Ceftum – Fungsi – Obat Apa – Dosis Dan Efek Samping

486

Komposisi

Ceftum merupakan obat berbentuk sediaan injeksi yang mengandung ceftazidime sebagai senyawa aktifnya, tersedia dalam 2 dosis yaitu :

  1. 500 mg
  2. 1 gram

Indikasi

Ceftum diindikasikan untuk pengobatan berbagai infeksi bakteri, yaitu :

Mekanisme Kerja Obat

  • Tanpa kita sadari, selalu ada mikroba (bakteri, virus, jamur dan parasit lainnya) yang berusaha masuk ke dalam tubuh kita setiap harinya, mereka bisa berasal dari berbagai benda yang kita sentuh atau dari udara yang kita hirup.
  • Namun, sistem imun pada tubuh manusia selalu siap sedia berperan sebagai pelindung untuk menangkal serangan mikroba tersebut agar tidak terjadi infeksi yang bisa berbahaya bagi tubuh.
  • Namun, ada kalanya sistem imun tidak mampu mengalahkan serangan tersebut sehingga terjadilah infeksi pada tubuh. Saat hal ini terjadi, tubuh akan membutuhkan bantuan obat untuk membunuh mikroba tersebut.
  • Perlu diingat bahwa antibiotik adalah obat yang hanya bisa digunakan untuk menangani infeksi karena bakteri, sedangkan untuk pengobatan infeksi virus harus menggunakan antivirus, dan pengobatan infeksi jamur harus menggunakan antijamur.
  • Bakteri adalah makhluk hidup yang memiliki bagian sel yang unik dan tidak dimiliki oleh sel tubuh manusia, yaitu dinding sel yang tersusun dari berbagai macam protein. Dinding sel adalah bagian sel yang sesuai namanya, berfungsi sebagai dinding untuk membentengi bagian dalam sel dari zat-zat asing di lingkungan sekitarnya agar mereka bisa bertahan hidup.
  • Ceftazidime yang terkandung dalam Ceftum adalah salah satu antibiotik dari golongan sefalosporin generasi ketiga. Ceftazidime bekerja dengan cara berikatan dengan salah satu reseptor pada dinding sel bakteri, ikatan yang terbentuk ini akan menyebabkan terjadinya penghambatan sintesis / produksi dinding sel sehingga bakteri akan menjadi lemah dan lama kelamaan akan mati.
  • Ceftazidime dan antibiotik lainnya hanya bisa membasmi jenis-jenis bakteri tertentu dan tidak bisa membasmi semua jenis bakteri. Untuk itu, pemberian antibiotik harus disesuaikan dengan jenis bakteri penginfeksi agar penggunaannya efektif dan efisien, yang idealnya didasarkan pada hasil pemeriksaan laboratorium.
  • Namun, dokter yang sudah berpengalaman biasanya bisa melakukan diagnosis dengan tepat dan dapat memberikan antibiotik yang tepat untuk infeksi tertentu, yang dapat membasmi bakteri penginfeksi pada tubuh pasien secara efektif dan tuntas. 
  • Ingatlah untuk selalu menggunakan antibiotik, termasuk Ceftum hanya saat Anda mendapatkan resep dari dokter karena pemakaian antibiotik yang tidak tepat tidak bisa menyembuhkan infeksi yang Anda alami dan mungkin malah akan membuat bakteri di tubuh Anda mengembangkan resistensi (kekebalan) terhadap antibiotik.

Dosis dan Cara Penggunaan

  1. Dosis Ceftum untuk infeksi tulang dan sendi: 2 g yang disuntikkan secara intravena (ke dalam pembuluh vena) setiap 12 jam
  2. Dosis Ceftum untuk infeksi intraabdomen: 2 g yang disuntikkan secraa intravena setiap 8 jam selama 4-7 hari
  3. Dosis Ceftum untuk infeksi paru-paru: 30-50 mg/kg berat badanyang disuntikkan secara intravena setiap 8 jam, dosisnya tidak boleh melebihi 6 g/hari
  4. Dosis Ceftum untuk meningitis dan pneumonia yang disertai dengan komplikasi: 2 g yang disuntikkan secara intravena setiap 8 jam 
  5. Dosis Ceftum untuk pneumonia tanpa komplikasi: 0,5-1 g yang disuntikkan secara intravena setiap 8 jam
  6. Dosis Ceftum untuk infeksi kulit: 0,5-1 g yang disuntikkan secara intravena atau intramuskular (disuntikkan ke dalam jaringan otot) setiap 8 jam
  7. Dosis Ceftum untuk infeksi saluran kencing tanpa komplikasi: 250 mg yang disuntikkan secara intravena atau intamuskular setiap 12 jam
  8. Dosis Ceftum untuk infeksi saluran kencing dengan komplikasi: 500 mg yang disuntikkan secara intravena atau intramuskular setiap 8-12 jam
  9. Pemberian Ceftum dilakukan dengan cara disuntikkan secara intravena atau intramuskular sehingga pemberiannya hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten seperti dokter atau perawat

