Hai Pasutri, Inilah 9 Mitos Tentang Infertilitas yang Perlu Diketahui

216

Sejumlah pasangan suami istri mungkin menjumpai masalah seputar intertilitas atau ketidaksuburan. Meski tak mengalaminya, pasangan yang baru menikah pun mungkin dikhawatirkan oleh hal ini. Hanya saja, ada beberapa hal yang selama ini hanya mitos tentang infertilitas tapi justru dipercaya sebagai hal yang benar-benar nyata, maka dari itu pahami lebih jauh.

  1. Sudah Pernah Punya Anak Tanda Subur

Mungkin beberapa pasutri menganggap bahwa dengan telah memiliki seorang anak dan pernah hamil, itu tandanya keduanya dalam kondisi subur. Padahal menurut data penelitian, justri infertilitas terjadi pada pasutri setelah punya anak pertama di mana kasus ini 30 persen sendiri lho.

  1. Subur atau Tidak Subur Itu Hanya Masalah Wanita

Ketika istri tak kunjung hamil, maka mulailah orang-orang sekitar yang mulai menyudutkan posisi sang wanita. Sebenarnya infertilitas atau ketidaksuburan merupakan hal bisa terjadi pada wanita dan pria; tak jarang tingkat kesuburan rendah justru ada pada pihak prianya.

  1. Usia Berpengaruh pada Tingkat Kesuburan Wanita

Benar memang bahwa tingkat kesuburan wanita mengalami penurunan secara signifikan saat sudah berada di rentang usia 32 tahun ke atas di mana penurunannya bisa sampai dengan 50 persen. Hanya saja faktor usia tak hanya memengaruhi pihak wanita dalam hal kesuburan.

Usia pria yang telah sampai 40 tahun ke atas pun sangat berpotensi untuk mengalami berkurangnya motilitas sperma atau jumlah produksinya sehingga memang di usia 40 tahun ke atas tingkat kesuburan pria bisa dibilang mulai rendah. Jadi, masalah usia bertambah tak berpengaruh pada pihak istri saja, suami pun juga.

  1. Stres Penyebab Utama Infertilitas

Banyak orang meyakini bahwa infertilitas atau ketidaksuburan berasal dari kondisi psikologis pasutri yang kurang mendukung. Stres kerap kali dikaitkan dengan infertilitas dan dikatakan sebagai penyebabnya. Padahal menurut beberapa kasus infertilitas yang ada, justru gangguan kesehatan fisiklah yang menjadi pemicu pasangan alami ketidaksuburan dan bukan karena faktor psikologis.

  1. Upaya Lebih Keras Bisa Berhasil

Berusaha keras seperti apa dulu yang dimaksud di sini? Jika hanya rutin melakukan hubungan intim tanpa adanya perawatan kesuburan, tentu hasilnya pun jadi nol. Seorang ahli infertilitas di Duke Fertility Centre, Dr Suheil Muasher mengatakan bahwa pasutri yang menempuh perawatan kesuburanlah yang berpotensi 50 persen lebih besar untuk sang istri bisa hamil. Tentu hal ini menjadi tantangan atau justru hambatan bagi para pasangan dengan situasi psikologis, finansial serta fisik yang kurang mendukung.

  1. Tingkat Keberhasilan Pembuahan in Vitro Fertilisasi Tinggi

Kita tahu bahwa sejumlah pasutri menganggap bahwa prosedur IVF sangat mendukung bagi mereka yang sulit punya anak menjadi lebih mudah. IVF sendiri adalah sebuah proses di mana ada pembuahan oleh sperma pada sel telur tapi berada di luar tubuh barulah embrio dipindahkan ke rahim setelah pembuahan berhasil.

IVF diyakini sebagai langkah tepat bagi yang memiliki tingkat kesuburan rendah untuk melakukan hal ini, padahal tingkat keberhasilan dari program bayi tabung sendiri di Amerika saja hanya 25-29 persen lho. Belum banyak orang yang benar-benar memahami betapa kecilnya peluang suksesnya teknologi reproduksi satu ini. Bahkan efeknya saja bisa bikin cepat lelah secara fisik dan emosional sekaligus stres berkepanjangan.

  1. Adopsi/Angkat Anak Bikin Cepat Hamil

Tingkat keberhasilan dari cara ini untuk mengatasi infertilitas apalagi agar segera punya momongan sebenarnya cukup rendah. Dari pasutri-pasutri yang mengangkat atau mengadopsi anak dan kemudian bisa hamil, hanya 5 persen saja. Tanpa adanya perawatan kesuburan, tentunya infertilitas masih menjadi masalah.

  1. Berat Badan Tak Ada Kaitannya dengan Infertilitas

Tentu saja ini adalah mitos berikutnya; sebab selain masalah faktor usia, sebenarnya kesuburan cukup kerap dipengaruhi oleh indeks massa tubuh. Justru menurut hasil penelitian yang ada, terbukti bahwa pasutri yang obesitas (atau berat badan berlebih) baru bisa punya anak ketika mereka atau salah satunya berhasil mengurangi berat badan.

  1. Pasutri Tak Subur Tidak Akan Bahagia

Tentu saja begitu sulit untuk menghadapi kenyataan tak kunjungnya momongan hadir dalam sebuah rumah tangga. Untuk sejumlah pasangan, ini merupakan hal terberat dan akan begitu sulit menerimanya. Hanya saja, bukan berarti para pasutri tak bisa bahagia karena ketika dapat ikhlas kebanyakan pasangan mencoba perlahan menemukan kebahagiaan entah itu pada akhirnya nanti dikaruniai buah hati ataupun tidak.

Infertilitas adalah masalah kesehatan reproduksi dan ini paling berkaitan dengan kondisi fisik kedua belah pihak (suami dan istri) di mana menghindari stres pun tak bisa menjadi satu-satunya solusi. Demikian mitos-mitos yang kerap kali membuat pasutri cemas setengah mati, namun asalkan berusaha melalui perawatan kesuburan serta terus berdoa, yakinlah momongan segera Tuhan berikan.