Thursday, March 21, 2019
Home Penyakit dan Kelainan Sindrom Asperger

Sindrom Asperger

Sindrom Asperger merupakan ASD atau yang disebut juga dengan autisme gangguan spektrum di mana kondisi ini masih termasuk di dalam kelompok kelainan neurologis. Sindrom ini dianggap pada ujung spektrum yang ringan dan pada umumnya penderita dengan sindrom ini pada dasarnya memiliki kecerdasan yang normal atau bahkan di atas rata-rata.

Tak perlu bersekolah di sekolah luar biasa, individu dengan kondisi sindrom Asperger dapat memperoleh pendidikan normal dan bahkan bisa dipercaya dalam pekerjaan. Untuk mengenali lebih jauh akan kondisi sindrom ini, baik itu penyebab, gejala hingga apakah penyakit ini bisa disembuhkan, ulasan berikut ini akan membantu kita semua untuk memahami secara lebih baik.

Gejala

Tanda-tanda yang ditunjukkan oleh para penderita sindrom Asperger tidaklah sama setiap individu, namun selalu ada sejumlah gejala yang dianggap paling utama di mana selalu dapat dikaitkan dengan sindrom Asperger. Gejala-gejala utama yang dimaksud tersebut antara lain seperti:

  • Ada perilaku berulang.
  • Sulit untuk berinteraksi sosial.
  • Fokus hanya pada rutinitas dan peraturan yang ada.
  • Cara berpikir terlalu kaku.

Selain dari gejala-gejala umum yang paling nampak tersebut, ada pula beberapa tanda lainnya yang bisa kita kenali juga agar penanganan bisa dilakukan di awal.

  • Rasa kurang berempati seperti gejala pada jenis-jenis penyakit sakit jiwa pada umumnya.
  • Berkomunikasi menggunakan bahasa yang formal di mana bahasa tersebut biasanya lebih tinggi bila dibandingkan dengan usia si pembicara.
  • Sulit berbicara.
  • Kurang ritme ketika berbicara.
  • Nada datar pada waktu bicara.
  • Nada suara tak biasa saat berbicara.
  • Lambatnya perkembangan motorik.
  • Sering cemas.
  • Mengalami depresi.
  • Tingginya tingkat sensitivitas penderita.
  • Tak mampu mengatur suara terhadap lingkungan.
  • Berperilaku aneh.
  • Yang dibicarakan sebagian besar adalah tentang dirinya sendiri.
  • Bicara yang sering diulang-ulang.
  • Memiliki kebiasaan yang tak seperti orang-orang pada umumnya.
  • Cenderung berbakat pada bidang tertentu, terutama seperti seni.
  • Tak mampu memahami hal-hal sosial maupun sesuatu yang berkaitan dengan emosi.
  • Enggan atau sulit untuk bertatapan mata dengan orang yang berinteraksi dengannya.

Setiap penderita pada umumnya mengalami gejala yang tidak sama dan sebagian malah diketahui hanya mengalami gejala ringan, sementara pada sebagian kasus lainnya barulah penderita menunjukkan tanda-tanda yang cukup serius.

Penyebab

Hingga kini belum diketahui secara jelas apa kiranya penyebab pasti dari munculnya sindrom Asperger ini. Hanya saja para ilmuwan menyatakan bahwa ada perbedaan struktural dan fungsional pada otak anak-anak yang menderita sindrom Asperger. Namun perbedaan tersebut dijumpai hanya pada area tertentu.

Pada ahli pun memiliki keyakinan bahwa perkembangan otak akan terpengaruh bila terjadi kelainan di mana ada pula kemungkinan yang cukup besar akan pembentukan perbedaan tersebut yang terjadi justru selama janin berkembang. Ada pula para ahli yang menduga bahwa kondisi sindrom ini disebabkan oleh faktor keturunan.

Faktor keturunan menjadi salah satu dugaan karena memang pasien-pasien sindrom Asperger yang dirawat kebanyakan mempunyai riwahat keluarga yang juga pernah atau sedang mendertai sindrom yang sama maupun bentuk lain ASD. Meski begitu, memang hal tersebut belumlah terkonfirmasi sebab belum adanya identifikasi gen khusus yang memiliki peran besar pada situasi tersebut.

  • Faktor genetik
  • Paparan racun dari lingkungan
  • Perubahan otak
  • Jenis kelamin

Ketiga faktor tersebut disebut-sebut menjadi faktor risiko dari sindrom Asperger di mana paparan bahan kimia maupun virus mampu memperbesar potensi seseorang terkena sindrom ini. Sementara faktor jenis kelamin juga berperan, ini karena sindrom Asperger lebih banyak dialami anak laki-laki ketimbang perempuan.

Bagaimana cara memeriksa gejala sindrom Asperger?