Kontraindikasi

Pasien dengan kondisi-kondisi berikut tidak diperbolehkan menggunakan Ceftum:

  • Hipersensitif terhadap ceftazidime atau antibiotik golongan sefalosporin lainnya

Kategori Keamanan bagi Ibu Hamil dan Menyusui

  • Ceftazidime termasuk ke dalam kategori B, yaitu obat yang cukup aman untuk digunakan oleh ibu hamil tanpa berisiko mneimbulkan efek samping yang berarti bagi janin
  • Ceftazidime diekskresikan / dikeluarkan oleh tubuh ke dalam ASI. Konsultasikanlah dengan dokter jika Anda mendapatkan resep Ceftum atau obat lain yang mengandung ceftazidime selama masih dalam masa menyusui

Efek Samping

Berikut adalah efek samping yang mungkin tibul stelah penggunaan Ceftum:

  1. Diare
  2. Phlebitis
  3. Rasa sakit / tidak nyaman pada tempat penyuntikan
  4. Ruam pada kulit
  5. Sakit perut
  6. Merasa pusing
  7. Mual muntah
  8. Pruritus

Tidak semua pasien akan mengalami efek samping di atas setelah menggunakan Ceftum. Namun, jika Anda merasakan efek samping apapun, baik yang telah disebutkan di atas maupun efek samping lainnya setelah menggunakan Ceftum, segeralah konsultasikan hal tersebut kepada dokter atau apoteker agar bisa segera ditindaklanjuti.

Interaksi Obat

Berikut adalah obat-obat yang mungkin menimbulkan interaksi jika digunakan bersamaan dengan Ceftum:

  • Ceftazidime dapat menurunkan efektivitas vaksin BCG (vaksin untuk TBC), kolera dan tifoid jika vaksin diberikan pada saat masih dalam masa pengobatan menggunakan ceftazidime
  • Ceftazidime dapat menurunkan efek beberapa kontrasepsi oral (bazedoxifene, estrogen terkonjugasi, estradiol, estropipate, etinilestradiol, levonorgestrel), konsultasikanlah dengan dokter, apakah Anda perlu menggunakan kontrasepsi tambahan selagi dalam masa pengobatan menggunakan Ceftum
  • Ceftazidime dapat meningkatkan efek warfarin jika digunakan secara bersamaan
  • Probenesid dapat meningkatkan efek ceftazidime jika digunakan secara bersamaan

Selalu konsultasikan mengenai obat apapun (sintetis maupun herbal) yang sedang atau akan Anda gunakan kepada dokter dan/atau apoteker untuk memastikan bahwa penggunaan obat tersebut bersamaan dengan Ceftum tidak akan menimbulkan efek samping yang merugikan bagi Anda. jika ternyata obat tersebut tidak bisa digunakan bersamaan dengan Ceftum, dokter atau apoteker mungkin akan menyarankan pemberian jeda waktu antara pemberian Ceftum dengan pemberian obat lainnya atau mengganti salah satu obat dengan obat lain sebagai alternatif.

Perhatian

  1. Jangan memulai atau mengulangi pengobatan dengan menggunakan Ceftum tanpa menggunakan resep dokter
  2. Ceftum diberikan kepada pasien dengan cara disuntikkan secara intravena (ke dalam pembuluh darah vena) atau intramuskular (disuntikkan ke dalam jaringan otot), pemberiannya harus dilakukan dengan cara yang benar dan di tempat yang tepat untuk menghasilkan efek yang diinginkan dan menghindari terjadinya komplikasi, oleh karena itu pemberian obat ini hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten seperti dokter atau perawat
  3. Ceftum adalah antibiotik, yaitu obat yang digunakan untuk infeksi bakteri dan tidak bisa digunakan untuk mengobati infeksi akibat virus seperti flu / influenza
  4. Jika Anda merasakan rasa sakit / tidak nyaman pada kulit di tempat penyuntikan Ceftum, Anda bisa meredakannya dengan mengompres bagian yang sakit tersebut
  5. Perlu dilakukan penyesuaian dosis Ceftum pada pasien dengan penyakit ginjal
  6. Ceftum tersedia dalam bentuk serbuk di dalam vial, serbuk ini akan dilarutkan oleh tenaga medis sebelum diberikan kepada pasien. Ceftum yang telah dilarutkan hanya boleh disimpan selama 24 jam
  7. Jika belum digunakan, Ceftum sebaiknya disimpan pada suhu ruangan di tempat yang kering dan terlindung dari sinar matahari langsung (dalam kondisi tersimpan dalam kemasannya)