandungan protein atau enzim tertentu. Laju kecepatan perpindahan dan penyaringan tersebut akan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti

  1. Tingkat konsentrasi dari molekul pelarut yang akan keluar dari kantung dialisis.
  2. Luas permukaan dari kantung dialisis. Semakin luas membran maka laju akan semakin cepat.
  3. Volume dari pelarut, jika volume dan luas permukaan memiliki rasio besar maka laju difusi akan semakin cepat.

Jika kita hubungkan dengan proses pencucian darah maka, dialisis adalah suatu proses yang bertujuan untuk mengurangi kandungan zat-zat beracun yang ada dalam darah. Proses dialisis ini sendiri sangat berhubungan erat dengan ketidak mampuan dari ginjal untuk menjelaskan tugas dan fungsinya secara normal. Ketika ginjal tak dapat berfungsi secara normal maka, kandungan limbah beracun akan menumpuk dalam ginjal. Serta memiliki kemungkinan besar untuk terbawa dalam siklus peredaran darah. Seorang pasien akan dinyatakan diharuskan mendapatkan penanganan dialisis setelah dinyatakan memiliki penyakit ginjal kronis pada stadium 5. Peryataan tersebut biasanya didasarkan pada beberapa tes, salah satunya adalah tes tingkat kandungan nitrogen urea dalam darah.

Jenis Dialisis

Berdasarkan cara kerja serta alat yang digunakan proses dialisis sendiri dapat dibedakan menjadi dua macam. Pembedaan ini lebih tertuju pada cara dan proses bukan berdasarkan keuntungan dan kerugian yang akan diterima oleh pasien. Beberapa jenis dialisis adalah :

  1. Hemodialisis

Dialisis jenis ini merupakan proses dialisis yang paling sering digunakan dan sangat umum diketahui oleh masyarakat. Pada prosesnya dialisis jenis ini dibantu oleh alat dialisis yang berada di luar tubuh kita. Prosesnya sendiri tak jauh berbeda dengan proses yang terjadi pada Plasmapheresis dan rheoperesis. Pada proses ini pasien akan dipasangi oleh dua jenis keteter. Kedua saluran tersebut akan berfungsi untuk menarik darah kedalam mesin dialisis. Darah yang masuk kedalam mesin kemudian akan dimurnikan dan disaring.

Pemisahan darah dari kandungan zat-zat berbahaya ini sendiri bisa dikatakan sangat cepat. Setelah darah mengalami pemurnian kemudian akan dikembalikan kembali kedalam tubuh pasien. Untuk frekuensi dari seorang pasien menjalani proses ini sendiri sangat tergantung pada tingkat keparahan dari pasien tersebut.

Pada pasien yang dianggap cukup parah maka proses ini akan berlangsung cukup sering dalam seminggu. Namun pada pasien yang dianggap tidak terlalu parah mungkin frekuensinya akan berbeda. Tapi biasanya proses ini akan dilakukan 3 kali dalam seminggu.

  1. Dialisis Peritoneal

Dialisis jenis ini merupakan sebuah proses dialisis yang tak banyak dikatahui oleh masyarakat. Bahkan mungkin beberapa orang baru pertama kali membaca dan mengetahui keberadaan dialisis jenis ini. Secara garis besar tujuan dari dialisis peritoneal tak jauh beda dengan hemodialisis, yang membedakan keduanya hanyalah alat yang digunakan. Jika hemodialisis menggunakan mesin maka pada dialisis jenis menggunakan lapisan peritoneum yang berada dalam perut. Lapisan peritoneum ini sendiri memiliki kemiripan dengan ginjal karena terdapat banyak sekali jaringan pembuluh darah. Pada prosesnya jaringan pembuluh darah tersebut yang dimanfaatkan sebagai penyaring darah. Perlakuan ini sendiri dilakukan melalui sebuah selang fleksibel dalam ukuran kecil akan dipasang di perut. Melalui selang tersebutlah cairan dialisis akan dipompa masuk kedalam lapisan peritoneum. Untuk selanjutnya zat-zat yang dianggap beracun akan di keluarkan melalui dalam tubuh.

Dialisis peritoneal sendiri dapat terdiri dari dua jenis yaitu Contonous Ambulatory Peritonela Dialysis (CAPD) dan Automated Peritoneal Dialysis ( APD). Pada proses CAPD seorang pasien akan dapat melakukan aktifitasnya secara normal tanpa terganggu. Selain itu proses CAPD ini sendiri dapat dilakukan di berbagai tempat, tidak tergantung harus dilakukan di Rumah Sakit atau di tempat praktek dokter yang terkait. Sedangkan, pada proses APD seorang pasien diharuskan menggunakan bantuan mesin dalam prosesnya. Tentu saja pada proses APD pasien harus berada di rumah sakit untuk menjalani proses tersebut.

Dalam penggunaan dan pemilihan kedua jenis proses dialisis tersebut akan sangat tergantung pada kondisi kesehatan pasien. Proses hemodialisis biasanya sangat umum digunakan untuk mereka yang telah lanjut usia dan daya tahannya telah menurun secara drastis. Sedangkan dialisis peritoneal akan lebih dipilih dan digunakan pada mereka yang lebih muda dengan daya tahan yang lebih baik.

