Hiperkolesterolemia – Penyebab, Gejala, Diagnosa, Pengobatan Hingga Komplikasinya

Hiperkolesterolemia merupakan sebuah keadaan di mana tubuh manusia mengalami peningkatan konsentrasi akan adar kolesterol dalam darah. Kolesterol dapat dijumpai pada lemak dalam darah manusia dan kolesterol ini berupa zat lunak yang dibutuhkan oleh setiap tubuh manusia. Kolesterol pada dasarnya tidaklah berbahaya karena kolesterol inilah yang berfungsi sebagai penghasil sel-sel sehat dalam tubuh.

Namun yang menjadikan kolesterol mampu membahayakan tubuh adalah saat kadarnya lebih dari seharusnya. Saat peningkatan kadar kolesterol dalam darah terjadi lebih dari normal, maka risiko jenis-jenis penyakit jantung ikut menjadi lebih besar. Hal tersebut disebabkan oleh lemak yang menimbun di bagian pembuluh darah dan menghambat aliran darah arteri. Berikut adalah penjelasan tentang hiperkolesterolemia.

Penyebab dan Faktor Risiko

Faktor genetik dan faktor lingkungan menjadi 2 faktor penting yang sebenarnya paling umum menjadi penyebab hiperkolesterolemia. Kelainan genetik biasanya merupakan faktor yang memicu terjadinya hiperkolesterolemia murni atau familial. Fungsi hati terhambat ketika mengatur kadar kolesterol karena adanya mutasi genetik pada kromosom 19.

Ada 2 jenis hiperkolesterolemia familial yang perlu juga untuk kita semua ketahui bersama, yakni:

  • Hiperkolesterolemia familial homozigot, yakni di mana jenis kondisi ini diwariskan dari kedua orang tua kepada anaknya.
  • Hiperkolesterolemia keluarga heterozigot, yakni di mana diwariskan hanya oleh salah satu orang tua kepada anaknya.

Ada penyebab hiperkolesterolemia lainnya yang patut untuk diwaspadai, seperti diet tinggi lemak. Makanan-makanan yang mengandung lemak jenuh mampu menyebabkan hiperkolesterolemia di mana ini rata-rata terjadi pada orang-orang yang gemar mengonsumsi makanan sumber hewani seperti daging dan produk susu. Ketika asupan lemak jenuh melebihi idealnya, maka hiperkolesterolemia dapat menjadi bahaya yang perlu dicegah dari awal.

Penting untuk diingat bahwa konsumsi lemak jenuh yang benar setiap harinya seperti yang direkomendasikan oleh American Heart Association adalah tak lebih dari 13 gram bagi orang-orang dengan kebutuhan 2000 kalori secara harian. Berikut ini juga adalah sejumlah faktor peningkat risiko seseorang untuk menderita hiperkolesterolemia.

  • Usia – Hiperkolesterolemia rata-rata diderita oleh orang-orang yang berusia 45-55 tahun ke atas. Untuk pria pada umumnya 45 tahun ke atas dan 55 tahun ke atas untuk wanita.
  • Kurang olahraga – HDL atau kolesterol baik pada dasarnya dapat ditingkatkan dengan cara rajin dan teratur dalam berolahraga. Melakukan olahraga yang ringan dan tepat pun mampu menjadi peningkat ukuran partikel yang membentuk LDL sehingga LDL atau kolesterol jahat ini tak membahayakan tubuh.
  • Merokok – Kebiasaan merokok sangat berbahaya tak hanya bagi organ paru-paru. Bahaya merokok bagi kesehatan pembuluh darah pun cukup besar. Kerusakan dinding pembuluh darah bisa saja terjadi dan memicu penumpukan lemak di sana, bahkan merokok pun mampu menjadi faktor penurun kadar HDL.
  • Obesitas – Dengan indeks massa tubuh 30 ke atas, seseorang memiliki risiko lebih besar untuk menderita hiperkolesterolemia.
  • Diabetes tipe 2 – LDL dapat meningkat ketika kadar gula darah termasuk tinggi dan inilah yang kemudian membuat HDL turun juga. Kerusakan dinding pembuluh darah pun turut terjadi.
  • Riwayat kesehatan penyakit arteri koroner pada keluarga
  • Anoreksia nervosa
  • Sindrom Cushing
  • Hipotiroidisme

Gejala dan Diagnosa

Pada beberapa kasus, hiperkolesterolemia tak begitu mencolok karena pada umumnya tak ada gejala yang timbul. Itulah yang menjadikan para penderita hiperkolesterolemia tak menyadari hingga akhirnya mereka terdiagnosa dengan kolesterol yang berhubungan dengan aterosklerosis. Aterosklerosis ini merupakan kondisi plak yang terbentuk di dalam dinding pembuluh darah dan menjadikan aliran darah tak lancar di arteri.


Inilah kondisi di mana mampu menjadi peningkat risiko penderita mengalami stroke dan penyakit arteri koroner yang dikarenakan pasokan darah ke otak dan jantung mengalami penurunan. Kalaupun ada sejumlah gejala terjadi, maka berikut ini adalah contoh keluhan yang dialami.

  • Nyeri pada dada atau angina.
  • Arteri kornea atau kondisi deposit kolesterol yang ada pada area kornea.
  • Xanthelasmas atau kondisi deposi kolesterol yang berada pada area kelopak mata.
  • Endapan kulit yang penuh dengan lemak di bagian siku, bokong, tendon dan lutut.
  • Penebalan pada kuku.
  • Sering kram, khususnya bila duduk.
  • Jari kaki memucat.

