Antipiretik : Pengertian – Fungsi – Mekanisme Kerja – Efek Samping

2077

Orang Indonesia mungkin tidak terlalu mengenal antipiretik karena menggunakan nama kimianya. Dan mungkin lebih mengenal antipiretik dengan nama lain yang lebih mudah dipahami maknanya. Nah, mungkin anda juga bertanya-tanya tentang apa itu antipiretik? Sejenis obat apakah antipiretik itu? Bagaimana cara kerjanya? Dan apa fungsinya?

Dalam artikel kali ini, akan dibahas mengenai antipiretik. Penjelasan yang cukup lengkap mengenai antipiretik. Termasuk jenis-jenis obat-obatan yang termasuk antipiretik. Diharapkan, dengan adanya artikel ini dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi anda dalam memilih obat-obatan yang termasuk antipiretik dan apa saja contoh jenis-jenis obat antipiretik tersebut sebelum menggunakannya sebagai konsumsi obat-obatan harian anda.

Pengertian dan Fungsi Antipiretik

Sebelum mengetahui apa itu antipiretik, akan lebih mudah mengetahui makna antipiretik dengan melihat arti per katanya. Antipiretik terdiri dari dua kata, yaitu anti berarti lawan yang dalam kamus besar bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai bentuk terikat yang melawan, menentang dan memusuhi. Sedangkan piretik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan sebuah substansi yang menyebabkan kenaikan suhu badan. Sehingga, dari kedua makna kata diatas dapat diartikan bahwa antipiretik merupakan substansi atau obat yang dapat melawan, menentang, atau memusuhi kenaikan suhu tubuh sehingga menyebabkan panas. Jika dilihat secara garis besarnya.

Arti yang lebih menyeluruh dari antipiretik adalah obat penurun panas dengan gejala – gejala yang mengikuti kenaikan suhu badan lainnya. Seperti mialgia (nyeri otot yang dimana badan terasa pegal – pegal), demam, kedinginan, nyeri kepala dan efek samping yang mungkin hanya terjadi apabila suhu tubuh anda mengalami kenaikan yang tidak wajar.

Seseorang dikatakan memiliki kenaikan suhu tubuh atau demam apabila suhu tubuh yang terukur oleh termometer badan lebih dari 380 celcius. Dan kenaikan suhu tubuh dapat terjadi karena tubuh menghasilkan reaksi penolakan terhadap zat-zat atau komponen yang buruk dari lingkungan sekitar anda.

Kenaikan suhu tubuh yang tidak wajar sendiri dapat  diakibatkan oleh beberapa faktor, berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi atau menyebabkan kenaikan suhu badan hingga menghasilkan demam dan sebagainya :

  • Virus penyakit
  • Bakteri
  • Perubahan suhu lingkungan yang cepat
  • Jamur
  • Obat-obatan
  • Racun, dll

Kenaikan suhu tubuh tidak selamanya bermakna negatif. Karena sesuai dengan pengertian dari naiknya suhu tubuh itu sendiri bahwa ia merupakan reaksi alami tubuh dalam menangkal komponen-komponen jahat yang mencoba masuk dan menjangkiti tubuh dengan suatu penyakit.

Pada taraf tertentu naiknya suhu tubuh bukan merupakan sebuah ancaman bahaya. Akan tetapi, efek yang ditimbulkan oleh naiknya suhu tubuh juga perlu diwaspadai. Karena naiknya suhu tubuh dapat berdampak cukup serius apabila dibiarkan secara terus-menerus.

Berikut adalah beberapa hal yang mungkin anda alami apabila suhu tubuh anda naik sampai di atas 380 celcius:

  • Menggigil
  • Gemetar
  • Nyeri otot dan sendi
  • Berkeringat (kadang disebut keringat dingin)
  • Jantung berdetak kencang (palpitasi)
  • Kulit memerah
  • Pusing
  • Lemah
  • Sakit kepala
  • Muntah-muntah
  • Diare
  • Batuk-batuk
  • Kehilangan selera makan
  • Kelelahan
  • Hingga halusinasi, kejang-kejang, bahkan mungkin gangguan yang lebih parah lainnya apabila terdapat komplikasi dengan penyakit-penyakit tertentu.

Nah, fungsi utama dari antipiretik sendiri merupakan obat yang digunakan untuk menurunkan panas. Mengatasi gejala-gejala yang diakibatkan oleh demam dan sebagainya seperti yang telah disebutkan diatas. Penggunaan obat-obat antipiretik mungkin dapat menjadi solusi dari masalah kesehatan anda yang berupa kenaikan suhu tubuh yang lebih dari suhu tubuh normal.

