Antiemetik : Pengertian – Jenis – Contoh Obatnya

2130

Antiemetik bukan merupakan sebuah kata yang sering diucapkan oleh masyarakat Indonesia bahkan di telinga saya masih cukup asing dan susah mengucapkan obat yang satu ini. Daripada antiemetik bagaimana jika menyebutnya sebagai anti muntah saja? Terdengar sangat familiar dan mudah diingat tentu saja.

Antiemetik atau anti muntah merupakan obat yang secara fungsi utamanya dikhususkan untuk menghentikan muntah dan mual. Sesuai dengan fungsinya, antiemetik biasanya diberikan bagi pasien yang tengah atau akan bepergian jauh yang dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak lambung yang naik turun sehingga menimbulkan mual dan muntah. Untuk itu, mari mengenal lebih jauh mengenai antiemetik atau obat anti muntah ini lebih dalam.

Secara garis besar atau menurut Kamus besar Bahasa Indonesia muntah dapat diartikan sebagai sebuah kata kerja dengan keluarnya kembali makanan atau minuman yang telah masuk ke dalam mulut atau perut. Sedangkan menurut biologi, atau kesehatan, muntah dapat diartikan sebagai mekanisme alami tubuh untuk melindungi diri dari racun, bakteri dan virus penyakit, pergerakan, emosi, stress dan lainnya sehingga menimbulkan efek mengeluarkan isi perut melalui mulut.

Isi dari muntahan itu sendiri biasanya adalah makanan yang baru setengah cerna, asam lambung, dan beberapa enzim lain yang awalnya berfungsi sebagai pengurai makanan menjadi bentuk yang lebih kecil untuk bisa dicerna oleh tubuh. Dan pada keadaan tertentu saat kita terlalu banyak memakan makanan berminyak atau berlemak ketika muntah akan mengeluarkan sedikit cairan empedu.

Hampir seluruh muntahan yang kita keluarkan mengandung asam lambung yang akan sangat berbahaya bagi gigi karena terlalu asam sehingga menimbulkan efek korosi yang cukup besar disinilah fungsi lain dari air liur bekerja. Air liur membantu mulut untuk tetap netral meski telah dilewati oleh asam lambung sehingga melindungi gigi dari pengkeroposan.

Anti muntah sendiri merupakan obat yang mampu mengatasi muntah dan mual tersebut. Ia biasanya diberikan untuk mengobati pasien yang mengalami mabuk kendaraan akibat getaran mesin atau pergerakan naik turun yang terjadi secara terus – menerus saat berada di dalam kendaraan. Efek samping yang mampu ditangani oleh obat anti muntah selain mengatasi mual dan muntah adalah, menghentikan efek samping dari analgesik dan anestetik umum, ia bahkan mampu menghentikan efek kemoterapi (penggunaan zat kimia untuk perawatan penyakit) pada pasien kanker.

Penjelasan singkat mengenai analgetik dan anestetik adalah, analgesik merupakan sekelompok obat yang mampu digunakan untuk obat penahan rasa sakit. Sedangkan anestetik adalah obat yang mampu menghilangkan rasa sakit saat melakukan pembedahan atau proses lainnya. Sehingga, antiemetik ternyata tidak hanya mampu membuat seseorang kehilangan rasa mual dan muntahnya, akan tetapi pada dosis tertentu mampu menghentikan efek anastesi pada seorang pasien.

Cara kerja dari antiemetik adalah dengan mengurangi hiperaktifitas atau aktifitas berlebihan dari refleks muntah yang terdapat di dalam tubuh dengan melalui dua cara, yang pertama yaitu dengan cara lokal, yaitu dengan langsung menghambat respon lokal untuk berhenti memberikan stimulus yang nantinya akan dikirim ke medula untuk memicu reaksi muntah, ia menghambat dengan menghentikan stimulus atau menumpulkan syaraf agar tidak memberi respon terhadap sesuatu yang membuat pasien mual dan muntah.

Cara kedua adalah dengan mempengaruhi daerah sentral untuk menekan pusat muntah. Jenis obat antiemetik yang bekerja secara lokal antara lain adalah anastid, naestesi lokal, adsorben, obat pelindung yang fungsinya melapisi mukosa ataupun obat yang mencegah peregangan saluran pencernaan. Biasanya digunakan untuk mengatasi mual ringan yang tidak terlalu parah.

Mengelompokkan fungsi dari antiemetik itu sendiri terdapat dalam list dibawah ini, antara lain adalah :

  • Mengatasi mual
  • Mengatasi muntah
  • Obat mabuk kendaraan
  • Menghilangkan efek alagesik opioid
  • Menghilangkan efek anestetik umum
  • Menghilangkan efek kemoterapi terhadap kangker

Untuk antiemetik yang bekerja secara netral, terbagi menjadi beberapa jenis obat yang dikelompokkan ke dalam fenootiazin, nonfenotiazin, obat penyekat reseptor serotonin, antihistamin atau anti kilonergik yang dapat diartikan sebagai obat alergi dan kelompok – kelompok lainnya. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan pada bagian macam – macam jenis anti muntah.