Tak ada tes maupun pemeriksaan yang sebetulnya mampu mendiagnosa atau membuktikan bahwa seorang anak tengah menderita sindrom Asperger. Pada umumnya, para orang tua serta guru akan melaporkan adanya keterlambatan pada perkembangan perilaku dan mental maupun kesulitan dalam kedua hal tersebut kepada dokter.

Dokter barulah akan mampu melakukan penilaian dan mendeteksi adanya kelainan pada sang anak, pada hal-hal berikut.

  • Ekspresi wajah si anak sewaktu berbicara
  • Interaksi sosial
  • Perkembangan bahasa.
  • Sikap yang ditunjukkan terhadap perubahan.
  • Minat untuk melakukan interaksi dengan orang lain.
  • Koordinasi motorik dan juga keterampilan motorik.

Karena tak ada tes khusus yang mampu membantu hasil diagnosa sindrom Asperger agar lebih meyakinkan, maka inilah yang memicu banyaknya kesalahan diagnosa. Gejala-gejala yang telah disebutkan dapat merujuk pada gangguan kesehatan mental lainnya, termasuk juga ADHD. Inilah kasus di mana diperlukan evaluasi lebih lanjut supaya diagnosa yang ditentukan lebih baik dan benar.

Pengobatan

Selain tidak adanya tes khusus yang bisa diandalkan untuk mendiagnosa sindrom Asperger, pengobatan untuk penderita sindrom ini pun tak tersedia. Namun kabar baiknya, tetap ada sejumlah perawatan yang tetap dapat dimanfaatkan agar gejala gangguan bisa berkurang. Perawatan itu jugalah yang kiranya mendukung si kecil untuk mampu mencapai potensi mereka secara maksimal.

Untuk mengurangi gejala sindrom Asperger, ada beberapa jenis obat yang bisa digunakan, seperti halnya:

  • SSRI/Selective Serotonin Reuptake Inhibitors – Guna atau fungsi dari obat ini adalah untuk mengurangi perilaku berulang pada penderita.
  • Guanfacine dan naltrexone – Tujuan utama penggunaan kedua obat tersebut adalah untuk membuat perilaku hiperaktif bisa berkurang.
  • Aripiprazole – Obat ini digunakan dengan tujuan untuk membuat iritabilitas berkurang.

Obat-obatan tersebut diyakini mampu membantu sebagai pengendali masalah perilaku yang tak normal dan bermasalah pada penderita sindrom Asperger. Namun sebenarnya, tak cukup hanya obat-obatan saja karena ada beberapa perawatan lain yang perlu juga diperoleh para penderita sindrom ini dalam meningkatkan kemampuan komunikasi, interaksi sosial serta meregulasi emosional.

Beberapa terapi seperti di bawah ini adalah terapi-terapi yang juga paling dibutuhkan untuk membuat komunikasi, emosi dan interaksi menjadi lebih baik pada penderita.

  • Terapi Perilaku Kognitif. Jenis terapi satu ini bertujuan untuk mengatasi perilaku bermasalah pada penderita karena terlalu seringnya berdampak negatif. Dengan terapi ini, perilaku negatif atau perilaku yang tak diharapkan pun bisa diubah menjadi lebih positif.
  • Terapi Fisik, Wicara, atau Okupasi. Jenis terapi ini bertujuan utama sebagai peningkat kemampuan fungsional penderita sindrom Asperger.
  • Terapi Ketrampilan Khusus. Terapi ini akan membantu penderita sindrom untuk mengembangkan kemampuannya bersosialiasi dengan orang lain yang itu artinya meningkatkan kemampuan interaksi sosial. Dengan terapi ini jugalah, penderita akan didukung untuk lebih memahami segala bentuk komunikasi non-verbal lebih baik.
  • Pendidikan Khusus. Sebelumnya disebutkan bahwa penderita sindrom Asperger tak memerlukan pendidikan khusus karena memang pada rata-rata kasus, penderitanya mampu mengikuti pendidikan normal. Namun, pendidikan khusus juga tetap ada dan pemberiannya harus menyesuaikan pula dengan kebutuhan khusus pendidikan penderita yang seharusnya dipenuhi.
  • Terapi Musik. Musik juga dapat digunakan sebagai pendukung atau peningkat kemampuan sosial seseorang yang memang bermasalah dengan bidang tersebut, apalagi bila sering terjadi gangguan komunikasi. Dengan peningkatan kemampuan sosial penderita, komunikasi pun akan menjadi lebih lancar dan baik. Tentu saja terapi musik tidaklah dilakukan secara sendirian, tapi dilakukan atau dikombinasikan dengan terapi lainnya supaya perkembangan fungsional anak bisa tercipta.

Perawatan di Rumah

Apabila obat dan terapi-terapi yang disebutkan sebelumnya perlu dilakukan di bawah bimbingan seorang konselor, psikolog atau psikiater, sebenarnya ada pula cara-cara perawatan yang bisa dilakukan di rumah di mana seharusnya berada di bawah pengawasan keluarga. Hal ini tentunya berlaku untuk anak-anak yang memang sudah positif terdiagnosa kondisi sindrom Asperger.

