Antibiotik : Pengertian – Fungsi – Jenis – Efek Samping

390

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, antibiotik dapat diartikan sebagai sebuah kata benda untuk menyebut zat kimia yang dihasilkan dari berbagai mikroorganisme, bakteri tertentu, fungsi tertentu dan aktinomisetet (kelompok bakteri garam positif) yang diramu dalam kadar yang rendah. Dosis yang rendah ini dimaksudkan untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau mikroorganisme jahat penyebab infeksi sebagai fungsi antibiotik dan efek sampingnya yang paling utama. Mikoorganisme yang dihilangkan dengan mekanisme menambah sejumlah mikroorganisme lain untuk memeranginya. Untuk pengertian sederhana dari antibiotik antara lain ialah sebagai segolongan molekul yang terbentuk secara alami atau sintetik dan berfungsi sebagai penekan efek yang dihasilkan dari suatu reaksi proses biokimia oleh bakteri atau mikroorganisme tertentu.

Meski sebagian besar fungsi antibiotik di khususkan dalam mengobati infeksi atau efek yang ditimbulkannya pada tubuh terhadap bakteri tertentu, fungsi aslinya itu sendiri mencakup tahapan yang lebih luas contohnya dalam bidang rekayasa genetika dan bioteknologi. Dengan memutus salah satu rantai metabolisme berkembangnya suatu penyakit, antiseptik mampu menekan bakteri dengan tetap menciptakan lingkungan yang wajar tanpa merubah sifat asli di dalam tubuh itu sendiri.

Antibiotik sangat berbeda dengan desinfektan (karena desinfektan membunuh kuman dengan menstabilkan atau membuat daerah yang ia kenai menjadi tidak wajar dengan membunuh bakteri tanpa melihat sifat baik atau buruknya) serta menjadi obat paling aman yang digadang – gadang tidak memiliki efek samping dari sistem kerja antibiotik itu sendiri.

Untuk penjelasan singkat dari arti antibiotik itu sendiri, anda dapat menggunakan istilah zat yang mampu menghentikan perkembangan mikroba tanpa memiliki efek meracuni tubuh setelah menggunakannya. Mikroba yang dimaksud bisa jadi sangatlah beragam sesuai dengan kondisi kesehatan pasien masing –masing. Salah satu jenis antibiotik yang paling terkenal adalah penisilin. Mengapa? Selain fakta bahwa penisilin merupakan antibiotik alami pertama yang ditemukan oleh manusia, proses penemuan yang lucu menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang mendengar namanya.

Alexander Fleming, penemu penisilin yang melakukan tindakan ajaib dengan meninggalkan bekas cawan berisi bakterinya tanpa dicuci sebelum liburan. Saat ia kembali dan mendapati salah satu bagian dari media tersebut tidak tersentuh oleh bakteri, penelitian lebih lanjut menemukan adanya jenis bakteri tertentu yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri jahat lainnya. Penemuan tak terduga ini menjadi cikal bakal dari lahirnya antibiotik yang anda kenal sekarang ini.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa fungsi utama antibiotik adalah menghentikan atau memperlambat laju perkembangan bakteri tertentu tanpa menimbulkan efek beracun bagi penggunanya. Dengan menambahkan sejumlah bakteri baik lain untuk melawan bakteri jahat yang berkembang, kemungkinan antibiotik berubah menjadi berbahaya memang sangatlah besar. Hal inilah yang mendasari dari berbagai penelitian yang dilakukan untuk mencegah kemungkinan buruk tersebut terjadi.

Peringatan keras terhadap penggunaan antibiotik mungkin bisa diberikan pengarahan tentang fungsi antibiotik itu sendiri yang hanya mampu membunuh bakteri dan mikroorganisme tertentu. Anda tidak akan sembuh dari flu dengan menggunakan antibiotik, karena flu disebabkan oleh virus bukan bakteri. Begitu pun dengan jamur atau yang lainnya.

Mekanisme kerja antibiotik dalam tubuh dapat dijelaskan melalui tahapan – tahapan penting yang akan dilalui oleh pengguna dengan langkah – langkah sebagai berikut :

  1. Menghambat timbulnya sintesa dari dinding sel
  2. Menghambat timbulnya sintesa pada membran sel
  3. Menghambat timbulnya sintesa protein pada sel
  4. Menghambat pembentukan asam – asam inti sel seperti DNA dan RNA

Apabila mekanisme ke-empat langkah tersebut telah berhasil, maka secara otomatis bakteri atau mikroorganisme tersebut tidak akan mampu berkembang kemudian mati. Akan selalu ada kemungkinan bakteri tertentu justru kebal terhadap antibiotik karna beberapa alasan tertentu yang akan dijelaskan dalam uraian tentang efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan antibiotik.

