Home Tips KesehatanKesehatan Otak Apa Itu Naegleria fowleri, Infeksi Amuba Pemakan Otak? Ini Penjelasannya !

Apa Itu Naegleria fowleri, Infeksi Amuba Pemakan Otak? Ini Penjelasannya !

by Erlita

Beberapa waktu lalu muncul kabar tentang adanya seorang pria asal Amerika Serikat di New Jersey berusia 29 tahun meninggal dunia setelah sebelumnya mengeluhkan sakit kepala hebat pada hari Minggu (16/9/2018). Ibunya harus sampai menghubungi nomor darurat 911 untuk membawa sang anak, Fabrizio Stabile ke rumah sakit karena sakit kepalanya tak sembuh juga hingga Senin (17/9/2018).

Awalnya, setelah dibawa ke rumah sakit, Fabrizio diduga menderita meningitis pasca pemeriksaan karena terjadi pembengkakan pada otak dan bahkan ia menderita demam. Rupanya setelah ditelusuri dengan rangkaian pemeriksaan, diketahuilah bahwa amoeba Naegleria fowleri-lah yang menginfeksi Fabrizio namun sayang ia tak bisa diselamatkan.

Apa itu Naegleria fowleri?

Infeksi Naegleria fowleri bukanlah kondisi yang umum sebab memang infeksi ini cukup langka dan infeksi dapat menyerang otak sehingga salah diagnosa kerap terjadi sebab dokter sering mengira bahwa kondisi ini justru adalah meningitis. Infeksi naegleria pada dasarnya disebabkan oleh amoeba dengan nama yang sama.

Amoeba satu ini menurut hasil lansiran dari situs Liputan 6 diketahui tinggal di air dan mampu bertahan hidup yang bahkan pada suhu 113 derajat Fahrenheit sehingga cukup mengejutkan. Anda yang kerap berkutat di dekat sumber air panas, sungai, dan juga danau air tawar harus berhati-hati dengan amoeba satu ini, apalagi jika suka berendam dan berenang di tempat-tempat itu.

Kenapa harus waspada? Ini karena proses infeksi amoeba ini dapat terjadi melalui air yang masuk ke dalam hidung kita saat sedang berendam, berenang atau menyelam, apalagi jika aktivitas-aktivitas tersebut dilakukan di perairan hangat macam sungai dan danau. Jika Anda berenang di sebuah kolam dengan kandungan zat klorin minim, jangan senang dulu.

Memang bahaya zat klorin dapat dihindari karena minim, tapi justru risiko eksistensi amoeba Naegleria fowleri justru lebih tinggi di tempat-tempat atau kolam-kolam tersebut. Dari hidunglah kemudian amoeba mampu menjalar sampai ke otak lewat saraf-saraf penciuman. Saat amoeba sudah sampai ke otak itulah, otak terinfeksi lalu menyebabkan penyakit meningoencephalitis amebic primer.

Kabar baiknya, penyakit infeksi ini bukanlah jenis penyakit menular yang bisa terjadi dari satu orang ke orang yang lain. Hanya saja, risiko kematian penderita infeksi ini sangat tinggi karena memang mayoritas penderita pasti meninggal dunia setelah otak meradang dan rusak secara parah. Walau sudah diobati, dalam waktu 1 minggu saja penderitanya dapat meninggal.

Apa gejala-gejala umumnya?

Gejala untuk kasus penyakit infeksi Naegleria fowleri ini diketahui memiliki 2 tahapan, ada gejala tahap awal dan ada gejala lanjutan yang bisa terjadi saat gejala awal tak segera diberi pengobatan. Supaya bisa mengantisipasi, berikut ini adalah gejala-gejala yang perlu diwaspadai.

  1. Gejala Awal

Pada gejala tahap pertama, beberapa kondisi inilah yang paling umum terjadi setelah seseorang terinfeksi amoeba Naegleria fowleri:

  • Mual
  • Muntah
  • Leher kaku
  • Demam
  • Kelopak mata terasa begitu berat.
  • Ngantuk terus
  • Sakit kepala yang berlebihan, hebat dan begitu parah.
  • Penglihatan begitu sensitif terhadap cahaya.
  1. Gejala Lanjutan

Bila intervensi dengan obat tidak segera dilakukan, maka gejala lanjutan pun bisa dialami oleh penderitanya, seperti kondisi-kondisi berikut:

  • Kemampuan indera perasa dan penciuman hilang atau berubah.
  • Nafsu makan hilang.
  • Penglihatan kabur.
  • Tubuh kejang.
  • Tubuh kaku.
  • Keseimbangan tubuh menurun atau justru hilang.
  • Mengalami halusinasi.
  • Mengalami koma.

Dari gejala yang disebutkan, memang terbilang hampir sama dengan keluhan penderita meningitis, jadi tak heran bila dokter kebanyakan akan salah menduga. Walau kasus ini langka, sayangnya di Amerika Serikat sendiri diketahui dari 143 penderita infeksi ini dari antara tahun 1962 sampai 2017 hanya 4 orang saja yang mampu diselamatkan.