Mekanisme kerja Antipiretik

Mengenai cara kerja antipiretik secara lengkapnya adalah dengan mempengaruhi hipotalamus untuk mengesampingkan peningkatan interleukin yang berperan penting dalam menginduksi atau menyalurkan, memberikan, dan menyalurkan suhu tubuh. Secara otomatis, setelah sumber saraf peningkatan suhu tubuh diberhentikan, tubuh akan bekerja untuk menurunkan suhu tubuh hingga gejala panas atau demam itu reda dan tubuh kembali memiliki suhu normalnya.

Antipiretik tidak bekerja dengan menghambat pembentukan panas. Panas akan tetap terbentuk sesuai reaksi tubuh terhadap lingkungan sekitarnya. Antipiretik hanya mempengaruhi tingkat aliran darah yang mengalir ke purifier untuk bertambah banyak dari biasanya dan membentuk keringat. Keringat inilah yang mengubah panas tubuh menjadi air untuk dikeluarkan oleh tubuh dan menurunkan suhu tubuh.

Hipotalamus adalah bagian dari otak yang tersusun atas nekleus-nukleus dengan berbagai fungsi yang sangat peka terhadap perubahan glukosa, suhu, dan sebagainya. Merupakan pusat kontrol autonom yang bekerja untuk mengatur tekanan darah, denyut jantung, suhu tubuh dan perilaku konsumsi serta emosi manusia.

Efek antipiretik bersifat sentral atau hanya terjadi di daerah yang dikenai dengan sekali konsumsi, tidak berpengaruh pada neuron (sistem saraf yang berfungsi menghantarkan impuls atau rangsangan dari satu sel saraf ke sel saraf lainnya) di hipotalamus. Antipiretik menghambat pembentukan prostaglandin (senyawa rangsangan yang bekerja dalam sel). Antipiretik, secara garis besar, menurunkan panas dengan bekerja langsung di saraf pusat, secara spontan dan tidak mempengaruhi jaringan saraf tubuh itu sendiri.

Penggolongan Antipiretik

Antipiretik sering disamakan dengan analgetik. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang sangat jauh. Antipiretik berfungsi khusus pada penurunan panas, sedangkan analgetik lebih berfungsi sebagai obat-obatan yang berguna untuk mengurangi rasa sakit dan nyeri tanpa mengambil alih kesadaran seseorang. Antipiretik digolongkan dalam beberapa bagian berikut :

1. Benorylate

Benorylate merupakan kombinasi parasetamol (obat yang berfungsi untuk menghilangkan atau menangani rasa sakit dan demam) dan aspirin (obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit, demam dan radang). Karena terlalu banyak dosis obat yang fungsi utamanya berpengaruh pada pengurangan suhu tubuh dan rasa sakit, benorylate sangat tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi anak-anak. Dimungkinkan dapat menghasilkan efek samping yang jauh lebih parah dari pada demam jika dikonsumsi oleh anak-anak. Tersebut sindrom reye. Atau kerusakan serius pada jaringan otak yang diawali dengan gejala muntah-muntah, perubahan karakter yang drastis, linglung dan hilang kesadaran.

Benorylate memiliki fungsi utama sebagai pengobatan rasa sakit menengah kebawah yang masih tertangani. Bukan untuk digunakan sebagai obat rasa sakit yang teramat sangat. Obat untuk demam atau panas dan rheumatoid arthritis. Benorylate dapat dikonsumsi oleh orang dewasa minimal delapan jam sekali. Dimana dosisnya, disesuaikan dengan ketentuan dokter pribadi anda masing-masing.

2. Fentanyl

Sedikit berbeda dengan benorylate, fentanyl lebih berfungsi sebagai obat anestesi yang berguna dalam menghilangkan rasa sakit. Memiliki efek yang sangat cepat berlangsungnya meski efek fentanyl juga cepat hilang hanya dalam satu atau dua jam.

Efek samping penggunaan fentanyl diantaranya adalah rasa mual, konstipasi, rasa ngantuk, dan pusing. Tapi, pada beberapa kasus efek yang ditimbulkan dapat jauh lebih parah. Seperti hilangnya kemampuan untuk bernafas, penurunan tekanan darah, hingga ketergantungan karena fentanyl mempunyai kandungan anestesi atau zat yang berpengaruh pada sistem saraf apabila dikonsumsi.