Berikut adalah beberapa jenis anti muntah yang akan anda temui di pasaran, dengan merk dagang obat masing beserta penjelasan singkat dari masing – masing jenis antiemetik tersebut. Antara lain adalah :

1. Antagonis Reseptor 5 – HT3

Obat ini menghambat rangsangan pada reseptor serotonim yang berada pada sistem saraf pusat dan saluran pencernaan. Contoh masing – masing obat anti muntah yang termasuk ke dalam golongan ini antara lain adalah:

  • Dolasetron

Beberapa jenis antagonis reseptor 5 – HT3 memiliki efek samping yang cukup berbahaya, efek samping yang mungkin akan dialami oleh pasien yang mengkonsumsi obat yang termasuk dolansetron antara lain adalah diare, konstipasi, dispepsia, nyeri pada abdomen atau bagian dada, flatulens atau perut kembung, gangguan pada indera perasa, takikardia atau detak jantung tidak normal dan biasanya berdenyut lebih cepat dari normal, bradikardia atau kondisi dimana jantung berdetak lebih lambat dari keadaan normalnya, demam, menggigil, sakit kepala, gangguan tidur, kelelahan, pusing, mengantuk, anoreksia atau gangguan makan yang menyebabkan seorang pasien menjadi sangat terobsesi dengan bentuk tubuh langsing dan sangat takut untuk menjadi gendut, hiperventilasi, ruam, gatal, urtikaria atau biduran, angiodema atau pembengkakan pada kulit, kotak suara atau larink dan area lainnya.

Efek samping lain yang mungkin timbul dari pengkonsumsian obat anti muntah jenis ini adalah anafilaksis atau alergi parah yang sangat berpotensi mengancam nyawa seseorang, pankreatitis, penyakit kuning, kejang, dan hipotensi atau tekanan darah rendah yang sangat akut. Dosis yang dianjurkan untuk menggunakan obat anti antara lain adalah sebagai berikut :

  1. 200 mg untuk satu jam secara oral, dan 100 mg untuk 30 menit jika dilakukan secara injeksi sebagai pencegahan mual dan muntah pasca kemoterapi.
  2. 200 mg untuk satu kali sehari sebagai pencegahan mual yang tertunda pada saat siklus kemoterapi tengah berlangsung. Biasanya dilakukan secara maksimal 4 hari brturut – turut.
  3. 50 mg sebelum induksi anestesi dilakukan setelah atau pasca bedah.
  4. 12,5 mg setelah anestesi berhenti biberikan.

Hal – hal yang perlu diwaspadai bagi wanita hamil atau sedang menyusui karena penggunaan obat anti muntah jenis ini dapat menimbulkan gejala gagal jantung dan gangguan konduksi jantung.

  • Granisetron

Ganisetron berfungsi sebagai obat yang mampu mengobati mual dan muntah akut yang terjadi pasca bedah atau kemoterapi atau radioterapi. Beberapa efek samping yang akan dialami pasien apabila mengkonsumsi obat ini antara lain adalah konstipasi atau sembelit, sakit kepala, ruam kulit, kenaikan sementara enzim hati, dan reaksi hipersensitifitas.

Dosis yang dianjurkan untuk menggunakan obat anti muntah tipe ini antara lain adalah sebagai berikut :

  1. 1-2 mg dalam waktu 1 jam sebelum kemoterapi.
  2. 2 mg per hari dalam dosis terbagi 1-2 selama kemoterapi, jika diberikan invus intravena, maka kombinasi maksimal total 9 mg dalam 24 jam.
  3. 20 mcg/kg bb (maksimal 1 mg) untuk anak dua kali sehari sampai dengan 5 hari selama kemoterapi.
  4. 3 mg sebelum dimulai terapi sitotosik (sampai 2 dosis tambahan tidak boleh diberikan kurang dari 10 menit jaraknya).
  5. 40 mcg/kg bb (maksimal 3 mg) untuk anak sebelum terapi siotoksi.
  6. 40 mcg/kg bb (maksimal 3 mg) dberikan dalam 24 jam (tidak kurang dari 10 menit setelah dosis awal).
  7. 1 mg sebelum induksi anastesi sebagai pencegahan.

Peringatan untuk ibu menyusui dan ibu hamil karna dapat meningkatkan resiko obstruksi intestinal subakut. Untuk pasien hipersensitif dengan obat jenis granisetron juga diharapkan mengkonsultasikan dosis terlebih dahulu sebelum mengkonsumsinya.

