Ablasi Endometrial – Metode, Prosedur, Perawatan dan Komplikasi

742

Menstruasi adalah proses normal yang terjadi setiap bulannya pada setiap wanita yang telah mengalami pubertas. Menstruasi atau yang disingkat mens ini, juga dikenal dengan nama haid. Umumnya masa menstruasi berlangsung sekitar 5 – 7 hari, dengan beragamnya jumlah volume darah yang keluar dari vagina. Pembalut yang menampung darah menstruasi memudahkan wanita untuk menjaga kebersihan dirinya dan bisa dijadikan acuan normal tidaknya tubuh wanita dengan melihat berapa volume darah menstruasi.

Ada beberapa wanita yang mengalami gangguan pada siklus menstruasinya sehingga berdampak perdarahan terus menerus. Hal ini tentu berbahaya, karena wanita bisa kekurangan volume darah dan mengalami anemia. Selain mengeluh letih, lemah dan lesu, anemia menimbulkan kerusakan pada organ tubuh lainnya. Pendarahan yang berlebihan saat menstruasi disebut menorrhagia. Salah satu solusi dari perdarahan yang terus menerus itu adalah dengan dilakukannya ablasi endometrial.

(Baca juga: Tanda-tanda Haid – Penyebab Darah Beku Saat HaidPenyebab Telat Datang Bulan)

Pengertian Ablasi Endometrial

Ablasi endometrial adalah penanganan yang terbukti efektif mengurangi keluhan menorrhagia  dengan cara menghancurkan lapisan rahim. Hal ini bertujuan mengurangi perdarahan yang terjadi. Ablasi endometrial bisa dianggap sebagai pilihan terakhir, karena sama seperti histerektomi, ini permanen dan tidak dapat dikembalikan lagi.

Metode Ablasi Endometrial

Tersedia beragam cara yang untuk melakukan prosedur ablasi endometrial ini. Ada metode yang sederhana membutuhkan sedikit waktu yang dapat dilakukan di praktek dokter atau klinik rawat jalan. Juga ada beberapa jenis ablasi endometrial yang wajib dilakukan di rumah sakit, terutama jika memerlukan anestesi umum dan memakan waktu lebih lama.

Berapa lama yang dibutuhkan untuk ablasi endometrial tergantung pada metode yang digunakan, biasanya sekitar 15 – 45 menit. Walau pasien yang melakukan ablasi endometrial merupakan pasien rawat jalan, namun setelah prosedur harus tinggal di rumah sakit selama 1 – 2 jam. Pun ada beberapa metode mungkin memerlukan untuk menginap di rumah sakit pasca tindakan. Hal ini untuk mengevaluasi hasil dari proses ablasi endometrial.

Berita baiknya, tidak ada sayatan yang diberikan pada ablasi endometrial sebab dokter hanya memasukkan alat ramping melalui mulut rahim. Alatnya bervariasi, tergantung pada metode yang dipilih dokter untuk menghancurkan endometrium pasien. Faktor seperti ukuran dan kondisi rahim pasien juga menentukan metode ablasi endometrial yang paling tepat.

(Baca juga: Ciri-ciri Rahim SehatEfek Samping Pengangkatan Rahim dan Indung Telur – Penyakit yang Menyerang Tuba Fallopi)

Pilihan metode ablasi endometrial meliputi:

  • Bedah Elektro

Bedah eletro atau electrosurgery ini membutuhkan anestesi umum dengan lama waktu sekitar 30 menit dalam menyelesaikannya. Metode ablasi endometrial semacam ini menggunakan ruang ramping untuk melihat ke dalam rahim selama prosedur berlangsung. Yang dipakai adalah bola roller, bola berduri atau loop kawat yang semakin lama semakin panas melewati lingkup yang berfungsi mengukir alur ke dalam endometrium hingga luruh.

  • Sangat Dingin

Metode sangat dingin atau cryoablasi menggunakan hawa dingin yang ekstrem. Caranya dengan memasukkan dua atau tiga bola es yang membekukan dan menghancurkan endometrium. USG real-time dapat memungkinkan dokter melacak kemajuan bola es di dalam rahim. Setiap siklus pembekuan membutuhkan waktu hingga 6 menit dan berapa jumlah siklus yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses ablasi endometrial tergantung pada ukuran dan bentuk rahim.