Siapa yang Menjalani Proses Dialisis?

Dialisis merupakan sebuah tindakan pencucian darah yang bisanya digunakan pada mereka yang telah masuk kedalam level 5 PGK. Pada pasien yang telah masuk kedalam level tersebut maka dapat dipastikan bahwa kinerja dari ginjal sangat menurun dengan drastis. PGK sendiri adalah Penyakit Ginjal Kronis yang biasanya terdiri dari berbagai macam jenis penyakit. Selain disebabkan oleh penyakit biasanya disebabkan juga karena adanya kelainan yang terjadi pada ginjal seseorang. Bisa juga dikarenakan pasien mengalami tindakan operasi nefrektomi baik nefrektomi radikal mapun nefrektomi parsial. Namun, yang jelas dialisis akan dianjurkan bagi pasien yang ginjalnya tak lagi dapat berfungsi secara normal.

Tindakan dialisis merupakan sebuah tindakan medis yang memiliki efek jangka panjang. Hal ini dikarenakan pada seseorang yang telah diharuskan mendapat tindakan dialisis harus menjalaninya seumur hidup. Namun, dialisis bisa saja dihentikan jika pasien mendapatkan donor ginjal yang sesuai. Donor tersebut biasanya hanya salah satu ginjal saja, tapi setelah pasien mendapatkan donor ginjal masih harus dilakukan pengawasan medis secara sering dan teratur.

Tujuan Proses Dialisis

Dialisis merupakan sebuah tindakan medis terakhir yang digunakan pada mereka yang memiliki penyakit tergolong PGK. Meskipun, proses dialisis bukan merupakan sebuah proses yang bertujuan untuk menyembuhkan pasien dari penyakit tertentu. Namun proses ini sendiri apa berguna dan berfungsi untuk dapat mengurangi kinerja dari ginjal yang masih ada dalam tubuh. Atau juga berfungsi untuk menggantikan fungsi ginjal yang sudah tidak ada dalam tubuh kita. Proses dialisis ini sendiri memiliki indikasi tertentu yang dapat menyatakan keberhasilan seseorang dalam menjalani proses dialisis.

Untuk dapat dinyatakan berhasil dalam proses dialisis maka seorang pasien akan menjalani serangkaian tes terlebih dahulu. Beberapa tes yang biasa dijalani seorang pasien untuk menyatakan keberhasilan proses dialisis adalah tes tingkat kandungan nitrogen urea dalam darah. Pada pasien yang telah menjalani dialisis maka akan sangat diharapkan bahwa tingkat kandungan nitrogen urea dalam darah mereka akan berada dalam kondisi yang normal atau stabil. Namun, jika dalam proses pengetesan ditemukan bahwa tingkat urea dalam darah masih mengalami peningkatan maka bisa dinyatakan bahwa proses dialiss tersebut gagal.

Bagi mereka yang telah menjalani proses dialisis sendiri akan mendapatkan anjuran pola hidup tertentu. Pola ini sendiri bertujuan untuk dapat meningkatkan tingkat keberhasilan dalam proses dialisis. Bukan tak mungkin bahwa seorang pasien yang dalam tes awal dinyatakan berhasil namun, karena pola hidup yang tak sesuai akan mengalami kegagalan dalam proses dialisis selanjutnya. Biasanya pola baru ini sendiri berhubungan erat dengan perubahan pola makan. Pasien akan diminta untuk menghindari mengkonsumsi makanan tertentu.

Biasanya pasien akan diminta untuk mengurangi dan menghindari makanan yang banyak mengandung fosfor, kalsium, potassium dan sodium. Selain itu pasien juga akan diminta untuk mengurangi konsumsi garam serat mengurangi konsumsi air. Pengurangan konsumsi bahan-bahan yang mengandung air berlebih ini sendiri bertujuan untuk dapat menjaga keseimbangan tingkat cairan yang ada dalam tubuh.

Efek Samping Dialisis

Sama halnya dengan proses tindakan medis yang lain maka proses dialisis ini sendiri juga tak dapat lepas dari adanya kemungkinan efek samping. Biasanya efek samping yang muncul ini akan sangat beragam tergantung dari jenis dialisis yang digunakan. Namun, efek samping ini sendiri bisa juga dikarenakan akibat dari gejala penyakit yang ada dalam tubuh pasien yang menyebabkan kegagalan fungsi ginjal. Beberapa jenis efek samping yang dapat muncul dalam proses dialisis adalah

  1. Hipertensi
  2. Infeksi
  3. Darah rendah
  4. Kram otot
  5. Gatal-gatal
  6. Kelebihan cairan
  7. Hyperkalemia (kelebiah kalium dalam darah)
  8. Perikarditis
  9. Depresi
  10. Amyloidosis
  11. Anemia
  12. Susah tidur
  13. Penyakit tulang
  14. Kenaikan berat badan
  15. Pelemahan otot perut

Nah, itu tadi beberapa informasi mengenai dialisis yang harus kalian ketahui. Dialisis bukanlah sebuah tindakan medis untuk menyembuhkan, namun lebih ke tindakan medis yang berguna untuk membantu kinerja ginjal itu sendiri. Semoga informasi tersebut bermanfaat.