  • Ondansetron

Ondansetron atau yang dikenal dengan nama zofran, termasuk golongan antagonist reseptor yang mampu mengobati mual dan muntah sebagai akibat dari kemoterapi kangker, terapi radiasi dan pembedahan. Selain mengobati mual dan muntah akibat dari proses kemoterapi dan bedah, ondansetron juga mampu menangani masalah gastroenteritis atau peradangan pada saluran pencernaan khususnya lambung dan usus kecil. Gejala yang biasa dialami pasien antara lain adalah diare, muntah, sakit perut dan kejang pada perut. Ondansetron dapat diinjeksikan melalui suntikan atau diminum secara oral.

Efek samping yang mungkin akan dialami oleh pasien antara lain adalah sakit kepala, konstipasi atau kesusahan saat buang air besar, kejang, aritmia atau detak jantung yang tidak teratur, nyeri pada dada dan cegukan. Hiperventilasi juga dapat terjadi termasuk pusing dan gangguan penglihatan. Efek samping yang sangat jarang terjadi akan tetapi berpotensi adalah kebutaan.

Dosis yang dianjurkan untuk menggunakan obat anti muntah tipe ini antara lain adalah sebagai berikut :

  1. 8 mg untuk 1 hingga 2 jam sebelum terapi
  2. 8 mg sesaat sebelu terapi
  3. 8 mg setiap 12 jam untuk diminum secara oral selama maksimal 5 hari.

Peringatan untuk ibu hamil dan menyusui karna dapat meningkatkan kemungkinan gangguan hati yang cukup akut.

  • Tropisentron

Tropisentron dapat digunakan untuk menghilangkan mual dan muntah akibat dari kemoterapi sitotoksik. Ia memiliki efek samping berupa konstipasi atau biasa disebut dengan sembelit, diare, nyeri abdomen, nyeri kepala, pusing, lesu, dan reaksi hipersensitifitas.

Dosis yang dianjurkan untuk menggunakan obat anti muntah tipe ini antara lain adalah sebagai berikut :

  1. 5 mg injeksi intravena lambat atau infus intravena saat menjelang kemoterapi.
  2. 5 mg oral setiap pagi minimal 1 jam selama 5 hari sebelum makan.
  3. Tidak dianjurkan utuk anak – anak.

Peringatan tentang hipertensi yang tidak terkendali untuk ibu hamil dan menyusui yang menggunakan obat anti muntah tropisetron dan efek samping lain seperti pusing dan mengantuk.

  • Palonosetron atau aloxi

Efek samping dari penggunaan jenis obat anti muntah palonosetron antara lain adalah diare, konstipasi atau sembelit, sakit kepala, flatulen atau perut kembung, perubahan tekanan darah, takikardi (laju detak jantung diatas normal), brakikardi (laju detak jantuk dibawah normal), aritmia atau detak jantung yang tidak normal ( bisa lebih cepat atau lebih lambat), iritasi pada mata, ruam pada kulit dan gangguan keseimbangan dan elektrolit.

Dosis yang disarankan adalah untuk injeksi selama 30 detik dengan dosis 250 mikrogram dan diberikan 30 menit sebelum kemoterapi. Tidak direkomendasikan untuk anak dan remaja dibawah 18 tahun.

2. Antagonis dopamin

Bekerja pada otak untuk mengatasi mual dan muntah akibat dari radiasi dan anestetik umum. Beberapa jenis obat yang termasuk ke dalam golongan antagonis dopamin antara lain adalah domperidon, droperidol, haloperidol, klorprozamin, prometazin, proklorperazin, metoklopramid dan alizapride.

3. Antihistamin

Berfungsi sebagai obat anti mabuk kendaraan dan morning sickness pada ibu hamil yang biasanya terjadi pada pagi hari. Yang termasuk ke dalam golongan obat ini antara lain adalah siklizin, difenhidramin, dimenhidrinat, meklizin, prometazin, hidroksizin.

4. Kanadinoid

Atau yang biasa disebut dengan obat yang memiliki fungsi untuk menghilangkan mual dan muntotoksik. Contoh obat yang termasuk ke dalam jenis ini adalah dronabinol, nabilon dan sativex.

Setelah mengetahui macam – macam obat yang termasuk ke dalam antiemetik, anda bisa melihat kekurangan dan kelebihan setiap obat – obatan tersebut untuk memilih obat terbaik yang bisa anda gunakan untuk mengatasi gangguan kesehatan yang anda alami. Perbedaan setiap penyebab muntah dan mual ini bisa jadi mengharuskan seorang pasien untuk memilih obat antiemetik yang berbeda – beda pula. Karena pemilihan jenis antiemetik yang salah bisa menyebabkan pasien mengalami efek samping yang justru akan sangat merugikan nantinya.