  • Cairan Panas Mengalir Bebas

Metode ablasi endometrial yang satu ini menggunakan cairan saline yang dipanaskan dari 80 sampai 90° C (sekitar 176 – 194° F). Cairan panas ini mengaliri rahim selama sekitar 10 menit. Rasanya memang lebih menyakitkan dibanding metode lain, namun sangat besar kemungkinan untuk mendapatkan cakupan yang luas sehingga ablasi endometrial berhasil sempurna.

  • Balon Panas

Hampir sama dengan metode cairan panas, namun metode ini menggunakan perangkat balon yang dimasukkan melalui serviks. Balon kemudian digelembungkan dengan cairan yang dipanaskan sampai 87° C atau sekitar 188,6° F. Balon ini membantu mencegah cairan keluar dari tuba falopi (saluran indung telur). Sayangnya metode ini kurang efektif karena terkadang balon tidak cukup fleksibel untuk mencakup seluruh bagian endometrium. Waktu yang diperlukan untuk metode ini adalah sekitar 10 menit.

  • Microwave

Pada metode ablasi endometrial yang menggunakan microwave ini, dokter memasukkan tongkat tipis yang memancarkan gelombang mikro ke dalam rahim. Tongkat kemudian meningkatkan suhu jaringan endometrium menjadi 75 – 85° C (sekitar 167 -185 F°). Agar merata, tongkat dipindah-pindahkan dari satu sisi ke sisi lainnya sambil menariknya keluar dari rahim. Metode ini biasanya memakan waktu 3 – 5 menit.

  • Frekuensi Radio

Frekuensi radio ini adalah metode ablasi endometrial yang lebih otomatis. Metode ini menggunakan instrumen yang membentangkan rangkaian elektroda mesh di dalam rahim. Dalam waktu 80 sampai 90 detik, ada jala yang mentransmisikan energi frekuensi radio sehingga dapat menguapkan jaringan endometrium.

Penyebab Ablasi Endometrial

Setiap bulan, wanita memang melepas endometrium (lapisan rahim) yang luruh karena setelah proses ovulasi, tidak dilanjut dengan adanya proses pembuahan sehingga endometrium yang awalnya menebal sebagai persiapan bila terjadi pembuahan sel telur (ovum) kembali menipis. Penipisan endometrium ini keluar dalam bentuk darah menstruasi. Ablasi endometrial terjadi untuk mengatasi gangguan menstruasi yang serius. Penyebab prosedur ini untuk mengobati menorrhagia, yaitu jumlah kehilangan darah yang berlebihan di masa menstruasi.

Sebelum diputuskan pemberian tindakan ablasi endometrial, ada beberapa pilihan yang bisa dicoba untuk membantu mengurangi perdarahan menstruasi. Seperti dokter  yang meresepkan obat yang mengandung hormon untuk menghentikan perdarahan yang terjadi. Atau alternatif pemakaian  alat kontrasepsi intrauterin berhormon progesteron (IUD). Jika keduanya gagal, maka ablasi endometrial sebagai pilihan akhir yang diharapkan bisa sangat membantu mengurangi keluhan perdarahan yang terjadi.

Apa saja yang boleh diberikan prosedur ablasi endometrial?

Pada perdarahan jumlah banyak, ablasi endometrial bisa sebagai solusinya. Prosedur ini positif diberikan bilamana:

  1. Lama siklus mentruasi terlalu panjang dengan lama perdarahan bisa sampai berbulan-bulan
  2. Pembalut yang dipakai selalu penuh padahal sering diganti
  3. Timbul anemia dari kehilangan darah yang berlebihan

Apa saja yang tidak boleh diberikan prosedur ablasi endometrial?

Meskipun tindakan ablasi endometrial berperan besar dalam menghentikan perdarahan karena menorrhagia, namun tindakan ini tidak boleh diberikan kepada wanita yang:

  • Menderita gangguan thrombocytopenia atau yang disebut penyakit ‘von Willerrand’ yang rentan terhadap pendarahan
  • Masih ingin hamil
  • Memiliki riwayat kram perut yang hebat di periode menstruasi
  • Memiliki kanker rahim karena sel kanker tidak dapat diangkat sepenuhnya hanya dengan menghancurkan lapisan endometrium
  • Mengalami infeksi saluran kelamin aktif
  • Diketahui sedang hamil meskipun masih berumur beberapa minggu
  • Memiliki masa menopause yang sudah lewat

(Baca juga: Penyebab MenopouseCara Mengatasi MenopauseGejala Menopause)

Setelah dilakukannya ablasi endometrial, kehamilan memang masih dimungkinkan pada beberapa wanita. Namun tentunya kehamilan ini menjadi beresiko tinggi karena bisa berakhir dengan keguguran oleh karena lapisan rahim yang telah rusak. Karena itu, wanita yang masih ingin hamil di masa depan disarankan tidak melakukan tindakan ablasi endometrial. Bahkan pada beberapa wanita yang menyetujui prosedur ini menjalani prosedur sterilisasi terlebih dahulu dengan tubektomi.

