Pakai Parutan Keju Sebagai Penghapus Tato Jadi Kena Tetanus, Bagaimana Pencegahan Tetanus?

181

Keputusan untuk memiliki tato apalagi yang permanen seharusnya menjadi hal yang telah dipikirkan secara matang. Mulai dari keyakinan benar-benar ingin mempunyai tato di bagian tubuh tertentu, bagian tubuh mana yang hendak diukir tato, lalu desain tato seperti apa yang hendak dimiliki perlu diputuskan dengan baik agar tak menyesal kemudian.

Di Argentina, seorang pria berusia 21 tahun yang tak disebutkan namanya ini merasa ketakutan saat ingin menjadi seorang anggota kepolisian bandara. Walau tak terdapat aturan terkait tato, ia yang sebenarnya adalah seorang pemilik tato pun khawatir dirinya tak bakal diterima gara-gara hal tersebut menurut lansiran dari The Sun.

Dirinya mencari cara bagaimana menghapus tato secara mandiri dan menemukan sebuah video dari YouTube mengenai bagaimana memakai parutan keju mampu menghilangkan tato. Tanpa pikir panjang ia akhirnya memraktekkan yang malah berujung pada perdarahan. Saat ke rumah sakit untuk menghentikan perdarahan, ia justru didiagnosa mengidap tetanus.

Tetanus sendiri merupakan sistem saraf yang rusak oleh racun yang bakteri bernama Clostridium tetani hasilkan. Bakteri ini memang paling sering dijumpai pada kotoran hewan, debu dan tanah, namun dapat juga ada di bahan besi berkarat. Adakah cara pencegahan tetanus agar tidak terjadi?

  1. Vaksinasi TT

Pencegahan awal untuk tetanus adalah dengan memperoleh vaksinasi TT (Tetanus Toksoid) yang pada umumnya pemberian dilakukan kepada ibu hamil atau para wanita subur. Tujuan vaksinasi kepada para wanita ini adalah sebagai pencegahan penyakit tetanus khususnya pada calon bayi sekaligus para ibu calon bayi.

  1. Imunisasi Tetanus

Orangtua perlu waspada terhadap tetanus neonatorum di mana bayi baru lahir dapat mengalami penyakit ini disebabkan oleh timbulnya luka iris tali pusar sehingga menjadi peluang masuknya kuman melalui alat potong yang kemungkinan tingkat sterilnya rendah. Dengan imunisasi tetanus, hal ini dapat menurunkan risiko kematian bayi karena tetanus karena kekebalan tubuh bayi telah terbangun.

  1. Booster untuk Orang Dewasa

Booster adalah vaksin ulang yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia di mana pemberiannya dilakukan saat anak sudah berusia 18 bulan dan 5 tahun setelah menerima imunisasi pada usia 2,3 dan 4 bulan. Untuk orang dewasa yang belum pernah mendapatkannya begitu juga anak-anak usia di atas 10 tahun, pemberian vaksin jenis Td/IPV adalah 3 kali sebulan sekali.

Sebelum divaksin, seseorang yang mengalami luka apabila sudah pernah memperoleh booster 5 tahun terakhir tentunya tak lagi perlu vaksinasi lanjutan. Namun jika booster belum pernah dalam waktu 5 tahun, vaksinasi adalah hal wajib. Bagi yang sama sekali belum pernah memperoleh vaksinasi, suntikan immunoglobulin perlu juga diberikan.

Sementara itu, pada kasus pria tadi, beruntung dokter masih dapat menyelamatkannya. Hanya saja setiap hari ia harus menggunakan desinfektan selama seminggu dan bahkan perlu memperoleh vaksinasi tetanus di rumah sakit. Guna desinfektan adalah sebagai pembunuh spora bakteri yang kalau tak diberikan secepatnya maka toksin tetanospasmin dari bakteri mampu menyebabkan kejang hingga kematian pada penderitanya.