Cara Diagnosa

Saat gejala awal sudah muncul, penting untuk segera menemui dokter dan memeriksakan diri sebab jika sudah tahu akibatnya begitu fatal seperti ini, Anda perlu tahu bahwa potensi bertahan hidup sangatlah kecil. Pengobatan seintensif apapun belum dapat membantu menyembuhkan total penderita infeksi ini, jadi diagnosa dini adalah langkah maksimal yang dapat diupayakan.

  • Pemeriksaan Fisik

Dokter biasanya perlu memeriksa dulu kondisi fisik pasien, sebab kondisi tubuh perlu dilihat lebih dulu untuk bisa mulai mengira-ngira ke arah mana hasil diagnosa. Dari pemeriksaan fisik, dokter juga akan menanyakan apa saja keluhan yang dirasakan, riwayat kesehatan pasien dan juga keluarga untuk mendukung hipotesa dari diagnosa tersebut.

  • Tes Pemindaian/Pencitraan

Setelah pemeriksaan fisik, dokter biasanya melanjutkan dengan tes pencitraan, seperti halnya pemeriksaan MRI dan CT scan yang penting untuk memeriksa bagian otak. MRI pada umumnya berguna dalam mengeluarkan hasil gambar organ tubuh dalam yang tentunya tak bisa terlihat dengan mata kita, termasuk juga otak.

MRI dilakukan dengan memanfaatkan mesin yang memiliki medan magnet dan gelombang radio sehingga hasil gambar yang didapat menjadi lebih detil. Sementara itu, CT scan adalah kombinasi hasil X-ray yang bisa memeriksa bagian otak serta menghasilkan gambar kondisi otak secara mendetil hampir sama seperti MRI.

  • Spinal Tap

Metode diagnosa lainnya yang adalah melalui proses pengambilan sampel cairan yang masuk pada sumsum tulang belakang dan otak penderita. Sampel cairan harus dibawa lebih dulu ke laboratorium dan dokter akan memeriksanya di bawah mikroskop supaya bisa dilihat secara pasti apakah ada amoeba memang terkandung di dalamnya. Sebab bila iya, penderita positif terkena infeksi amoeba tersebut.

Pengobatan

Baru setelah proses pemeriksaan selesai, dokter bisa memberikan solusi pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien. Jika benar positif bahwa pasien menderita infeksi amoeba tersebut, maka penting untuk kemudian menanganinya secara cepat dan tepat di mana dokter akan memberikan obat yang sesuai, seperti pemberian obat amfoterisin B dan antijamur yang pemberiannya dengan cara menyuntikkan pada intravena.

Kasus infeksi ini begitu langka dan oleh karena itu cukup sulit untuk para tenaga medis mengembangkan pengobatan sebagai solusi infeksi satu ini. Meski demikian, penderita yang selamat dari kasus infeksi ini pada dasarnya dibantu pula dengan penambahan obat antiparasit miltefosine yang rupanya termasuk dapat memberikan efek positif.

Hanya saja, pada kasus Fabrizio, obat tambahan tersebut rupanya tak bekerja sesuai dengan ekspektasi. Obat yang mampu menyelamatkan beberapa orang dengan kasus yang sama ternyata tidak dapat menangani kerusakan otak yang Fabrizio alami dan akhirnya pun harus meninggal dunia.

Selain pengobatan di atas, langkah pencegahan pun perlu dilakukan apalagi jika Anda memiliki kegemaran bermain dan beraktivitas di dalam air. Beberapa hal yang perlu diperhatikan supaya risiko infeksi dapat diminimalisir adalah:

  • Menghindari terlalu sering aktivitas air, khususnya berenang, menyelam dan berendam di air yang zat klorinnya rendah.
  • Tutup hidung ketika melakukan aktivitas di air yang membuat kepala Anda terendam supaya amoeba tak gampang masuk ke dalamnya.
  • Jaga supaya kepala tidak terendam di dalam air dan justru tetap ada di atas permukaan air agar mampu mencegah peluang masuknya amoeba.
  • Selalu saring air yang hendak digunakan; jauh lebih baik bila menggunakan saringan yang pori-porinya kecil.
  • Rebuslah air hingga benar-benar matang sebelum mengonsumsinya.

Memang benar, berbagai langkah pencegahan sekaligus pengobatan yang telah disebutkan tidak menjadi jaminan 100% bahwa penderita infeksi bisa selamat, justru banyak yang sudah diobati tapi akhirnya tak selamat. Namun, setidaknya dengan penanganan sedini mungkin pada gejala awal yang dialami penderita bisa memberikan sedikit peluang untuk selamat.

Kasus dan pengertian apa itu Naegleria fowleri telah diulas dan penyakit yang juga mampu menjangkiti orang-orang di kawasan Asia Tenggara ini patut diwaspadai. Aktivitas di kolam renang yang berzat klorin sekalipun harus Anda waspadai dan ketika gejala awal muncul, jangan ragu untuk ke dokter.

You may also like