Sebelum pemberian perawatan secara mandiri di rumah, para orang tua sekaligus pengasuh harus lebih dulu tahu dan memahami betul sindrom Asperger. Pembekalan pengetahuan tentang kondisi ini diharapkan mampu membantu mereka dalam menangani berbagai situasi yang terjadi tiba-tiba dan situasi yang tak terduga.

Lingkungan pun harus mendukung ketika memang memutuskan untuk memberikan perawatan di rumah. Kasih sayang adalah juga faktor penting yang membantu anak untuk lebih cepat pulih dan agar perawatan berjalan lebih baik. Penting pula bagi orang tua dan pengasuh dalam mengenali kekurangan dan kelebihan si anak berikut kekurangan dan kelebihan mereka.

  • Memberikan petunjuk visual sekaligus petunjuk verbal.
  • Mengatur kegiatan rutinitas sehari-hari si anak, ini karena anak penderita sindrom Asperger cenderung berfokus pada rutinitas.
  • Tidak menempatkan televisi atau komputer tepat di dalam ruang tidur si anak karena anak penderita sindrom ini hanya akan terpaku pada televisi serta video games yang hanya akan mengembangkan gejala sindrom Asperger lebih lagi.
  • Meminimalisir gangguan suara di sekitar anak agar lingkungan lebih mendukung selama perawatan rumah dilakukan. Saat mengajar anak penderita sindrom Asperger supaya bisa berkonsentrasi pada topik khusus, tentu gangguan suara-suara harus diminimalisir supaya anak tidak gampang terganggu. Bahkan suara yang lembut sekalipun diharapkan untuk bisa dihilangkan agar anak dapat belajar di tempat yang sunyi.
  • Mengidentifikasi pemicu stres anak dan menghindarkan anak dari pemicu stres tersebut, ini karena anak-anak yang memiliki sindrom Asperger diketahui dapat dipengaruhi secara mudah oleh stres. Dengan mengidentifikasi penyebab stres tersebut, maka penting juga bagi si anak untuk mempelajari cara menghadapi perubahan atau adanya situasi baru.

Pengobatan dengan Suplemen

Selain dari pengobatan berupa terapi, obat hingga dukungan pembelajaran di rumah oleh orang tua atau pengasuh, ada pula beberapa suplemen natural yang dapat diandalkan dengan mengonsumsinya rutin agar mampu memberikan efek positif dalam perawatan sindrom Asperger. Ini dia beberapa suplemen yang dimaksud.

Bersifat antioksidan tinggi, konsumsi vitamin C pada dasarnya diketahui sebagai sebuah cara meningkatkan daya tahan tubuh yang baik. Nutrisi satu ini tak hanya berfungsi menjaga daya tahan tubuh, tapi juga bisa digunakan sebagai peningkat fungsi otak serta membatasi depresi dan kebingungan si anak penderita sindrom Asperger. Suplemen vitamin C akan sangat baik dalam meningkatkan masalah perilaku tak normal secara umum.

Seseorang dengan kondisi kekurangan vitamin B6 kerap kali mengalami periode agitasi, depresi, iritabilitas serta perilaku agresif yang mampu membahayakan orang-orang di sekitarnya. Suplemen vitamin B6 dipercaya dapat membantu para penderita sindrom Asperger dalam menangani gejala-gejala yang terjadi. Berbagai masalah terkait keempat hal tersebut bisa diatasi dengan baik dan bahkan juga masalah sindrom Asperger ini sendiri.

Sindrom Asperger juga diketahui dapat ditangani dengan menggunakan suplemen omega-3 di mana jenis asam lemak ini dipercaya mampu mendukung fungsi jalur-jalur saraf penderita sindrom. Nutrisi ini pada dasanya pun penting untuk mendukung perkembangan otak anak dan oleh karena itu penambahan asupan nutrisi ini otomatis bakal membantu otak jauh lebih baik dalam fungsinya ketika berkomunikasi dengan tubuh. Bahkan dengan suplemen ini jugalah perilaku bermasalah yang tak menentu dapat dikurangi selain dari bertujuan untuk memperbaiki fungsi otak.

Konsultasikan tentang segala bentuk perawatan yang hendak dijalani agar anak Anda mendapatkan penanganan terbaik. Meski tak dapat disembuhkan secara total, paling tidak beberapa perawatan mampu membantu mengurangi gejala sekaligus meningkatkan segala bidang yang menjadi kekurangan fungsional penderita sindrom Asperger.

Dukungan keluarga, khususnya para orang tua akan juga berpengaruh besar terhadap kemajuan kondisi anak-anak penderita sindrom Asperger. Dengan ketekunan, kesabaran dan ketelatenan para orang tua, pengobatan-pengobatan yang telah disebutkan tersebut kiranya benar-benar bisa menjadi efektif.

Recommended