Kasus HIV Bertambah di Blitar, Apa Yang Seharusnya Dilakukan Masyarakat?

Kasus HIV Bertambah di Blitar, Apa Yang Seharusnya Dilakukan Masyarakat?Jumlah penderita Human Imunodeficiency Virus atau HIV di Blitar dilaporkan bertambah menjadi 174 dari pencatatan jumlah pengidap di tahun 2016 oleh Dinas Kesehatan Pemkot Blitar. Data menurut hasil lansiran dari Detik Health tentang jumlah pengidap HIV AIDS di Blitar adalah 143 orang untuk angka heteroseksual, 26 orang untuk kasus gay atau istilah lainnya LSL (Laki Suka Laki), 2 orang untuk kasus pengguna alat suntik secara bergantian, dan 3 orang untuk kasus penularan dari ibu ke anak.

Dari laporan data yang ada, jumlah kasus HIV di Blitar tersebut dialami oleh rata-rata usia produktif, yakni 21-35 tahun di mana 26 orang adalah para ibu rumah tangga dan lainnya sebanyak 116 orang merupakan karyawan swasta. Jika dibagi menurut jenis kelamin, maka wanita yang terkena HIV AIDS ada sekitar 53 orang dan laki-laki 112 orang.

Menurut data yang ada, penularan berisiko tinggi terjadi justru pada para penderita PMS (penyakit menular seksual, para pengguna napza, transgender atau waria, para warga binaan lapas, penderita TB, serta ibu hamil.

Menurut M. Muklis selaku Kepala Dinkes Pemkot Blitar, kasus HIV AIDS terbanyak kedua setelah heteroseksual yang pada kelompok LSL atau gay menjadi perhatian khusus. Meski tercatat 26 orang dari kelompok LSL, ada kemungkinan bahwa sebenarnya angka tersebut hanyalah perkiraan yang nampak di permukaan dan justru bisa saja lebih besar dari itu.

Muklis memberi imbauan kepada masyarakat Blitar untuk menjaga keimanan karena pada dasarnya gejala HIV AIDS tak hanya perlu diatasi oleh dinas kesehatan sendiri. Harus ada peran serta aktif dari setiap individu warga kota Blitar dengan kesadaran tinggi untuk menjaga pola hidup tetap sehat tak hanya secara lahir tapi juga batin.

Muklis pun menambahkan bahwa seseorang yang menjumpai ada orang lain di sekitarnya yang memang diketahui memiliki risiko terkena cara penularan HIV AIDS jangan dibiarkan. Justru menjauhi orang yang berpotensi tertular bukanlah solusi, melainkan seharusnya dilaporkan saja supaya bisa ditangani secara tepat bersama-sama.

Cara Mengatasi dan Mencegah HIV AIDS

Pengobatan yang mampu menyembuhkan HIV secara tuntas memang belumlah dijumpai hingga kini, namun untuk melemahkan perkembangan virusnya, selalu ada cara termasuk juga pemberian obat-obatan antiretroviral atau ARV. Tentunya, obat ini digunakan di bawah pengawasan dokter dan dokter pun perlu melakukan pengawasan terhadap pasien selama menjalani perawatan dengan obat ini.

Hanya saja, para pasien HIV AIDS yang memang harus sampai menggunakan obat jenis ARV ini sebaiknya mewaspadai berbagai jenis efek samping, seperti halnya:

Sementara itu, sebagai langkah pencegahan infeksi sebenarnya ada banyak hal yang dapat dilakukan. Seperti imbauan terhadap masyarakat Blitar yang disampaikan oleh Kepala Dinkes Pemkot Blitar, penting untuk meningkatkan kesadaran diri terhadap penyakit satu ini. Berikut adalah sejumlah tips penting dalam menghindari HIV AIDS karena belum adanya vaksin khusus untuk infeksi ini.

  • Untuk para pria, anjuran untuk sunat sangat penting karena rupanya sunat adalah salah satu langkah pencegahan risiko HIV AIDS yang efektif.
  • Tidak melakukan hubungan intim dengan bergonta-ganti pasangan.
  • Tiap melakukan hubungan seksual, penggunaan kondom dianjurkan. Jika memilih kondom berpelumas, maka produk berbahan dasar air adalah yang lebih baik karena tak akan gampang bocor.
  • Tiap melakukan hubungan intim khususnya seks oral, penggunaan kondom tak berpelumas jauh lebih disarankan.
  • Apabila dalam masa kehamilan kemudian terjadi diagnosa positif HIV AIDS, segera konsultasikan dengan dokter secara mendetil tentang perencanaan proses melahirkan supaya penularan ibu ke janin yang cukup besar risikonya bisa dicegah.
  • Jika memang positif HIV, beritahukan kepada pasangan dan segera tempuh pemeriksaan atau tes HIV supaya bisa diatasi sedini mungkin.

Kasus HIV tak hanya berpotensi terus bertambah di wilayah Blitar, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Kesadaran diri untuk menjaga pola hidup agar tetap sehat dan tidak melakukan hubungan intim secara sembarangan harus ada pada setiap individu demi menghindari bahaya HIV AIDS. Diharapkan tentunya jumlah kasus HIV AIDS tidak lagi bertambah dengan peran serta masyarakat.