Sedangkan jenis – jenis antibiotik itu sendiri dibedakan menjadi 6 golongan yang dibedakan berdasarkan sasaran kerja dan susunan kimianya, berikut adalah penjelasan masing – masing golongan antibiotik, antara lain adalah :

  1. Inhibitor Sintesis pada dinding sel bakteri (penisilin)

Sesuai dengan namanya, jenis atau golongan antibiotik yang satu ini menggunakan mekanisme penghambatan pada dinding sel bakteri untuk membunuhnya. Penisilin dapat diberikan dengan tepat pada pasien yang terkena infeksi melalui jaringan atau cairan tubuh, akan tetapi kinerjanya akan sedikit melemah ketika diinjeksikan kedalam selaput otak atau bagian cairan otak yang mengalami infeksi.

Beberapa contoh antibiotik yang termasuk ke dalam golongan penisilin adalah benzilpenisilin atau penisilin G, fenoksimetil penisilin atau penisilin V, kloksasilin, flukoksasilin, ampisilin, amoksisilin, amoksilav, bakampililin, pivampisilin, piperasilin, ureidopenisilin, sulbenisilin, tikarsilin, dan pivmesilian.

  1. Inhibitor Transkripsi dan replikasi DNA (proses penggandaan pada rantai ganda DNA)

Antibiotik yang termasuk ke dalam jenis ini memiliki mekanisme yang berbeda dengan penisilin, ia bekerja dengan menghambat atau merusak kerja bakteri pada saat transkripsi dan replikasi. Transkripsi bekerja dengan menghentikan pembuatan RNA dari hasil DNA bakteri tersebut. Dengan berhentinya pembentukan RNA maka dapat dipastikan bakteri yang menyerang tubuh akan melemah dan mati. Begitu pun pada proses replikasi, dimana proses pengadaan rantai ganda pada DNA sel bakteri akan diganggu atau dihentikan, sehingga menyebabkan gagalnya pembentukan bakteri baru yang akan menjangkiti tubuh.

Contoh jenis antibiotik yang termasuk ke dalam golongan ini antara lain adalah kuikolon, rifampisin, aktinomisin D, dan asam nalidiksat. Anjuran penggunaan siprofloksasin yang dilarang digunakan untuk mengobati pneumonia pneumococus atau sejenis bakteri yang menyerang bagian tertentu dari tubuh seperti paru – paru, telinga otak dan saraf punggung sebagai akibat dari dari bakteri streptococcus pneumoniae. Daripada menggunakan siprofloksasin, disarankan untuk memilih antibiotik jenis levofloksasin.

  1. Inhibitor Sintesis protein

Salah satu yang paling terkenal dari jenis antibiotik yang satu ini adalah tetrasiklin, dimana ia merupakan suatu antibiotik spektrum luas yang kemudian terbagi lagi menjadi beberapa jenis antibiotik salah satunya adalah minosiklin yang cukup berbahaya karna efek sampingnya berupa vertigo dan pusing.

Meski pada beberapa kejadian penggunaan tetrasiklin menjadi bumerang karna justru meningkatkan resistansi bakteri terhadap antibiotik tersebut, akan tetapi penggunaan tetrasiklin sampai sekarang masih banyak diminati. Tetrasiklin terbukti ampuh menangani berbagai jenis infeksi pada saluran pernafasan, mikroplasma genital dan infeksi oleh klamidia – sejenis penyakit kelamin yang dapat menular tanpa menimbulkan gejala – gejala spesifik tertentu.

Beberapa jenis antibiotik yang tergabung ke dalam jenis ini antara lain adalah makrolida, aminoglikosida, turunan dari tetrasiklin seperti gentamisin, kloramfenikol, kanamisin, streptomisin, tetrasiklin, oksitetrasiklin, eritromisin, dan azitromisin. Eritromisin memiliki jenis spektrum antibaktri yang fungsinya mirip dengan penisilin, sehingga dapat digunakan oleh pasien yang alergi terhadap penisilin atau kebal ketika diberikan suntikan penisilin.

  1. Inhibitor fungsi membran sel

Contoh untuk jenis golongan antibiotik yang satu ini adalah ionomisin dan valinomisin. Bekerja dengan emnghambat fungsi membran sel bakteri yang menimbulkan alergi pada pasien.