Hiperkolesterolemia dapat terjadi ketika kadar kolesterol meningkat hingga lebih dari 240 mg/dL di mana kadar tersebut adalah di atas normal. Kadar kolesterol seperti itu disebut juga dengan hiperkolesterolemia atau juga dislipidemia di mana adanya kelainan profil lemak darah. Setelah gejala-gejala yang mengganggu terjadi, penting untuk memeriksakan diri dan menempuh beberapa langkah diagnosa.

Dokter perlu mengidentifikasi penyakit yang terjadi berdasarkan dari gejala atau keluhan yang diceritakan oleh pasien. Untuk mengidentifikasinya, maka perlu untuk mendiagnosa dengan cara melakukan tes darah. Tujuan tes darah ini adalah untuk mengecek tingkat kolesterol di dalam darah, bukan hanya LDL, melainkan juga trigliserida dan HDL. Untuk tes ini, dianjurkan supaya pasien berpuasa lebih dulu 12 jam minimal.

Pengobatan, Pencegahan dan Komplikasi

Dalam langkah penanganan hiperkolesterolemia, mengubah pola makan adalah hal paling utama untuk dijalani pasien. Meningkatkan frekuensi olahraga dan juga memperbaiki pola makan dengan mengikuti tips diet sehat adalah solusi yang jauh lebih baik dalam hal ini. Namun ada kalanya memang bahwa kedua cara ini pun kurang efektif.

Apabila dengan perubahan pola makan berikut berolahraga rutin kurang membantu, maka kemungkinan besar memang Anda perlu untuk mengatasinya dengan memeriksakan diri ke dokter. Dokter pun pada umumnya akan memberikan serangkaian solusi dengan obat-obatan yang sesuai dengan kondisi gejala.

  • Obat Suntik – Jenis obat ini diketahui efektif dalam menolong organ hati untuk penyerapan kolesterol LDL dalam jumlah yang lebih banyak. Dengan begitu, kadar kolesterol yang ada di dalam darah pun akan menurun namun biasanya obat suntik ini lebih diresepkan kepada pasien yang mempunyai kelainan bawaan yang menjadi penyebab LDL berkadar tinggi.
  • Obat Penghambat Penyerapan Kolesterol – Jenis obat ini akan diberikan kepada pasien dengan tujuan supaya mampu membatasi proses usus kecil dalam menyerap kolesterol sehingga kadar kolesterol pun bakal menurun dalam darah.
  • Obat Resin yang Mengikuat Asam Empedu – Jenis obat ini juga dapat diresepkan dokter demi mampu menurunkan kadar kolesterol dengan cara membuat asam empedu terikat. Hal ini kemudian akan memicu organ hati mempergunakan kelebihan kolesterol dalam pembuatan asam empedu lagi sehingga kadar kolesterol yang dikhawatirkan bisa turun.
  • Asam Nikotinat – Obat ini bertujuan untuk membuat produksi lipoprotein LDL berikut trigliserida menurun. Dengan begitu, kadar HDL rendah pun mampu meningkat kembali. Hanya saja, biasanya obat ini tak disarankan untuk digunakan oleh pasien dengan glaukoma, gout, tukak lambung aktif, berikut juga diabetes tipe 2 yang sudah sulit dikendalikan. Penderita gangguan pembekuan darah pun tak dianjurkan menggunakan obat ini.
  • Statin – Organ hati pada dasarnya memerlukan zat dalam produksi kolesterol dan jenis obat ini akan menghalangi zat tersebut. Organ hati pun akhirnya akan mengambil kolesterol justru dari darah sehingga kadarnya yang tinggi dan berlebihan dapat menurun. Penyerapan kolesterol dari yang ada di dinding pembuluh darah pun akan turut terjadi.
  • Ezetimibe – Ini adalah jenis agen atau obat yang berfungsi menurunkan lipid yang bekerja sebagai penghambat kinerja usus dalam penyerapan kolesterol.
  • Niacin – Dokter juga berkemungkinan meresepkan niacin yang akan menjadi penurun trigliserida yang bekerja dengan cara menjadi penghambat kemampuan organ hati dalam proses produksi kolesterol LDL dan VLDL. Hanya saja, niacin ini juga berkaitan dengan penyakit stroke serta kerusakan organ hati.
  • Fibrate – Jenis obat ini mampu membuat trigliserida turun dengan membuat produksi VLDL (sejenis kolesterol) menurun. Bahkan proses pembuangan trigliserida pun akan lebih cepat dari darah Anda.
  • Suplemen Omega-3 – Suplemen lainnya yang juga mampu membantu penurunan kadar trigliserida adalah suplemen asam lemak omega-3.

Demi mencegah supaya kadar kolesterol tidak sampai berlebih di dalam darah dan menimbulkan kondisi hiperkolesterolemia, maka kebiasaan-kebiasaan buruk tertentu perlu untuk dihentikan dan diubah dengan yang lebih sehat. Tak hanya mengubah pola makan dan memperbanyak aktivitas fisik, berhenti merokok pun merupakan cara pencegahan yang baik. Bila mempunyai kelebihan berat badan atau obesitas, maka sangat perlu untuk menyadarinya di awal dan mengupayakan untuk mengurangi berat badan.

Jika tak dicegah dan diatasi sedari awal, maka ada beberapa komplikasi yang berisiko besar terjadi, seperti misalnya stroke, nyeri pada dada, hingga serangan jantung. Supaya dapat terhindar dari berbagai komplikasi seperti yang sudah disebutkan, maka kiranya Anda juga dapat menjaga kesehatan dengan baik supaya hiperkolesterolemia pun tak Anda alami.

,
Post Date: Wednesday 18th, October 2017 / 08:37 Oleh :
Kategori : Kolesterol Tinggi