Persiapan untuk Prosedur

Agar hasil akhir dari proses ablasi endometrial sesuai keinginan, maka dokter biasanya menganjurkan biopsi endometrium sebagai persiapan prosedur ablasi endometrial. Sampel kecil dari endometrium diambil dengan menggunakan alat yang dimasukkan melalui pembukaan leher rahim (serviks). Biopsi ini juga bertujuan untuk menguji ada tidaknya kanker. Sebab jika ternyata pasien menderita kanker, maka lebih perlu menjalani histerektomi (pengangkatan rahim) daripada prosedur ablasi endometrial.

Selain itu, dokter juga melakukan tindakan pencitraan dengan ultrasonografi (USG) untuk melihat kondisi di dalam rahim. Dengan tindakan ini bisa dilihat apakah terdapat fibroid (tumor jinak) atau polip di bawah lapisan endometrium. Bila memang ada, maka pertumbuhan fibroid atau polip itulah yang menyebabkan pendarahan terus-menerus. Keduanya dapat diangkat tanpa menghancurkan seluruh lapisan rahim, sehingga ablasi endometrial tidak perlu diberikan. Sebaliknya bila sudah positif untuk perlunya tindakan ablasi endometrial, maka pasien yang menggunakan kontrasepsi dalam rahim berupa IUD harus dilepas terlebih dahulu.

Dokter juga menyiapkan proses ablasi endometrial dengan menipiskan endometrium pasien. Caranya dengan memberikan obat-obatan tertentu untuk terapi hormon selama beberapa minggu. Atau dengan melakukan tindakan dilatasi dan kuretase (D & C). Di tindakan ini, dokter mengeluarkan jaringan ekstra dari menipiskan endometrium, sebab lapisan endometrium yang lebih tipis akan meningkatkan tingkat keberhasilan tindakan ablasi endometrial.

Dalam memberikan kenyamanan sewaktu ablasi endometrial, dokter juga memberikan penawaran tentang pilihan anestesi yang diberikan. Karena di tindakan ini, dokter akan memperbesar leher rahim untuk memasukkan alat-alat ke dalam rongga rahim. Alat-alat tersebut dapat mengeluarkan laser, panas, dingin yang membekukan, atau listrik, yang dapat menghancurkan lapisan rahim.

Pemilihan metode yang digunakan untuk ablasi endometrial tergantung pada ukuran, bentuk, kondisi rahim pasien, dan adanya kanker jinak. Untuk itulah diskusi tentang pemilihan anastesi yang tepat membantu pasien dalam mengurangi kecemasannya dan juga member kelancaran pada proses ablasi endometrial.

Selain dari pihak dokter sebagai pelaksana prosedur ablasi endometrial, ada baiknya pasien mengkonsultasikan beberapa hal sebagai berikut:

  • Obat-obatan yang dikonsumsi.

Misal sebelumnya sempat sakit dan mendapat resep dokter, lebih baik ditunjukkan pada dokter yang akan melakukan tindakan ablasi endometrial. Sebab biasanya seminggu sebelum operasi, pasien diminta berhenti minum obat-obatan tertentu yang bisa mengganggu proses dilakukannya ablasi endometrial dan penyembuhannya. Seperti contoh obat pengencer darah (clopidogrel atau warfarin), obat anti inflamasi (aspirin).

  • Merokok.

Bagi perokok, dianjurkan berhenti merokok agar tidak timbul komplikasi setelah dilakukannya ablasi endometrial.

  • Persiapan Mental dan Fisik

Pada sehari sebelum prosedur, disarankan untuk menyiapkan diri secara mental dan fisik. Pasien harus yakin bahwa tindakan ablasi endometrial adalah demi kebaikan dirinya. Hal ini bisa mengurangi rasa cemas. Persiapkan diri juga untuk mengosongkan saluran cerna dengan cara puasa mulai malam hari sebelum tindakan ablasi endometrial. Dan jangan makan serta minum apapun di hari akan dilakukannya prosedur ini. Alasannya agar tidak tersedak bila muncul reaksi dari anastesi seperti rasa mual dan kepala pusing.