3. Piralozon

Piralozon memiliki fungsi utama sebagai obat penurun panas dan menghilangkan rasa nyeri. Selain itu, piralozon juga memiliki beberapa efek samping yang hampir sama dengan efek samping yang ditimbulkan dari pengkonsumsian benorylate dan fentanyl. Namun, piralozon memiliki efek lain yang jauh lebih berbahaya. Yaitu agranulositosis. Agranulositosis merupakan kondisi akut dari leucopenia atau berkurangnya sel darah putih akibat infeksi dari patogen yang khususnya berupa mikroorganisme.

Contoh Obat Antipiretik

Penting mengetahui jenis-jenis obat antipiretik yang dijual di pasaran apabila anda mengalami masalah kesehatan khususnya pada peningkatan suhu panas atau demam. Berhati-hatilah dalam memilih obat yang termasuk jenis obat antipiretik. Karena jenis-jenis obat antipiretik memiliki dosis dan kegunaan serta efek samping yang cuku berbeda-beda. Perhatikan kebutuhan dan konsultasikan pada dokter anda. Berikut adalah beberapa contoh obat antipiretik:

  • Paracetamol

Paracetamol merupakan obat yang sering diresepkan dokter untuk menangani demam, sakit kepala, sakit gigi maupun nyeri lainnya. Dosis yang dianjurkan biasanya untuk orang dewasa 500 mg dan diminum setiap 4-6 jam atau 3 kali sehari 1 tablet. Jangan dikonsumsi saat perut kosong, karena bisa mempengaruhi asam lambung. Untuk dosis pada anak sebaiknya atas petunjuk dokter.

  • Ibuprofen

Ibuprofen memiliki fungsi utama sebagai obat untuk mengurangi rasa sakit akibat arthritis. Arthritis merupakan peradangan pada persendian yang disertai rasa sakit, bengkak, sendi terasa kaku, hingga rasa susah untuk menggerakkan tubuh. Ibuprofen bahkan dapat dijadikan sebagai obat untuk menurunkan rasa sakit akibat haid pada wanita, flu, sakit kepala. Ibuprofen bekerja dengan menghentikan enzim siklooksigenase (enzim yang bertanggung jawab dalam pembentukan prostanoid) yang kemudian menghambat prostalgin atau zat yang bekerja di ujung-ujung saraf yang sakit. Ibuprofen melebarkan pembuluh darah dan memperlancar aliran darah dalam tubuh.

  • Aspirin

Siapa yang tidak kenal aspirin? Orang Indonesia pasti kebanyakan kenal dan mengetahui apa itu aspirin. Hampir seluruh obat flu di Indonesia memiliki kandungan aspirin di dalamnya. Aspirin merupakan jenis obat yang berfungsi sebagai analgesik (penahan rasa sakit dan nyeri minor), antipiretik dan anti peradangan. Meskipun memiliki dosis rendah, aspirin apabila digunakan diluar anjuran dokter apalagi secara terus-menerus, akan menghasilkan efek samping yang buruk. Seperti pendarahan pada organ dalam yang ditandai dengan nyeri perut, feses yang menghitam, dan urin yang kemerahan sebagai tanda bahwa ginjal anda telah rusak atau bermasalah. Aspirin tidak baik dikonsumsi oleh anak-anak dan ibu hamil.

Selain tigo obat di atas, berikut beberapa obat antipiretik yang diberikan dokter untuk kasus tertentu:

  • Quinine: Quinine atau kinina merupakan obat panas, obat malaria, analgesik dan peradangan.
  • Metamizole
  • Nabumetone
  • Nimesulide
  • Phenazone

Efek Samping Penggunaan Obat Antipiretik

Obat antipiretik, dan hampir seluruh obat lainnya tidak akan membahayakan apabila dikonsumsi sesuai dengan takarannya. Dosis yang tepat dan anjuran dari dokter akan membantu anda agar tetap merasakan manfaat obat tanpa harus mengalami efek samping yang akutnya. Berikut adalah beberapa efek samping yang akan timbul dari pengkonsumsian obat antipiretik :

  • Iritasi pada dinding lambung atau tukak lambung: Diawali dengan rasa pedih di lambung atau bagian  bawah hati yang sangat sakit. Terkadang bahkan terasa tidak tertahankan. Pendarahan pada lambung dapat terjadi apabila hal ini terjadi secara terus – menerus.
  • Alergi pada kulit
  • Tinnitus atau telinga yang terasa berdengung
  • Kejang-kejang
  • Muntah-muntah dan gangguan pernafasan pada anak-anak
  • Pendarahan pada ibu hamil
  • Naiknya asam lambung
  • Gangguan hati atau hepatitis
  • Kerusakan ginjal
  • Asma
  • Syok

Demikian penjelasan mengenai obat golongan antipiretik. Konsultasikan kepada dokter atau apoteker sebelum mengonsumsinya.