  1. Inhibitor fungsi sel lainnya

Sulfonamida adalah salah satu contoh paling terkenal dari jenis antibiotik yang satu ini. Ia merupakan antibiotik yang bekerja dengan menghambat perkembangan bakteri melalui peranan subtrat palsu, subtrat palsu akan menghentikan pertumbuhan replikasi bakteri yang menyerang pasien. Contoh lain selain sulfonamida adalah kotrimoksazol, sulfadiazin, sulfadimidin, sulfasalazin, trimetoprim, oligomisin dan tunikamisin.

  1. Antimetabolit

Merupakan jenis obat yang menghambat pertumbuhan DNA dan RNA bakteri, ia bekerja dengan masuk ke dalam inti sel bakteri dan menghentikan atau menutup pembentukan DNA dan RNA, merusak fase siklus sel pada bakteri yang menyerang pasien. Contoh lain yang meliputi antimetabolit adalah azaserin.

Meski antibiotik digunakan dalam dosis rendah dan berfungsi untuk meminimalisir terjadinya efek samping berlebihan, akan tetapi meski telah dibatasi dengan dosis tertentu, penggunaan antibiotik secara berlebihan mampu menimbulkan gejala – gejala efek samping antibiotik yang justru merugikan bagi tubuh. Memungkinkan bakteri untuk justru menjadi kebal terhadap antibiotik yang diberikan. Berikut adalah penjelasan dari masing – masing efek samping umum yang akan terjadi dari penggunaan antibiotik, antara lain adalah :

  1. Keputihan dan Reaksi Alergi pada Perempuan

Infeksi yang seharusnya menjadi penyakit yang disembuhkan oleh antibiotik justru berefek sebaliknya bagi beberapa jenis antibiotik pada perempuan. Masalah kesehatan organ seksual yang terganggu setelah emngkonsumsi antibiotik biasanya dialami oleh perempuan – perempuan yang menyebabkan adanya efek infeksi lain dari antibiotik yang digunakan.

Contoh bentuk infeksi pada organ dalam perempuan yang paling sering ditemui setelah mengkonsumsi antibiotik adalah keputihan berlebihan pada wanita, gatal pada miss v atau organ kewanitaan, vagina menjadi bau dan berair. Pastikan tubuh pasien tidak alergi terhadap jenis golongan antibiotik tertentu sebelum memakainya. Selain bagian organ kewanitaan, efek samping lain berupa infeksi jamur biasanya terjadi mulut dan saluran pencernaan.

Gangguan jamur yang terjadi di organ pencernaan biasanya menimbulkan rasa sakit pada bagian perut, nyeri, kembung, mual, kram hingga diare. Untuk alergi jamur pada bagian mulut biasanya berakibat pada timbulnya rasa gatal dan pembengkakan disekitar mulut atau tenggorokan. Infeksi yang terjadi pada mulut atau tenggorokan dan organ – organ pencernaan tidak hanya menyerang perempuan.

  1. Gangguan pada Fungsi Jantung

Mungkin efek samping yang cukup berbahaya dari konsumsi antibiotik adalah gangguan fungsi jantung, efek ringan yang mungkin akan dirasakan pasien setelah menggunakan antibiotik adalah jantung berdebar, detak jantung tidak normal, sakit kepala hingga timbulnya infeksi ginjal dengan gejala awal sering kesemutan.

  1. Resistensi Antibiotik

Pada keadaan tertentu, antibiotik yang berperan sebagai agen pembunuh bakteri dan mikroorganisme berdosis rendah memiliki efek samping berkebalikan dari fungsi awalnya. Dengan mencoba melemahkan atau membunuh bakteri tersebut justru menimbulkan efek resistensi pada bakteri, atau istilah singkatnya bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik yang diberikan, hal inilah yang dinamakan bahaya resistansi antibiotik.

Ketika tubuh telah menolak antibiotik dan bakteri tidak dapat disembuhkan dengan jenis antibiotik tertentu, akan cukup susah untuk menemukan jenis antibiotik lain demi membunuh bakteri yang menjangkiti pasien. Resistansi yang berlebihan dapat menimbulkan kematian dan infeksi parah pada hati, gejala – gejala gangguan sistem keseimbangan tubuh dengan banyaknya tremor tidak terkontrol yang terjadi, penurunan sel darah putih, kerusakan otak, kerusakan jantung, dan ketidakteraturan detak jantung sebagai akibat dari kerusakan jantung atau dalam istilah medis dinamakan gejala aritmia jantung.