Anestesi

Pemberian anastesi sewaktu prosedur ablasi endometrial adalah keharusan. Tindakan ini bermanfaat untuk memberikan rasa nyaman pada pasien, sehingga pasien tidak merasa kesakitan karena ditidurkan dengan anastesi yang diberikan. Ada beberapa jenis anastesi yang bisa dipilih, yaitu:

  • anastesi umum / general 

dimana pasien ditidurkan terlebih dahulu, baru setelahnya tindakan ablasi endometrial dilakukan. Pasien tidak merasakan apapun selama prosedur berlangsung, sehingga menimbulkan rasa nyaman.

  • anastesi parsial

dilakukan dengan anastesi perut ke bawah, dimana diberikan sedasi sadar sehingga hanya area lokal yang mati rasa dan pasien bisa melihat serta mendengar jalannya prosedur ablasi endometrial dari awal sampai selesai.

Kemungkinan Komplikasi Ablasi Endometrial

Akibat dari dilakukannya ablasi endometrial ialah berhentinya menstruasi, hingga tidak kluar darah bulanan sama sekali. Prosedur ini juga bisa sangat mengurangi kemungkinan untuk bisa hamil, karena kegagalan proses ovulasi. Untuk komplikasi dari ablasi endometrial jarang terjadi. Namun tentu saja tidak menjamin tidak adanya resiko sama sekali.

Kemungkinan komplikasi yang mungkin terjadi setelah dilakukannya ablasi endometrial adalah:

  1. Kram perut
  2. Infeksi
  3. Pendarahan
  4. Komplikasi yang berhubungan dengan efek anastesi, seperti mual muntah
  5. Rahim yang menjadi perforasi
  6. Leher rahim terluka
  7. Kemungkinan komplikasi lainnya temasuk infeksi rahim, cedera dan luka bakar pada rongga rahim bahkan pada usus besar.
  8. Perut jadi busung dikarenakan kebocoran dan akumulasi cairan
  9. Edema paru karena cairan yang digunakan untuk memperbesar rongga rahim agar prosesnya dapat dilakukan dengan benar terserap ke dalam aliran darah
  10. Buang air terlalu sering dan keluar darah setelah menjalani operasi.

Resiko komplikasi dapat bertambah bila disertai keadaan berikut:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Merokok
  • Ada kemungkinan kehamilan
  • Memiliki riwayat penyakit radang panggul, yang mungkin dapat kambuh
  • Radang serviks

Perawatan pasca ablasi endometrial di rumah sakit

Pasca ablasi endometrial, ada perawatan di rumah sakit untuk masa pemulihan. Ada pemeriksaan tekanan darah, denyut jantung dan pernapasan secara berkala. Hal ini untuk menganalisa kestabilan tingkat cairan dan elektrolit dalam darah. Kemudian setelah dokter memastikan bahwa kondisi pasien cukup baik, baru boleh diizinkan untuk kembali ke rumah.

Perawatan pasca ablasi endometrial Rumah

Setelah prosedur ablasi endometrial, mungkin merasakan keluhan kram perut. Namun tidak perlu cemas karena dokter telah memberi resep obat pengurang nyeri semasa di rumah sakit. Nyeri perut ini akan berkurang setelah 1 – 2 hari. Pemberian kompres hangat pada area bawah perut juga bisa memberikan kenyamanan dan mengurangi rasa nyeri.

Jangan lupa rutin mengganti pembalut karena masih muncul darah dari dalam rahim selama beberapa minggu. Setelah menjalani ablasi endometrial, pendarahan selama masa menstruasi akan berkurang. Bahkan ada yang mengatakan bahwa siklus bulannya menjadi berhenti sama sekali. Tetapi bagi yang kemudian mengalami pendarahan hebat setelah beberapa bulan, maka harus kembali menjalani ablasi endometrial kembali.

Pasien memang dapat kembali ke aktivitas normal dalam satu atau dua hari setelah operasi. Namun ada baiknya untuk sementara waktu menghindari hubungan intim. Konsultasikan pada dokter, kapan boleh melanjutkan aktivitas ini. Dan harus terus menggunakan kontrasepsi, sebab ablasi endometrial bukanlah prosedur sterilisasi. Kehamilan masih bisa terjadi, dengan resiko tinggi dan kebanyakan berakhir dengan keguguran.